Joe William

Joe William
Semakin rumit urusan Joe



Pagi-pagi sekali, Roger yang memang tidak kembali ke Dolok ginjang telah menunggu di lobby hotel ketika Joe dan Namora turun dari lantai atas, lalu berjalan menuju lobby hotel.


Setelah berpesan kepada resepsionis hotel bahwa kamar tempat dia beristirahat tadi malam tidak boleh disewakan kepada orang lain, barulah Joe berangkat bersama dengan Roger dan Namora ke kampung Indra sakti untuk memenuhi janjinya kepada Lestari.


"Ketua. Apakah anda ingin sarapan terlebih dahulu? Tanya Roger.


"Tidak perlu paman. Aku hanya ingin segera ke rumah Lestari. Aku ada janji untuk membantu keluarganya untuk melunasi semua hutangnya kepada orang-orang dari geng kucing hitam," tolak Joe kepada menantu Lalah tersebut.


"Baiklah, Ketua. Mari silahkan!" Ajak Roger.


Mereka bertiga lalu berangkat menuju ke kampung Indra sakti memalui jalan pintas.


Di sepanjang jalan, Joe hanya melihat ada banyak perkebunan kelapa, karet maupun kelapa sawit.


Sesekali dia melihat anak-anak sebaya dengannya membawa cangkul dan peralatan pertanian lainnya. Mereka tampak bahagia dan bercanda ria bersama gadis-gadis yang menjadi teman seperjalanan mereka menuju ke ladang masing-masing.


"Apa yang anda lamunkan, Ketua?" Tanya Roger yang memandang dari kaca cermin di depannya.


"Tidak ada, Paman. Aku hanya iri melihat mereka-mereka itu. Ada sesuatu yang tidak dapat aku miliki seperti yang mereka punya. Yaitu, keceriaan, kebebasan, tanpa kekangan. Aku berusaha membebaskan diriku. Terkadang aku bertingkah seperti orang kurang waras hanya untuk sebuah kesenangan. Tapi, itu semua palsu. Memang tidak ada aturan tertulis bahwa aku tidak boleh begini dan begitu. Namun, aku tidak bisa tinggal diam saja ketika keluarga ku dalam ancaman. Bahkan, orang-orang yang aku sayangi juga terancam," jawab Joe seperti sedang mencurahkan seluruh uneg-uneg yang ada di dalam hatinya.


"Semua orang yang terlahir di dunia ini memiliki jalan hidupnya. Takdirnya, dan beban tanggung jawab yang harus dia pikul. Biarkan mengalir seadanya. Karena, walau bagaimanapun, kita adalah pemeran dari sebuah skenario yang telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Siapalah kita ini untuk terlalu banyak mengeluh. Jadi, terimalah dengan penuh kesyukuran. Namun, pasrah saja tidak boleh tanpa adanya usaha. Percayakan dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Semuanya pasti akan indah pada waktunya,"


"Paman Roger benar. Semuanya butuh usaha. Antara nasib dan Takdir itu berbeda. Aku bisa membantu mu, Joe!" Kata Namora tiba-tiba.


"Maksud mu?" Joe balik bertanya.


"Aku tau kau sangat mencintai, Tiara. Aku juga akan bahagia untuk kebahagiaan mu. Maksud ku begini. Bagaimana jika kita tukar posisi?" Tanya Namora serius.


"Maksud mu? Apakah kau sanggup menjadi Joe William? Kau akan dibenturkan dengan urusan yang sangat pelik. Aku khawatir kau akan menjadi sasaran orang-orang dari keluarga Miller. Lagi pula, mereka semua tau bahwa kau adalah Namora putra Paman Tigor. Apa lagi geng kucing hitam," kata Joe menolak.


"Kan ada ini!" Kata Namora sambil menunjukkan masker hitam berlambang kucing.


"Hahaha. Kau sangat pintar. Baiklah. Setelah kita menyelesaikan urusan keluarga Lestari, aku akan melepaskan identitas ku dan akan berangkat ke Kuala Nipah. Tunggu aku Tiara!" Kata Joe sambil mengepalkan tinjunya sebagai tanda bahwa dia sangat bersemangat ketika ini.


*********


Kampung Indra Sakti.


Kedatangan Joe ke rumah milik Lestari ternyata sudah di tunggu-tunggu oleh keluarga tersebut. Dan ini terlihat ketika baru saja mobil yang dikendarai oleh Roger, Namora dan Joe tiba di halaman rumah tersebut, mereka langsung menyambut kedatangan mereka dengan sangat gembira.


Ketika Joe keluar dari mobil, Lestari langsung menyambut kedatangan Joe bagaikan seorang pangeran.


Terlebih lagi orang tua Lestari. Mereka sudah mengetahui tentang identitas pemuda itu. Dulu, Joe pernah memberikan kalung berlian yang sangat mahal untuk Lestari ketika mereka mengunjungi kota Kemuning.


"Akhirnya kau datang juga, Joe!" Kata Lestari dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Silahkan masuk ke rumah reyot kami ini, Tuan muda!" Kata Ayah Lestari dengan ramah.


"Oh. Ya tentu. Terimakasih, Paman!" Kata Joe sambil menunduk hormat.


"Maafkan jika gubuk kami ini tidak nyaman untuk anda. Harap Tuan muda bisa nyaman di sini!"


"Ini jauh lebih baik daripada ketika saya berumur delapan tahun dulu di Mountain slope. Saya bisa menyesuaikan diri," ujar Joe. Mereka lalu segera memasuki rumah milik Lestari dan duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman pandan.


Tak lama setelah itu, dari arah belakang datang ibu Lestari membawakan minuman, dan mereka pun akhirnya mengobrol ringan sampailah pada titik dari maksud kedatangan Joe ke rumah milik keluarga itu.


"Lestari. Sejujurnya aku tidak bisa berlama-lama berada di rumah mu karena alasan tertentu. Setelah ini, jika ada yang bertanya dengan mu tentang diriku, maka jangan katakan bahwa kau mengenal ku. Ini demi keselamatan mu. Ketahuilah bahwa aku memiliki saingan dan musuh dalam dunia bisnis. Jadi, aku harap kau bisa menjaga bicara mu!"


"Untuk, Paman.., aku harap setelah ini Paman jangan bersentuhan lagi dengan geng kucing hitam. Mereka itu adalah ular. Paman akan dibelit oleh mereka. Aku hanya bisa membantu satu kali saja," kata Joe lalu menyerahkan selembar cek berisi tiga ratus juta Rupiah kepada Lestari.


"Ini adalah bantuan yang aku janjikan kepada mu semalam. Aku berharap kau jangan lagi bekerja di Club' elit itu. Jika kau masih nekat, maka aku tidak akan sudi lagi menganggap mu sebagai sahabat. Bekerja di sana bukanlah hal yang baik untuk mu. Aku juga akan menutup Club' elit itu. Hanya untuk merusak orang-orang saja,"


"Aku sangat berterimakasih kepada mu, Joe! Hanya Tuhan saja yang bisa membalasnya," kata Lestari dengan mata berkaca-kaca.


"Ya sudah jika begitu, aku mohon diri dulu!" Kata Joe lalu bangkit berdiri dari duduknya.


Sementara itu, Roger dan Namora sudah mendahului ke dalam mobil setelah mendapat izin dari Joe.


Setelah bersalaman dengan orang tua Lestari, Joe pun akhirnya melangkah menuju pintu.


Baru saja dia selesai memakai sepatunya dan berjalan beberapa langkah ke arah halaman, tiba-tiba Lestari berlari ke arahnya lalu berlutut di tanah.


"Apa yang kau lakukan, Lestari?" Tanya Joe heran.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa-apa lagi. Kata-kata terlalu sulit untuk mengungkapkan rasa terimakasih ku,"


"Sudahlah, Lestari! Ayo bangun!" Pinta Joe sembari membantu Lestari untuk bangun.


"Joe. Aku tau bahwa setelah ini, kita mungkin akan jarang bertemu. Andai bertemu pun, mungkin akan saling berpura-pura tidak kenal," kata Lestari lalu memeluk Joe erat-erat sehingga pemuda itu menjadi gelagapan.


Lama juga mereka berpelukan hingga satu unit becak motor berhenti di pinggir jalan. Dan ketika itu, keluar lah seorang gadis cantik berpenampilan sederhana membentak ke arah mereka.


"Kau memang sialan, Joe! Pantas saja kau mengutarakan banyak alasan kepada ku. Dan kau Lestari! Kau adalah seorang sahabat yang menikam sahabatnya dari belakang."


"Tiara?!" Gumam Joe dan Lestari secara bersamaan.


"Tidak, Tiara. Kau salah faham. Semuanya tidak seperti yang kau lihat!" Kata Joe lalu berlari ke arah Tiara. Namun terlambat. Tiara sudah naik kembali ke becak motor yang tadi dia tumpangi lalu segera melaju meninggalkan depan rumah milik keluarga Lestari.


Bersambung...