Joe William

Joe William
Kesepakatan kerjasama itu, terlaksana.



Sedikitpun Karman tidak bergeming ketika Honor dan Zacky memelototinya. Baginya, dia harus membuat keretakan antara Honor dan Marven, Marven dan Irfan, serta Irfan dan Honor. Barulah bisa dikatakan bahwa misinya berhasil.


"Baiklah, Tuan Marven. Aku rasa, Bruno dan Douglas telah memberitahu kepada anda tentang apa yang saya inginkan. Saya tidak akan berbelit-belit," kata Honor langsung ke poin nya.


Marven mengangguk samar. Dia tau bahwa kedatangan Honor Miller ke Tasik Putri ini adalah untuk menuntaskan kerjasama yang akan mereka lakukan jika kata sepakat telah tercapai. Diapun sebenarnya sangat menginginkan kesepakatan kerjasama tersebut. Tapi, lagi-lagi karena Karman yang mengatakan bahwa jangan norak dan terlihat sangat membutuhkan kerjasama tersebut. Maka, Marven pun sedaya upaya menahan gejolak perasaan yang sejak tadi menggebu-gebu.


Terkurung di dalam penjara, tidak pernah lagi mengalami kemewahan sebagai tuan muda dari keluarga yang kaya, rusak nama baik, perusahaan mati suri, himpitan ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh Marven. Ketika dihadapkan dengan yang bernama uang, hampir saja dia terlonjak kegirangan. Walaupun sebenarnya dia tau bahwa perusahaannya hanya akan dimanfaatkan.


Satu kesalahan Marven adalah, dia membuka celah itu untuk Karman yang langsung mengambil kesempatan guna meretakkan hubungan mereka. Andai tidak retak, setidaknya antara Honor dan Marven akan ada rasa tidak senang dan saling curiga. Itulah yang memang sangat diinginkan oleh Agen rahasia Carmen Bond 070.


"Ya. Saya sangat-sangat mengerti, memahami dan tau apa maksud dari kedatangan anda ini, Tuan Honor yang terhormat. Hanya saja, itu antara orang-orang anda, dengan orang-orang saya. Saat ini, saya ingin mendengar langsung dari anda tentang kesepakatan seperti apa yang anda inginkan?" Tanya Marven santai.


"Begini, Tuan Marven. Saya, pemilik perusahaan raksasa asal daratan yang baru saja ingin merintis lahan bisnis di negara ini, membutuhkan adanya partner. Partner yang saya maksudkan disini adalah, berinvestasi di dalam perusahaan lokal. Kebetulan, saya melihat Martins Group ini adalah perusahaan yang dulunya pernah berjaya. Jadi, dengan nama besar yang ditinggalkan oleh perusahaan, saya ingin menginvestasikan sejumlah dana. Kelak, saya akan menjadikan Martins Group sebagai anak angkat perusahaan Arold Holding Company yang saat ini berbasis di Hongkong.


Andai kerjasama ini bisa terwujud, maka saya akan memegang saham mayoritas di perusahaan dengan jumlah 60%. Sisanya, akan anda miliki andai, tidak ada lagi pemegang saham yang lainnya. Dengan begitu, saya akan tetap membiarkan Anda menakhodai perusahaan sebagai Chief Executive Officer. Hanya saja, keputusan mutlak berada pada Executive Chairman dan juga Arold pondation.


Anda bisa terus mengoperasikan perusahaan sebagai CEO yang meliputi, Hotel, Restoran pusat hiburan, kasino, pabrik ikan sarden yang akan didirikan di kampung Kuala Nipah, beserta pabrik minuman dan makanan instan di dekat jembatan Tasik Putri ini," kata Honor membentangkan rincian kerjasama tersebut.


"Begitu. Saya sepertinya sangat tertarik dengan penawaran ini. Hanya saja, berapa dana yang akan anda kucurkan, dan juga, berapa biaya yang akan ada tawaran untuk memiliki 60% saham di Martins Group?" Tanya Marven mulai memancing.


"Terus terang saja, Tuan Marven. Saat ini, nilai pasar perusahaan anda benar-benar anjlok. Kami sebenarnya selain ingin membantu..,"


"Tunggu tunggu tunggu! Tunggu dulu, Tuan Honor! Apa maksud anda dengan nilai pasar perusahaan yang anjlok? Terus terang saja saya katakan, bahwa Martins Group masih memiliki nama besar. Aku hanya butuh waktu setahun untuk mengembalikan kejayaan perusahaan ini. Jika anda menganggap bahwa perusahaan saya ini tidak memiliki nilai pasar, mustahil anda rela datang dari Hongkong untuk bertemu dengan saya. Atau, apakah anda memiliki maksud yang terselubung?" Tembak Marven tanpa berbasa-basi lagi.


"Hahahaha. Saya suka dengan gaya anda, Tuan Marven. Tepat ke sasaran. Baiklah. Uang bagiku bukanlah masalah besar. Katakan saja! Apakah satu miliar dolar cukup? Saya akan memberikannya dalam bentuk cek. Hanya saja satu yang perlu anda ingat! Apakah anda mempunyai musuh? Jika punya, anda harus tau dengan siapa dia beraliansi. Aliansi dari musuh anda adalah musuh ku. Inilah investasi yang aku maksudkan!"


Dalam hati, Honor tidak henti-hentinya memaki Marven. "Dasar katak yang baru bebas dari bawah tempurung. Kuberikan satu milyar, satu triliun akan aku raup dari negara mu ini dengan menggunakan nama perusahaan mu. Bahkan, pabrik ikan sarden itu bukanlah sarden sungguhan. Melainkan, guna mempermudah aku untuk menggelapkan obat-obat terlarang dalam skala besar!"


"Jika anda sudah berkata demikian, baiklah! Maka saya tidak akan sungkan lagi. Anda bisa mentransfer uang tersebut ke dalam rekening saya. Setelah itu, saya akan menandatangani dokumen pelepasan 60% saham di perusahaan kepada anda. Masalah musuh, tanpa anda sekalipun, saya akan tetap berjuang untuk membangun kekuatan dan saya pastikan saya akan segera menuntaskan dendam lama ini!" Jawab Marven.


"Anda tidak tau seperti apa lawan anda, Tuan! Kalau hanya Tigor yang anda maksudkan, sekuku hitam ku pun dia tidak layak. Tapi, ada Future of Company yang berada dibelakangnya. Ada organisasi Dragon Empire juga!"


Mendengar nama Dragon Empire ini, Marven langsung mengertakkan giginya. Dia ingat seperti apa dulu Dragon Empire memporak-porandakan pesta pernikahan dirinya dengan Butet. Dan dia ingat siapa yang mengundang organisasi Dragon Empire tersebut untuk datang. Orang itu adalah Tigor.


Setelah melalui proses negosiasi yang sangat panjang, akhirnya kesepakatan kerjasama tersebut pun terlaksana juga.


Walaupun senyum diantara kedua belah pihak tampak mengembang, tapi sama sekali tidak ada ketulusan di sana.


Baik Marven, maupun Honor sama-sama tau bahwa mereka sama-sama tidak tulus. Di sini peran Karman ternyata sangat berhasil.


Setelah bersalaman, akhirnya keduanya berpisah dengan Marven bersama dengan Karman dan Irfan kembali ke kompleks elite Tasik Putri bersama dengan helikopter sewaan mereka.


"Aku merasa bahwa mereka tidak tulus dengan kita, Bang!" Ujar Karman setelah mereka tiba di Tasik Putri.


"Hahaha. Biarkan saja mereka. Perusahaan Martins Group tidak ada seratus juta Dollar. Dia sanggup membayar 1 miliar. Siapa yang memanfaatkan siapa?" Jawab Marven sambil tertawa. Irfan juga tertawa. Namun, mereka berdua segera menghentikan tawa mereka ketika Karman sedikitpun tidak bergeming.


"Bagaimana jika ada penyelewengan, Bang? Misal. Mereka memproduksi sesuatu yang tidak dibenarkan? Abang bisa terseret. Perusahaan ini atas nama Abang. Mereka hanya penanam modal. Jika sesuatu terjadi, Abang yang terjerat!" Kata Karman lagi.


"Alah, Carmen Bond. Kau jangan terlalu berlebihan. Saat ini Abang ku sedang berbahagia. Kau jangan menjadi perusak!" Tegur Irfan.


Karman hanya mengangkat pundaknya saja mendengar teguran ini.


"Hei Carmen Bond. Aku tidak akan melupakan saran mu. Aku akan mengkreditkan sejumlah uang ke rekening mu. Kau tenang saja. Malam ini kita pesta!"


Mendengar kata-kata uang berhamburan dari mulut Marven, seketika itu tidak ada bantahan dari Karman.


Sambil mengeluarkan pulpen, dia segera menulis sederet angka dan nama bank, lalu menyerahkan kepada Marven.


"Apa ini?" Tanya Marven heran.


"Hehehe. Ini nomor rekening saya bang!" Jawab Karman sambil tertawa malu-malu seperti orang yang tidak punya dosa.


"Ah. Sialan. Kau masih sama seperti dulu. Asal gerak, duit. Asal gerak, duit!" Maki Marven. Tapi dia segera tertawa.


Bersambung...