
"Tuan muda. Ini permen karet yang anda pesan tadi." Kata Black sambil menyerahkan sekotak permen karet berisi dua belas.
"Terimakasih Senior. Oh ya. Apakah anda tidak ada mendapat kabar tentang perkembangan di Komunitas elite Real estate MegaTown?" Tanya Joe.
"Justru itu lah yang ingin saya sampaikan kepada anda."
"Begini Tuan muda. Sepertinya keadaan dalam perusahaan Arold Holding Company sedang dilanda badai kecil. Saat ini, entah mengapa Tiba-tiba saja si Paul menghilang entah kemana. Menurut Leo, yang lebih parahnya lagi, seluruh surat perjanjian kesepakatan kerja sama antara Keluarga Miller dengan Walikota Garden Hill bagian Timur semua dibawa kabur oleh Paul ini." Kata Black menerangkan.
"Hmmm. Ternyata efeknya sungguh diluar dugaan ku. Lalu, bagaimana dengan Paman Ryan, Riko dan Arslan?" Tanya Joe lagi.
"Menurut Leo, ketiga orang itu sudah mulai melakukan pekerjaan hari ini. Mereka mulai mengkaji ulang proyek yang akan segera dijalankan, siapa kontraktor nya dan sepertinya Adolf Miller sangat mempercayakan pelaksanaan proyek di Garden Hill timur itu kepada Ryan ini." Kata Black.
"Secepat itu kah? Wah. Benar-benar Adolf ini. Apakah itu tidak terlalu terburu-buru?" Gumam Joe.
"Mereka sepertinya terlalu percaya dengan kredibilitas ketiga orang itu. Dengan kapasitas yang mereka miliki sebagai mantan dari orang kepercayaan di sebuah perusahaan raksasa, kemampuan mereka ini sudah pasti tidak ada yang berani meragukan." Kata Black pula.
"Senior Black, tetap sebarkan mata-mata terutama di Garden Hill bagian Timur itu! Segera laporkan kepada ku sekecil apapun informasi yang di dapat. Ini sangat berguna bagi kita dalam mengatur kembali siasat. Aku tidak ingin meninggalkan sedikitpun celah kepada mereka ini. Sekecil apapun keretakan di dalam perusahaan mereka, dalam keluarga mereka bahkan hubungan antara mereka dengan bawahan, akan aku manfaatkan keadaan itu. Walaupun sebesar lubang jarum?!" Kata Joe lalu melanjutkan.
"Ketika nanti aku sudah berada di Metro City, keesokan harinya anda juga harus segera berangkat ke Metro City juga! Hal ini sangat memungkinkan untuk kita agar segera bertindak jika ada kabar dari Leo."
"Saya mengerti Tuan muda. Berita akan selalu kita dapatkan. Bahkan untuk saat ini setiap celah yang kosong pasti telah ditempati oleh orang-orang Dragon Empire."
"Bagus. Kita akan mengusir mereka dari negara kita ini. Lalu tarik minat mereka untuk berinvestasi di Indonesia. Di sana, aku sudah mempersiapkan kuburan untuk mereka." Kata Joe.
"Apakah anda akan kembali ke Indonesia lagi, Tuan muda?" Tanya Black.
"Ya. Itu pasti. Aku juga baru mengakuisisi Tower Sole propier. Ada beberapa proyek di sana yang belum selesai termasuk Hotel di Tasik Putri, bangunan kondominium di Dolok ginjang, pembangunan tempat wisata di tanjung karang. Aku hanya menyisakan kota batu dan Kuala Nipah untuk mereka. Karena di sana lah kuburan mereka letaknya." Kata Joe.
"Ternyata jauh-jauh hari anda sudah mempersiapkan semua ini." Puji Black.
"Itu terjadi tepatnya di hari ulangtahun ku yang ke 17. Ketika itu kami banyak berbicara tentang isu-isu di seputar dunia bisnis. Walaupun aku hanya menjadi pendengar yang budiman, tapi aku berfikir keras untuk mempelajari semua yang mereka bahas ketika itu. Karena mereka ini bermain cukup kasar, maka aku juga suka kekerasan."
" Aku tidak mengerti apa itu taktik dalam bisnis. Bagaimana bermain di bursa saham, bagaimana caranya mengatur keuangan dan bagaimana menjadi seorang yang bisa memanage perusahaan berskala besar seperti Future of Company. Biarkan itu menjadi bagian Ayah ku. Bagiku adalah, menyingkirkan duri penghalang bagi perusahaan untuk tetap berjalan di jalan yang tidak ada sedikitpun penghalangnya. Itu adalah bidang ku. Karena aku di didik bukan di bagian management dan marketing. Tapi olah Kanuragan. Maka, kekerasan adalah jalan ku." Kata Joe sambil tersenyum.
"Anda masih muda, Tuan muda. Masih banyak waktu. Akan lebih baik jika anda bisa mengkombinasikan antara bisnis kewirausahaan dengan dibarengi dengan kemampuan bertarung yang baik. Karena pada dasarnya, hanya diri kita sendiri yang tidak akan meninggalkan diri kita dalam keadaan apapun. Berharap pada orang lain, sampai pada masanya, mereka akan mencari keselamatannya masing-masing. Andai kita tidak memiliki kemampuan untuk membela diri, maka tamatlah sudah." Kata Black.
"Kekuatan otot harus sejalan dengan otak. Karena otak saja tidak cukup untuk menyingkirkan jika ada batu besar di tengah jalan. Otak berfikir bahwa dengan begini, kita bisa menyingkirkan batu. Namun jika tanpa kekuatan otot, silahkan tenggelam di dalam pemikiran otak. Namun batu tetap tak akan bergeming. Sama saja dengan bodoh." Kata Black lagi.
"He'em. Perkataan anda itu banyak benarnya, Senior. Sama halnya dengan bermimpi. Silahkan anda memiliki mimpi untuk menjadi seperti apapun yang anda inginkan. Tapi anda harus bangun untuk meraihnya. Jika hanya sekedar bermimpi saja tanpa usaha, sama saja dengan orang menanti hujan di terik mentari."
"Hahaha. Baru sekali ini saya menemukan seorang sahabat. Tapi maaf Tuan muda. Apakah saya pantas bersahabat dengan anda?" Kata Black pula malu-malu.
"Ketika aku dalam keadaan waras, maka aku adalah seorang sahabat yang baik. Ketika tengil ku kambuh, maka aku adalah seorang yang sangat menyebalkan. Hahaha. Sudah tidak terhitung berapa ratus kali telinga ku ini di jewer oleh kakek Tengku Mahmud. Itu terjadi ketika tengil ku mulai kumat." Kata Joe sambil tertawa.
Mereka berdua kini sama-sama tertawa terbahak-bahak membuat seorang lelaki tua terpaksa keluar dari dalam Villa itu lalu menegur.
"Apa belum cukup hukuman yang aku berikan tadi? Dasar anak setan. Baru tadi kau di hukum, sekarang sudah tertawa. Persiapkan dirimu sesegera mungkin. Kita akan berangkat malam ini ke Metro City menggunakan jet pribadi milik Ayah mu. Semakin cepat, semakin baik." Kata lelaki tua itu.
"Senior. Aku masuk dulu ya. Aku akan meminta izin kepada Ayah untuk membebastugaskan dirimu di Starhill ini. Kau harus ikut dengan ku ke Metro City. Tapi harus melalui jalan berbeda." Kata Joe berbisik.
"Anda tenang saja, Tuan muda. Besok sore pasti aku akan tiba di Metro City." Kata Black pula.
"Ya sudah. Daripada nanti kena marah lagi, aku ke kamar ku dulu ya!" Kata Joe lalu segera berdiri dari halaman depan Villa itu lalu melangkah memasuki Villa mewah tersebut untuk mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke Metro City.
Tiba di kamar, hal pertama yang dilakukan oleh Joe adalah mengambil peti kayu kecil yang terbuat dari kayu Cendana penuh dengan ukiran lalu membukanya.
"Bola besi sudah. Pisau sudah. Rencong sudah. Jarum perak sudah. Beres semua." Kata Joe.
Sebelum dia menutup kembali peti kayu tersebut, tak lupa dia mengeluarkan satu foto hitam putih kemudian mencium gambar dua orang lelaki di dalam foto tersebut.
"Semoga kakek Tengku baik-baik saja di sana. Dan Kakek Uyut Malik juga tenang di sisi Tuhan yang maha esa." Kata Joe lalu memasukkan kembali foto tersebut ke dalam peti.
"Apa kau sudah selesai Joe?" Tanya satu suara wanita dari luar.
"Sudah Bu."
"Apakah ibu boleh masuk?"
"Boleh Bu. Pintunya tidak Joe kunci."
Kini tampak Clara memasuki kamar anaknya itu lalu mengelus kepala sang Putra.
"Nanti di sana kau jangan nakal ya. Jangan membuat kakek uyut mu makan hati." Kata sang Ibu berpesan.
"Apa maksudmu dengan perkataan tidak terlalu nakal?" Tanya Sang Ibu.
"Hehehe. Hehehe." Hanya tawa itu saja kata-kata yang keluar dari bibir Joe membuat Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Kini anak dan ibu itu sama-sama turun ke lantai bawah di mana keempat naga ompong bersama dengan Ivan, Kenny, David dan Kevin sudah menunggu.
"Wah. Aku pernah melihat peti itu. Itu adalah peti milik Kak Malik." Kata Tuan William.
"Benar kek. Ini adalah peti milik kakek Malik. Aku pernah melihatnya ketika dulu kakek Malik selalu membawa peti ini ketika dia dulu mengobati penyakit lumpuh yang aku derita." Kata Kenny pula.
Kini semua mata memandang ke arah peti kecil itu. Bukan hanya Tuan William dan Kenny saja. Bahkan David, Ivan dan Kevin pun tau betul sejarah peti kayu kecil penuh ukiran tersebut.
"Boleh kakek pegang peti itu Joe?" Tanya Tuan William.
"Boleh Yut. Asal satu saja. Ada dua bilah senjata di dalam peti ini. Keduanya tidak boleh di cabut. Karena jika tidak mendapat darah, maka si pemegang akan terkena dampaknya." Kata Joe memperingatkan.
"Apa hebatnya?" Kata Tuan William dalam hati, lalu mengambil kotak kayu tersebut dari pelukan Joe kemudian meletakkannya di atas meja dan perlahan mulai membuka penutup peti kayu tersebut.
Dengan terkagum-kagum, Tuan William mulai melihat-lihat isi dari peti tersebut. Mulai dari bola besi kecil, jarum perak sebanyak dua belas batang, lalu perhatiannya tertuju bada sebilah Rencong yang baik dari gagang hingga sarungnya terbuat dari emas.
"Ini maksudmu yang tidak boleh di dihunus dari sarungnya?" Tanya Tuan William sambil mencabut senjata pusaka itu.
"Jangan keeeek..!" Jerit Joe.
Terlambat. Rencong itu sudah keluar dari sarangnya.
Mendadak saja bau harum bunga Cempaka memenuhi ruangan itu.
Prak!
Gubrak!
"Argh...!"
Tampak Tuan William seperti kepanasan lalu melepaskan Rencong tadi dari genggaman tangannya dan jatuh di atas meja.
Sedikit saja Rencong itu terjatuh menghantam Meja kaca tersebut. Tapi efeknya sungguh mengerikan. Meja itu hancur berantakan.
"Ya Tuhan ku." Kata Joe ketakutan.
Dia dan Jerry berusaha sekuat tenaga memasukkan kembali Rencong itu ke dalam sarungnya. Tapi setiap kali akan dimasukkan, seperti ada kekuatan besar yang menghalangi.
"Tidak bisa Ayah." Kata Joe.
"Bagaimana caranya ini Joe? Bau harum ini semakin membuat kepala ku pusing." Kata Jerry mengeluh. Sementara itu Tuan William sudah jatuh terduduk di lantai. Lemas.
"Senior. Suruh pelayanan membawakan pisau dapur kemari!" Perintah Joe kepada Black.
"Baik Tuan muda." Kata Black yang juga ikut-ikutan pucat.
Dengan setengah berlari, Black memberikan pisau pengiris itu kepada Joe.
Begitu pisau itu berada di tangannya, Joe langsung mengiris ujung ibu jadi danjari telunjuknya sampai berdarah lalu meneteskan darah tersebut ke bilah Rencong itu.
Ajaib! Sedikitpun tidak ada darah yang tersisa di bilah Rencong tersebut. Semua darah yang menetes di tubuh Rencong itu seperti habis tersedot tanpa bekas.
"Sekarang Ayah!" Kata Joe meminta Jerry untuk memasukkan Rencong tersebut ke dalam sarungnya.
"Dengan tangan gemetar, Jerry memasukkan bilah Rencong tersebut ke dalam sarungnya lalu meletakkan rencong emas itu di atas lantai begitu saja.
"Huh. Hampir kita satu keluarga mati." Kata Joe dengan nafas megap-megap.
"Sekarang baru aku mengerti apa maksud dari Jerry mengirim mu ke Kuala Nipah itu." Kata Tuan William yang masih tampak pucat sambil memijit-mijit tangannya yang kesemutan karena Rencong tadi.
"Rencong ini berhantu. Aku sudah pernah merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari Rencong ini. Aku tidak berani lagi menggunakannya jika benar-benar tidak dibutuhkan." Kata Joe yang langsung teringat ketika di perbatasan kota Kemuning dan kota Batu beberapa bulan yang lalu.
"Joe. Cepat masukkan senjata berhantu itu ke dalam peti. Kakek takut." Kata Tuan William ketakutan.
Nyaris saja semuanya celaka karena mabuk akibat bau harum yang keluar dari bilah Rencong tersebut.