Joe William

Joe William
Ingin melacak keberadaan Karman



Di sepanjang perjalanan dari Restoran Samporna menuju ke kompleks elite Tasik Putri, Irfan selalu berbicara mengenai Arold Holding Company kepada kakak tiri haramnya itu. Tapi sepertinya, ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Marven.


Ketika Irfan berusaha untuk bertanya kepada Marven apa sebenarnya yang dia fikirkan, hanya ada satu nama yang terlontar dari mulut Marven.


"Bang. Dari tadi berbusa muncung ku ini bicara. Tapi sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Apa yang saat ini sedang kau pikirkan, Bang?" Tanya Irfan yang lama kelamaan tidak betah juga dengan Marven yang seperti merenungkan sesuatu.


"Fan. Selama dua puluh tahun ini, apa kau pernah mendengar berita tentang Mr.Carmen Bond 070?" Tanya Marven yang akhirnya menjawab pertanyaan dari Irfan tadi.


"Tidak bang. Orang itu seperti hilang di telan bumi. Ada apa memangnya Bang?" Tanya Irfan yang sedikit kurang senang ketika Abang tirinya itu menanyakan tentang keberadaan Karman.


"Aku ingin kau mengirim orang-orang kita untuk melacak keberadaan Mr.Carmen Bond 070 ini. Dia adalah orang kanan ku yang paling aku percaya,"


"Hah? Untuk apa lagi Carmen itu bang? Kau sudah punya aku, adik mu. Kau sudah punya Panjol, punya Ganjang, dan punya Mokmok. Untuk apa lagi Carmen itu?"


"Irfan. Kau tidak tau seperti apa dulu antara aku dan Carmen ini. Carmen adalah orang yang paling mengerti aku. Idea-idea yang dia miliki sungguh sangat cemerlang. Andai tidak ada dia, kemungkinan besar aku tidak akan bisa menikahi Butet. Kau tau siapa Butet ini kan? Untuk saat ini, dia lah satu-satunya keturunan dari Togar dan Birong. Mereka mau bergabung dengan kita karena memandang wajah Butet. Dan dibalik semua itu, ada buah pikiran yang disumbangkan oleh Mr.Carmen Bond. Jika tidak, mana mungkin aku bisa menikahi keponakan Birong itu?!"


"Tapi bang?!"


"Apa kau masih menganggap aku? Jika tidak, maka bubarkan saja aliansi ini! Aku juga tidak butuh. Masalah Tigor, aku bisa menantangnya untuk duel maut. Andai aku kalah, maka mati. Andai aku menang, maka aku akan keluar dari pertarungan itu dengan selamat. Tigor itu lelaki yang jantan. Sudah pasti dia tidak akan menolak andai ditantang!" Kata Marven melemparkan ancamannya kepada Irfan.


"Iya Bang. Aku akan mengirim orang-orang kita di mulai dari besok untuk melacak keberadaan Carmen Bond itu!" Jawab Irfan yang terpaksa jika tidak ingin Marven membatalkan kerja sama dengan keluarga Miller.


"Irfan. Hanya tinggal kita berdua saja. Kau adalah ahli waris ku yang tersisa. Kau bukan saja adikku. Tapi, kau itu adalah sebagian dari nyawaku. Aku berhutang banyak kepada mu. Aku sarankan agar kita tidak berbantah-bantahan. Karena, hanya dengan satu pendapat yang bulat saja barulah kita bisa mencapai tujuan dengan selamat! Kau bayangkan saja andai dalam satu Bus ada dua sopir dan dua steering?! Bagaimana jadinya jika yang satu ingin ke kanan dan yang satunya lagi ingin jalan lurus?!"


"I-iya.., iya pastilah akan terjadi kecelakaan!" Jawab Irfan yang terharu karena Marven benar-benar menganggap dirinya ada. Tidak seperti dulu ketika Marven masih sebagai Tuan muda di keluarga Martin.


"Ayah ku adalah ayah mu juga bang!" Sanggah Irfan.


"Iya. Memang agak sulit bagiku menerima kenyataan. Aku merasa seperti dipermainkan oleh orang tua kita. Aku anak dari Beni. Tapi diasuh oleh Martin dan dianggap sebagai darah dagingnya sendiri. Gilanya lagi, Ibu ku bisa sangat rapi merahasiakan semuanya. Andai kau berada di posisi ku, bagaimana perasaan mu?"


"Aku faham Bang. Sejujurnya memang aku salut dengan Abang. Andai itu aku, kemungkinan Ayah ku dan Martin sekalian sudah berakhir ditangan ku. Mereka begitu pintar menjaga rahasia. Bahkan mendiang ibu ku juga tidak mengetahui semua rahasia itu,"


"Ibu mu meninggal? Mengapa aku tidak tau?" Tanya Marven terkejut.


"Aku sengaja tidak memberitahumu bang. Terlalu banyak beban yang kau tanggung. Sudah menjadi jalan hidup mereka seperti itu. Ibu ku awalnya sangat stress ketika mengetahui semuanya. Dan diperparah dengan kematian Ayah. Selesai sudah!" Kata Irfan dengan wajah lesu.


"Sekarang, tinggal kita. Semuanya akan kembali di start ulang. Percayakan kepada mu sebagai Abang mu. Besok, berusahalah untuk mencari keberadaan Mr.Carmen Bond 070 itu. Dia akan membantu kita,"


"Bagaimana jika dia tidak mau, Bang?" Tanya Irfan ragu.


"Hahaha. Tidak mau? Kalau dia tidak mau, maka..., Kreeek!" Kata Marven sambil mengarahkan telunjuknya ke arah leher.


"Di bunuh bang?"


"Ya. Aku tidak ingin dia hidup ketika tidak bekerja untuk ku!" Tegas Marven.


"Ya. Aku mengerti!" Jawab Irfan sambil mengangguk faham.


Bersambung...