Joe William

Joe William
Tiara kelepasan bicara



"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi!"


Kembali Honor menjauhkan ponsel dari telinganya.


Dahinya kini mulai berkerut dengan nafas mulai tak beraturan.


"Bagaimana Tuan?"


"Bagaimana apanya? Tidak ada satupun nomor yang aktif," jawab Honor dengan ekspresi kesal.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Jika kita bergerak sekarang, kemungkinan barang-barang akan selesai dimuat subuh!" Kata Zacky pula seperti orang yang tidak sabaran.


"Orang-orang dari geng Tengkorak ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Baru mendapat uang segitu saja sudah lupa daratan. Kelak aku tidak akan menggunakan jasa mereka lagi," kata Honor yang tidak tau apa sebenarnya yang telah menimpa terhadap geng tengkorak sewaannya itu. Padahal, saat ini seluruh anggota geng Tengkorak sudah hangus terpanggang bersama dengan Villa milik Birong yang terbakar.


"Honor. Kau gunakan saja orang-orang yang ada. Jangan terlalu mengharapkan orang-orang dari geng Tengkorak. Mereka adalah orang-orang liar yang tidak suka terikat," usul paman Cheung pula.


"Benar Tuan. Jika terlambat, saya khawatir pihak kepolisian akan datang sekali lagi. Kali ini kemungkinan besar kita tidak akan dapat untuk kembali ke Hongkong,"


"Bagaimana dengan Marven? Apakah dia sudah mengumpulkan seluruh anak buahnya?" Tanya Honor kemudian.


Zacky tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan singkat kepada Marven yang langsung dibalas oleh Marven bahwa dia sudah ready.


"Baik. Segera berangkat!" Perintah Honor. Dia langsung memasuki ruangan kerjanya dan kemudian keluar kembali dengan membawa tas koper berukuran sedang.


"Kau ikut!" Katanya sambil menjambak rambut Tiara. Sekali lagi gadis itu menjerit kesakitan.


"Honor sialan. Kau akan mati oleh Joe! Aku pastikan bahwa kau tidak akan dilepaskan oleh Joe,"


Ser...!


Berdesir darah Honor mendengar kalimat yang diucapkan oleh Tiara.


Dia dengan spontan melepaskan jambakan tangannya di rambut Tiara.


"Joe? Siapa Joe yang kau maksud? Apakah itu Joe William?" Tanya Honor dengan tatapan mata yang sangat tajam.


Tiara segera mengatupkan mulutnya. Seketika dia sadar bahwa dia sudah terlepas kata.


Seperti kata pepatah, 'mulutmu adalah harimaumu'. Kini Tiara tidak bisa lagi menarik kata-katanya. Dia sadar bahwa Honor tidak sebodoh itu.


"Joe siapa? Kau..! Lekas jawab!"


Plak!


"Aw..!" Pekik Tiara karena sekali lagi menerima tamparan.


"Tuan. Bunuh saja gadis ini! Kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi!"


"Diam!" Bentak Honor berang, membuat Zacky segera mengatupkan bibirnya.


"Betina sialan ini menyebutkan nama Joe."


"Ayo jawab. Joe siapa? Apakah itu Joe William? Aku pastikan bahwa kau akan mati secara perlahan jika kau tidak memberitahu ku Joe yang mana. Berikan aku pisau!" Pinta Honor.


Salah seorang dari pengawal yang berada di sekitar situ segera meraba ke pinggangnya dan kemudian mengeluarkan sebilah pisau, lalu menyerahkannya kepada Honor.


"Aku akan merusak wajah cantik mu ini. Aku tidak akan membunuh mu. Tapi, kau akan merasakan betapa pahitnya menjalani sisa hidup mu setelah ini!" Ancam Honor dengan pisau ditangannya menari-nari menjelajahi di bagian wajah gadis itu.


"Kau..?"


"Puih...!"


Cairan putih kemerahan meluncur deras dari bibir Tiara dan hinggap dengan mulus di wajah Honor. Tentu saja cairan itu berbau tidak sedap. Apa lagi jika si pemilik cairan itu doyan makan jengkol.


"Kurang ajar!"


Plak..!


"Ku bunuh kau sialan!"


Bugh..!


"Uhuk.., uhuk.., uhuk!" Tiara terbatuk-batuk ketika Honor menendang bagian punggungnya.


Honor seperti gelap mata. Dia memukuli gadis itu hingga babak belur.


Ketika dia akan menikamkan pisau yang ada di tangannya ke arah leher gadis itu, Zacky yang melihat ini buru-buru mencegah. "Hentikan Tuan!"


"Lepaskan! Atau, kau yang akan aku bunuh!" Teriak Honor.


"Mengapa anda tidak berfikir dengan jernih? Gadis ini bukankah mengaku sebagai kekasih dari musuh anda? Mengapa tidak dijadikan saja sebagai tameng hidup? Anda bisa memeras nyawa Joe dengan bermodalkan gadis ini. Itu jauh lebih menguntungkan. Ketika Joe mati, maka dendam anda akan lunas!" Bisik Zacky dengan senyum licik diwajahnya.


Bagaikan orang mabuk disiram air, Honor seperti tersadar mendengar kata-kata dari Zacky tadi.


Matanya melotot. Mulutnya ternganga. Namun, perlahan-lahan sebentuk senyum terukir diwajahnya. Senyum yang paling sialan yang pernah dilihat oleh Tiara.


"Kau benar. Mengapa aku begitu bodoh?"


"Kau ikut aku! Aku akan menjadikan dirimu sebagai umpan untuk memancing Joe datang kepadaku. Kau akan melihat bagaimana kekasih mu itu terbunuh di tangan ku. Dengan begitu, dendam atas kematian ayah ku akan terbalaskan. Kau akan melihat dengan mata kepala mu seperti apa kekasih mu itu meregang nyawa!"


"Bajingan kau Honor! Mengapa kau tidak memakai gaun saja? Kau adalah sampah pecundang yang tidak berguna. Bisa mu hanya mengancam. Mengandalkan orang lain dan dengan tidak tau malu, kau memanfaatkan kelemahan orang. Jika aku menjadi dirimu, lebih baik aku terjun bebas dari tingkat paling atas. Mati saja daripada hidup tak berguna. Sudah tak berguna, menyusahkan orang pula!" Maki Tiara seperti senapan otomatis.


"Diam kau ******!"


"Sumbat mulut betina tak tahu di untung ini! Lama kelamaan bisa mati dia oleh ku!"


"Hahaha. Honor Miller. Orang tua mu pasti menyesal memiliki seorang anak yang tidak kompeten seperti mu. Mati saja kau Honor! Susul saja ayah mu. Pecundang sejati yang tidak tau malu. Malu lah sama yang memiliki nyali. Hahahaha...!"


"Cepat sumbat mulut betina sialan ini!" Jerit Honor yang sudah mulai berang.


Zacky segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengikat serta menyumbat mulut Tiara.


"Lepaskan! Aku masih ingin bicara. Lepaskan...,"


Senyap. Sudah tidak ada suara lagi dari Tiara, karena mulutnya sudah di sumbat dengan kain oleh orang-orang bawahan Zacky.


"Lemparkan ke dalam mobil! Kita harus segera berangkat!" Kata Zacky yang langsung dituruti oleh anak buahnya.


Setelah Tiara dilempar ke dalam mobil, mereka pun langsung bergerak ke arah mobil masing-masing dengan Zacky, paman Cheung dan Honor Miller berangkat dengan satu mobil.


Tak lama kemudian, rombongan dengan puluhan mobil itupun berangkat menuju ke kawasan pabrik yang terletak di dekat jembatan Tasik Putri untuk memindahkan barang-barang haram milik Honor Miller agar tidak ketahuan oleh pihak kepolisian.


Bersambung...