
Mobil yang dikendarai oleh Joe bersama dengan Tiara akhirnya tiba juga di kontrakan milik Tiara.
Sebelum gadis itu keluar dari mobil, Joe sempat berpesan agar mulai saat ini, mereka berdua harus mengatur jarak. Ini karena, Identitas Joe sudah terbongkar. Dan tidak mustahil bahwa akan segera menjadi buah bibir di antara orang-orang baik itu di kalangan mahasiswa, organisasi ataupun para pengusaha.
Joe sendiri tidak ingin diketahui memiliki hubungan dengan Tiara. Dia khawatir bahwa musuh-musuhnya akan memanfaatkan Tiara untuk melemahkan Joe. Dia juga tidak ingin gadis itu ikut terseret kedalam masalahnya.
Walaupun dengan raut wajah tidak rela, tapi Tiara mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Joe. Dalam hati, dia bertanya-tanya entah kapan bisa memiliki ketenangan selama berhubungan dengan Joe ini.
"Tiara. Aku pergi dulu ya! Pegang kartu ini! Password nya adalah hari ulang tahunku!" Kata Joe. Sebelum pergi, dia menyerahkan satu kartu kredit kepada gadis itu. Setelah itu, Joe segera menginjak pedal gas nya dan meninggalkan gadis itu sendirian berdiri menatap kepergian Joe.
Sambil menghela nafas, Tiara akhirnya melangkahkan kakinya memasuki rumah dan terduduk di kursi dengan lemas.
Bukan mudah untuk menjadi kekasih seorang pemuda yang dipersiapkan untuk menjadi kaisar bisnis. Karena, untuk menduduki tahta, dia harus membersihkan duri-duri penghalang baik itu di dalam maupun di luar, supaya lelah tidak menjadi batu sandungan bagi usahanya.
Sementara itu, Joe juga tidak kalah lemasnya. Dalam hati, dia tidak henti-hentinya bertanya mengapa jalan hidupnya begitu berliku.
Kini Pemuda itu telah kehilangan semangat, kehilangan sikap humor dan yang paling terlihat adalah, dia jadi gampang emosi.
Selama di perjalanan menuju ke kota batu, sudah lebih dari seratus kali dia memaki pengendara lain. Dia juga berkendara seperti di kejar setan.
***
Keesokan harinya, Universitas Kota Batu mulai gempar karena area parkir mereka kini telah dimasuki oleh satu unit mobil super sport Lykan hypersport.
Bagai sebutir gula yang dirubungi oleh semut, kini para mahasiswa dan mahasiswi baik yang senior maupun yang junior berkumpul di dekat mobil tersebut.
Keterkejutan mereka semakin menjadi-jadi, bahkan mengalahkan keterkejutan mereka terhadap mobil itu ketika seorang pemuda yang mereka anggap cupu, telah keluar dari dalam mobil tersebut.
Dengan sikap yang sangat angkuh, Joe keluar dari mobilnya, kemudian tanpa menganggap ada orang disekitarnya, dia enak saja melangkah meninggalkan area parkir tersebut.
"Selamat datang kembali, Joe!"
Joe menolehkan kepalanya melihat siapa yang menegurnya.
Begitu dia melihat Namora berdiri sekitar lima meter darinya, dia pun mengangguk lalu segera berlalu.
Tindakan dari Joe ini membuat Namora merasa heran. Tapi dia sama sekali tidak berusaha untuk bertanya. Sambil mengangkat pundaknya, dia pun berbalik badan mengarah ke kantin.
Di kantin, juga tidak kalah hebohnya.
Semua mahasiswa menceritakan tantang Joe ini. Tidak terkecuali anak-anak J7.
Mendadak pamor Jericho sebagai senior sekaligus pentolan anak-anak J7 menjadi pudar.
"Tidak ku sangka ternyata penampilan cupu Joe itu hanya kedok belaka. Untung kita tidak jahat kepadanya," kata Jaiz membuka obrolan mereka.
"Iya. Benar juga kata mu! Andai kita melakukan tindakan kasar terhadapnya, entah bagaimana nasib kita sekarang," balas Jufran pula.
"Hahaha. Aku juga jadi malu sendiri," kini James tertawa mengingat betapa mereka telah tertipu oleh penampilan Joe.
"Sssst. Orangnya datang. Diam kalian!" Bisik Jericho melihat Joe sudah hampir tiba di kantin.
"Dia mengenakan jaket J7. Coba kalian lihat!" Bisik Junet.
Mereka lalu memperhatikan bahwa Joe yang baru tiba itu memang mengenakan jaket J7. Namun, walaupun begitu, Joe sama sekali tidak menyapa mereka. Dia hanya berjalan ke arah pelayan, memesan sesuatu lalu memilih kursi tersendiri.
Ramai gadis-gadis kini mulai terlihat seperti cacing kepanasan. Dengan tujuan, meraih perhatian dari Joe. Tidak terkecuali Mira, Dewi dan Janet. Ketiga gadis itu tanpa malu-malu segera menghampiri meja di mana Joe duduk.
"Hi Joe! Mengapa sendirian saja? Kemana Tiara?" Tanya Mira sambil memainkan rambutnya.
"Benar Joe. Jika kau sendirian, bolehkah kami menemani mu?" Tanya Dewi pula.
"Apa kau mengenal kalian? Pergi cari orang yang levelnya pantas untuk kalian! Pergi sana!" Kata Joe dengan dingin. Sedikitpun dia tidak menatap wajah ketiga gadis itu ketika berbicara tadi.
"Kau tidak mengenali kami Joe? Apa kau terkena amnesia?" Masih juga tanpa malu, padahal telah di usir, kini Janet yang membuka suara.
"Namora! Usir ketiga gadis ini dari hadapan ku! Selera makan ku bisa rusak melihat mereka!" Bentak Joe membuat Namora segera bangkit dari kursinya.
"Aku pukul dengan botol kecap ini jika tidak pergi!" Ancam Namora menggenggam botol kecap sambil melangkah menghampiri meja Joe.
Siapa yang tidak kenal dengan pemuda super dingin itu. Dia tidak akan sungkan memukul siapa saja. Apa lagi ayahnya adalah Tigor.
"Ayo Mira! Ayo Dewi!" Kata Janet sambil menarik tangan kedua sahabatnya yang seperti orang bodoh.
Kejadian ini membuka mata mereka semua yang ada di kantin tersebut bahwa orang cupu itu kini sudah tidak bisa lagi dibuat main-main.
Hilang sudah keluguan, tampang cupu dan lain sebagainya. Bahkan, kaca mata bulat yang dulu sering dia pakai kini entah kemana. Berganti dengan tatapan bengis, sorot mata yang tajam dan sangat mengintimidasi.
Selesai sarapan, Joe pun beranjak dari kursinya dan melangkah melewati meja di mana anak-anak J7 duduk.
"Joe. Tunggu!" Kata Jericho membuat Joe menghentikan langkahnya.
"Apakah kita masih berteman?" Tanya Jericho.
"Menurut mu?" Kaya Joe balik bertanya.
Jericho terdiam sejenak. Dia ingat seperti apa kekecewaan Joe terhadap mereka ketika di kampung Murni sari kemarin.
"Simpan pertanyaan itu untuk dirimu sendiri!" Kata Joe lalu segera melangkah pergi.
Bersambung...