Joe William

Joe William
Penampilan Baru, Joe



Pagi itu, seluruh mahasiswa di universitas Kota Batu dibuat heboh oleh penampilan Joe William.


Sesuai dengan janji para anggota J7 yang akan mempermak penampilan Joe, hal ini benar-benar mereka lakukan dan pada akhirnya, Joe pun kini berubah dari pemuda yang cupu menjadi pemuda dengan gaya heavy metal.


Rambutnya kini di pangkas gaya mohawk dengan garis melintang di sisinya. Telinga dipasangi anting bermagnet tanpa harus melubangi cuping telinga nya. Begitu juga dengan bibirnya.


Singkat cerita, penampilan Joe benar-benar berubah 360 Drajat. Hanya saja, yang jadi masalah adalah, sepeda motor yang dia kendarai tetaplah Vespa bututnya. Walaupun sudah dipermak menggunakan sticker monster energi, 46, dan banyak lagi tempelan sticker yang membuat Vespa tersebut seperti iklan berjalan, tetap saja itu adalah Vespa butut yang suka mogok. Padahal gaya nya sudah seperti penunggang motor Harley saja.


Keesokan harinya, anak-anak J7, Tania, Tiara bahkan yang lainnya pun setengah mati menahan tawa melihat Joe yang memasuki gerbang kampus dengan gaya pembalap profesional. Padahal, kenalpot Vespanya mengepulkan asap seperti sedang terjadi kebakaran saja.


"Heh. Bagaimana dengan penampilan ku?" Tanya Joe sambil melenggak-lenggok bak super model di majalah usang.


James yang paling tidak kuat menahan tawa sehingga teh susu yang dia minum tadi kembali menyembur keluar dari hidungnya.


"Gaya sih boleh lah. Tapi lihat dulu tunggangan mu itu! Itu Vespa apa papan iklan?" Tanya Jaiz yang juga tidak kuasa menahan tawa.


"Oh. Itu ya? Aku membeli sticker itu di bengkel. Lumayan lah. Untuk itu saja aku menghabiskan uang seratus lima puluh ribu rupiah," jawab Joe dengan bangganya.


Kembali mereka saling pandang mendengar jawaban dari Joe tadi.


"Yang di tanya apa, yang dia jawab entah apa," rutuk Jufran kesal.


"Ya sudah. Itu sudah lumayan. Daripada kau harus mengenakan kacamata tebal dan celana sampai melewati batas perut. Yang ini jauh lebih baik. Tapi, sekali lagi. Tolong Vespa mu itu dikondisikan!" Ujar Jericho sambil menepuk pundak Joe.


Dalam hati, Namora tidak henti-hentinya berdoa semoga saja Kampus ini selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa dari ulah Joe nantinya.


"Sekarang, ayo! Siapa yang berani mengejek ku?" Ujar Joe berjalan dengan gaya petantang-petenteng. Dengan lagak tengil dan bisa bikin yang melihat makan hati, Joe berjalan ke arah satu kursi yang kebetulan bersebelahan dengan kursi yang diduduki oleh Mira, Dewi dan Janet.


"Kak. Keluarkan apa yang ada! Oh tidak! Hanya martabak telor saja! Hari ini aku mau makan yang itu saja. Selain dari martabak telor, suruh mereka bayar sendiri!" Tengil sungguh gaya Joe ini, sampai-sampai Janet menusukkan garpu ke arah piring dengan sangat kasar.


"Mengapa seperti itu kau Nona? Kau lihat ini apa? Ini adalah lambang J7. Jangan macam-macam sama aku sekarang! Jika bertemu, harap memberi hormat pada kakek mu ini!" Kata Joe sambil menunjuk ke arah jaket yang dia pakai. Kebetulan ada lambang J7 di sana, dan itulah yang dipamerkan oleh Joe kepada semua mahasiswa dan mahasiswi yang pernah membully dirinya dulu.


"Mau kemana kau Janet?" Tanya Mira ketika melihat Janet bergegas berdiri.


"Aku mau muntah melihat gaya anak cupu yang udik ini. Baru jadi kacungnya J7 saja sudah bangga setengah mati. 100% aku mual dibuatnya!" Jawab Janet lalu bergegas pergi.


"Tunggu! Aku juga akan pergi." Ketiga gadis itu lalu segera pergi meninggalkan meja mereka untuk menjauhi Joe dengan perasaan yang sungguh sangat jengkel.


"Kalian lihat itu?! Aku suka membuat kejutan. Suatu saat, mereka akan menjilat telapak kaki ku!" Kata Joe dengan wajah dingin. Perubahan sikapnya ini sontak membuat Jericho dan yang lainnya merasakan keanehan. Hilang sudah kesan cupu dan lugu pada diri pemuda itu. Yang ada, adalah sikap seorang yang sangat mengintimidasi dan berkuasa. Jelas pancaran aura dari Joe ini tidak mampu untuk ditebak.


"Uhuk..!" Joe buru-buru menyadari bahwa dirinya sudah kelepasan bicara. Dia segera cengar-cengir dan langsung tertunduk.


Namora yang memperhatikan saja dari kejauhan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan Joe yang nyaris saja tersulut emosinya.


Bersambung...