Joe William

Joe William
Kedatangan Namora, Talia dan Xenita



Berita tentang kedatangan mahasiswa baru di kampus mereka telah tersebar di kalangan mahasiswa di Globe's University ini.


Beberapa mahasiswa bahkan dosen pun ikut menunggu kehadiran mereka. Karena, mahasiswa yang akan menjadi bagian di university ini bukan tanggung-tanggung. Mereka adalah Talia Gordon. Putri dari pengusaha ternama yang sudah sangat terkenal sampai di Amerika latin.


Yang ke dua adalah, Xenita Patrik. Putri dari pengusaha dari Patrick Group yaitu Ivan Patrik. Bahkan, keluarga Patrik ini adalah salah satu dari empat keluarga terkaya di negara Abjad ini.


Yang ke tiga adalah Namora Habonaran. Putra dari seorang pengusaha dari Kota kemudian yang memiliki beberapa hotel, restoran dan juga memiliki yayasan yang terkenal yaitu yayasan Martins. Yayasan ini telah mengeluarkan bakat-bakat berpotensi dan telah menyebar ke berbagai negara mengikuti keahlian mereka masing-masing di bidangnya.


Kurang dari pukul delapan pagi, rombongan orang-orang yang menarik perhatian dari seluruh isi kampus itu pun berdatangan.


Di mulai dengan sebuah mobil Porsche Taycan biru yang kini memasuki gerbang kampus dengan kecepatan rendah. Kemudian diikuti dengan mobil Lexus LC 500 berwarna merah.


Tak lama setelah itu, kini satu unit mobil Aston Martin DB11 memasuki area parkir di Globe's University itu.


Seluruh mahasiswa yang berada di situ kini sama sekali tidak menduga bahwa kampus mereka ini akan kedatangan para putri bangsawan dan pangeran. Ini karena, selama ini yang mereka ketahui hanyalah Duff Clifford dan Naomi saja. Padahal mereka tidak tau bahwa ada seekor naga yang bersemayam dengan identitas tersamar di kampus mereka ini. Naga itu adalah Joe William.


Sementara itu, tidak jauh dari kerumunan mahasiswa yang melihat ke arah tiga mobil tersebut, Joe, Tye dan Sylash hanya memperhatikan saja.


Jika tidak ditahan oleh Joe, kemungkinan Sylash dan Tye sudah menghambur ke arah kerumunan untuk melihat ketiga mahasiswa baru itu agar bisa lebih dekat.


"Jaga tingkah kalian berdua! Jangan membuat aku malu dengan lagak kampungan kalian itu!" Kata Joe memarahi kedua sahabatnya itu.


"Aku hanya tidak tahan untuk melihat dan menyapa kedua gadis yang konon katanya sangat cantik itu," kata Sylash pula dengan lidahnya berulang kali membasahi bibirnya.


"Kita akan saling kenal dengan mereka. Cepat atau lambat. Jadi, tidak perlu seperti itu. Aku lapar dan aku ingin sarapan. Jika kalian berdua kenyang hanya melihat kedatangan mahasiswa baru itu, maka silahkan saja!" Kata Joe lalu segera melangkah menuju kantin.


"Hey. Ah.., sialan sekali punya sahabat seperti Joe ini. Ayo Tye. Kalau tidak, peluang makan gratis akan terlepas begitu saja," kata Sylash sambil menarik tangan Tye dengan paksa.


Sementara itu, dari tiga mobil yang mewah kini keluar lah seorang pemuda dan dua orang gadis.


Seorang pemuda yang tidak lain adalah Namora Habonaran itu tampak mengering ke arah kerumunan mahasiswa. Wajahnya sangat datar tanpa ekspresi. Mungkin orang ini tidak pernah tersenyum seumur hidupnya.


Dari mobil Porsche Taycan keluar pula seorang gadis yang tampak periang. Dia segera melirik ke arah pemuda dingin tanpa ekspresi itu lalu tersenyum riang.


Sementara itu, dari mobil Lexus LC 500 pula, keluar seorang gadis yang tidak kalah cantik dan imut. Gadis itu lalu menghampiri wanita yang tersenyum tadi kemudian menggandeng tangan wanita sahabatnya itu.


"Xenita.., apa benar di sini Kak Joe kuliah? Aku perhatikan, mengapa tidak ada pemuda berkulit hitam legam seperti pantat kuali di sini? Walaupun ada yang berkulit hitam, tapi tidak ada yang se-hitam kulit kak Joe," bisik gadis itu ke telinga Xenita.


"Kau yakin kalau Kak Joe saat ini berkulit hitam legam seperti pertemuan kita di hotel mutiara Metro City beberapa bulan yang lalu?" Tanya Xenita.


"Kan kenyataan memang begitu?"


"Heh, Talia! Kau jangan heran. Kak Joe itu memang super aneh. Lihat saja nanti sepeti apa Kak Joe itu. Kau jangan pula keluar air liur melihatnya nanti! Atau, kau ingin aku mempersiapkan kantong plastik untuk mu?" Tanya Xenita kepada gadis sahabatnya yang ternyata bernama Talia itu.


"Aku semakin heran dengan mu. Apa yang kau ketahui Xenita?" Tanya Talia penasaran.


"Nanti kau akan tau. Tujuan mu ke sini apakah untuk belajar atau untuk mengejar Kak Joe?" Tanya Xenita menggoda.


"Aku.., aku.., ya jelas untuk belajar lah. Lagi pula, Kak Joe kan sudah menolak ku mentah-mentah," jawab gadis itu. Sejenak dia teringat bagaimana perlakuan Joe yang menyiksa dirinya ketika acara pesta dansa itu. Dia juga ingat seperti apa cara Joe meninggalkan pesta yang telah hancur lebur oleh ulah dari pemuda itu. Dia geram. Tapi juga merasa lucu dengan tingkah pemuda itu.


"Namora. Apakah kita langsung menuju ke kelas?" Tanya Xenita kepada pemuda dingin itu.


"I.., i.., i. Oh. Ah. Iy.., iya,"


"Kau kenapa, Namora?" Tanya Xenita setengah mati menahan tawa.


"A.., ak.., aku. Aku.., aku tid.., tidak apa-apa," jawab Namora tergagap. Mendadak perutnya terasa sakit karena salah tingkah.


"Namora.., mengapa kau gugup sekali?" Kata Xenita yang langsung menyambar lengan pemuda itu.


"Huhuhu.., Jang.., jangan," kata Namora lalu segera melarikan diri.


"Hahahaha. Lihatlah dia. Sangat sulit untuk didekati," kata Xenita tertawa renyah.


"Aku baru kali ini melihat pemuda yang seperti terdesak buang air ketika berdekatan dengan wanita," kata Talia yang juga ikut tertawa.


"Ya sudah! Ayo kita bertanya kepada mereka di mana kelas kita berada," ajak Xenita.


Dari kantin, Joe yang menyaksikan Namora dikerjai oleh Xenita terpaksa harus menderita akibat dia tersedak minuman. Hal ini tentu saja membuat Tye dan Sylash segera bertanya.


"Apa kau mengenal mereka itu Joe?" Tanya Tye.


"Ya. Aku kenal mereka. Pemuda itu adalah anak dari sahabat ayah ku. Namanya Namora. Sedangkan gadis yang berada ditengah-tengah tadi, namanya Xenita Patrik. Dan, yang paling pinggir itu namanya adalah Talia. Kakek ku dan kakek nya ingin menjodohkan kami. Makanya aku kabur. Tapi, sepertinya aku sudah tidak bisa kabur lagi," jawab Joe dengan wajah pasrah.


"Pantas saja sikap mu acuh tak acuh. Ternyata kalian sudah saling kenal,"


"Lalu, Joe. Apakah gadis bernama Talia itu khusus untuk mencari mu di universitas ini?" Tanya Tye.


"Aku tidak berani mengatakan bahwa dia kemari karena mengejar ku. Tapi, sepertinya gadis itu belum menyerah. Aku hanya suka dengan persahabatan. Hatiku sudah ada pengisi nya. Sulit untuk menerima sesuatu yang tidak aku sukai," kata Joe mengeluh. Dia kasihan terhadap Talia. Tapi dia jauh lebih kasihan jika harus mengkhianati Tiara.


"Nasib. Ternyata jadi lelaki tampan dan kaya itu tidak enak," kata Sylash.


"Makanya. Syukuri apa yang ada. Kita kadang iri melihat kehidupan orang lain. Tapi kita tidak mengetahui seberapa iri nya orang lain terhadap kebebasan yang kalian miliki. Aku, nyaris saja menjadi alat tukar untuk sebuah ambisi. Aku dan ayah ku nyaris menjadi korban. Beruntung ayah ku memiliki pemikiran yang maju. Ibu ku bukanlah dari keluarga kaya raya. Makanya aku beruntung. Setidaknya, aku tidak menjadi tuan muda di keluarga besar yang hanya memikirkan ambisi dengan menukar kebahagiaan anak atau cucu mereka demi menjalin sebuah aliansi dengan keluarga besar lainnya. Aku lebih baik kabur dan mejalani hidup dengan bebas daripada harus menjadi tawanan di keluarga lain sebagai sebuah boneka yang ditukar dengan kejayaan," kata Joe pula.


"Sebenarnya kebahagiaan itu sederhana saja. Tidak harus kaya raya. Terkadang, kebahagiaan itu, apa lagi seperti kita ini, yang adalah seorang anak. Kasih sayang dari kedua orang tua itu lah yang terpenting. Berapa banyak dari anak-anak orang kaya yang mengeluh tidak mendapatkan perhatian dari orang tua mereka dikarenakan sibuk mengejar harta," kata Sylash berlagak serius.


"Weeee... Ternyata Sylash bisa serius juga," kata Joe dan Tye sambil mengacak-acak rambut milik sahabatnya itu.


"Salah satu kesialan yang aku dapatkan ketika bersahabat dengan kalian berdua ini adalah, aku gagal waras!" Kata Sylash lalu membalas mengacak-acak rambut Joe dan Tye.


"Sudah becanda nya. Ayo bayar ini. Kali ini kau yang harus membayar. Mari Tye!" Ajak Joe lalu kabur meninggalkan meja dimana mereka makan tadi.


Kini tinggallah Sylash yang hanya bisa garu-garu kepala saja.


Pupus sudah harapannya mendapatkan makan gratis.


"Ini bukan untung. Tapi buntung!" Kata Sylash berjalan dengan lesu ke arah kasir.


Like nya jgn lupa!


Bersambung...