
"Paman Zack, apakah semuanya sudah siap?" Tanya Honor kepada bawahannya.
"Semuanya sudah dipersiapkan. Hanya saja, aku masih belum menemukan keberadaan Tiger Lee. Entah dimana keberadaannya saat ini," jawab Zacky.
"Dia mungkin masih marah kepada ku. Biarkan saja dia mendinginkan dulu hatinya yang masih panas. Yang penting, kau siapkan semuanya. Kita akan berangkat besok pagi ke Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk segera menguasai peta bisnis di negara itu,"
"Baiklah, Tuan besar,"
"Satu lagi. Jangan ada yang tau keberangkatan ku ke Indonesia. Terutama, keluarga Liu. Aku tidak ingin diekori oleh Rebecca. Gadis itu, benar-benar membuatku mau muntah angin,"
"Bukankah Rebecca itu cantik, Tuan?"
Grusak!
"Aw..!" Tampak tubuh Zacky terhempas ke lantai karena didorong dengan keras oleh Honor.
"Jaga bicara mu! Jika aku mengatakan tidak, sampai kapanpun tetap tidak!" Bentak Honor setelah mendorong tubuh Zacky dengan kasar.
"Mengapa anda begitu marah sedangkan saya hanya mengatakan sedikit saja tentangnya. Jika begini, semua orang akan meninggalkan anda!" Jawab Zacky yang langsung bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
"Meninggalkan aku, berarti menggali lubang kuburannya sendiri!" Menggelegar teriakan Honor Miller.
***
Di tempat lain, seorang lelaki paruh baya sedang duduk berhadap-hadapan dengan pemuda berusia sekitar 22 tahun.
Sepertinya, mereka sedang serius membicarakan sesuatu.
Lelaki paruh baya itu adalah Tiger Lee. Sedangkan yang seorang lagi adalah Albern Miller.
Tiger Lee, yang telah berselisih paham dengan Honor langsung pergi meninggalkan Hongkong dan masuk ke Macau. Kebetulan, di sana dia bertemu dengan Albern. Dan, akhirnya mereka pun duduk satu meja disalah satu restoran yang terdapat di area tempat perjudian di Macau.
Awalnya, Albern sempat terkejut dan ingin menghindar dari Tiger Lee ini. Bagaimanapun, dia adalah kaki tangan sepupunya Honor Miller. Tapi, dia tidak memiliki kesempatan karena Tiger Lee lebih dulu memanggilnya.
"Paman Lee. Aku telah menceritakan semua yang terjadi antara Paman Adolf dan ayah ku. Semua yang terjadi telah aku ceritakan tanpa ada yang aku kurangi, ataupun aku tambah. Sekarang, aku ingin tau bagaimana dengan sikap paman, setelah mengetahui yang sebenarnya? Ayah ku datang ke MegaTown waktu itu hanya untuk menagih hak yang dia miliki di perusahaan Arold Holding Company. Karena, selama ini kami sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari 30% saham yang diwariskan oleh Kakek Arold Miller kepada Ayah ku,"
"Apakah Paman tau, bahwa paman telah ditipu oleh Honor? Sekarang aku ingin tau. Siapa otak di balik terbunuhnya ayah ku?" Desak Albern kepada Tiger Lee.
"Aku lah yang membunuh Ayah mu bersama dengan Zacky. Jika kau ingin membalas, kau boleh melakukannya sekarang!" Jawab Tiger Lee merasa bersalah.
"Paman hanya alat. Ibarat pisau, orang bisa saja terbunuh oleh sebilah pisau. Apakah aku harus membalas dendam kepada pisau tersebut? Aku hanya ingin tau, apakah Honor otak yang menyebabkan kematian ayah ku?" Desak Albern lagi.
Tiger Lee mengangguk lemas. Dia menyesali karena terlalu percaya dengan Honor ketika itu. Wajah sedih Honor membuatnya sanggup melakukan apa saja. Terlebih lagi, Honor telah menjadi kepala keluarga Miller. Dan dia telah terikat sumpah untuk selalu setia dan mendukung setiap keputusan yang diambil oleh kepala keluarga Miller, siapapun orangnya.
"Baiklah. Sekarang aku sudah mendapatkan jawaban yang pasti. Aku dan Honor sama-sama dari keluarga Miller. Keluarga yang sama. Aku tidak perduli dengan ambisinya untuk menghancurkan keluarga William. Itu urusan mereka. Tapi, hutang darah harus dibayar dengan darah pula. Aku tidak ingin mendesak paman untuk berpihak. Hanya satu yang aku inginkan, suatu saat, jika terjadi bentrok antara aku dan Honor, aku harap, paman tidak ikut campur. Apakah Paman bisa menjamin?" Tanya Albern. Tatapannya sangat tajam menembus bola mata Tiger Lee. Baru kali ini Tiger Lee harus tertunduk dan tidak mampu menentang tatapan penuh dendam itu.
"Maafkan Paman mu ini, Albern! Paman telah terikat dengan sumpah. Kau boleh melakukan apa saja kepada Honor. Hanya saja, kau harus memastikan bahwa paman mu ini terlebih dahulu menemui kematian!"
Albern menarik nafas dan menghembuskan dengan keras. Ada kekesalan didalam hatinya mendengar jawaban itu.
"Kau tidak akan mampu. Honor yang sekarang bukanlah Honor Miller yang dulu. Dia telah berubah menjadi manusia setengah setan. Apalagi ketika dia sudah meminum cairan sialan itu. Kau, bukan apa-apa baginya!"
"Huhf...!" Sekali lagi Albern menghempaskan nafasnya kuat-kuat.
"Aku tetap kepada pendirian ku. Akan ada masanya aku akan mencabut nyawanya, atau dia yang mencabut nyawaku. Tidak boleh ada dua raja dalam satu istana. Dia yang memulai, maka aku akan mengakhirinya,"
"Aku tidak bisa melarang, ataupun menyuruh. Tapi, usahakan ketika aku tidak berada di sisi Honor! Karena, jika aku ada, aku pasti akan mati-matian membelanya. Kau jaga dirimu baik-baik! Sore ini aku akan berangkat ke Hongkong. Besok, aku akan menemani Honor untuk berangkat ke Indonesia,"
"Ke Indonesia?" Tanya Albern terheran-heran.
Sebelum pergi, Tiger Lee menganggukkan kepalanya. Lalu, dia pun melangkah meninggalkan Albern Miller yang masih belum beranjak dari kursinya.
"Indonesia. Berarti?"
"Ah. Aku harus segera menghubungi Joe!"
Berpikir sampai di situ, Albern Miller pun langsung mengeluarkan ponselnya, lalu dia segera mencari kontak Joe dan mulai melakukan panggilan.
"Kak Albern. Kau menelepon ku?" Tanya satu suara di seberang sana.
"Bagaimana kabar mu, Joe?" Tanya Albern.
"Hahaha. Kabar ku baik. Bagaimana dengan kabar mu?" Tanya Joe.
"Kabar ku juga baik. Eh Joe! Aku mendapat kabar dari sumber yang sangat terpercaya, bahwa, besok Honor dan rombongannya akan segera berangkat ke Indonesia!"
"Wah. Ini kabar yang sangat baik. Kapan kau pula yang datang ke sini?" Tanya Joe setelah tertawa.
"Tiga hari dari sekarang. Apakah tidak apa-apa?"
"Tidak Kak. Semakin cepat, semakin baik. Semakin cepat pula kau akan menjadi kepada keluarga Miller!" Kata Joe becanda.
"Baiklah jika begitu. Kau tunggu aku di sana ya! Setelah tiba di sana, baru kita akan bicara banyak!" Kata Albern yang ingin segera mengakhiri panggilan.
"Baik kak. Tapi ingat! Rahasiakan keberangkatan mu! Aku khawatir jika nantinya orang-orang Honor yang telah terlebih dahulu tiba di sini akan mencegat mu. Itu akan sangat merepotkan!"
"Mengapa aku terlambat mendapat kabar?" Gumam Albern heran.
"Kau masih belum cukup licik, Kak. Orang-orang mu pun sama sekali tidak bisa diandalkan. Aku bahkan telah memasang banyak cctv di setiap tempat. Tadi itu aku hanya menakut-nakuti mu saja. Sebarkan kabar bahwa kau akan ke Indonesia. Aku ingin kedatangan mu kemari menarik perhatian mereka. Jika ada yang menargetkan mu, aku akan membantai mereka. Yah lumayanlah untuk mengurangi kekuatan musuh!"
"Baiklah Joe. Begitu juga boleh. Hari Rabu aku akan tiba di Bandara internasional Kuala namu. Tunggu aku di sana!"
"Siap!" Jawab Joe yang langsung mengakhiri panggilan.
Sambil tersenyum, Honor memetik jari tangannya untuk memanggil pelayan restoran. Setelah selesai membayar, dia pun segera meninggalkan restoran tersebut untuk kembali ke rumahnya dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk urusan keberangkatannya tiga hari lagi ke Kota Kemuning.
Bersambung...