
Daren yang terlihat sangat lesu kini segera berjalan ke arah mobilnya untuk segera kembali ke rumah.
Di dalam hatinya saat ini, berkecamuk berbagai persoalan yang anehnya datang hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Hari ini semua serba tidak menjadi, baginya. Dia benar-benar tidak menjalani mata kuliah karena fikirannya tersita oleh beberapa masalah yang seperti datang sekaligus menghantam ulu hatinya.
Tiba di rumah, dengan langkah gontai, Daren keluar meninggalkan mobilnya lalu segera terduduk di ruang tamu.
Beberapa orang yang menyapanya sama sekali tidak digubris olehnya. Hal ini tentu saja membuat orang-orang yang berada di rumah itu heran dengan perubahan sikap Daren.
"Aku tidak bisa diam. Aku harus merebut kembali Aurelie dari siapapun yang mencoba untuk mendekatinya. Aku tidak perduli walaupun itu adalah Duff sekalipun," kata Daren dalam hati. Dia segera menuju ke kamar mandi dan berendam dalam waktu lama di bak mandi. Mungkin dia ingin mendinginkan suasana hatinya saat ini.
Entah karena terlalu asyik berendam, Daren akhirnya terkejut juga ketika dia melihat bahwa jarum jam di tangan nya sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Menyadari bahwa dia harus mencegat Reynold yang saat ini ada janjian untuk menonton film bersama dengan Aurelie, Daren pun bergegas mengeringkan badannya lalu buru-buru berjalan menuju kamar untuk berpakaian.
Selesai berpakaian, dia langsung menyambar kunci mobilnya lalu segera berlari menuju ke arah mobil. Tak lama kemudian, suara auman deru mesin pun terdengar.
Mobil yang dikendarai oleh Daren saat ini meluncur dengan kecepatan tinggi menuju pusat Quantum City. Tujuan nya adalah, mencari mobil milik Reynold di area parkir.
"Hmmm. Tidak ada mobil Rey di sini. Berarti dia belum sampai," kata Daren dalam hati.
Tidak mau menunggu di sana, diapun segera menjalankan kembali mobilnya ke arah darimana tadi dia datang.
Sampai di jalan sepi, Daren pun memarkir mobilnya di bahu jalan dengan tujuan untuk mencegat mobil yang dikendarai oleh Reynold bersama dengan Aurelie yang dipastikan akan melintasi jalan itu.
"Ayo Rey! Cepat lah kau lewat. Aku sudah tidak sabaran," kata Daren dalam hati sambil memukul-mukul stir mobilnya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Dari kejauhan, tampak mobil milik Reynold pun melaju dengan kecepatan tinggi dan diperkirakan, tidak sampai satu menit lagi pasti akan melintasi jalan itu.
Daren, yang saat ini sudah dibakar oleh api kecemburuan langsung saja melintangkan mobilnya di tengah jalan. Dia tidak perduli dengan maki, sumpah dan serapah para pengguna jalan yang lainnya.
Criiit!
Terdengar suara berderit ban yang terseret di aspal.
Kini dari dalam mobil yang mendadak berhenti itu, keluar lah Reynold yang tampak sangat kesal.
Dia mengenal bahwa mobil yang sengaja dilintangkan di jalan itu pasti mobil milik Daren.
Sambil berteriak, Reynold pun langsung menghampiri mobil tersebut.
"Hey, Daren! Sudah gila kau ini. Apa yang kau lakukan?" Tanya Reynold dengan marah.
"Rey. Kau pernah mengatakan bahwa kau jantan dan aku juga jantan. Maka, aku menunggu mu di simpang depan sana. Ada banyak hal yang harus kita selesaikan," kata Daren lalu segera menjalankan mobilnya menuju ke arah persimpangan yang dia tunjuk tadi.
"Ada apa Rey?" Tanya Aurelie kepada Rey yang tampak sangat kesal.
"Daren sudah gila. Mungkin dia ingin menantang ku untuk berkelahi," kata Reynold lalu segera memutar mobilnya untuk mendatangi mobil Daren yang telah terparkir sekitar lima puluh meter melewati simpang tersebut.
...*********...
Di Kryptonite Club, Duff Clifford yang dendam kepada Daren segera menelepon Zarco untuk meminta bantuannya.
Sejujurnya, Duff sangat ingin membantai mantan sahabatnya itu. Namun, dia tidak bisa melakukannya karena dia kalah kuat dari Daren yang telah dirasuki oleh kecemburuan.
Maka dari itu, Duff Clifford pun memutuskan untuk menggunakaan kekuatan orang-orangnya di Kryptonite Club untuk menghajar Daren. Hal yang juga pernah dia lakukan terhadap Joe, Tye, dan Sylash ketika pulang dari menghadiri acara ulangtahun Ruby.
"Anda memanggil saya, Tuan muda?" Tanya seorang lelaki berbadan tegap bagaikan tukang pukul yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Zarco. Aku ada tugas untuk mu!" Kata Duff Clifford dengan lagak angkuh.
"Katakan! Tugas apa yang anda ingin saya kerjakan?" Pinta Zarco lalu ikut-ikutan duduk di depan pemuda itu.
"Zarco.., aku memiliki masalah dengan Daren. Aku ingin agar kau memberikan pelajaran berharga kepada bangsat ini agar tidak berani lagi mencari silang sengketa dengan ku," kata Duff Clifford sambil menatap tajam ke arah lawan bicaranya.
"Tunggu! Tunggu dulu, Tuan muda! Anda tadi mengatakan Daren?" Tanya Zarco sedikit mengernyitkan dahinya.
Duff Clifford hanya mengangguk saja sebagai jawaban dari pertanyaan lelaki berbadan tegap itu.
"Bukankah Daren ini adalah sahabat anda bersama dengan ketiga pemuda yang lainnya?" Tanya Zarco lagi dengan heran.
"Memang benar. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku ingin agar kau memberi dia pelajaran! Jangan di bunuh! Buat saja orang ini cacat," kata Duff Clifford memberi perintah.
"Anda fikirkan lagi, Tuan muda! Bagaimanapun, Daren dan anda sudah lama bersahabat. Jangan sampai terjadi penyesalan dikemudian hari!"
"Aku tidak butuh nasehat dari mu, Zarco! Yang aku inginkan adalah, kau lakukan saja apa yang aku perintahkan!" Bentak Duff Clifford yang sudah mulai kesal.
Mendengar ini, Zarco pun tidak lagi berkata-kata. Dia segera keluar dari ruangan itu untuk mengumpulkan orang-orangnya.
"Ruben! Kumpulan beberapa orang-orang kita. Saat ini kita ada tugas dari Tuan muda!" Kata Zarco kepada salah satu bawahannya yang berpenampilan seperti tukang jagal.
"Mau kemana kita Boss?" Tanya Ruben.
"Memukuli seorang pemuda bernama Daren atas perintah dari Tuan muda. Cepatlah kau kumpulkan anak buah kita! Jangan sampai nanti ditegur oleh Tuan muda gara-gara kelambanan mu," kata Zarco lagi dengan raut wajah tak sabaran.
Walaupun merasa heran dengan perintah atasannya ini, Ruben tetap menurut. Baginya, hanya untuk mengajar seorang pemuda, untuk apa dia diperintahkan mengumpulkan anak buah? Jika serius, dia dan Zarco pun sudah lebih dari cukup. Namun, baginya ya sudah. Karena, semakin ramai orang-orang yang ikut, akan semakin mudah bagi mereka melakukan pekerjaan, dan uang pun akan cepat didapatkan.
Tak lama setelah itu, Tampak sekitar sepuluh orang berjalan dipimpin oleh Ruben dan langsung menghampiri dimana Zarco sedang menunggu.
"Boss. Kami sudah siap," kata Ruben mengatakan bahwa saat ini mereka telah siap untuk berangkat.
"Mari ikuti aku. Aku tidak tau pasti di mana harus mencari Daren ini," kata Zarco.
"Boss.., sebaiknya kita berpencar saja. Andai kami yang menemukan Daren itu, kami akan menghubungi mu. Begitu sebaliknya," kata Ruben memberikan pendapat.
"Baiklah. Begitu juga boleh,"
"Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Zarco.
Tak lama kemudian, empat unit mobil pun bergerak meninggalkan Kryptonite Club itu menuju ke empat arah berbeda guna mencari keberadaan Daren dan menghajarnya sesuai dengan keinginan anak majikannya itu.
Jangan lupa like, favorit dan vote nya jika kalian suka dengan karya ini.
Bersambung...