Joe William

Joe William
Kembali ke Starhill



Kriiiiiing.


Kriiiiiing...!


Suara telepon itu membuat Jerry yang sedang berbincang-bincang dengan Tengku Mahmud, Tigor dan yang lainnya terpaksa meminta maaf kepada Tengku Mahmud untuk segera menjawab panggilan telepon seluler tersebut.


Setelah di balas dengan anggukan oleh Tengku Mahmud, Jerry pun akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Tuan Barry." Kata Jerry sambil menunggu apa laporan yang akan disampaikan oleh bawahannya itu.


"Tuan besar. Perintah dari anda untuk menginvestasikan sejumlah uang di Garden Company telah selesai dan kini antara Future of Company dengan Garden Company itu telah terjalin kesepakatan kerjasama." Terdengar satu suara di seberang sana memberikan laporan.


"Bagus Tuan Barry. Terus pantau keadaan di Garden Hill. Bila perlu langsung perintahkan orang-orang kita untuk berangkat ke kota itu." Kata Jerry memberi perintah.


"Segera saya laksanakan Tuan besar. Hanya saja, kita di sini juga harus menunggu anda kembali ke Starhill. Setelah itu barulah Ryan kita kirim ke Garden Hill untuk mengepalai proyek di sana." Kata Tuan Barry.


"Hmm, benar Tuan Barry. Oh ya. Kami sore ini akan bergerak pulang ke Starhill. Kami juga tidak ingin terlalu lama berada di sini. Ini bisa menarik terlalu banyak perhatian. Anda bisa menunggu saja besok pagi di Mountain Lotus." Kata Jerry.


"Saya Tuan besar." Kata Tuan Barry.


"Tuan Barry. Pantau juga pergerakan orang-orang dari Arold Holding Company itu. Aku tidak masalah soal uang. Jika 350 juta itu kurang, anda bisa menambahkan lagi untuk proyek-proyek lainnya. Bagi ku, Garden Company itu adalah pintu masuk yang harus dikawal terus."


"Saya mengerti Tuan besar. Oh ya. Kapan Tuan muda akan kembali. Jika dia akan kembali dalam beberapa bulan lagi, ini bagus karena saat ini Villa di Garden Hill sedang dalam tahap renovasi." Kata Tuan Barry.


"Aku tidak tau kapan dia akan kembali. Dia sepertinya sangat betah di sini. Kemungkinan dia tidak akan kembali dalam waktu dekat ini." Kata Jerry menjawab pertanyaan dari Tuan Barry.


"Baiklah Tuan besar. Saya harus melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Anda sibuk dulu. Saya akhiri dulu panggilan ini." Kata Tuan Barry lalu mengakhiri panggilan.


"Maaf kelak Tengku." Kata Jerry setelah panggilan tadi berakhir.


"Hehehe. Tidak apa-apa. Oh ya. Apakah kau jadi pulang sore ini?" Tanya Tengku Mahmud.


"Jadi Kek."


"Apakah Joe ingin ikut?" Tanya Tengku Mahmud lalu melanjutkan. "Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu dia pelajari di sini. Semuanya sudah dia kuasai. Bahkan aku pun sudah tidak bisa lagi menandingi anak jin itu."


"Dia boleh kembali kapan saja kek. Lagi pula pendaftaran kuliah belum di buka. Biarkan saja dia di sini dulu. Oh ya kek. Apakah aku boleh memberikan hadiah kepada anda?" Tanya Jerry.


"Hahaha. Hadiah apa. Jangan berikan aku apa-apa. Aku tidak membutuhkan apapun." Kata Tengku Mahmud membuat Jerry mengurungkan niatnya untuk memberikan sejumlah uang untuk lelaki tua itu.


"Maaf paman Tengku. Sebenarnya apa yang dipelajari oleh Joe ini? Aku melihat dia sepertinya tidak pernah serius terhadap apapun itu. Lihat saja tingkahnya itu!. Enak saja dia becanda sambil guling-guling di pasir." Kata Drako sambil menunjuk ke arah Joe dan sahabat-sahabatnya sedang becanda di pinggir pantai.


"Itulah kelebihan anak itu. Jangan dikira dia tidak berisi. Hanya saja dia menyembunyikan kelebihannya dengan tingkah gila nya itu. Kau tentu bisa berkaca seperti apa dirimu, seperti apa tingkah menantu mu ini! Jadi, kau jangan heran dengan sifat cucu mu itu!" Kata Tengku Mahmud membuat Drako dan Jerry tersedak karena tertawa.


"Jika kakeknya Jin, Ayah nya jin, anaknya jadi apa?" Tanya Tengku Mahmud lagi.


"Iprit." Jawab Drako sambil memegangi perutnya.


"Kau tau jawabannya. Ini belum lagi seperti apa sifat Malik. Seperti apa aku ini. Jadi jangan heran! Untung saja otak anak itu tidak benar-benar senget."


"Kau terlalu pandai mencari penyakit. Sok bertanya padahal jawabannya ada pada dirimu." Kata Tuan Syam menyela.


"Hihihi... Anak itu seperti dia ini!" Kata Drako sambil menunjuk ke arah Jerry.


"Ha..?! Mengapa aku saja? Dia ini yang hamil!" Kata Jerry menunjuk Clara.


"Hahaha. Anak itu sejak dalam perut pun sudah membuat susah orang lain. Pinggang ku sampai sekarang sering kambuh gara-gara tertimpa tubuhmu yang jatuh dari pohon mangga milik pak Albert." Kata Drako.


"Bangga sekaliii....!" Jawab Drako.


Mereka kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kelak jika dia sudah kembali ke dalam pangkuan kalian, jangan langsung ajarkan kepada anak itu kemewahan. Suruh dia merangkak dari bawah. Biarkan dia merasakan ditekan dan jatuh bangun. Dengan begini, anak itu tidak akan lemah. Bila perlu, suruh dia menjadi kuli sekalian agar dia bisa merasakan kepedihan dan mendengar jeritan orang-orang kecil di sekitarnya." Kata Tengku Mahmud berpesan.


"Sangat masuk akal. Ambil saja contoh mendiang adik tiri ku si Hyden. Karena terlalu dimanjakan, dia menjadi orang yang tidak peka dan selalu ingin menang sendiri." Kata Ivan pula.


"Semua pesan dari kakek Tengku akan saya pikirkan nanti setelah tiba di Starhill." Kata Jerry.


Mereka kini berhenti berbicara ketika Namora datang dengan keadaan compang-camping dan wajah yang merah padam.


"Hei Namora. Ada apa dengan mu?" Tanya Tigor heran melihat Namora yang tidak biasanya seperti orang yang tertekan itu.


"Tidak apa-apa ayah." Jawab Namora.


Tak lama setelah Namora tiba, rombongan Joe pun juga tiba di depan rumah Tengku Mahmud itu sambil tertawa haha-hihi.


"Kau apakan Namora Joe?" Tanya Jerry kepada putranya itu.


"Bukan aku Ayah. Tapi Xenita." Jawab Joe sambil duduk di samping Tengku Mahmud.


"Kau apakan Namora itu Xenita?" Tanya Ivan kepada Putrinya.


"Hehehe. Dia terlalu menggemaskan. Masa iya hanya tersentuh sedikit saja tangannya dia langsung merajuk." Jawab Xenita.


"Hahaha... Maafkan anak ku itu Nona Xenita. Dia tidak pernah bergaul dengan wanita. Makanya dia jadi seperti itu." Kata Tigor.


"Ayah. Aku meminta kepada Kakak Joe agar mengajak Namora untuk kuliah di Metro City atau Starhill. Bagaimana?" Tanya Xenita.


"Kau yakin ingin dekat dengan Namora dan tidak ingin lagi dengan kakak Joe mu?" Tanya Ivan menggoda putri nya itu.


"Ah. Jangan tanya tentang itu Ayah. Aku hanya ingin bersahabat. Lagipula kami ini kan masih kecil. Ya kan kak?" Kata Xenita kepada Joe.


"Tergantung. Aku memang masih memiliki 2 lagi kuota kosong. Tiara istri pertama. Lestari istri ke dua. Lalu masih ada dua slot lagi. Kalau kau mau." Kata Joe membuat Tengku Mahmud langsung menyambar telinga anak itu.


"Memang dasar Jin iprit. Jin sungguhan pun tidak seperti kau ini. masih kecil sudah gatal." Kata Tengku Mahmud sambil menjewer telinga Joe.


"Ampun kek. Aku hanya becanda. Ampun. Taubat kek." Kata Joe sambil meringis kesakitan.


"Hahaha. Kau ini memang tidak pernah serius. Kalau aku nilai, kau bahkan melebihi ayah mu." Kata Drako.


"Joe. Ayah akan kembali ke Starhill. Ayah tidak boleh lama di sini. Masih banyak pekerjaan yang tertunda. Kelak jika semuanya sudah selesai di sini, kau segera kembali. Kau masih harus kuliah dan memulai menjalankan peran mu sebagai ahli waris ku. Apa kau mengerti?" Tanya Jerry.


"Iya Ayah. Ayah pulang lah terlebih dahulu. Aku masih akan menyelesaikan beberapa yang belum selesai di sini. Masih ada perpisahan di sekolah. Jika sudah, aku akan segera pulang." Jawab Joe.


"Baiklah. Ingat Joe. Jangan terlalu santai dan membuang waktu mu dengan tingkah kekanak-kanakan mu itu. Tugas besar menunggu mu."


"Joe mengerti Ayah."


"Baiklah. Sudah hampir senja. Kami berangkat dulu." Kata Jerry.


Setelah berbasa-basi dan saling berpelukan dengan Tengku Mahmud dan Tigor, akhirnya rombongan Jerry pun berangkat meninggalkan Kuala Nipah sambil diiringi oleh tatapan sedih dari Joe.