Joe William

Joe William
Albern membawa kabar



Seorang pemuda berusia sekitar 20-an tampak tergesa-gesa memasuki Villa besar mirip istana yang terletak di Taipa Macau itu.


Belum lagi dia memasuki ruangan depan Villa tersebut, dia sudah berteriak memanggil Ayahnya.


"Ayah. Apakah kau sudah mendengar kabar?" Tanya Pemuda itu.


"Ada apa kau Albern? Mengapa seperti di kejar hantu?" Tanya lelaki setengah baya yang tampak sedang duduk santai di ruangan itu.


"Aku ada kabar baik untuk aku sampaikan kepada Ayah."


"Hm, kabar apa itu?" Tanya lelaki tadi sambil mengangkat gelasnya untuk menghirup minuman yang masih mengepulkan asap di dalam gelasnya tersebut.


"Ini semua tentang rencana paman Adolf, Honor dan Tuan Paul itu Ayah." Kata Albern sambil duduk.


"Ah. Terlalu banyak rencana mereka itu. Aku mana tau rencana yang mana yang kau maksud."


"Rencana mereka yang ingin menyingkirkan putra Jerry William itu. Bukankah mereka telah mengirim ramai pembunuh bayaran ke kota Kemuning Indonesia itu." Kata Albern.


"Hah? Jadi, apakah mereka berhasil?" Tanya lelaki setengah baya yang bernama Rudolf Miller itu.


"Gagal, Ayah. Mereka gagal. Semua pembunuh bayaran yang mereka kirim tewas di tangan anak si Jerry William itu. Hanya ada satu orang yang selamat." Jawab Albern yang membuat mata Ayahnya itu terbelalak.


Jelas saja dia meragukan kabar yang di bawa oleh putranya ini. Bagaimana mungkin kelompok Sean yang begitu terkenal dan tidak pernah gagal itu bisa dipecundangi oleh bocah yang masih belum genap delapan belas tahun. Ini aneh.


"Mungkin Ayah tidak percaya sebelum melihat sendiri. Saat ini saja, Tuan Paul itu seperti pencuri yang buron. Dia tidak berani keluar rumah lagi di waktu malam. Dia juga menyewa puluhan pengawal dan terus-menerus mengunci diri di dalam rumahnya. Hal ini karena anak dari Jerry William itu telah meneleponnya menggunakan ponsel milik Sean dan mengancam akan memburu dirinya untuk di bunuh." Kata Albern lagi lalu menambahkan.


"Sean baru saja tiba di MegaTown. Menurut orang-orang kepercayaan ku yang berada di sana, dia mengatakan bahwa saat ini Sean sedang di siksa dan mungkin saja sudah mati oleh anak-anak buah Honor atas kegagalannya itu." Katanya menambahkan.


"Lalu bagaimana dengan tanggapan Honor tentang masalah ini?" Tanya Rudolf Miller penasaran.


"Huh. Si setan itu mana punya perasaan terhadap bawahan. Dia enak saja lempar batu sembunyi tangan. Dia malah menimpakan semua kesalahan pada Tuan Paul itu lalu dia lepas tangan. Dia bahkan mengirim dua orang kembali ke Indonesia. Ibarat air yang sudah keruh, dia memanfaatkan momentum ini untuk bertindak lalu melimpahkan semua tuduhan kesalahan kepada Tuan Paul. Mumpung suasana sedang keruh, maka orang-orang dari kubu putranya Jerry William ini pasti akan menuduh bahwa itu adalah anak buah Tuan Paul yang memiliki tugas lain untuk mencari informasi tentang musuh-musuh Jerry itu." Kata Albern menjelaskan.


"Benar-benar licik. Ayah dengan anak sama saja." Kata Rudolf Miller sambil merenung.


"Menurut mu.., apakah ini murni perbuatan dari Putranya si Jerry William ini?" Tanya Rudolf.


"Aku dapat menduga bahwa masalah ini tidak akan sesederhana yang mereka bayangkan. Mereka telah mengusik orang yang salah. Mereka akan terbakar dengan api yang mereka mainkan sendiri."


"Orang bijak mengatakan, jangan ganggu orang yang tidak menggangu dirimu. Tapi mereka telah mengucak air kolam yang tenang. Kelak jika penghuni kolam itu marah, mereka pasti dalam masalah." Kata Rudolf layaknya seperti orang yang sedang berfikir keras.


"Saat ini anak buah Honor bernama Bruno dan Douglas masih berada di Indonesia, Ayah. Mereka semakin gencar merekrut bekas musuh keluarga William ini. Honor, sendiri tanpa segan-segan menghambur-hamburkan banyak uang untuk merekrut serta menjalin kerjasama dengan musuh Jerry ini. Jika begini terus, perusahaan bisa rugi dan pasti akan bangkrut." Kata Albern mengungkapkan kekhawatirannya.


"Itulah jika nafsu lebih besar dari ilmu. Dia tidak tau bagaimana rasanya hidup susah, berusaha untuk mendapatkan sesuatu dengan kemampuan diri sendiri serta selalu di manja. Baginya, asalkan puas, maka uang bukan masalah. Dasar si Adolf itu tidak pandai mendidik anak." Kata Rudolf menyumpahi saudaranya sendiri itu.


"Ayah. Segera amankan seluruh aset kita! Jika tidak, semuanya akan habis oleh Paman dan Honor. Aku sudah mencium aroma kekalahan pada Paman dan Honor. Sejujurnya aku sangat ketakutan jika nantinya si Jerry bersama dengan Dragon Empire nya akan menyerang kita."


"Selama ini kita melihat mereka masih menahan diri. Tapi sampai kapan mereka akan terus menahan diri. Di sisi lain, Honor sudah semakin keterlaluan. Dia menekan semua perusahaan kecil di bagian timur Garden Hill dan membuat mereka berhutang kepada perusahaan Arold Holding Company dengan bunga yang sangat besar. Bukan begini caranya berbisnis." Kata Albern.


Sebenarnya, bukan Jerry yang menahan diri. Tapi lencana kepemimpinan Dragon Empire berada di tangan Joe. Tanpa itu, perintah mutlak tidak dapat dilakukan. Hanya dengan lencana itu saja kekuatan penuh bisa dikerahkan.


"Seharusnya perusahaan kecil ini di lindungi agar mereka bersedia berada di bawah Arlod Holding Company. Jika caranya begini, maka mereka akan lari meminta perlindungan kepada Future of Company. Berdirinya tiang besar karena adanya tiang-tiang penyangga yang lebih kecil. Jika tiang-tiang kecil ini di patahkan, tiang besar pasti akan tumbang. Ini sangat mengerikan." Kata Rudolf.


"Dia memakan sekali kenyang lalu muntah. Dalam dunia bisnis, tidak ada yang namanya tidak memakan teman. Hanya saja, ada yang maka besar sekaligus setelah itu tidak dapat makanan lagi. Ada yang makanannya sedikit-sedikit, tapi rutin. Jika perusahaan kecil terus-menerus di gigit, lihat saja Paman Adolf dan Honor. Mereka pasti tidak akan mendapatkan apa-apa dari semua yang mereka lakukan itu. Karena mendapatkan kepercayaan itu mudah. Yang sulit itu mempertahankannya."


"Albern. Kau cari cara supaya bisa dekat dengan anaknya si Jerry ini. Kelak kita bisa menawarkan informasi kepada nya sekaligus menjaga kans kita agar tetap aman. Selain itu, ayah juga akan menemui notaris dan mengasingkan seluruh aset kita dan menanamkan modal saham di perusahaan lain. Aku juga sudah muak berada di dalam perahu yang sudah oleng seperti ini. Sebelum perahu ini karam, sebaiknya kita persiapkan pelampung agar tidak tenggelam." Kata Rudolf.


"Masalahnya, aku tidak kenal seperti apa wajah dari anak Jerry William ini Ayah! Bagaimana aku bisa mengetahui jika kenal saja tidak. Jangankan aku. Sean yang sudah bertemu saja tidak melihat wajah orang itu. Bagaimana mungkin aku bisa menentukan yang mana orang nya." Kata Albern mengeluh.


"Pakai otak mu Albern. Misi ini bukan untuk sehari dua hari. Mungkin memakan waktu bertahun-tahun. Kau harus segera berangkat ke negara Abcdefg ini. Kau bisa membuka usaha apa saja di sana sambil menyirap kabar tentang generasi ke empat dari keluarga William itu. Andai bertemu, walaupun dia tidak ingin bekerjasama dengan kita, setidaknya kita bisa mengatakan kepada mereka tentang sikap dan pendirian kita. Kau mengerti maksud ku?"


"Albern mengerti, Ayah! Jika demikian maka, Albern akan segera mempersiapkan keberangkatan ke sana." Kata pemuda itu patuh.


"Hindari MegaTown. Ingat itu!"


"Baik Ayah!"


...Jangan lupa like dan Vote nya ya. jika masih ada....