Joe William

Joe William
Amarah Joe meledak



Di dalam ruangan tempat acara itu digelar, para tamu tampak sudah duduk di kursi masing-masing. Ini juga termasuk Tuan Riot yang didampingi oleh sang Istri, Lilian seta Harvey.


Tidak ada satupun yang mengetahui apa yang sedang terjadi di luar. Mungkin karena mereka terlalu asyik dengan acara tersebut sehingga tidak menyadari bahwa seramai tiga puluh orang yang bertugas di luar bangunan kantor itu telah diringkus oleh anak buah Herey dan Jeff.


Sementara itu, salah satu dari tiga orang pemuda tampak gelisah ketika memperhatikan ke arah meja di mana Tuan Riot sedang duduk.


Pemuda itu adalah Mario.


Sejak tadi dia tampak sangat gelisah karena tidak melihat bahwa Renata berada di antara mereka yang duduk di salah satu meja tempat para Staf berada dengan keluarga masing-masing.


"Charles. Mereka sepertinya ingkar janji." Bisik Mario kepada salah seorang pemuda di sampingnya.


"Apa iya?" Kata pemuda bernama Charles itu menanggapi perkataan dari Mario dan segera mengerling ke arah meja di mana keluarga Tuan Riot berada.


"Wah... Kurang ajar Tuan Riot ini. Sepertinya dia mencari susah." Kata Milner dengan geram.


"Apa sebaiknya kita hampiri saja mereka?" Tanya Mario meminta pendapat dari kedua sahabatnya itu.


"Boleh juga. Mari kita hampiri mereka." Kata Charles lalu segera melangkah ke arah meja dimana Tuan Riot berada.


Dengan gaya dibuat sesantai mungkin, Charles pun melangkah mendahului kedua sahabatnya itu dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya.


"Wah. Anda telah tiba Tuan Riot?!" Tegur Charles dengan senyum keangkuhan.


"Kau Charles. Mau apa ke meja kami?" Tanya Harvey tidak senang.


"Heh sampah. Aku tidak bertanya kepada mu. Apa kau lupa bahwa kau bisa masuk ke aula ini berkat Tuan Riot ini?! Kau diam karena aku tidak sedang berbicara dengan mu!" Bentak Charles dengan suara tertahan.


"Tuan Riot! Aku datang menagih hutang janji." Kata Mario langsung kepada intinya.


"Maafkan aku Mario. Renata sebentar lagi pasti sampai. Dia sedikit terlambat karena tadi sedang berdandan." Jawab Tuan Riot sedikit gugup.


"Hahaha. Bagus. Memang begitu seharusnya. Ingat Tuan Riot! Jika malam ini Renata tidak hadir, maka jangan salahkan jika besok aku meminta Ayah ku untuk menuntut hutang perusahaan mu sebesar dua juta USD itu. Dan, jika kau tidak bisa melunasinya, maka perusahaan mu akan di sita. Jika tidak mencukupi, kau tau sendiri lah. Penjara menanti mu." Ancam Mario membuat Tuan Riot mendadak pucat.


"Aku peringatkan bahwa aku tidak pernah main-main dengan ancaman ku. Bukan begitu Brother Charles?" Tanya Mario sambil tertawa.


"Benar. Itu sangat benar sekali. Anda pikirkan sendiri lah Tuan Riot. Bukannya aku mengancam. Tapi, aku selaku orang yang dipercaya oleh Paman Ryan sebagai pemantau proyek di sini tidak akan bisa membantu anda. Kecuali jika Putri mu mau kami gilir. Hahaha.." kata Charles.


Perkataan nya ini sangat merendahkan sekali sehingga membuat Harvey dan Lilian setengah mati menahan luapan emosi nya.


Mereka berdua tidak ingin merusak rencana yang telah di atur oleh Joe William. Jika rencana ini gagal, pasti Joe akan semakin murka dan mereka berdua pun pasti akan terkena tempiasnya.


"Tuan Riot! Segera telepon putri anda itu! Aku sudah tidak sabaran." Kata Mario yang mulai merasa gerah karena Tuan Riot sejak tadi hanya diam saja.


"Kau menunggu kami Mario?"


Terdengar suara teguran dari arah belakang membuat semua orang yang berada di meja itu menoleh ke arah datangnya suara tadi.


"Heh. Mengapa beruk lepas ini bisa berada di sini? Kemana semua pengawal?" Kata Mario dengan heran.


"Kau mengatakan aku Beruk lepas? Apa kau yakin tidak ingin menarik kembali kata-kata mu barusan?" Tanya Joe dengan nada dingin.


"Heh lutung kasarung! Kau kira kau siapa hah? Renata! Kemari kau!" Bentak Mario.


"Renata. Apa aku tidak salah lihat? Di banding dengan anak gorila ini, Mario jauh lebih tampan. Mata mu sungguh juling rupanya." Kata Milner dengan senyuman penuh ejekan.


Hanya itu kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Milner. Karena setelah itu, satu tamparan mendarat di pipi nya dengan sangat keras.


Plak!


"Sejak dulu kau tidak pernah berubah, Milner. Aku sudah sangat bertoleransi dengan tidak membuat keluarga mu bangkrut. Tapi sepertinya kau tidak pernah mau berubah." Kata Joe dengan nada suara yang sangat dingin.


"Kau berani menampar sahabatku?!" Bentak Mario.


Plak!


Satu tamparan keras sekali lagi mendarat di pipi. Kali ini pipi Mario yang menjadi tempat mendaratnya tamparan itu.


"Kau?!"


"Bangkit dan kosongkan meja ini!" Perintah Joe kepada Tuan Riot.


Begitu mereka semua berdiri, tampak Joe menjambak kerah baju Charles kemudian langsung membanting tubuh pemuda itu di atas meja dengan satu tangan membuat acara itu spontan terhenti.


Kini semua mata memandang ke arah pemuda berkulit hitam itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kau. Setan alas!" Kata Mario lalu berusaha untuk menyerang ke arah Joe.


Hanya sedikit saja Joe menghindari serangan itu. Kemudian dengan sigap menangkap kerah baju Mario lalu membanting tubuhnya tepat di atas tubuh Charles yang masih belum bangun itu.


"Kemana semua pengawal?" Jerit Milner.


"Pengawal? Pengawal yang mana Milner? Apa kau kira orang-orang dari Dragon Empire itu adalah milik bapak mu?"


"Bawa mereka masuk kemari!" Kata Joe memerintahkan.


Kini dari arah pintu tampak puluhan orang-orang berpakaian loreng hitam menyeret sekitar tiga puluh orang lalu memaksa mereka untuk berlutut.


Di belakang mereka kini tampak Ryan, Daniel, Riko, Arslan dan yang lainnya berjalan menuju bagian tengah aula itu.


Melihat siapa yang datang, membuat Charles dan Milner merasakan semangatnya kembali bangkit.


Mereka langsung berdiri menghampiri Ryan dan dengan manja berkata. "Paman. Tolong suruh mereka untuk meringkus orang hitam itu!" Kata Charles sambil menunjuk ke arah Joe.


Bukannya permintaannya dikabulkan oleh Ryan. Melainkan tamparan keras kembali bersarang di pipi Charles.


Plak!


"Kurang ajar kalian ini. Bukannya meringankan beban ku, kalian malah melumuri wajah ku dengan kotoran. Celaka kalian ini!" Bentak Ryan membuat Charles dan Milner terbengong-bengong.


"Paman. Apakah,"


"Diaaam!" Bentak Ryan dengan sangat marah sekali.


"Tuan muda. Maafkan keponakan saya yang tidak tahu di untung ini." Kata Ryan sambil membungkuk.


"Apa? Dia adalah Tuan muda?"


"Ah apa aku salah dengar?"


"Tuan besar tidak hitam. Nyonya Clara juga tidak memiliki kulit yang hitam. Lalu?"


"Mungkin dia ini..,"


Bisik-bisik antara mereka kini memenuhi ruangan itu.


Sementara Tuan Barry hanya memperhatikan saja dari mejanya yang sedikit lebih tinggi dari yang lainnya dengan didampingi oleh Ronald dan Austin.


"Kalian akan mendapatkan hukuman dari apa yang kalian lakukan." Kata Joe sambil memerintahkan kepada salah seorang yang berada di situ untuk mengambilkan kursi.


Bukannya duduk, Joe malah menaikkan sebelah kakinya menginjak kursi itu sambil memperhatikan ke sekelilingnya.


"Kalian dengarkan aku! Nama ku adalah Joe William. Aku datang ke sini hanya untuk melihat seperti apa Garden Company ini menjalankan tugasnya sebagai anak perusahaan dari Future of Company."


"Katakan kepada ku siapa yang bernama Moreno?!"


Seorang lelaki setengah baya tampak tergopoh-gopoh mendekat ke arah Joe William dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Tuan muda. Sa-sa-saya yang bernama Moreno." Kata lelaki itu sambil terbungkuk-bungkuk.


"Hmmm... Kau yang bernama Moreno? Begini kah cara kerja mu?" Tanya Joe.


"A-ap-apa maksud anda Tuan muda?" Tanya Moreno berpura-pura tidak tahu.


"Bagus. Kau tidak mengaku itu bagus. Berarti semakin berat hukuman yang akan kau terima dari ku." Kata Joe sambil menatap tajam ke arah lelaki setengah baya itu.


"Tuan Barry. Sekarang bentangkan isi perjanjian kerjasama antara perusahaan Future of Company dengan perusahaan Garden Company ini!" Kata Joe.


Mendengar ini, Tuan Barry langsung turun dari tempat duduknya lalu melangkah perlahan ke arah Joe William.


Sekali dia menjentikkan jari, tampak dua orang berpenampilan seperti bodyguard menghampirinya dengan membawa tas koper.


"Sekarang beritahu kepada ku apa-apa saja proyek yang disepakati antara anda dan Moreno ini Tuan?!" Kata Joe masih dengan nada suara yang sangat tegas.


"Tuan Barry. Tolong pintakan pengampunan untuk ku kepada Tuan muda ini." Kata Moreno sambil berlutut.


"Diam lah Tuan Moreno. Kita akan mengusut tuntas masalah ini malam ini juga. Jika kau merasa tidak bersalah, untuk apa takut?" Kata Joe dengan senyuman yang sangat mengintimidasi.


BERSAMBUNG...