
Kuala Nipah
Sore itu, tepat sekitar pukul tiga, rombongan mobil mewah yang datang dari kota Kemuning berhenti di ujung jalan beraspal tepat di samping tambak udang milik warga.
Karena untuk menuju ke rumah Tengku Mahmud jalannya sempit dan tidak beraspal, maka para pengendara memilih untuk melanjutkan perjalanan hanya dengan berjalan kaki saja.
Sampai di depan rumah Tiara, Mereka semua berdiri di halaman. Hal ini membuat Ibu Tiara ketakutan setengah mati.
Sejak tadi warga desa sudah gempar dengan ratusan mobil mewah yang masuk ke kampung mereka. Di mana hal ini sangat jarang terjadi. Itu lah yang membuat Ibu Tiara ketakutan.
Dalam hati dia mulai mengatakan kalau-kalau Joe dan Putri nya sudah membuat masalah di kota Kemuning dan mereka datang untuk meminta ganti rugi atas masalah yang mereka timbulkan.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, sang Ibu pun keluar dari dalam rumah dan tampak ketakutan melihat barisan para lelaki bertubuh kekar itu. Namun perlahan wajahnya mulai tampak tidak memucat lagi ketika dari belakang, tampak Joe menggandeng seorang gadis remaja yang tampak dengan gaya berbeda dan sangat anggun.
"Ibu!." Sapa gadis itu begitu tiba di hadapan wanita setengah baya itu.
"Kau sudah kembali nak. Bagaimana di sana? Apakah menyenangkan?" Tanya sang ibu kepada putrinya.
"Bibi. Ini Tiara saya antar sampai ke rumah ya. Ibu silahkan diperiksa. Tidak kurang satu apapun." Kata Joe.
Anak ini memang sangat sesuka hatinya saja dalam berbicara. Hal ini membuat Tiara segera memelototkan matanya ke arah Joe.
"Kau pikir aku apaan harus diperiksa?" Tanya Tiara.
"Hehe... Hehehe... Maafkan aku Bi. Tapi sesuai dengan janji ku kepada paman Madun, Tiara kembali dalam keadaaan selamat tanpa tergores sedikit pun." Kata Joe sambil garuk-garuk kepala.
"Ya sudah. Lalu apa arti dari semua ini?" Tanya sang ibu yang heran melihat ada ratusan lelaki bertubuh kekar yang berdiri di belakang Joe dan Tiara.
"Sulit untuk menjelaskannya secara singkat Bu. Tapi yang jelas, mereka itu adalah anak buah Paman Tigor. Mereka ingin mengunjungi Kakek maha guru. Tapi singgah sebentar sekalian untuk mengantar ku sampai di depan pintu." Jawab Tiara.
Hal yang sama juga terjadi di depan rumah Lestari di kampung Indra sakti tadi.
Kedua orang tua gadis itu juga nyaris saja terkencing-kencing di celana karena merasa terintimidasi oleh kedatangan ramai sekali orang-orang berbadan besar.
Setelah Tiara dan Joe menjelaskan, baru lah mereka merasa takjub sekaligus merasa bangga karena putri mereka di antar dengan rombongan yang lumayan ramai. Seolah-olah anak gadisnya bak seorang putri raja.
Setidaknya itu lah yang ada dalam pikiran kedua orang tua Lestari tadi.
"Bi. Saya permisi dulu. Saya masih harus pulang. Takut nanti Kakek Tengku Mahmud saya marah jika terlambat."
Lalu Joe melambaikan tangan nya dan tampak empat orang lelaki berbadan tegap menghampiri dengan membawa bungkusan.
"Ini oleh-oleh dari kota Kemuning. Semoga Bibi berkenan menerimanya." Kata Joe.
"Oh. Iya-iya. Iya terimakasih." Jawab wanita ibunya Tiara itu.
Wanita itu tampak tergagap karena masih belum bisa mencerna semua ini.
Harapannya adalah, nanti Tiara akan menceritakan semuanya kepada dirinya apa maksud dari semua ini.
"Saya pamit pulang dulu Bi." Kata Joe sambil memberi hormat lalu berbalik badan dan melangkah diikuti oleh puluhan lelaki berbadan tegap tadi.
Kini dengan didampingi oleh Tigor, Andra, Jabat, Monang, Rio, Namora dan ramai lagi, Joe pun berbelok ke kanan menuju rumah berbentuk panggung dengan dinding terbuat dari anyaman bambu itu.
"Hati-hati! Guru ku itu orang aneh. Lindungi diri kalian!" Kata Joe memperingatkan.
Benar saja. Belum lagi hilang suara peringatannya, kini dari dalam rumah melesat tiga butir kulit kerang saling susul menyusul ke arah Tigor, Namora dan Joe.
"Awas!" Seru Tigor memperingatkan lalu membanting diri ke tanah berpasir.
Hal serupa juga dilakukan oleh Namora dan hanya Joe saja yang menangkap lesatan kulit kerang itu dengan jepitan antara jari tengah dan jari telunjuk nya.
Walaupun Tigor dan Namora berhasil menghindar, namun lesatan dua kulit kerang tadi menghantam orang yang berdiri di belakang mereka dan dengan telak mengenai kening masing-masing membuat mereka jatuh terduduk.
"Bodoh kalian semuanya! Orang sudah tunggang-langgang menghindar, mengapa kalian berdiri mematung dibelakang? Bagaimana jika itu tadi senjata tajam yang dilemparkan dengan kekuatan penuh?"
Terdengar makian dari dalam rumah diikuti melesatnya beberapa kulit kerang lagi.
Kali ini semuanya bertiarap di tanah berpasir itu dengan tangan melindungi kepala masing-masing.
"Hahaha. Hahaha. Lagi kek. Serang lagi kek!" Kata Joe sambil tertawa terbahak-bahak dan berjingkrak riang.
"Heh anak hantu! Kemari kau!" Bentak Tengku Mahmud.
Joe yang tau sebutan seperti itu hanya untuknya lalu mengambil beberapa bungkusan dari tangan Tigor dan Namora lalu berjalan menghampiri tangga rumah panggung itu.
"Jangan serang kek! Atau kita tidak jadi makan ini!" Kata Joe mengancam sambil melakukan gestur seolah-olah bungkusan yang berada di tangannya itu adalah perisai.
"Anak jin iprit. Kau jangan mengancam ku! Kesini kataku!" Bentak orang tua itu semakin keras.
"Iya aku datang ini." Kata Joe lalu meletakkan bungkusan yang ada di tangannya kemudian membungkuk mengambil tangan keriput lelaki tua itu lalu menciumnya.
"Joe kembali kek. Apakah kakek rindu sama Joe?" Tanya anak itu.
"Beeeeh... Siapa juga yang rindu sama anak bengal seperti kau ini. Heh anak jin iprit. Mengapa kau membawa pasukan kemari hah?" Bentak sang kakek.
"Bukan pasukan ku. Itu pasukan paman Tigor." Jawab Joe menghindari dari kena damprat lagi.
Mendengar seruan itu, ketiga mereka mulai saling pandang lalu tanpa sadar mulut Rio bergumam. "Mati kita bang."
"Pasrah saja lah." Jawab Tigor lalu melangkah mendekati tangga.
"Jika mereka itu cucu setan dan cicit setan, lalu siapa kakek nya?" Tanya Joe sambil terbahak-bahak.
Keletuk!
"Aduh kek. Mengapa kau menjitak ubun-ubun ku?" Tanya Joe sambil mengusap-usap kepalanya.
"Itu hukuman untuk anak usil seperti mu." Jawab Tengku Mahmud sambil melotot.
"Kek. Kami datang." Kata Tigor begitu tiba di bawah tangga rumah.
"Naik!" Perintah Tengku Mahmud.
Mereka bertiga pun naik lalu duduk bersimpuh di lantai teras rumah panggung itu.
"Berapa tahun kau di penjara?" Tanya Tengku Mahmud.
"Kurang lebih 17 tahun kek. Harusnya tidak sampai segitu. Tapi aku telah mematahkan tangan dan kaki beberapa tahanan. Makanya aku tidak mendapat potongan masa hukuman." Jawab Tigor.
"Hmmm... Apa selama di dalam penjara kau ada latihan?" Tanya Lelaki tua itu.
"Em... Emmm...,"
"Em em em apa? Kau tidak latihan kan? Aku dengar tadi bunyi gaya jatuh mu seperti karung padi." Bentak Tengku Mahmud membuat Tigor hanya mampu tertunduk menatap lantai rumah yang terbuat dari belahan batang Nibung itu.
"Kau harus latihan lagi. Firasat ku mengatakan, bahwa kali ini lawan mu bukan calang-calang lawan. Jika kau mengira dengan runtuhnya geng tengkorak dan geng kucing hitam kau sudah aman, kau salah besar. Kecuali kau keluar dari organisasi Dragon Empire." Kata Tengku Mahmud.
(Arti kata bukan Calang-calang itu dapat diartikan sama dengan bukan Kaleng-kaleng)
"Tidak mungkin saya keluar dari organisasi Dragon Empire kakek. Mereka sudah terlalu banyak membantu tanpa sedikitpun mengharapkan imbalan. Rasanya, nyawa ku ini terlalu murah sebagai imbalan." Jawab Tigor.
"Makanya itu. Kalau kau tidak ingin keluar dari organisasi itu, berarti musuh mereka adalah musuh mu. Dan lawan mereka adalah lawan mu. Aku ingin bertanya. Apa modal mu untuk membantu mereka? Usia mu sudah semakin tua. Pergerakan mu semakin lambat. Lalu apa modal mu Gor?" Bentak Tengku Mahmud.
"Aku mengaku salah kek."
"Mengaku salah saja tidak cukup. Sama sekali tidak bisa mengubah apapun. Orang yang hanya mengatakan penyesalan tanpa adanya tindakan untuk memperbaiki diri sama saja dengan tong kosong. Hanya suara saja yang nyaring namun isinya kosong. Kau itu! Kau sama seperti dengan tong kosong!" Bentak lelaki tua itu.
"Lalu kek. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau aku beri waktu selama empat bulan untuk melepas rindu dan menata kembali pekerjaan mu yang menumpuk. Setelah itu, datang kemari. Kau harus berlatih kembali. Semakin cepat akan semakin baik. Hanya ada Joe yang mewarisi seluruh ilmu ku. Kelak jika aku mati, apa yang akan aku katakan kepada Parulian jika cucu kandungnya tidak mendapat bimbingan dari ku. Selagi aku masih bernyawa, datang dan belajar lah. Tapi itu kembali lagi kepada mu. Kelak, jangan menyesal." Kata Tengku Mahmud.
(Parulian, adalah kakek kandung Tigor dan Rio. Ayah dari kapten Bonar. Sedangkan kapten Bonar adalah ayah kandung Tigor dan Rio)
Mendengar ini, hal yang paling ditakutkan oleh Tigor dan putranya Namora pun akhirnya terjadi juga bahwa mereka akan di gembleng oleh orang tua aneh dan terkesan angin-anginan itu.
"Saya akan datang kek. Cicit mu ini juga akan ikut belajar. Tapi mungkin setahun lagi. Menunggu dia tamat sekolah menengah tingkat atas." Kata Tigor.
"Hmmm. Baiklah."
"Kau anak jin iprit. Apa itu yang ada dalam bungkusan itu?" Tanya Tengku Mahmud kepada Joe.
"Ini kek. Makanan enak. Aku tidak mampu menelan makanan ini semalam karena teringan sama kakek set..,"
Keletuk!
"Aduuuh. Sakit kek!" Kata Joe karena sekali lagi mendapat jitakan.
"Apa? Kau mau mengatakan aku kakek setan kan?"
"Hehehe. Aku tidak berani." Kata Joe lalu segera bangkit berdiri untuk ke dapur mengambil piring dan mangkuk.
Setelah kembali ke teras, dia lalu meletakkan isi dari bungkusan itu ke dalam piring dan mangkuk lalu mempersilahkan Tengku Mahmud untuk bersantap.
"Makan kek. Nanti kalau ada sisa, baru aku makan." Kata Joe.
"Tumben kau waras. Biasanya kau ini lebih gila daripada aku." Tanya Tengku Mahmud.
"Aku gila karena tidak mendapatkan guru yang waras. Lepas dari mulut naga, masuk ke mulut Dino saurus." Jawab Joe merujuk kepada kakek Malik dan Tengku Mahmud yang keduanya memang sama-sama gila.
"Ku sumbat mulutmu dengan daging ini ya." Kata Tengku Mahmud sambil mengancam.
Tengku Mahmud dengan ditemani oleh Tigor dan Rio pun akhirnya makan bersama dengan sesekali Tengku Mahmud menyuapi Joe yang kembali seperti anak kecil.
"Aku, walaupun begini garang, tapi aku sayang kepada mu." Kata Tengku Mahmud sambil menyuapi Joe.
"Aku tidak." Jawab Joe seenak hatinya.
"Aku tidak heran dengan anak Jin iprit seperti mu." Kata Tengku Mahmud membuat semua yang ada di situ meledak tawa mereka.
Lalu mereka kembali makan bersama.
Dengan begini, baru lah Joe bisa menikmati makanan enak itu. Karena semalam, dia sama sekali tidak bisa melupakan Tengku Mahmud di rumah entah makan apa karena khawatir.