Joe William

Joe William
Tawaran bergabung dengan J7



Jericho benar-benar sangat kesal dan berjalan sambil menendangi apa saja yang ada dihadapannya. "Jika bukan karena wanita, sudah kurontokkan gigi mereka," kesal Jericho dalam hati.


Baru saja Jericho melewati koridor kampus untuk menuju ke kelasnya, Joe William pun keluar dari lorong lain dan kini dia berjalan menuruni tangga. Langkahnya begitu cepat. Ini dia lakukan agar segera tiba ke kelasnya. Mungkin dia sudah terlambat beberapa menit.


Suasana di kelas tampak kasak-kusuk begitu mereka melihat Joe memasuki kelas. Dalam hatinya dia merasa lega juga karena Dosen belum tiba di ruangan itu.


Dia sama sekali tidak memperdulikan bisik-bisik diantara mereka sambil memandang kearahnya. Baginya, ini adalah hal yang sudah biasa dan dia sudah kebal dengan hal seperti ini.


"Hei, Cupu! Apa kau tau bahwa Mira, Dewi dan Janet mendapat hukuman karena mereka ingin mencelakai dirimu dengan seember air?" Tanya orang yang duduk tidak jauh dari kursi milik Joe.


"Tidak. Tapi...," Joe kini melihat ke arah tiga kursi yang memang kosong.


"Apakah Dosen yang menghukum mereka?" Tanya Joe.


"Bukan. Tadi tiba-tiba Jericho kemari. Entah apa yang dia cari. Begitu pintu di dorong, air itu tumpah di atas kepalanya. Akhirnya Jericho menghukum ketiga gadis itu," jawab mahasiswa tadi.


"Bukan urusan ku. Mereka memetik apa yang mereka tanam," kata Joe acuh.


Sementara itu, Mira, Dewi dan Janet sedikitpun tidak berani beranjak dari pelataran kampus tempat mereka menjalani hukuman dengan berdiri.


Bulir-bulir keringat telah menetes membasahi wajah ke-tiga gadis itu.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan lewat hanya melihat saja. Tidak ada yang bersimpati. Malahan, ada sebagian yang mencibir kearah mereka.


Setelah kelas berakhir, Mira dan kedua sahabatnya benar-benar sudah sangat kelelahan. Mereka akhirnya menarik nafas lega ketika teman-teman satu jurusan dengan mereka telah keluar dan berjalan menuju ke kantin. Namun kelegaan itu berubah menjadi kemarahan ketika melihat Joe melintas di depan mereka tanpa melirik.


Seolah-olah tidak tau bahwa didekatnya ada tiga gadis, Joe enak saja menarik pinggang celananya sampai ke batas perut dan menunggingi ketiga gadis itu untuk membetulkan tali sepatunya.


"Hiiiih! Ingin rasanya ku tendang pantat si cupu sialan itu!" Geram Dewi sambil ingin maju. Tapi dia segera do tahan oleh Janet.


"Jangan lakukan lagi tindakan bodoh. Jika Jericho mengetahui, habislah kita,"


Dewi hanya mendengus saja sebagai luapan dari kekesalannya.


Tuuuut Tut Tut.


"Kurang ajar! Dia kentut kan?" Kini Mira benar-benar naik darah dan tidak bisa lagi menahan emosinya karena ada aroma yang sangat tidak sedap berhembus dan membelai hidung mereka dengan mesra.


"Hoek.. hoeeek. Hoeeek..!" Dewi memuntahkan seluruh isi perutnya karena tidak tahan dengan bau busuk itu.


"Aku harus menghajarnya!" Kata Mira lalu mengirimkan tendangan ke arah pantat Joe.


Wuzzzz!


Joe tau bahwa dia pasti akan di serang. Karena dia sudah melihat adanya sepasang kaki yang mendekat dan mengirim sepakan kearahnya. Hal ini membuat Joe berpura-pura selesai memperbaiki ikatan tali sepatunya dan cepat-cepat berdiri tegak membuat sepakan itu meleset.


Brugh!


"Aduh gustiiiiii!" Kata Mira yang jatuh dengan sebelah kaki kanannya terjulur ke depan. Posisinya jatuhnya Mira benar-benar tidak enak bangat untuk dipandang. Dengan kaki kanan terjulur ke depan dan kaki kiri tertekuk seperti orang berlutut. Pasti dengkulnya saat ini sudah calar terkena semen kasar di pelataran kampus dekat tiang bendera itu.


"Kau jatuh? Tidak ada angin dan tidak ada hujan!" Kata Joe menolehkan kepalanya ke belakang. Usai berucap, Joe segera pergi meninggalkan ketiga gadis tadi yang menatap kearahnya bagaikan induk singa yang mau melahirkan anak kembar sepuluh.


"Woy Joe! Kemari kau!" Panggil satu suara dari arah belakang.


"Eh. Ada apa Bro Jericho?" Tanya Joe. "Nama kok borongan. Nama ayahku dan Pamanku diborong semua oleh orang ini," maki Joe dalam hatinya.


"Minggu depan, apakah kau ada kegiatan? Jika tidak, kami anak-anak geng motor J7 ingin mengajak mu untuk touring sekaligus melakukan kegiatan amal. Bukan hanya kita saja. Dari kota Kemuning akan ada juga yang ikut. Dari Tasik Putri juga ada, Dolok ginjang juga ada. Bahkan ada yang dari Tanjung Karang juga," kata Jericho.


"Emmm... Kegiatan yang bagus juga tuh. Apakah kalian tidak malu. Sepeda motor kepunyaan ku hanya Vespa butut yang terkadang sering mogok,"


"Kalau sering bukan kadang lagi namanya Joe!" Tegur Jericho.


Joe hanya tersenyum canggung mendengar teguran yang benar itu.


"Aku akan meminjamkan sepeda motor milik adikku kepada mu. Bagaimana?"


"Ah. Tidak perlu. Aku akan pergi ke rental di dekat kota batu ini. Nanti aku akan menyewa sepeda motor yang bagus. Apa kalian akan membawa pacar kalian masing-masing?" Tanya Joe.


"Bukan pacar. Hanya teman dekat. Ya! Kami akan membawa pasangan masing-masing. Jika kau punya, kau boleh membawanya. Jika tidak punya, kau cari saja pacar sewaan di rental. Atau, apa kau mau aku yang mencarikan untuk mu?" Ejek Jericho.


"Hahaha. Aku punya. Kau mungkin kenal dengan Tiara. Baiklah. Aku akan ikut!" Jawab Joe yang berhasil memuaskan hati Jericho.


"Bagus! Ayo ke kantin! Nanti aku akan mentraktir dirimu minum sepuasnya!" Ajak Jericho.


"Minum sepuasnya? Mau berapa kali aku kencing? Jangan hanya minum saja, makan juga ya!"


"Hahaha. Ternyata kau sialan juga!" Kata Jericho yang langsung merangkul pundak Joe.


Mereka lalu berjalan bersama-sama menuju ke kantin kampus yang sudah menjadi langganan mereka.


"Nah ini dia. Di cari-cari malah tidak kelihatan. Oh ya Joe. Apakah kau tertarik untuk bergabung dengan kami? Kami kini hanya tinggal enam orang saja. Akan lengkap jika kau mau bergabung bersama kami. Maka barulah sempurna J7 nya. Bener gak, teman-teman?" Tanya James kepada empat orang yang duduk di tempat itu.


"Semuanya terserah Jericho saja. Kita ikut saja."


"Apa kau bersedia, Joe?" Tanya Jericho.


"Aku memang ingin menambah pertemanan. Tidak ada salahnya. Tapi, apa kalian tidak malu berteman dengan ku?"


"Sama sekali tidak. Jika kau tidak keberatan, maka kau akan resmi hari ini menjadi junior di J7. Kami akan membawa mu ke salon kecantikan dan akan mempermak wajahmu yang unyu itu biar menjadi tampan. Jangan menolak! Atau selamanya kau akan menjadi bahan hinaan para mahasiswi di kampus ini," ujar Juned.


"Permak? Modar aku!" Kata Joe dalam hati. Tapi mau bagaimana lagi. Sepandai-pandainya dia akan menyembunyikan identitasnya.


"Begini saja! Kami akan menunggumu sepulangnya dari kelas. Setelah itu, kita berangkat bersama-sama. Kau harus memiliki atribut J7. Setelah itu, bersumpah setia kepada orang-orang yang berada di dalam naungan J7. Kita memiliki markas tidak jauh dari kampung baru. Setiap ada agenda, kita akan melakukan pertemuan di sana!" Kata Jericho.


"Baiklah! Aku menerima. Semoga saja tidak menjadi beban bagi kalian!" Kata Joe merendah.


"Ah. Bicara apa kau ini. Ayo lah bro! Santai aja!"


Mereka lalu tertawa bersama-sama. Hal ini tentu membuat iri mahasiswa yang lainnya. Bagaimana mungkin anak baru yang cupu itu bisa menjadi magnet bagi anggota J7 yang disegani di kampus ini.


Bersambung...