
Blok B Tasik Putri
Sore itu, rumah tiga tingkat milik Tigor yang berada di kawasan Blok B Tasik Putri dikunjungi oleh seorang wanita paruh baya bersama dengan sepasang anaknya.
Menurut desas-desus yang tersebar di kalangan area perumahan kelas menengah itu, bahwa pemilik rumah itu sebelumnya yang bernama Tigor telah menjual rumah tersebut kepada janda kaya bernama Marlina.
Diyakini, bahwa Janda kaya yang bernama Marlina ini memilih untuk pindah ke kota Tasik Putri ini karena dia memiliki beberapa perusahaan di kota ini antara lain, salon kecantikan, kafe, bahkan minimarket.
Tidak ada yang tau pasti dari mana janda kaya ini berasal. Yang jelas, orang-orang disekitarnya hanya tau bahwa janda itu bernama Marlina. Sedangkan anak lelakinya bernama Karim dan Karlina yang masing-masing berusia 15 dan 10 tahun.
Pindahnya wanita paruh baya yang masih cantik dan diyakini janda itu membuat para duda dan lajang tua menjadi geranjingan. Namun, belum ada yang berani mendekati. Ini karena, selain sungkan, wanita yang diyakini janda itu memiliki empat orang bodyguard berbadan tegap.
(Bagi yang masih ingat, tentu tau siapa Karlina, Karim dan Marlina ini)
***
Sehari sebelum kebebasan Marven dari penjara, Rio yang memang bertugas di kota batu telah memberikan bocoran kepada Tigor tentang kebebasan mantan ketua dari geng kucing hitam itu.
Setelah mengetahui bahwa Marven akan bebas, maka Tigor pun segera bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kebebasan musuh lamanya itu. Salah satu yang dia persiapkan adalah, surat-surat kepemilikan rumah, membeli satu unit kafe, Menyewa minimarket, dan membuka salon kecantikan. Kesemuanya berada di kota Tasik Putri.
Karena memiliki terlalu banyak kaki tangan, maka urusan seperti itu tidaklah terlalu sulit bagi Tigor.
Setelah menerima laporan bahwa semua urusan di Tasik Putri beres, barulah dia menyuruh orang-orangnya untuk menemui Karman di Tanjung Karang, dan menceritakan semuanya kepada sahabat lamanya itu.
Karman sebenarnya memang telah dipersiapkan oleh Tigor untuk kembali mendampingi Marven sebagai mata dan telinganya di sana sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Karman sekitar dua puluh tahun yang lalu. (Baca Bab Karman si Pelaut!)
Dengan sedikit rekayasa yang dilakukan oleh Tigor dan orang-orangnya, seolah-olah Karman telah mengalami kecelakaan yang merenggut istri dan kedua anaknya. Itu semua bertujuan, agar kelompok geng kucing hitam tidak mengetahui bahwa Karman punya keluarga yang masih hidup. Karena ini akan membuat Karman tidak bebas untuk bergerak.
Berkaca pada kata pepatah, bahwa tempat yang paling aman itu adalah tempat yang paling berbahaya, maka Tigor memindahkan Istri, dan kedua anak Karman ke Blok B Tasik Putri, serta membukakan untuknya usaha di sana termasuk salon kecantikan, Kafe dan minimarket. Jadi kini, Karman bebas bergerak tanpa diketahui memiliki kelemahan dan beban tanggungan.
"Aku sudah lama siap! Aku sudah kenyang makan uang bang Tigor. Kini aku ingin merasakan gurih nya uang Marven!" Tegas Karman.
"Bersikaplah sewajarnya, Karman! Kau tidak perlu mencari mereka. Perkiraan Tigor tidak akan meleset. Marven pasti akan mencari keberadaan mu. Tapi kau harus ingat! Irfan akan menjadi saingan mu! Waspadai orang ini!"
"Aku jauh lebih mengetahui tentang anak yang masih beringus itu. Beberapa tahun aku berbaur dengan mereka, aku tau segalanya. Aku bukan Karman yang dulu yang hanya bisa menipu. Pahitnya kehidupan telah membentuk mental ku selama dua puluh tahun ini. Kau jangan khawatir! Jika badai saja mampu aku tantang, apa lagi anak yang masih ingusan itu!" Kata Karman lagi.
"Aku percaya kepada mu. Tapi, jangan tonjolkan sikap itu ketika berhadapan dengan Marven. Lebih baik membuat orang percaya kepada kita karena keluguan, daripada terpaksa percaya karena merasa sungkan!"
"Ya. Aku mengerti. Terimakasih, Monang!"
"Bang Tigor sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarga mu. Kau tidak perlu khawatir dengan mereka. Empat orang terbaik dari dua ratus orang anak buahnya telah dia kirim ke Tasik Putri untuk menunggu istri dan anak-anak mu. Mereka akan melindunginya. Dini hari, mereka akan diberangkatkan ke kota Tasik Putri. Mungkin akan tiba esok sore. Kau buatlah seolah-olah kau sedang berkabung. Mereka tidak tau bahwa itu hanyalah rekayasa. Selamat kembali menjadi Carmen Bond 070, sobat!" Monang menepuk pundak Karman sebelum meninggalkan perkampungan pinggir laut itu.
Untuk tidak menjadi pusat perhatian, Monang sengaja menyamar sebagai penjual kerang eceran perkilogram. Dan itu cukup berhasil. Karena, tidak ada yang memperdulikannya.
Kini, tinggallah Karman sendirian menatap kepergian Monang.
Dia lalu memasuki rumah miliknya, lalu berjalan menuju ke kamar.
Tiba di kamar, dia segera membuka lemari dan menarik sebuah koper hitam.
Dari dalam koper, dia mengeluarkan setelan jas serba hitam, topi koboi hitam, kacamata hitam, kaos kaki hitam dan sepatu kulit hitam.
"Carmen Bond 070 Is Back!" Katanya dalam hati.
Bersambung...