
"Paman. Kita pulang sekarang!" Ajak Honor yang sudah kehilangan mood.
Tiger Lee, Zacky dan yang lainnya hanya bisa saling pandang saja. Lalu, mereka serentak mengangkat bahu masing-masing melihat Tuan mereka tersebut tampak seperti sangat anti dengan yang namanya wanita.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan Tuan Liu, akhirnya mereka pun meninggalkan tempat acara tersebut untuk kembali ke Victoria Peak.
"Paman Lee dan kalian semuanya! Jangan pernah mempunyai gagasan untuk menjadi Mak comblang dan berusaha mendekat-dekatkan aku dengan wanita. Jangan bikin fokus ku berantakan! Jika kalian ingin bermain-main dengan wanita, maka silahkan! Aku tidak akan melarang. Hanya saja, tolong jangan disamakan aku dengan kalian. Aku sangat alergi dengan wanita yang tidak jelas seperti itu. Satu hal! Aku tidak suka dengan wanita yang menghampiri ku terlebih dahulu. Wanita timur tidak seperti itu!" Tegas Honor sambil membanting pintu mobil lalu bergegas memasuki Villa warisan miliknya.
"Ada apa dengan anak ini?" Tanya Zacky terheran-heran.
"Entahlah. Tapi jika dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga apa yang dia katakan. Lihat saja cara Putri Tuan Liu tadi. Genit sekali. Wanita timur memang tidak seharusnya seperti itu!" Jawab Paman Cheung. Orang tua yang dituakan dan dihormati oleh mereka semua.
Mereka hanya bisa menarik nafas saja. Harapan untuk membuat Tuan mereka bisa menyukai seorang wanita sudah kandas.
Dengan wajah pasrah, ke-lima lelaki tersebut berjalan memasuki Villa. Tiba di dalam, mereka mulai mendengar suara gedebag-gedebug.
Sementara itu, di salah satu ruangan khusus, tampak Honor sedang meluapkan kekesalannya dengan memukuli samsak tanpa sarung tinju.
Bugh! Bugh! Bugh..!
Setelah puas meninju samsak tersebut, kini Honor jatuh terduduk dengan nafas terengah-engah.
Keringat tampak bercucuran membasahi dahinya.
Puas dengan aktifitasnya, dia segera mengambil handuk dari salah seorang wanita pelayan di Villa miliknya lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
"Siapkan kamar tidur ku!" Katanya sebelum pergi.
Pelayan tersebut hanya menunduk hormat dan segera melakukan apa yang diinginkan oleh Tuan mereka.
Selesai mandi, Honor pun duduk sebentar di ruang tamu sambil memainkan remote tv.
"Honor. Apa kau sudah mendengar berita bahwa Albern Miller telah meng-anak angkatkan perusahaan miliknya di bawah bendera Future of Company?" Tanya Tiger Lee sambil berjalan ke arah sofa dimana dia duduk dengan gelas sampanye berada di tangannya.
"Oh ya? Dari mana Paman mengetahui?" Tanya Honor. Tidak ada riak keterkejutan di wajahnya. Ini karena, dia memang telah menduga semua itu pasti akan terjadi.
"Aku tidak perduli, Paman. Biarkan saja Albern melakukan apa yang dia anggap baik baginya. Hanya saja, terus awasi gerak-geriknya! Aku sudah menduga bahwa dia pasti akan menjadi duri dalam daging bagi kita nantinya. Hanya saja, dia membutuhkan waktu yang lama untuk itu. Dia tidak memiliki cukup keberanian. Lelaki yang setengah-setengah seperti itu hanya akan menjadi benalu di mana-mana. Menjilat dimana-mana, dan suka berlindung di bawah ketiak orang lain. Kalau aku, aku akan malu. Lebih baik menjadi pembangkang yang memiliki pendirian daripada menjadi penjilat!"
"Apakah kau ingin agar aku menyingkirkan anak ini?" Tanya Tiger Lee.
"Untuk apa? Apakah nyawanya sebegitu berharganya? Dia belum cukup menderita, Paman! Biarkan dia merasakan seperti yang aku rasakan! Bagaimana rasanya hidup tanpa Ayah. Karena, jika dia mati, bebannya akan berakhir di dunia ini. Tidak akan seru! Yang perlu kita lakukan adalah, menjegal usahanya. Jika dia menjual suatu produk, kita harus berusaha meniru produk tersebut dan melemparnya ke pasar dengan harga murah. Biar dia merasakan bahwa dunia ini menjadi sangat sempit baginya!"
"Baiklah. Jika begitu, aku akan melakukannya!"
Honor Miller hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Tiger Lee.
"Mari kita bersulang, Paman!" Ajak Honor sambil mengangkat gelas miliknya.
Ting!
Suara gelas beradu, lalu mereka berdua pun menenggak minuman yang mengandung alkohol tersebut hingga tandas.
"Jangan terlalu banyak minum, Honor! Mau masih muda. Tidak baik untukmu," kata Tiger Lee memberi peringatan kepada Honor agar tidak terlalu banyak minum.
"Tidak apa-apa, Paman! Aku hanya ingin menumpahkan semua kekesalan ku .malam ini."
"Oh ya, Paman! Bagaimana dengan proses ruang bawah tanah yang memproduksi kristal biru itu?" Tanya Honor dengan senyum yang sangat jelek.
(Kristal biru adalah nama jenis obat-obatan terlarang yang baru saja mereka kembangkan di laboratorium dan kini sudah memasuki fase produksi secara besar-besaran)
"Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Untuk tahap pertama, kita akan melemparkannya ke pasar dengan harga murah sebagai perkenalan. Setelah semakin ramai orang-orang yang merasa tergantung dengan blue cristal tersebut, barulah perlahan-lahan kita menaikkan harga,"
"Bagus! Setelah produksi ini berhasil merambah pasar dunia, kita akan bisa merotasi keuangan kita. 8% dari hasil tersebut akan aku alokasikan untuk mengganggu perusahaan milik Albern,"
"Cerdas. Memang itu lah yang aku inginkan!" Kata Tiger bersemangat.
Mereka berdua terus saja mengobrol sampai larut malam dan mereka baru memasuki kamar masingmasing dengan langkah sempoyongan.
Bersambung...