Joe William

Joe William
Tiara kembali ke Kuala Nipah



Kriiiing..!


Kriiiing..!


Tiara baru saja berpisah dengan anak-anak J7 dan berniat akan kembali ke rumah kos-kosannya ketika ponsel miliknya berdering.


Ketika dia melihat ke layar, ternyata si penelepon adalah ayahnya yaitu Pak Madun.


"Hallo Ayah," sapa Tiara.


"Halo juga anak gadis ayah. Dimana kamu saat ini nak?" Tanya Pak Madun kepada putri satu-satunya itu.


"Masih di kampus, Ayah. Kami baru saja menyelesaikan penelitian tentang limbah pabrik itu di laboratorium, dan telah menemukan bukti bahwa memang, limbah yang dihasilkan oleh pabrik itu sangat berbahaya bagi lingkungan. Kami berniat akan meminta bantuan kepada pihak kepolisian kota batu sebelum mengajukan masalah ini ke arah yang lebih tinggi lagi," jawab Tiara.


"Nak. Dengarkan perkataan Ayah mu ini. Untuk saat ini, urungkan niat mu, dan kembali lah ke Kuala Nipah," cegah pak Madun dengan suara bergetar.


"Kenapa, Ayah? Bukankah dulu ayah adalah orang yang paling mendukung kegiatan kami untuk mencari tau masalah yang dihadapi oleh nelayan. Mengapa sekarang Tiara malah disuruh pulang? Kami baru saja berhasil memecahkan masalah ini,"


"Anak ku. Kau pulang lah dulu. Jangan bantah perkataan ayah mu ini. Ini menyangkut keluarga kita," ujar Pak Madun membuat Tiara mau tak mau harus mengernyitkan dahinya.


Tanda tanya pun kini mulai berseliweran di kepalanya. Baru saja dia bertengkar dengan Joe hanya karena masalah sepele. Kini, dia malah di suruh kembali. Pasti Keluarganya saat ini sedang dalam masalah. Jika tidak, mana mungkin Pak Madun yang tadinya sangat mendukung kegiatan mereka, berubah menjadi orang yang menghalangi usaha yang dilakukan oleh dirinya bersama dengan teman-temannya.


Dengan berbagai fikiran yang bergejolak didalam hatinya, Tiara akhirnya menyebrangi jalan dan mengubah arah untuk menunggu bis yang akan menuju ke Kuala Nipah.


Tadinya dia berniat, setelah kembali ke rumah kontrakannya, dan setelah berganti pakaian, dia akan segera menuju ke kantor polisi Kota Batu bersama dengan berkas-berkas tuntutan beserta sampel penelitian yang mereka lakukan di laboratorium universitas. Tapi kini sepertinya itu akan tertunda. Karena, dia akan segera kembali ke rumahnya terlebih dahulu dan ingin mengetahui apa sebenarnya yang membuat ayahnya melarang dirinya untuk melanjutkan masalah ini ke jalur hukum.


Ketika Tiara menaiki bus yang berlawanan dengan arah rumah kontrakannya, anak-anak J7 yang melihat kejadian itu merasa heran juga. Mengapa Tiara membawa berkas-berkas tuntutan menuju ke arah lain.


Tapi mereka tidak terlalu memusingkan hal itu. Dikarenakan, mereka memiliki agenda touring, dan sama sekali tidak menganggap bahwa kembalinya Tiara ke Kuala Nipah akan membuka babak baru dalam masalah yang semakin berlarutan antara Tower Sole propier melawan Arold Holding Company.


*********


Di bukit batu, Joe yang baru tiba di apartemen miliknya segera menanggalkan helm dan segera memasuki lift. Dia tidak memperdulikan sepeda motornya yang dibiarkan begitu saja.


Tiba di ruangan miliknya, Joe segera memasuki ruangan yang lain dimana di sana dia sudah ditunggu oleh dua orang lelaki berbadan tegap.


Ketika Joe memasuki ruangan itu, kedua lelaki tadi langsung membungkuk hormat.


"Ketua!" Kata mereka berbarengan.


"Buka tirai penutup jendela itu!" Pinta Joe.


Mereka lalu membuka tirai penutup jendela. Seketika itu sinar terik matahari siang itu menyeruak memasuki ruangan yang tadinya dingin karena suhu AC tersebut.


"Menjawab anda, Ketua. Ini semua tentang keluarga Honor yang mengirim orang-orangnya mendatangi rumah tempat Marven bersembunyi. Kami tidak tau apa yang mereka bicarakan secara detil. Untuk detailnya, ketua bisa memutar rekaman ini!" Ujar salah seorang dari kedua orang berbadan tegap tadi sambil menyerahkan sesuatu kepada Joe.


Joe menerima sesuatu yang diberikan oleh orang tadi, lalu memasukkan benda tadi di bagian sisi laptopnya yang terdapat di ruangan itu.


Setelah semuanya selesai, kini Joe pun duduk sedikit di bagian sisi meja, kemudian langsung memusatkan perhatiannya mendengarkan antara dialog yang dilakukan oleh Marven.


Pertama-tama, dia mendengar pertengkaran antara Marven dengan seseorang yang dia sebut dengan nama Douglas. Lalu, tak lama setelah itu, Marven pun berbicara melalui telepon dengan orang bernama Honor Miller.


Joe mengangguk-anggukan kepalanya. Dia dapat menangkap isi dari obrolan telepon antara Marven dan Honor Miller.


Tidak perlu baginya mendengarkan omong kosong itu terlalu lama. Kini dia langsung menutup laptopnya, dan kembali memandang bagian luar melalui jendela.


"Kerja yang bagus, Bent! Ternyata Keluarga Miller ini ingin menjerat mangsa dengan satu jebakan. Jujur saja aku kagum dengan keserakahan mereka ini. Sepertinya, diam saja tidak akan membuat masalah semakin mudah. Apa lagi yang bisa diharapkan? Mereka telah memulai. Maka, kita akan mengakhirinya. Apa kalian siap?" Tanya Joe sekadar ingin menguji kesiapan orang-orang dari Tiger Syam ini.


"Tidak ada kata tidak siap dalam kamus kami, Ketua.


Jika anda menginginkan, detik ini juga akan kami gempur keluarga Miller ini sampai menjadi arang," jawab mereka.


"Tidak untuk sekarang. Permainan akan di mulai terlebih dahulu melalui bursa saham. Perusahaan Honor Miller ini akan diserang dari berbagai penjuru," ujar Joe, lalu kembali berkata. "Kembali ke markas kalian. Tunggu perintah dariku!"


"Siap, Ketua!" Jawab kedua lelaki itu berbarengan. Lalu, tak lama setelah itu, merekapun meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke markas besar mereka yang tidak diketahui oleh siapapun. Bahkan, Tigor pun tidak mengetahuinya.


"Paman. Aku akan berangkat sekarang ke kota Kemuning. Tunggu aku di tempat Panjol, Mokmok dan Ganjang di sekap. Ada sesuatu yang baru untuk kita bahas," kata Joe dalam pesan suara kepada Tigor.


"Sesuatu yang baru?"


"Benar, Paman. Tidak nyaman berbicara di sini. Aku akaan segera berangkat. Tunggu aku!"


Joe langsung menanggalkan pakaiannya, lalu menggantinya dengan pakaian stelan blazer berwarna hitam, lengkap dengan Masker hitam dan juga kacamata hitam.


Sebelum pergi, dia sempat merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Dia harus segera berangkat tanpa mandi. Karena, sesuatu yang harus dia bahas dengan Tigor tidak boleh ditunda terlalu lama. Ditambah lagi jarak kota Batu ke kota Kemuning cukup jauh. Maka, mandi baginya hanya akan membuang-buang waktu saja. Toh juga tampa mandi, dia tetap ganteng.


Berjarak 15 menit, dari area parkir bawah tanah, menderu suara mesin kendaran sport Lykan hypersport berwarna hitam.


Ketika mobil super sport itu tiba di jalan raya, bukan main lajunya kendaraan mewah itu membelah jalan bukit batu, menuju ke jalan utama yang menghubungkan antara Kota Batu ke kota Kemuning.


Di dalam mobil, Joe segera menenggak sebutir pil sebesar tahi kambing. Pil itu adalah pil racikannya dari kitab perobatan yang diwariskan oleh Kakek Malik dan disempurnakan oleh Tengku Mahmud kepadanya. Dengan bantuan pil tersebut, dia akan merasa lebih segar karena setiap saat jika keadaan memaksa, dia harus bolak-balik antara kota Batu ke kota Kemuning.


Bersambung...