Joe William

Joe William
Roger menemui Marcus



Satu unit mobil sedan hitam berhenti tepat di depan sebuah kafe di mana seorang pemuda tampak sedang duduk dengan gelisah.


Entah sudah berapa lama dia duduk seperti itu sampailah lamunannya buyar ketika seorang lelaki setengah baya menepuk pundaknya.


"Kau yang bernama Marcus?" Tanya lelaki itu sambil menatap dengan garang ke arah pemuda yang melamun tadi.


"Pak.., pak Roger?!" Meluncur kata-kata tersebut dari bibir pemuda bernama Marcus tadi begitu melihat siapa lelaki yang menepuk pundaknya barusan.


"Apakah kau memiliki nyawa rangkap, berani mengusik ketua kami?" Tanya lelaki paruh baya yang ternyata adalah Roger adanya.


"Ma-mak-maksud Pak Roger?" Pemuda yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat menerima tatapan yang sangat mengintimidasi itu. Siapa yang tidak kenal Roger. Dari kota Batu sampai ke Tasik Putri dan juga Dolok ginjang, semua orang mengenal menantu dari Lalah tersebut.


"Dia akan menelepon mu sebentar lagi!" Kata Roger lalu duduk berhadap-hadapan dengan pemuda itu. Belum lagi dia memesan minuman, kini ponsel milik Marcus pun berdering.


"Halo bang!" Kata Marcus kepada di penelepon.


"Bagaimana, Marcus? Apakah kau sudah bertemu dengan Paman Roger?" Tanya si penelepon.


"Sudah bang. Apakah aku akan mendapat hukuman? Tolong biarkan aku hidup!" Pinta Marcus setengah meratap.


"Ingat, Marcus! Aku tidak pernah main-main dengan ancaman ku. Sekarang aku ingin bertanya kepada mu. Siapa sebenarnya anak-anak dari geng Cobra itu?"


"Begini bang Joe! Aku tidak terlalu tau latar belakang mereka. Karena, kami hanya berteman dan bertemu hanya sebatas di kampus saja,"


"Yang aku tau, Dhani, ketua dari anak-anak geng Cobra masih ada hubungannya dengan orang-orang dari geng kucing hitam. Geng kucing hitam ini dulunya adalah geng yang sangat ditakuti. Tapi, bagaimanapun, geng Cobra hanyalah geng anak-anak muda bermotor yang hanya suka membuat onar di kampus-kampus saja. Yang aku tau, ada beberapa diantara mereka adalah anak dari anggota geng tersebut yang telah hancur puluhan tahun yang lalu," Kata Marcus menerangkan.


"Hmmm. Ternyata dugaan ku tidak jauh meleset. Pasti ada apa-apanya di balik keberanian mereka. Marcus! Sekarang aku mau bertanya kepada mu. Apakah mereka pernah menyebut-nyebut nama Irfan atau Marven?" Tanya Joe lagi.


"Ada bang. Bahkan, mereka sepertinya sedang menunggu orang yang bernama Marven itu!" Jawab Marcus.


"Begitu! Baiklah. Kau teruskan saja bersama dengan geng Cobra itu! Setiap mereka akan membuat onar dengan anak-anak dari Universitas Kota Batu, kau kabari aku dengan segera. Kau pasti bisa,"


"Baik bang! Aku akan mengabari Abang jika mereka ingin melakukan kekacauan,"


"Baiklah. Aku akhiri dulu panggilan ini!" Kata Joe lalu mengakhiri panggilan telepon seluler tersebut.


Kini Roger memperhatikan saja ketika Marcus menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Roger sampai pada akhirnya tatapan mereka bertemu, dan Marcus buru-buru menundukkan kepalanya.


"Ingat, Marcus! Kau harus bisa menjaga rahasia. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin nyawamu akan sampai satu kalendar lagi atau tidak. Oh ya! Minum dan makan mu sudah aku bayar. Aku pergi dulu!" Kata Roger lalu segera bangkit dari duduknya dan melangkah keluar meninggalkan kafe tersebut menuju ke area parkir.


"Mengapa jadi serumit ini ya Tuhan...?"


Marcus menjambak rambutnya sendiri sebagai bentuk dari kekesalannya. Kini dia terjebak diantara dua kekuatan yang pastinya tidak sanggup untuk dia lawan.


Bersambung...