
Dini hari menjelang Sabtu.
Malam sudah sedemikian larut. Tapi, entah mengapa Joe sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Entah sudah berapa kali dia berguling-guling di atas tempat tidurnya. Tapi, tetap saja dia tidak bisa tidur.
Sejenak Joe memandangi langit-langit kamarnya, lalu dia pun duduk di pinggir tempat tidur. Garu-garu kepala, kemudian bangkit dan berjalan menuju lemari.
Dari laci, dia mengeluarkan peti kayu kecil penuh ukiran. Kemudian dia mengeluarkan selembar foto hitam putih dan dua bilah pisau dengan bentuk yang berbeda. Pisau yang pertama adalah Rencong. Sedangkan yang kedua adalah belati dengan gagangnya berbentuk ukiran kepala kobra.
"Ting Ting Ting!" Kata Joe layaknya seperti seorang dalang yang memainkan wayang. Kedua pisau itu dia adu lalu tertawa sendiri.
"Coba saja kakek Uyut Malik tidak meninggal. Pasti sudah ku lagakan orang tua itu dengan Kakek Tengku. Dua dedengkot bertarung. Pasti seru. Tapi.., ah. Otak ku ini sudah error'. Mana boleh aku mengadu domba orang tua agar bertarung. Bisa kualat. Hehehe," kembali Joe menyeringai lalu garu-garu kepala.
"Mau apa lagi ya? Oh mata ku yang tersayang. Mengapa kau tidak ngantuk?"
Kini Joe memasukkan kembali kedua bilah pisau tersebut kedalam tempatnya. Setelah itu, dia meraba-raba ke arah dadanya.
"Kalung ini. Entah sudah berapa belas tahun di leher ku. Coba aku lihat!" Kata Joe pula dalam hati. Dia lalu meloloskan kalung yang memiliki dua lencana itu dari lehernya, lalu memperhatikan kalung tersebut dengan seksama.
"Yang ini Paman Herey. Yang ini Paman Arslan," kata Joe sambil menunjuk ke arah kedua lencana tersebut.
Lencana kepala harimau dia samakan dengan Herey. Sedangkan lencana berbentuk naga, dia samakan dengan Arslan.
"Coba saja jika mereka berkelahi. Kira-kira, siapa ya yang menang? Paman Arslan orangnya lincah dan fleksibel. Sedangkan Paman Herey, orangnya kuat, kaku dan tahan banting. Eh, tapi.., tendangan kaki Paman Arslan hebat. Andai ada waktu, aku ingin agar mereka bertarung. Tapi.., ah. Keponakan apa aku ini? Bisa kualat aku," kembali Joe cengengesan. Dan, sekali lagi dia garu-garu kepala.
"Wuzzz! Ciaaaat! Ciaaaat! Naga lawan harimau. Siapa yang menang ya?" Kata Joe sambil menabrakkan kedua lencana itu.
Entah bagaimana dia memegang kedua lencana lambang kepemimpinan dua organisasi itu, hingga sampai jatuh ke lantai.
Prak!
"Oh Tuhan!" Kata Joe lalu bergegas memungut kedua lencana yang jatuh di lantai tadi.
"Untung tidak rusak. Heh.., apa ini?" Kata Joe sambil mengangkat dan memperhatikan ke arah mata naga pada lencana itu.
Kini, lencana berbentuk naga itu sedikit renggang dan ketika di tarik, maka terdapat dua sisi yang sama persis.
Penasaran, Joe menarik kedua sisi tadi dan kini ternyata memang lencana tersebut bisa di belah.
Kini Joe melihat sederetan tulisan dan angka-angka seperti angka sandi.
Joe bergegas menuju ke arah tinta stempel dan melekatkan lencana itu. Setelah itu, dia lalu menempelkan pada kertas.
"Dragon Empire. Didirikan oleh Drako, Ramsey, Regan dan Jeff. Bertujuan untuk melindungi Tuan muda Wilson William. Tidak ada kata mundur. Mati lebih baik daripada gagal melindungi majikan! Kami adalah empat pengawal bayangan!"
Kemudian Joe kembali melihat sisi lain dari lencana itu dan sekali lagi dia menempelkan pada tinta stempel. Dan, sederet kata-kata timbul ketika Joe melengketkan stempel tersebut di kertas kosong.
"Ini adalah kata perintah. Ketika surat ini disebarkan, tidak ada kata Tidak bagi seluruh anggota organisasi. Membangkang, akan di buru! Dan, berarti Mati!" Begitulah isi dari tulisan tersebut.
"Empat pengawal bayangan. Kurang satu tinggal tiga. Tapi mengapa kakek Wilson ku bisa terbunuh juga? Ah. Bodoh sekali aku ini. Namanya ajal. Sejuta pengawal bayangan juga percuma kalau memang takdirnya harus mati,"
Joe kini memperhatikan kembali tulisan angka pada kertas bekas stempel dari lencana tadi.
"Hmmm. Sepertinya ini adalah kode. Mungkin kode ini.., eh. Ini adalah nomor telepon Metro City area. Apakah?"
Joe semakin penasaran. Dia segera mengeluarkan ponselnya, lalu dia segera menekan kata sandi yang yang terdapat pada kertas cap tadi. Entah berapa kali dia salah, dan setelah dia berhasil, kini tertera lah nomor telepon.
Tut.., Tut.., Tut..,
Terdengar suara panggilan sedang menunggu jawaban. Lalu, tak lama setelah itu terdengar suara seorang wanita layaknya operator.
Selamat datang, Ketua. Anda telah melakukan panggilan darurat. Kami akan segera menghubungkan anda dengan ketua cabang dan ranting,"
Joe mendadak pucat mendengar suara wanita di seberang sana.
Bukan suara wanita itu yang menyeramkan sehingga membuat Joe ketakutan. Melainkan, dia telah melakukan panggilan darurat. Bayangkan saja jika seorang ketua sedang mengalami masalah yang sangat darurat! Bisa-bisa seluruh anggota dari Dragon Empire akan tumpah ruah di kota batu ini. Hal ini lah yang membuat Joe kelimpungan. Dia tidak tau harus berbuat apa selain mengakhiri panggilan tersebut.
"Mati aku. Apa yang telah aku lakukan?" Aku harus segera menghubungi Ayah," kata Joe ketakutan.
Tut tut tut...
Panggilan tidak tersambung.
"Coba Paman Tigor!" Kata Joe lagi dalam hati.
Tetap sama. Panggilan tersebut sama sekali tidak bisa terhubung.
"Coba Senior Black!" Kata Joe lagi. Tangannya sudah gemetaran mencari nomor kontak milik Black.
Tut.., tut.., tut..,
Hasilnya tetap sama. Yaitu, tidak bisa dihubungi.
Bagaimana bisa dihubungi?! Saat ini saja, Baik Drako, Syam, dan yang lainnya sedang melakukan multi calling party yang melibatkan orang-orang besar baik itu di Dragon Empire dan Tiger Syam. Tidak terkecuali, Leo, Black, Herey dan bahkan Tigor beserta yang lainnya juga sedang melakukan gabungan panggilan tersebut dengan Drako sebagai ketuanya.
"Semoga saja kekhawatiran ku tidak terjadi. Ah. Sudah subuh. Aku harus siap-siap berangkat!" Kata Joe lalu bergegas mengemasi barang-barang miliknya.
Tepat pukul 6, Joe sudah berangkat meninggalkan apartemen miliknya. tapi, ponsel miliknya malah ketinggalan di kamar. Kini, Joe berangkat ke kampus tanpa membawa Handphone.
Beberapa jam berselang, di kamar milik Joe pun terdengar suara deringan panggilan telepon. Dan ini entah sudah yang keberapa kalinya.
Handphone milik Joe berdering sebentar. kemudian berhenti, lalu berdering lagi.
Bersambung...