Joe William

Joe William
Jerry cs mengenang masa lalu



Acara makan malam bersama sahabat-sahabat satu university malam itu terasa sangat spesial.


Setelah masing-masing diantara mereka berumah tangga, baru kali ini mereka dapat berkumpul lagi dan bercengkrama.


Ada-ada saja bahan yang diceritakan membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.


"Aku dulu ingat ketika Daniel dan Ryan bergulat di asrama sampai-sampai kaki ranjang mereka patah. Kau ingat Ryan apa hukuman yang diberikan oleh kepala asrama yang gendut itu?" Tanya Jerry.


"Hahaha. Itu kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Ketika itu aku di ancam jika tidak memperbaiki ranjang itu, maka kami berdua akan tidur di luar." Jawab Ryan yang juga diakui oleh Daniel.


"Tapi yang paling lucu ketika Daniel berkenalan dengan Helen. Hahaha. Dengkulnya sampai goyang disko." Kata Ryan pula menambahkan.


"Aku ingat kata-kata yang keluar dari mulut Daniel ketika itu."


"Apa itu Jerry?" Tanya Riko yaitu kakak kandung Helen penasaran.


"Dia bilang waktu itu, ketika melihat wajah adik mu, seperti melihat masa depan yang cerah." Jawab Jerry membuat semua orang kembali tertawa.


"Daniel memang seperti itu. Pantas saja sebelum kenal dengan Helen, masa depannya suram." Kata Ryan pula menimpali.


"Eleh eleh. Kau juga sama. Ingat tidak ketika ulang tahun Rindy di Lotus Mansion? Jadi tukang ambil air minum untuk Jenny saja bangga mu selangit tembus. Cuma jadi kacung. Ya ampun bangga sekali dia." Balas Daniel pula sambil mencibir.


Suasana kembali pecah oleh gelak tawa mereka.


"Berbeda dengan Ivan. Kepala ku yang pecah, dia yang dapat berkah." Kata Jerry pula membuat Ivan tertunduk karena menahan ledakan tawanya.


"Ada hikmahnya juga Jerry pecah kepala. Jika tidak begitu, aku mana mungkin bisa berdekatan dengan Lorna." Jawab Ivan.


"Sepertinya hanya masa lalu ku yang berliku. Di usir dari kampus, berhutang dengan Sendiego, lalu menjadi petarung kemudian kalah dan nyaris mati atas kecurangan Hyden. Hahaha." Kata Riko pula.


"Itu lah kau. Terlalu tertutup dengan sahabat. Akhirnya terbaring di rumah sakit." Kata Ryan.


"Kenangan masa lalu memang sangat sulit untuk dilupakan. Walaupun banyak pahitnya daripada yang manis, tapi jika di kenang kembali, rasanya ingin aku terbang kembali ke masa-masa itu." Kata Jerry.


"Makanya kita harus menikmati setiap moment. Apa pun itu. Karena suatu saat, kita akan merindukannya." Kata Ivan pula.


"Benar kata mu."


"Oh ya. Ngomong-ngomong, aku ada mendapat berita yang sedang booming di media sosial. Katanya ada seorang Tuan muda yang kaya rasa bertingkah aneh dan membuat kegemparan di sebuah Mall. Coba kalian lihat rekaman video pendek ini!" Kata Kevin sambil menunjukkan ponselnya kepada mereka yang ada di situ.


Mereka kemudian memperhatikan video yang diputar di ponsel milik Kevin itu lalu tertawa.


Terlihat di dalam video tersebut seorang pemuda belasan tahun memakai masker dan duduk di dalam sebuah troli dengan di dorong oleh seorang lelaki yang kelihatan memiliki jabatan penting di Mall tersebut.


Pemuda itu tampak berteriak-teriak mengatakan akan memberi diskon sampai pukul delapan malam.


Menyadari bahwa itu pasti ulah Joe, Clara yang sejak tadi diam saja bertindak mencubit paha Jerry membuat Tuan besar itu menggelinjang menahan antara geli dan sakit.


"Jika aku perhatikan. Bentuk fisik anak ini sama persis dengan dirimu Jerry!" Kata Ivan sambil bergantian melihat ke arah ponsel lalu beralih ke wajah Jerry.


"Kevin. Coba kau baca keterangan dalam video itu!" Pinta Ivan.


"Lokasi Video itu?!" Tanya Ivan semakin penasaran.


"Em. Disini dikatakan bahwa lokasi video ini berada di Kota Kemuning Indonesia."


"Hahaha. Ayo mengaku kau Jerry!" Kata Ivan sambil menunjuk ke arah Jerry.


"Hahaha. Anak itu. Memang selalu membuat susah orang-orang di sekitarnya." Jawab Jerry.


"Sama seperti diri mu. Tidak jauh berbeda. Tapi menurutku, putra mu ini lebih parah." Kata Ivan.


"Berarti perjodohan anak-anak kita batal?" Tanya Jerry.


"Hahaha. Biarkan mereka yang menentukan. Walaupun aku sebenarnya sangat berharap menjadi besan mu." Kata Ivan.


"Berat Van. Anak itu mempunyai tugas yang berat. Makanya aku sangat menaruh sepenuhnya harapan terhadap anak itu."


"Menurut ku memang cocok. Joe ini pantas untuk membungkam mulut besar Honor Miller itu. Jarak usia mereka hanya terpaut beberapa tahun dengan pemikiran yang sangat modern. Kita akan menyaksikan pertempuran dua kekuatan besar tak lama lagi."


"Itu lah sebabnya mengapa aku mengungsikan anak itu jauh-jauh. Anak ini lebih gila dari ku. Aku dulu masih memiliki perasaan takut. Tapi anak ini lebih ke psikopat yang tidak pernah takut dengan siapapun. Melihat kegilaan yang dia miliki, jika tidak di didik dengan benar, bisa-bisa dia akan membuat kegaduhan di mana-mana." Kata Jerry.


"Seperti apa wajah anak mu ini Jerry. Sejak umur satu tahun,aku tidak pernah lagi melihatnya." Tanya Ivan Patrik penasaran.


"Seperti apa ya? Aku juga sulit menggambarkan. Kadang kalau serius, dia seperti Aku. Kalau tertawa, seperti Clara. Kalau sedang marah seperti Ayah mertua ku. Tapi kalau sedang berfikir, aku sama sekali tidak melihat gambaran kami bertiga dalam sosok anak itu." Kata Jerry.


"Bisa jadi seperti paman tertua." Sela Kenny.


"Maksud mu Ayah ku?" Tanya Jerry.


"Itu hanya dugaan ku saja. Tapi bukan mustahil anak itu mewarisi banyak sifat. Tidak sembarang bagi mendiang kakek Malik untuk langsung turun tangan jika tidak ada sesuatu yang dia prediksi. Ini lah mengapa aku berani mengatakan bahwa anak mu itu unik. Harapan ku, semoga dia bisa membendung invasi dari perusahaan Arold Holding Company nantinya." Kata Kenny lagi.


"Mata-mata ku mengatakan bahwa Paul si penghianat bersama dengan paman dan Ibu anda sering mengunjungi Garden Hill. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang ingin mereka lakukan di sana." Kata Arslan pula yang sejak tadi hanya jadi pendengar saja.


"Mereka ini memang bermain kasar dan sangat kasar sekali. Kemana pun kita memandang, mereka akan mendahului kita." Kata Kenny sambil menghempaskan tinju nya di meja.


"Aku ada idea." Kata Jerry tiba-tiba.


"Apa itu Jerry?" Tanya Ivan.


"Begini sepupuku." Kata Jerry sambil menatap wajah Kenny, lalu melanjutkan. "Tebarkan gosip bahwa kita akan melakukan investigasi di Perbatasan Hillstreet dan MegaTown. Kita alihkan perhatian mereka. Ketika mereka terfokus ke arah sana, kita mundur dan langsung menempati Gardenhill. Ketika ini berhasil, aku akan menempatkan dirimu di sana Ryan. Bagaimana?" Tanya Jerry.


"Baiklah. Aku menurut saja. Aku juga akan mengajak keponakan ku Charles dan Milner ke sana. Mereka juga antara pemuda-pemuda yang kompeten. Kemungkinan akan bisa meringankan beban kerja ku di sana." Kata Ryan.


"Baiklah. Jika sudah begitu, maka mari kita jalankan rencana ini. Sebagai imbalan kepada Ivan, aku akan memberikan mu satu proyek di New Village. Apa kau setuju?" Tanya Jerry.


"Hahaha. Ternyata kau tidak melupakan sahabat. Baiklah. Aku menerima proyek dari mu." Kata Ivan.


Mereka lalu berjabat tangan dan kembali menikmati acara makan malam bersama itu dengan bersenda gurau.