
Kriing!
Kriiiing!
Suara telepon membuyarkan konsentrasi Tigor yang saat ini sedang duduk bersila di dalam air berisi es batu dengan mata terpejam.
Begitu melihat nama pemanggil, dia segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Cok!"
"Hallo bang. Bagaimana latihan mu? Apakah kau baik-baik saja?"
"Setengah mati, Cok. Oh ya.., ada apa kau menelepon ku?"
"Begini bang. Aku dan Sugeng juga ada Ameng baru saja kembali dari Tasik Putri. Berita yang akan aku sampaikan kepada mu ini adalah tentang pusat hiburan dunia gemerlap malam, juga ada hotel Samporna yang sudah kembali beroperasi sejak beberapa hari yang lalu. Mereka juga tampak membuka pusat perjudian online dan juga menyediakan wanita Ayam," kata Ucok melaporkan.
"Hmmm. Apakah Marven telah bebas dari penjara?" Tanya Tigor.
"Belum bang. Hanya saja, aku melihat bahwa Irfan sering mengunjungi pusat tahanan kota Batu,"
"Lalu? Mengapa Irfan berani membuka kembali pusat hiburan itu? Dari mana mereka mendapatkan modal?"
"Itu dia bang. Dua orang asing yang kami ketahui bernama Douglas dan Bruno lah yang menyuntikkan dana segar kedalam perusahaan milik mendiang Martin itu. Kami juga telah menyebarkan anak buah kita di segala tempat. Dan hasilnya, mereka mendapat tau bahwa Douglas dan Bruno ini adalah anak buah dari Keluarga Miller dari Hongkong. Abang pasti tau lah keluarga Miller ini seperti apa," kata Ucok menjelaskan.
"Ya. Aku sudah dapat menangkap inti dari laporan mu ini. Terus awasi mereka Cok! Aku harus melaporkan semua ini kepada ketua kita," kata Tigor.
"Baik bang. Tapi, apakah harus, kita melaporkan kepada ketua? Bukankah dia saat ini sedang kuliah? Aku takut nanti dia tidak fokus terhadap kuliah nya dan malah lari dari kampus untuk datang ke sini. Abang tau sendiri lah isi kepala ketua kita itu. Banyak wayar nya yang sudah putus," kata Ucok.
"Hahaha. Kurang ajar kau Cok. Masa iya otak ketua kau samakan dengan barang elektronik. Pakai korslet segala,"
"Sudah lah bang. Nanti dia keselek pulak di sana. Kasihan. Yang aku khawatirkan, dia saat ini sedang makan kedondong. Ketika orangnya jadi bahan gosip, kemungkinan keselek itu sangat besar. Abang tau lah kalau keselek biji kedondong itu rasanya tidak enak,"
"Celaka kau Cok. Awas kau ya. Aku akan menelepon ketua dan mengadukan ala yang kau katakan ini kepada ketua," ancam Tigor.
"Jangan. Iya aku berhenti bergosip. Pokoknya pandai-pandai Abang lah melaporkan. Jangan sampai ketua korslet itu datang kemari dan meninggalkan kuliah nya," kata Ucok lalu mengakhiri panggilan.
Tigor hanya cengengesan sambil geleng-geleng kepala saja mendengar perkataan dari Ucok tadi. Sebenarnya, dia dan semua sahabatnya juga memiliki penilaian yang sama terhadap Joe William ini. Ini karena, anak itu sungguh aneh dengan segala keanehan cara berfikir nya.
Terkadang dia berfikir sebelum bertindak. Tapi kebanyakan, dia bertindak dulu. Setelah itu baru pusing sendiri memikirkan jalan keluarnya.
Sering kali perbuatan anak itu menimbulkan banyak kontroversi. Bahkan, terkadang sensasi yang dia timbulkan mengalahkan selebriti papan atas negara ini dan negara asalnya. Benar-benar seorang ketua yang somplak.
*********
Tigor saat ini sama sekali tidak bisa melanjutkan latihan pemusatan pikirannya.
Berita yang disampaikan oleh Ucok tadi benar-benar memaksanya untuk berfikir.
Di tengah dia sedang berfikir keras, tiba-tiba..,
Wuzzz!
Sebutir kulit kerang dengan kecepatan tinggi melesat mengincar keningnya.
Tigor yang saat itu tidak menyadari karena terlalu banyak beban fikiran, tidak sempat menghindar. Dia hanya bisa menutupi keningnya dengan lengan kiri.
Prak!
Kulit kerang itu tepat menghantam jam tangan miliknya hingga hancur bagian kacanya.
Beruntung dia mengenakan jam tangan. Jika tidak, mungkin lengannya akan bertato gambar kulit kerang.
"Dasar anak setan. Di tinggal latihan malah main handphone," bentak Tengku Mahmud sembari menghampiri Tigor yang masih pucat.
"Kakek mau membunuh ku? Jika aku mati, tidak ada lagi cucu mu," kata Tigor sambil menghindari sabetan tongkat lelaki tua itu.
"Siapa bilang kalau kau mati, aku tidak memiliki cucu? Masih ada Rio, ada Namora dan anaknya Rio juga ada," jawab Tengku Mahmud.
Menyadari bahwa perkataan kakeknya itu adalah kebenaran, maka Tigor hanya bisa garu-garu kepala saja.
"Heh, Setan! Mengapa kau seperti itu? Mengapa konsentrasi mu pecah? Ada apa, sampai kau tidak merasakan kehadiran ku?" Tanya Tengku Mahmud.
"Cucu mendapat laporan dari Ucok bahwa musuh Joe William sudah kembali mengatur langkah. Saat ini, mereka sudah berkolaborasi dengan Irfan untuk membuka kembali pusat hiburan dunia gemerlap malam dan beberapa pusat perjudian. Sepertinya, mereka sedang mempersiapkan segala sesuatunya sebelum Marven terbebas dari penjara," kata Tigor menjelaskan.
"Akhirnya hari itu semakin dekat. Kuala Nipah akan banjir darah. Aku memang bukan peramal atau ahli nujum. Tapi, firasat orang tua seperti ku ini jarang meleset. Berulang kali aku bermimpi bahwa Kuala Nipah ini lah Medan peperangan itu. Berawal dari dendam lama, ambisi menguasai pasar bisnis, halal nya cara haram yang dilakukan oleh musuh. Ini adalah pemicu peperangan itu. Akan ada bumbu-bumbu kecemburuan yang berasal dari seorang gadis. Joe akan menemukan saingannya terhadap gadis yang dia cintai. Mereka sama-sama ingin memiliki. Namun, ketulusan Joe yang akhirnya memenangkan semua itu. Hanya saja, berat. Itu tidak mudah untuk dimenangkan. Tantangan dan rintangan nya berat. Anak itu bisa berdarah-darah jika dia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Itu lah sebabnya mengapa aku menggembleng dirimu di sini. Karena, kalian akan sama-sama mendapatkan lawan yang sepadan. Jika kau tidak berlatih dengan giat, kau lah orang pertama yang akan mati terbunuh," kata Tengku Mahmud sambil mengetuk-ngetuk ujung tongkatnya di kepala Tigor.
"Apakah maksud Kakek, gadis itu adalah Tiara?"
"Aku tidak bisa mendahului Tuhan. Kita hanya manusia yang memiliki batas pengetahuan. Hanya saja, tidak ada salahnya jika kau dan anak jin itu mempersiapkan diri. Setiap perjalanan membutuhkan bekal yang cukup. Isi bekal mu untuk mengarungi kerasnya rintangan dalam perjalanan ini. Hari itu, aku tidak akan berada lagi di Kuala Nipah ini. Aku akan pulang ke Deli Serdang. Sisanya, itu adalah urusan kalian. Aku telah selesai membimbing kalian berdua. Joe itu, walaupun ilmunya sangat tinggi, bahkan kau pun berada dibawahnya, namun dia masih sangat labil. Sedikit saja musuh berbuat curang, maka dia akan masuk ke dalam perangkap. Kau harus bisa mencegah itu!" Kata Tengku Mahmud Badaruddin pula.
"Namora. Ada Namora, Kek. Cucu mu ini akan mengutus Namora untuk mendampingi Joe dimana pun dia berada. Namora juga bukan pemuda lemah. Diantara anak-anak sahabat ku, dia adalah yang terkuat. Aku akan mengirim Namora untuk menjadi perisai hidup bagi Joe ini,"
"Kapan rencana mu untuk mengirim Namora?" Tanya Tengku Mahmud.
"Dia sudah taman SMA. Mungkin secepatnya. Aku yakin dengan kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang berada di sekitar Tuan Jerry, mereka bisa dengan mudah mengusahakan agar Namora bisa masuk ke university tempat Joe saat ini sedang menuntut ilmu," jawab Tigor.
"Bagus. Sangat cocok. Namora yang berhati batu itu memang pas untuk mendampingi Joe. Kau atur saja lah! Dan sekarang, aku akan menambah waktu latihan mu. Semakin cepat kau selesai, semakin cepat pula aku meninggalkan kampung Kuala Nipah ini," kata Tengku Mahmud.
Merinding juga Tigor mendengar bahwa jam latihannya akan ditambah.
"Makin mati lah aku ini," kata Tigor dalam hati.
Bersambung...