Joe William

Joe William
Kabar yang dibawa oleh R4



"Salam hormat untuk Kakek Lalah, Kakek Poltak, Kakek Lamhot, Paman Tigor, dan Paman-paman yang lainnya. Terimakasih karena telah menyempatkan diri untuk hadir dalam pertemuan ini!" Kata Joe dalam kata sambutannya.


Semua orang yang berada di tempat itu hanya manggut-manggut saja mendengar kata sambutan dari Joe ini.


Kata sambutannya sih biasa saja. Tapi gaya nya itu yang bikin hati jadi pegal linu.


"Namora. Jika kau lelah berdiri, kau boleh duduk!" Kata Joe kemudian.


Tadinya, Namora akan duduk ketika Joe mengizinkannya untuk duduk. Tapi, begitu melihat ayahnya memelototi dirinya, Namora segera membatalkan niatnya untuk duduk.


Joe tau akan hal itu. Makanya dia hanya diam saja sambil tersenyum lucu.


"Sebentar. Kita masih menunggu R4. Aku ingin tau, berita apa yang akan mereka bawa!" Kata Joe sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Tapi R4 masih belum tiba juga.


"Ketua. Tugas apa yang anda berikan kepada wanita berhati batu itu?" Tanya Tigor memecah keheningannya di ruangan itu.


"Menyelidiki kota Tasik Putri. Berpura-pura menjadi pelayan di sana. Aku ingin membuktikan kecurigaan ku terhadap pabrik milik Martins Group yang dikendalikan oleh Honor ini," jawab Joe.


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu diketuk dari luar. Kemudian terdengar suara seorang lelaki meminta izin. "Ketua. Keempat pengawal wanita anda telah tiba. Apakah mereka boleh memasuki ruangan?"


"Boleh. Suruh mereka segera masuk!" Perintah Joe segera dituruti. Dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. Dan kini, muncul sosok R1 dengan senyum mengembang diwajahnya.


Joe segera memberikan respon dengan menggerakkan tangannya agar keempat gadis itu mendekat.


"Salam hormat kami untuk Tuan!" Kata keempat gadis itu bersamaan.


"Tidak perlu seperti itu. Kalian tentu keletihan. Sini duduk di kursi ku!" Kata Joe bercanda.


"Uhuk uhuk uhuk! Apakah Tuan memarahi kami?" Tanya R1 ketakutan.


"Marah? Untuk apa memarahi kalian. Nanti aku jadi cepat tua.


Oh ya. Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian?"


R1 segera merapatkan mulutnya ke telinga Joe, kemudian membisikkan sesuatu.


"Berarti benar dugaan ku!" Gumam Joe membuat semua orang yang berada di ruangan itu bertanya-tanya dalam hati mereka masing-masing.


"Ketua. Sebenarnya, kecurigaan apa yang anda simpan? Lalu, kepada siapa?" Tanya Lalah.


"Pusat hiburan Dunia gemerlap malam telah menjadi sarang pengedaran narkoba!" Jawab Joe membuat semua orang sekali lagi terkejut. Terlebih lagi Monang.


"Berarti, Honor telah berhasil meyakinkan Marven. Ini sangat berbahaya jika benar pusat dunia gemerlap malam menjadi muara bagi aliran obat-obatan terlarang tersebut," kata Tigor pula.


Pusat hiburan Dunia gemerlap malam sangat berarti bagi mereka. Di sana Monang mendapatkan kepercayaan dari Martin. Di sana juga Tigor mengenal Mirna dan mereka menikah sehingga lahirlah Namora. Di sana juga Karman diorbitkan oleh Tigor sebagai mata-matanya yang ketika itu bertugas untuk mengawal Martin. Tapi itu dulu. Dan kini, pusat hiburan Dunia gemerlap malam bisa saja berubah menjadi neraka bagi generasi muda.


"Tolong ambil tindakan, Ketua! Generasi muda kelima kota ini bisa rusak karena mereka!" Pinta Monang penuh harap.


Semua mata kini menatap ke arah Joe yang kini menggoyangkan tangannya.


"Ini bukan wewenang kita, Paman Monang! Aku melakukan penyelidikan ini semata-mata karena merasa bahwa mereka akan melakukan cara licik dan kotor untuk memenangkan pertarungan antara aku dan Honor. Namun, untuk bertindak melampaui batas, aku tidak mungkin melakukannya. Masih ada Paman Rio. Apakah kita akan melangkahi pihak kepolisian? Sampai saat ini, mereka belum berinisiatif untuk menyenggol kita. Lalu, apa alasan ku untuk memulai silang sengketa dengan mereka? Aku hanya menunggu mereka mengusik kita. Karena, dari situlah aku mendapat kata alasan. Alasan untuk melakukan serangan balik," kata Joe yang membuat Monang langsung merasa lemas.


"Kenapa tidak ada berita dari Karman tentang kegiatan Marven dan Honor ini Bang?" Tanya Monang kepada Tigor.


"Tidak semua hal bisa disampaikan kepada kita. Karman saat ini berada di kandang singa. Sedikit saja dia lengah, maka dia akan dimangsa. Jangan terlalu berharap lebih. Toh kita juga sekarang tau kegiatan mereka. Kita memiliki banyak opsi. Biarkan Karman tetap di sana, dan jangan memberi tekanan kepadanya!"


"Ketua.., apa rencana anda selanjutnya?" Tanya Tigor. Dia ingin tau apa yang ada sala. Pikiran Joe saat ini.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Lindungi keluarga kalian masing-masing! Jangan sampai menjadi korban. Paman Tigor juga harus semakin sering bertukar informasi dengan Paman Rio!"


"Yang lain dengarkan kata-kata ku ini dengan baik! Hindari perselisihan dengan orang-orang Tasik Putri! Bagaimanapun, mereka pasti akan melakukan provokasi kepada kita setelah ramai anak buah mereka yang terbunuh di tanjung karang. Tambah orang-orang kita di gang Kumuh! Firasat ku mengatakan, mereka pasti akan mencari gara-gara di gang Kumuh. Hindari bentrokan. Biarkan mereka menganggap kita lemah. Tapi, tandai mereka semua. Ada kalanya kita akan membantai mereka secara diam-diam sebagai pemanasan,"


"Kata-kata ku yang dulu masih berlaku! Sembunyikan kuku kita sebaik mungkin!" Kata Joe mengakhiri ucapannya.


"Apakah Ketua akan kembali ke kota Batu? Sudah larut malam. Kamar anda yang dulu di Martins Hotel tidak pernah di buka untuk umum. Itu menjadi kamar pribadi anda," kata Tigor yang ingin mencegah agar Joe tidak kembali bersama dengan Namora ke kota Batu.


"Baiklah, Paman. Aku akan kembali besok saja ke kota Batu. Dan kau Namora.., sudah lama tidak berkumpul dengan keluarga. Pergilah bersama Paman Tigor! Aku juga ingin sendiri. Banyak hal yang harus aku pikirkan dengan matang sebelum membuat keputusan. Mungkin aku akan memanggil Paman Arslan dan Paman Herey ke Indonesia ini,"


"Apa lagi jika anda bisa memanggil Tuan Ryan, Riko dan Daniel. Itu akan lebih hebat lagi. Pemikiran mereka tidak umum. Saya yakin, jika mereka berada di sini, setiap persoalan pasti akan segera mendapatkan jalan keluar!" Kata Tigor pula.


"Hehehe. Apakah Paman Tigor ingin melihat aku diamuk oleh Ayah? Paman Ryan, Daniel dan Riko adalah separuh nyawa ayah ku. Mana pernah mereka berpisah. Dia mungkin lebih suka berjauhan dengan ku daripada berjauhan dengan ketiga Paman itu. Bisa pusing tujuh keliling dia!" Tampak senyum kecut ketika dia mengatakan itu.


Tigor juga tak kalah kecut nya. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar mengagumi ketiga orang yang tadi mereka bicarakan. Benar-benar sekawanan orang-orang yang saling melengkapi.


"Baiklah, Ketua. Saya rasa anda sudah sangat lelah. Kami akan mengantar anda ke Martins Hotel. Anda bisa beristirahat di sana!"


"Mari Paman!"


"Silahkan!"


Satu persatu mereka kini mulai meninggalkan ruangan tempat pertemuan tersebut.


Setelah mengantar Joe yang didampingi oleh R4 ke Martins Hotel, kini mereka pun kembali ke rumah masing-masing, dengan Namora mengikuti Tigor untuk pulang menemui ibunya.


Bersambung...