
Empat unit mobil Toyota Hiace bergerak perlahan meninggalkan kawasan area pabrik di dekat jembatan Tasik Putri menuju ke arah Kuala Nipah.
Di depan dan di belakang kendaraan itu tampak berjejer mobil-mobil mini bus dan mobil mewah yang lainnya.
Dari pergerakan mereka di pagi buta ini, tentu saja ada sesuatu yang sedang diangkut oleh mereka.
Tidak jauh dari kawasan pabrik tersebut, terlihat satu unit mobil Toyota hardtop terparkir di tempat yang agak terlindung.
Di dalam mobil hardtop tadi, terlihat empat orang lelaki. Satu diantara lelaki itu terlihat berusia sekitar dibawah 40 tahun. Sedangkan yang tiga lagi masih sangat muda.
"Pak!"
"Ssssst..! Tahan pergerakan kalian!"
"Siap komandan!"
Salah satu dari ketiga lelaki muda tadi segera keluar dari mobil Toyota hardtop itu, kemudian menghilang di balik rerimbunan pepohonan di sekitar jalan tempat mobil Hardtop itu terparkir.
"Atur anak buah kalian. Jangan membuat pergerakan apapun! Jika mereka dibekuk di jalan, maka ketua mereka masih akan bebas berkeliaran. Kita akan bahu membahu dengan orang-orang Dragon Empire untuk menyergap mereka di markas yang sedang mereka tuju saat ini!"
"Siap laksanakan, Komandan!"
Seorang lagi dari dua lelaki muda yang tersisa, keluar meninggalkan mobil tadi, lalu menghilang di arah yang lain.
"Kumbang, masuk!"
"Kumbang menunggu perintah!"
"Target jangan sampai lepas! Jaga pergerakan kalian dan jangan melakukan tindakan apapun tanpa perintah!"
"Kumbang siap laksanakan!"
"Macan masuk!"
"Macan siap menunggu perintah!"
"Bagaimana keadaan di Kuala Nipah?"
"Keadaan di sini sedang ramai. Baru saja Target tiba dengan menyeret seorang wanita!"
"Dicopy!"
Lelaki yang hanya tinggal berdua di dalam mobil itu berfikir sejenak. Dia memikirkan, kira-kira siapa wanita yang disebutkan oleh bawahannya tadi.
"Di seret? Apa lagi rencana Honor Miller ini?"
Lelaki itu kini mengeluarkan ponselnya, lalu melakukan panggilan.
"Hallo Rio," sapa orang di seberang sana.
"Bang. Apakah Abang sudah berada di Kuala Nipah?"
"Ya. Dimana kau saat ini?" Tanya orang yang dipanggil dengan sebutan Abang tadi.
"Aku masih membuntuti mobil yang mengangkut barang-barang yang saat ini sedang menuju ke Kuala Nipah!"
"Oh ya bang. Tadi bawahan ku mengatakan bahwa Honor menyeret seorang wanita. Menurut Abang, siapa wanita itu?"
"Wanita? Entahlah dek,"
"Aku ada mendengar ribut-ribut antara Namora dan Honor Miller ini di Tower restoran sebelum terbakar. Apa jangan-jangan...,"
"Kemungkinan terbesar wanita itu adalah Tiara. Wah. Gawat kalau Joe sampai tau. Dek..! Kau jangan sampai memberitahu kepada Joe tentang gadis itu. Atau dia akan berada dalam bahaya!"
"Mengerti bang. Sekarang aku akan bergerak dulu. Sampai ketemu di Kuala Nipah!"
Begitu panggilan tadi berakhir, kini mobil Toyota hardtop tadi segera keluar dari persembunyiannya, kemudian bergerak melalui jalan yang dilewati oleh empat unit mobil Toyota Hiace tadi.
Berjarak lima menit, kini entah dari mana datangnya, puluhan mobil melintasi jalan yang tadi dengan tujuan yang sama. Di dalam mobil tersebut, terlihat para lelaki berusia rata-rata di bawah 30 tahun berambut cepak. Mereka terlihat fokus memperhatikan empat unit mobil yang sudah jauh meninggalkan mereka.
*********
Kuala Nipah
Di bagian geladak Ferry tersebut, terlihat beberapa lelaki berjaga-jaga. Tampang mereka terlihat sangat tegang, seperti menunggu sesuatu hal yang besar.
Sementara itu, dari arah pantai berdatangan mobil-mobil mewah, lalu berhenti di depan pelabuhan tersebut.
Dari dalam mobil yang paling depan, keluar seorang pemuda berpakaian jas coklat. Pemuda itu terlihat tegang.
Sejenak dia memperhatikan di sekeliling, menjentikkan jarinya ke arah mobil dibelakangnya. Tak lama, keluar lah seorang lelaki sambil menyeret seorang wanita yang masih muda.
Terlihat jelas bahwa wanita itu adalah tawanan. Ini karena, selain wajahnya yang babak belur, rambut yang kusut, mulut gadis itu juga disumbat dengan kain.
"Kemarikan gadis sialan itu!" Pinta pemuda itu.
Lelaki yang baru keluar dari mobil tadi segera menyeret gadis itu, lalu menyerahkannya kepada pemuda itu.
"Kau kemanakan ponsel mu hah?" Tanya pemuda itu sambil menggeledah tubuh gadis itu. Tak lama, kini di tangannya tergenggam handphone milik gadis itu.
"Aku akan segera menghubungi Joe kekasih mu itu. Kita lihat saja. Dia akan mati tepat didepan mata mu!"
"Masukkan dia ke dalam kapal!" Kata pemuda itu sambil mendorong tubuh gadis itu sehingga terjerembab di pantai berpasir tersebut.
Beberapa warga di perkampungan Kuala Nipah hanya bisa mengintip dari balik dinding dan jendela rumah yang terbuka sedikit. Tidak ada yang berani keluar.
Mereka tau gadis cantik yang kini sudah tidak karuan bentuk itu adalah Tiara. Namun, jangankan untuk membantu. Untuk bersuara saja mereka seperti sangat ketakutan.
"Oh Tuhan. Apa yang terjadi kepada Putri pak Madun?"
"Ssssst.... Jangan keras-keras! Bagaimana jika mereka nanti mendengar?"
"Aku hanya kasihan dengan anak Pak Madun itu! Bagaimanapun, mereka orang baik,"
"Berdoalah semoga ada seseorang yang berani menolong," kata temannya pula sembari tertunduk lesu.
"Kesalahan terbesar bagi kita adalah, menerima mereka dengan baik di negri kita. Tanpa kita sadari bahwa mereka adalah penjajah sialan. Apa menurut mu, kali ini mereka akan meninggalkan kampung kita ini?"
"Mana aku tau. Tapi, semoga saja ada yang bisa mengusir mereka!"
Ketika orang-orang kampung Kuala Nipah sibuk dengan umpatan mereka ke keluarga Miller, tanpa mereka sadari dari segala arah kini ribuan orang telah mendekat dari segala arah. Baik itu dari arah hutan bakau di dekat pantai Kuala Nipah, dari arah kampung Indra sakti juga terlihat ribuan orang dengan berbagai kendaraan juga telah berdatangan. Rombongan itu kini memarkir kendaraan mereka tepat di dekat tambak udang milik warga dan mulai mengatur posisi masing-masing.
Di bagian belakang kapal yang bersandar di pelabuhan pula, entah darimana datangnya, kini bermunculan kepala-kepala yang menggunakan alat pernapasan. Sejenak mereka memperhatikan di sekeliling, setelah itu kembali menyelam.
Jika diperhatikan, kini beberapa unit Ferry yang bersandar di pelabuhan Kuala Nipah itu sudah terkepung. Semua dilakukan dengan sangat senyap sehingga tidak ada yang menyadari kehadiran mereka.
"Rakit senjata kalian!" Terdengar perintah dari seseorang yang mengenakan seragam loreng hitam. Wajah lelaki itu sangat kaku sekali. Bahkan lebih kaku dari wajah Namora.
"Herey. Kemana perginya Tuan muda kita?" Tanya teman lelaki kaku tadi.
"Tuan muda itu anak jin. Dia bisa berada di sini kapan saja. Yang terpenting, persiapkan diri. Satu peluru, satu nyawa!" Kata lelaki bernama Herey tadi.
"Selesai!" Kata seorang lelaki yang juga mengenakan seragam loreng hitam. Kini dia membidikkan ujung senjatanya ke arah kapal.
"Black.., Leo! Kita pesta darah lagi!" Kata Herey tersenyum manis.
"Hahaha. Sudah lama sekali kita tidak bertarung. Terakhir kali kita berkelahi tepatnya di Garden Hill. Sudah lama sekali,"
"Benar. Aku pastikan akan mengorek jantung mereka satu persatu. Lelaki yang mengenakan jas biru itu adalah bagian ku!" Kata Leo.
"Kau kenal orang itu?" Tanya Herey.
"Kenal. Orang itu bernama Zacky. Hanya saja, aku tidak melihat yang mana seorang lagi. Biasanya dia selalu berdua dengan orang yang bernama Tiger Lee. Ketika dulu kita membantai anggota Fardy di MegaTown, aku tidak sempat bentrok dengan orang bernama Tiger Lee itu. Jika bentrok, ku pastikan dia akan makan menggunakan selang!" Kata Leo pula.
"Kau banyak tau tentang keluarga Miller ini. Setidaknya, kau kenal yang mana-mana saja orang yang memiliki peran penting,"
"Ya. Aku jelas tau. Yang buncit sedikit botak itu bernama Kim. Yang gembrot itu bernama Liem Guan. Pemilik perusahaan Aglonima Company. Sedangkan yang tua itu bernama Cheung. Kepala pelayan milik keluarga Miller. Dan yang berwajah sombong itu.., itu adalah anak haram Adolf Miller. Hanya saja, aku tidak sempat bertemu dengan Albern. Padahal aku sangat ingin melihat pemuda sombong itu mati di tangan Albern!" Jawab Leo.
"Eh. Lihat di sana itu! Rombongan mereka telah tiba!" Kata Black menunjuk ke arah ujung jalan.
"Pesta segera di mulai!" Kata Herey sambil mengokang senjata Laras panjang nya.
Bersambung...