Joe William

Joe William
Jeff sampai di Kuala Nipah



Di halaman belakang rumah berbentuk panggung milik Tengku Mahmud, tampak tiga orang berbeda usia sedang terlibat mengerjakan sesuatu. Mereka adalah Tengku Mahmud, Joe William dan Tigor Habonaran.


Tampak lelaki tua itu memegang gunting dan memangkas rambut Joe dan mematut-matutnya hingga sedemikian rupa.


"Kek. Aku mau request. Minimal mirip Sharukh Khan lah. Jangan mirip sama Hrithik Roshan kurang suka aku sama dia." Kata Joe sambil duduk di sebuah bangku panjang tanpa memakai baju dengan sebelah tangan memegangi kupingnya dan sebelah tangan lagi menggaru-garu badannya yang terkena sisa potongan rambut itu.


"Apa kau pikir aku ini dokter spesialis operasi plastik? Aku hanya mengubah penampilan mu saja bukan wajah mu. Bodoh mu itu tak ketolongan." Kata Tengku Mahmud.


Kali ini Tigor tak mampu lagi menahan tawa. Pertama dia melihat Joe seperti seekor monyet yang garu sana garu sini. Yang ke dua permintaan anak itu yang tidak masuk akal. Yang terakhir balasan menohok dari Tengku Mahmud.


"Suka-suka kakek saja lah. Aku tidak mau banyak bicara lagi. Percuma. Paling-paling nanti gaya rambut ku ini seperti paman Tigor yang baru bebas dari penjara beberapa bulan yang lalu." Kata Joe.


"Diam kau dan jangan banyak bergerak. Di tower mall tidak ada jual kuping cadangan. Nanti kalau kuping mu ini terkena gunting, aku tidak sudi bertanggungjawab." Kata Tengku Mahmud.


Ketiga orang itu terus saja bertengkar terutama Joe dan kakek Tengku Mahmud. Sama sekali tidak ada perdamaian diantara mereka berdua.


Selesai memangkas rambut Joe, Tengku Mahmud pun segera mengambil ramuan yang sudah dia racik lalu melumuri tubuh Joe dengan ramuan itu.


"Mengapa sangat bau sekali kek?" Tanya Joe protes.


"Anak ini. Heh Gor! Tolong kau ambilkan kain itu. Aku akan menyumbat mulut anak ini. Dari tadi seperti burung beo di tinggal suami. Ngoceh terus-terusan." Kata Tengku Mahmud.


"Kapan kakek pernah melihat burung beo menikah? Pernah kakek undangan di acara pernikahan mereka?" Tanya Joe.


Keletuk!


"Aduh." Kata Joe sambil mengucap kepalanya yang di jitak oleh Tengku Mahmud.


"Kau ini bisa membuat darah tinggi ku kambuh. Jika tidak di hajar, belum puas rasa hatiku." Kata Tengku Mahmud sambil berjalan mengambil ekor ikan pari membuat Joe lari pontang panting sambil menutupi bagian depan bawah pinggangnya dengan celana.


Karena Joe baru saja di lumuri dengan ramuan yang berwarna hijau itu, kini anak itu persis seperti manusia hijau lari keliling rumah sambil di kejar oleh Tengku Mahmud.


"Kemana kau lari Joe. Awas kalau Tiara melihat mu tanpa pakaian seperti itu." Kata Tengku Mahmud sambil terus mengejar anak itu keliling rumah.


"Mati aku. Tolong paman!" Kata Joe sambil terus lari.


Dalam keadaan lari itu, sempat juga dia memutar otak lalu menyambar sebutir kerikil kemudian mengancam.


"Awas kek. Jika masih terus mengejar ku, aku akan lempar sarang tawon itu biar sekalian kita lari nyebur ke laut." Kata Joe mengancam dengan sebutir kerikil ditangannya.


"Heh manusia hijau. Kemari kau! Jika tidak, aku akan membiarkan warna kulit mu itu hijau selama 3 bulan baru bisa pulih. Mau kau ya?" Ancam Tengku Mahmud.


"Aduh. Mengapa bisa hijau kek. Nanti kalau ada kambing bagaimana ini? Bisa di kejar aku karena disangka rumput." Kata Joe sambil berjalan mendekat.


"Kau ini ya. Selalu membuat ku kesal." Kata Tengku Mahmud sambil menjewer kuping Joe.


"Aduh ampun. Sakit kek. Woy kek. Sakit ini. Keeeek sakit. Kakek gemblung. Ampuuun..!" Kata Joe sambil di seret oleh Tengku Mahmud.


"Sekarang kau harus berendam di dalam air itu." Perintah sang kakek.


"Baiklah Tengku Mahmud Baharuddin perkasa Alam nan indah lagi elok dipandang mata, harum semerbak bak wangi kasturi. Laksana laksmana perkasa yang kalah dalam perang lalu tenggelam ngangkut di karang kemudian modar." Kata Joe sesuka hatinya.


"Kau mendoakan aku cepat mati ya? Heh anak jin iprit! Katakan sekali lagi seperti tadi!"


"Sudah lupa kek. Hehehe." Jawab Joe lalu segera melangkah kemudian duduk di dalam tong potongan drum.


"Panas kek!" Kata Joe sedikit menyeringai.


"Sudah. Jangan banyak mengeluh. Nikmati saja derita mu." Kata Tengku Mahmud yang sekali lagi membuat Tigor memegangi perutnya menahan tawa.


Malam itu, sekitar pukul sebelas, tampak satu unit Speedboat melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju ke pantai berair dalam di dekat hutan bakau bagian kanan pantai Kuala Nipah itu.


Setelah merapat di pantai, tampak seorang lelaki tua berusia 60-an namun masih gagah melompat meninggalkan seorang lagi laki-laki muda yang bertugas sebagai juru mudi dengan berkata, "kau tunggu di sini ya. Aku tidak akan lama." Kata Lelaki itu.


Dia adalah kakek Jeff. Salah satu dari pentolan senior dalam organisasi Dragon Empire selain Regan dan pendiri nya yaitu Drako.


Dengan menyalakan senter di ponselnya sebagai alat untuk menerangi jalannya melewati pinggir hutan bakau itu, dia pun segera berjalan menuju sebuah rumah panggung berdinding anyaman bambu yang terdapat di ujung kampung itu.


Karena sudah beberapa kali sampai di Kuala Nipah ini dan tau benar seperti apa perangai dari Tengku Mahmud, maka sebelum dia tiba di halaman rumah itu, dia terlebih dahulu mengucap salam dan menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Salam buat anda Tengku Mahmud. Saya adalah Jeff. Datang kemari untuk mengunjungi anda sekaligus menemui Tuan muda." Kata Kakek Jeff lalu memusatkan perhatian nya kalau-kalau ada kulit kerang yang melesat ke arah nya.


Lama juga dia menunggu, namun tiada kulit kerang yang melesat, dia pun memberanikan diri lebih mendekat.


"Ternyata kau yang datang Jeff?!"


"Heh?!" Kata Jeff terkejut setengah mati melihat lelaki tua berdiri dibelakangnya.


"Oh. Maaf Tengku Mahmud. Saya sampai terkejut." Kata Jeff lalu menyalami lelaki tua itu.


"Joe sudah menunggu mu sejak tadi."


"Oh ya?! Di mana Tuan muda sekarang berada Tengku?" Tanya Jeff.


"Dia ada di belakang rumah sedang berendam." Jawab Tengku Mahmud.


"Baiklah kakek Tengku. Kalau begitu saya akan menemuinya." Kata Jeff permisi.


"Silahkan!"


Jeff lalu melangkah menuju ke bagian belakang rumah itu.


Tiba di sana, dia melihat Joe sedang berendam di dalam air sambil menggigil kedinginan.


"Tuan muda. Saya sudah sampai." Tegur Jeff membuat pemuda yang sedang berendam itu membuka kelopak matanya lalu menoleh ke arah datangnya suara tadi.


"Kakek Jeff sudah tiba? Bagaimana perjalanan mu?" Tanya Joe.


"Aman dan lancar."


"Oh. Syukurlah." Kata Joe merasa lega.


"Tuan muda. Aku tidak akan lama di sini. Kedatangan ku hanya untuk mengambil barang-barang milik anda. Kemudian aku akan segera pergi."


"Mengapa tidak besok pagi saja?" Tanya Joe.


"Tidak bisa Tuan muda. Saat ini anak buah ku sedang melakukan pengintaian di Garden Hill. Aku ingin mengambil bagian dan menghukum bangsat yang menggunakan nama organisasi yang kami rintis dengan keringat dan darah. Jika aku tidak menyiksa orang itu, sampai mati pun aku akan dikejar rasa bersalah." Kata Jeff.


"Hmmm. Baiklah. Temui paman Tigor dan pinta barang-barang milik ku. Ingat kek. Aku tidak mengizinkan siapapun membuka penutup peti peninggalan kakek Malik ku. Jangan di langgar larangan dari ku karena aku pasti akan mengetahuinya. Jaga peti itu dengan nyawa mu kek. Jika kau tidak sanggup, maka jangan di bawa dan aku akan memilih untuk pulang bersama dengan mu malam ini. Tapi jika kakek sanggup, maka penuhi semua yang aku katakan tadi." Kata Joe setengah peringatan dan setengah perintah.


"Tuan muda. Aku akan menjaga barang milik anda itu dengan nyawa ku. Harap anda percaya!" Kata Jeff.


"Hmmm. Baiklah. Segera temui paman Tigor, lalu ambil barang itu kemudian tunggu aku di Mountain Slope." Kata Joe.


"Siap laksanakan." Kata Jeff lalu pergi meninggalkan Joe untuk menemui Tigor guna mengambil barang-barang milik Tuan mudanya itu.


BERSAMBUNG...