Joe William

Joe William
Ternyata ibuku adalah nenek dari anakku



Dua orang pemuda tampak berdiri saling berhadap-hadapan tidak jauh dari simpang tiga jalan menuju pusat Quantum City.


Raut wajah ketegangan tampak jelas dari kedua pemuda itu.


Sementara itu, seorang gadis hanya memperhatikan saja sambil menahan senyum kepuasan. Dia menduga, bahwa perkelahian sebentar lagi pasti akan terjadi diantara kedua pemuda itu.


Memang inilah tujuan sebenarnya. Dan, gadis ini hampir berhasil mengadu domba antara pemuda yang tadinya bersahabat itu.


Diam-diam gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan kepada seseorang sambil mengatakan dimana lokasinya saat ini.


***


"Daren.., ada apa kau menghalangi jalan ku? Kau ini, kalau sudah tidak mampu, mengapa tidak menerima saja kekalahan mu dengan besar hati?" Kata Reynold dengan ekspresi wajah mengejek.


"Aku tidak akan seperti ini jika kau mau mengalah untuk ku. Kau sengaja menginginkan persengketaan diantara kita kan? Sekarang, apa pun yang terjadi, aku tidak akan berdiam diri. Persahabatan kita memang sudah retak. Sekali retak, biarkan pecah sekalian!" Jawab Daren yang sudah tidak memiliki pemikiran yang panjang.


"Hahaha. Aku tidak menyangka bahwa segini ini mental mu. Kau yang tidak mampu bersaing, malah lebih memilih jalan kekerasan. Apakah urat malu mu sudah putus?" Kata Reynold terus saja melancarkan perang saraf dengan Daren.


"Kau yang sialan. Sudah tau bahwa Aurelie adalah pacar ku. Tapi kau malah sengaja memotong kartu ku. Jika kau memang menganggap aku adalah sahabat, tentu kau tidak akan melakukan hal serendah itu," kata Daren pula membela diri.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu, Daren. Sekarang minggir dan beri aku jalan!" Kata Reynold sambil mendorong tubuh Daren agar menyingkir. Namun, yang tidak dia duga adalah, Daren malah menangkap pergelangan tangannya lalu memelintir tangan tersebut.


"Sudah aku katakan. Jika cara halus tidak bisa membuat mu berhenti, maka dengan cara kasar lah satu-satunya untuk menghentikan mu," kata Daren. Dia lalu menarik tangan Reynold dengan kasar membuat Reynold tertarik lalu jatuh. Beruntung dia masih sempat menopang tarikan tubuhnya dengan tangan. Sehingga, dia tidak jadi terjerembab.


"Kau! Baiklah. Jika ini yang kau inginkan," kata Reynold bangkit lalu segera mengirimkan pukulan ke arah wajah Daren.


Wuzzz!!!


Tap!


Daren dengan cekatan menangkis pukulan tangan Reynold sembari mengirimkan tendangan yang tepat mengenai perut lawan.


Bugh!


"Ukh...!"


Tendangan yang sangat keras itu membuat Reynold terbungkuk. Mendadak dia merasa mual di bagian perutnya akibat tendangan tadi.


"Ayo! Mana yang katanya Jantan dan mengajak ku untuk bersaing?" Ejek Daren.


"Kau..! Kau memang tidak tau malu. Aku akan membalas mu!"


"Balas? Ayo lah balas. Kau diizinkan untuk membalas. Itupun kalau kau mampu," kata Daren.


Dia segera mengirimkan kembali tendangan yang mengarah ke pinggang Reynold. Namun kali ini Reynold jauh lebih siap.


Dengan mundur beberapa langkah, tendangan yang dikirim oleh Daren tadi hanya menyapu angin saja.


Gagak dengan tendangan pertama, Daren kini meluruk dan semakin bernafsu untuk mencelakai lawannya itu.


Bugh!


Plak!


Mereka saling bertukar pukulan dan tendangan. Namun, tampak Daren lebih mendominasi jalannya pertarungan tersebut.


"Oh. Come on Rey! Ayo lah. Mengapa tenaga mu seperti ayam sayur?" Ejek Daren.


"Ku bunuh kau, Daren!" Teriak Reynold lalu memeluk Daren dan terus mendorong nya ke arah mobil.


Mendapat pelukan dan serangan membabi-buta itu, Daren pun langsung mendorong tubuh Rey untuk mengambil jarak. Begitu jarak diantara mereka terbuka, Daren lalu menghentakkan lututnya ke dada Reynold membuat pemuda itu melepaskan pelukannya sambil terbungkuk-bungkuk menahan batuk.


Plak!


"Arrrrgh..."


Reynold saat ini mengerang-ngerang kesakitan. Seluruh wajahnya kini babak belur dan baju yang dia pakai pun sobek di beberapa bagian.


"Sekarang kau baru tau siapa aku,"


Bugh!


"Uhuk..."


Sebelum pergi, Daren masih sempat mengirimkan tendangan yang telak menghantam rusuknya.


"Aurelie. Ayo ikut aku!" Kata Daren sambil menarik tangan gadis itu dengan paksa.


"Lepaskan! Mau kemana kita?" Tanya gadis itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Daren di lengannya.


"Ikuti saja aku! Jangan paksa aku memperlakukan mu dengan kasar!" Ancam Daren dengan tatapan berapi-api.


"Iya aku ikut. Tapi, lepaskan dulu cengkraman tangan mu ini! Sakit tau!" Kata Aurelie terus saja menarik tangannya dari cengkeraman tangan Daren.


Melihat gadis itu meringis kesakitan, akhirnya Daren pun melepaskan juga pegangan tangannya. Dia berjalan mendahului gadis itu menuju mobilnya lalu membukakan pintu.


"Masuk lah! Bukankah kau ingin menonton film? Aku akan menemani mu. Kau mau apa saja, akan aku turuti. Asalkan aku bisa memperbaiki kembali hubungan kita," kata Daren bersungguh-sungguh.


"Bukankah kau yang mengatakan bahwa aku ini tidak pantas untuk mu?!"


"Itu dulu. Sekarang aku telah menyesali kesalahan ku. Asalkan kau mengatakan iya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mu," kata Daren penuh kesungguhan.


"Baiklah. Sekarang aku ingin kau membawaku ke bioskop. Aku ingin menonton film terbaru,"


"Dengan senang hati, Tuan Putri!" Kata Daren mempersilahkan Aurelie masuk ke dalam mobil.


Mendadak pemuda itu menjadi ceria.


Sambil berlari mengitari mobil, dia kini telah memasuki mobil dan duduk di belakang steering.


"Kita berangkat?" Tanya nya.


Aurelie hanya mengangguk saja. Dan tak lama setelah itu, mobil itu pun bergerak meninggalkan Reynold yang saat ini tergeletak entah sadar entah pingsan di bahu jalan.


Di simpang jalan menuju ke Quantum entertainment, tiga orang pemuda yang menyaksikan perkelahian itu hanya menarik nafas dalam-dalam.


Kemudian, salah seorang diantara mereka mulai membuka suara. "Entah Daren ini tulus atau hanya silau dengan perubahan pada diri Aurelie,"


"Apa menurut mu dia tulus, Joe?" Tanya salah satu dari kedua sahabatnya itu


"Aku tidak tau. Tapi, jika melihat kenekatan Daren ini, akau dapat merasakan bahwa dia benar-benar telah berubah. Hanya saja, itu tergantung nanti. Aku menduga, masalahnya tidak selesai hanya sampai di sini saja. Mustahil keluarga Reynold akan membiarkan anaknya dipermak sampai babak belur seperti itu," kata Joe.


"Sepertinya mereka ingin pergi menonton. Kira-kira, film apa yang akan mereka tonton?" Tanya Sylash nyeletuk.


"Mana aku tau. Mungkin Joe tau film apa yang akan mereka tonton," kata Tye pula.


"Kalau aku tidak salah, Judul film nya adalah.., 'TERNYATA IBU KU ADALAH NENEK DARI ANAK KU'," jawab Joe dengan lagaknya yang acuh tak acuh.


Mendengar jawaban yang alakadarnya dari Joe ini, Tye dan Sylash tampak saling pandang dengan raut wajah antara kesal bercampur geli.


"Sialan kau ini, Joe!"


"Hahaha. Apa kalian kira aku ini serba tau segala hal? Bodoh mu itu. Ck ck ck!" Kata Joe menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Jalan Tye! Buntuti terus mereka!" Kata Joe menyuruh agar Tye membuntuti kemana perginya Daren dan Aurelie tadi.


Bersambung...