
"Sakit njir. Asem lu!" Kata Namora berusaha membalas perbuatan Joe yang tiba-tiba menendang pantatnya.
"Heh. Tadi bahasa apa itu? Shiang-shiang maling Sheng, dan Shiang-shiang maling Thong?" Tanya Joe tertawa melampiaskan rasa lucu yang dia rasakan. Sejenak bahang panas didalam hatinya hilang setelah tadi tanpa dia duga, Namora bertindak diluar ekspektasi.
"Aku juga bingung. Tapi, Paman Acong dan Paman Ameng sering mengatakan seperti itu ketika sedang becanda," jawab Namora apa adanya.
"Maling.., tapi benar juga kata-kata mu tadi. Siang-siang maling seng yang tertangkap lah. Apalagi seng yang terpasang di rumah orang. Kalau hujan, bisa kebanjiran," kata Joe pula menganalisis perkataan ala Kantonis dari Namora tadi.
"Mereka memang pencuri. Mereka tidak perduli dengan teriakan orang-orang kecil. Asalkan tujuan mereka tercapai, maka semua jalan halal untuk mereka. Mereka berani secara terang-terangan menindas penduduk Kuala Nipah. Aku tidak bisa terima! Siapapun orangnya, jika datang ke negara ku hanya untuk mengeruk keuntungan tanpa peduli dengan masyarakat sekitarnya, bagiku mereka adalah penjajah yang harus segera dihalau!" Kata Namora dengan tegas.
"Makanya kita tidak boleh gegabah. Di jaman dimana semuanya bisa diputarbelitkan, dan berita bisa diplintir sedemikian rupa, hal yang harus kita lakukan adalah melibatkan banyak pihak. Kekuatan yang ada saja tidak cukup. Mereka main kasar, kita juga harus membalasnya dengan cara kasar. Tapi caranya yang membedakan kita dengan mereka. Kalau bahasa trendnya ya.., mafia garis lurus lah! Hahahaha...," Kata Joe yang kembali tertawa.
"Sialan. Mafia apa pula garis lurus," maki Namora yang tidak terlalu mengerti maksud Joe.
"Pintar mu itu kadang-kadang. Sini ku cekoki otak mu itu biar makin luas cara fikiranya.
Di jaman sekarang ini, kau bisa mengakses apa saja pemberitaan di media. Informasi hanya sebatas ujung jari saja. Semuanya tinggal klik, dan akan tersedia sesuai dengan yang kau inginkan. Tapi, apakah kau tau atau bisa menjamin bahwa berita itu adalah benar dan bukan Hoax? Bisa saja kan, orang yang memukul berteriak bahwa dia yang terpukul. Dan orang yang tanpa mau mencari tau kebenaran akan menelan bulat-bulat apa yang dia baca. Begitu juga dengan kita. Jika kita bertindak seperti yang dilakukan oleh keluarga Miller ini, mereka akan berteriak di media bahwa mereka yang baru akan mendirikan perusahaan dan bertapak di negara ini untuk menginvestasikan modal mereka bagi kemajuan wilayah tempat mereka bertempat malah diserang oleh saingan bisnis mereka. Nama Tower Sole propier pasti akan menjadi musuh publik karena dianggap menganiaya perusahaan yang masih baru. Apakah otak mu sekarang sudah bisa mencerna? Memang levelnya berat sih. Penjelasan itu memang terkesan bertele-tele. Tapi jika tidak dijelaskan, belum tentu kapasitas otak setiap orang mampu mencerna. Jadi, jika ada penjelasan, dengarkan dan jangan banyak bacot!" Canda Joe kepada Namora yang tampak melongo mendengar penjelasan yang sangat panjang kali lebar kali luas dan kali dalam itu.
"Eh. Tapi aku tadi nyaris tidak terpikir bahwa kau mampu mengerjai Honor. Aku salut padamu. TOS dulu dong!" Ajak Joe yang sudah sangat lancar berbahasa dang ding dong.
"Jika bukan aku yang mendahului, pasti kau yang akan maju. Ketika kau maju, maka identitas mu akan terbongkar. Aku tau kau sedang marah. Dan dalam situasi seperti ini, level otak ku jauh berada di atas level otak mu. Pintar ku yang kadang-kadang ini pasti bermanfaat buat mu. Akui itu! Karena, jika kau tidak mengakui, maka kau tergolong orang yang munafik!" Balas Namora. Puas betul hatinya mampu membayar kontan ocehan dari Joe tadi.
"Ya. Aku mengakuinya. Pintar mu yang kadang-kadang itu sungguh membuat isi perutku terbolak-balik."
"Heh. Sepertinya kau sudah mulai melupakan Tiara?!" Ujar Namora pula.
Joe tidak menjawab, melainkan hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Apa maksudnya itu?" Tanya Namora yang tidak dapat menangkap maksud dari gelengan kepala Joe tadi.
"Aku tidak berusaha untuk melupakan Tiara. Dia adalah cinta pertamaku. Aku bisa mendapatkan seribu wanita dengan kapasitas yang aku miliki. Tapi, jelas rasanya tidak akan sama. Jika kau ingin tau seperti apa yang aku rasakan, bertanya lah kepada Paman Tigor seperti apa cintanya kepada Bibi Mirna!"
"Huhf. Kau memang sialan. Membuang waktu hanya karena cinta brengsek mu itu. Ingin ku cekik leher mu itu. Geram kali aku bah!" Maki Namora yang langsung bangkit dan akan meninggalkan ruangan itu.
"Bodo amat lah. Makan tuh cinta sialan mu!" Kata Namora pula yang sudah sampai di depan pintu keluar.
"Mau kemana kau?" Tanya Joe yang langsung bangkit menyusul.
"Mau menyiksa Manager itu. Bagaimana dia bisa mengizinkan orang yang tidak memiliki kartu Diamond VIP member ekslusif di Tower Sole propier ini memasuki Diamond VIP box. Akan kutelanjangi manager ini. Jika ingin menjilat, jilatlah tuan mu. Karena kau bernaung dibawahnya, dan kau bekerja mendapatkan upah, bukan cuma-cuma. Jika kau menjilat kepada orang lain, itu adalah sebuah kedekatan dengan pengkhianatan. Dan Manajer ini, dia sudah berkhianat. Mengkhianati peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan," jawab Namora.
"Yang punya perusahaan ini kan aku. Aku yang akan menentukan hukuman. Mengapa kau yang bertindak memberikan hukuman?" Joe mempertahankan keputusan dari Namora tadi yang hendak menghukum sang Manager.
"Ingat! Kau adalah pelayan untuk hari ini. Jangan membantah atasan! Atau, kau akan aku kenakan hukuman karena tidak disiplin terhadap atasan. Peraturan tertulis di perusahaan sudah jelas. Siapapun yang melanggar, bisa dihukum. Beruntung perusahaan ini milik pribadi tanpa adanya pemegang saham. Jika tidak, kau orang yang pertama yang akan diadili oleh dewan direksi!" Balas Namora yang membuat Joe mati kutu.
Memang, Joe ini sama sekali tidak mengurus perusahaannya. Dia hanya sibuk dengan urusan tentang keluarga Miller ini. Namun, bukan berarti Joe lepas tangan. Hanya saja, waktunya yang banyak tersita sehingga dia lebih banyak memberikan ruang kepada Miss Aline untuk menjalankan perusahaan.
"Terserah kau saja lah. Aku malas untuk ribut masalah kedisiplinan dengan mu. Beruntung jabatan presiden di Tower Sole propier dipegang oleh Miss Aline. Jika kau yang memegang jabatan itu, bisa kabur semua para staf yang ada," maki Joe kepada Namora.
"Setidaknya aku tidak menyiksa para staf dengan memaksa mereka mendorongku di atas troli," jawab Namora pula yang sukses membuat mulut Joe seketika terbungkam.
"Jangan lari kau, Namora! Aku akan mengajar mu!" Teriak Joe yang menyadari setelah berucap seperti tadi, Namora segera kabur karena khawatir Joe akan menghajarnya.
"Woy Namora! Jika kau kabur, akan aku buat kau bangkrut tujuh turunan seperti keluarga Clifford!" Ancam Joe.
Mendengar ancaman itu, Namora segera menghentikan larinya. Kini, dia pasrah akan tindak balas dari Joe.
Plak!
"Sekali lagi, jangan mengingat hobi lama ku! Atau, kau yang akan aku suruh mendorong troli yang aku naiki. Mau?" Ancam Joe, setelah menyepak pantat Namora.
"Ampun, Ketua. Aku khawatir jika kesabaran ku hilang, kau bisa terjun bebas dari lantai atas ke lantai paling atas," jawab Namora becanda.
"Ternyata kau lebih sialan dari Tye dan Sylash. Cepat selesaikan urusan mu! Aku memberimu waktu hanya 10 menit!" Ujar Joe yang langsung berjalan menuju lift mendahului Namora.
Bersambung...