
Malam itu, sesuai dengan perintah dari Honor, kencan antara dirinya dan Rebecca Liu akhirnya terlaksana juga di salah satu restoran elit yang masih berada di kawasan Hongkong ini.
Kencan yang membosankan itu terasa begitu kaku dan sama sekali tidak dinikmati oleh Honor. Dia hanya berpura-pura agar dapat menipu Tuan Liu.
Hal yang sama sebenarnya juga ada dalam benak keluarga Liu. Dari awal sebenarnya mereka sengaja ingin menjodohkan putri mereka dengan Honor Miller ini agar bisa menjadi bagian dari keluarga besar yang membawahi keluarga Liu itu.
Detik demi detik terasa sangat lambat berlaku ketika Honor mulai bosan dengan tingkah Rebecca Liu yang terlalu berlebihan terhadap dirinya.
Ingin rasanya dia mendorong gadis itu agar terjun bebas dari jendela tingkat paling atas di restoran tempat mereka berkencan. Tapi itu tidak dia lakukan. Akhirnya, dengan makan hati berulam jantung, Honor Miller pun mengikuti saja kemahuan gadis itu yang mengajaknya untuk berdansa.
"Nona Liu. Aku merasa sangat pusing. Ayo kita pulang saja!" Ajak Honor ketika dia merasakan sangat bosan dengan gadis yang saat ini sedang memeluknya dengan erat.
Tanpa menunggu jawaban dari Rebecca, Honor langsung melepaskan pelukan gadis itu kemudian meraih ponsel miliknya di atas meja, kemudian pergi begitu saja dari Diamond box tersebut.
Sebenarnya Rebecca sangat kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Honor ini. Tapi dia berusaha menahan rasa tersinggung dihatinya. Dengan langkah malas dia akhirnya mengikuti Honor yang telah jauh berjalan menuju lift.
"Antar Nona Liu kembali ke Villa milik keluarga Liu. Aku akan langsung kembali ke Victoria peak!" Kata Honor yang langsung memasuki mobil dan tancap gas meninggalkan restoran dimana tadi dia berkencan sambil makan malam.
***
Honor membanting dirinya di atas sofa ketika dia baru saja tiba di Villa mewah miliknya di area Victoria peak ini.
Betapa tidak nyamannya dia tadi ketika berduaan dengan Rebecca Liu.
Dia segera mencari-cari sosok seseorang yang sejak tadi sore tidak kelihatan.
"Kemana perginya Paman Tiger? Apakah dia benar-benar marah kepada ku?" Pikirnya dalam hati.
Honor mengeluarkan rokoknya sebatang dari kotak dan langsung menyulutnya.
Gumpalan asap tampak mengepul keluar dari mulutnya. Dan itu terjadi sampai beberapa kali.
Layaknya seperti orang yang sangat ling-lung, habis sebatang, maka dia menyulut sebatang lagi dan baru berhenti setelah dia menghabiskan tidak kurang dari empat batang rokok.
Matanya kini lurus memperhatikan foto seorang pemuda berpakaian serba hitam dan memakai masker berlambang kucing.
Tampak pemuda yang ada di dalam gambar tersebut sedang berjongkok sambil berpegangan pada sisi troli.
"Setan seperti apa kau ini, Joe? Mengapa sangat sulit untuk dilacak? Enam bulan lagi sungguh terlalu lama. Tapi itu akan terjadi. Kau pasti akan berhadapan dengan ku. Cepat atau lambat. Aku telah banyak melakukan hal-hal yang terkadang bertolak belakang dengan hati ku. Semuanya hanya karena kau. Rasanya tidak puas hati ini sebelum dapat membunuh mu dan menghancurkan keluarga William. Kau tunggu saja! Aku pasti datang untuk mu. Hutang nyawa dibayar nyawa!" Kata Honor dengan geram. Lalu, dia mulai menangis ketika teringat seperti apa ayahnya dulu mati akibat tekanan dari berbagai pihak. Dan semua itu adalah ulah dari Joe William ini.
"Ambilkan aku sebotol Wine!" Teriak Honor memenuhi ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, seorang pelayan segera menghampiri pemuda tersebut sambil membawakan sebotol anggur Krug 1928 dan menuangkan dengan perlahan ke dalam gelas.
"Pergi sana! Aku ingin sendirian!' kata Honor sambil melambaikan tangannya menyuruh pelayanan tersebut untuk meninggalkannya sendirian.
"Baik Tuan!" Kata sang pelayan terbungkuk lalu tergopoh-gopoh meninggalkan majikannya itu.
Honor terus saja menenggak wine mahal tersebut hingga isinya kandas. Tak lama setelah itu dia mulai mengoceh sesuka hatinya. Dari sumpah serapah, cacian hingga makian berhamburan dari mulutnya. Dan semuanya adalah keluarga William.
Bersambung...