
"Kakek Jeff, aku sudah sampai di Garden Hill bersama dengan senior Black. Besok anda urus saja segala sesuatunya. Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan!"
Pemuda itu mengakhiri rekaman suaranya lalu mengirimkannya melalui WhatsApp.
"Siap Tuan muda. Anda tenang saja. Saya akan mengurus segala sesuatunya seperti yang telah kita atur kemarin."
Pemuda itu mendekatkan ponsel di dekat kupingnya lalu mendengar pesan balasan dari kakek Jeff nya itu lalu segera membalas pesan suara tersebut.
"Terimakasih Kakek Jeff."
***
Mobil super sport Lykan Hypersport warna hitam itu melesat bagai anak panah lepas dari busurnya membelah jalan raya Starhill menuju ke sebuah perkampungan besar bernama Garden Hill.
Di belakang stir kemudi, tampak Black sedang berusaha keras menahan kantuk. Sesekali dia tampak menguap. Hal ini tidak luput dari perhatian Joe yang berada di sampingnya.
Dia lalu membandingkan antara Tigor dan Black ini. Bagaimanapun, Tigor jauh lebih tangguh daripada seniornya yaitu Black ini.
"Senior. Apakah anda mengantuk?" Tanya Joe kepada lelaki setengah baya itu.
"Sedikit, Tuan muda. Tapi tidak apa. Saya masih bisa menahannya." Jawab Black sambil terus fokus mengemudi.
"Jika ngantuk, pinggirkan saja dulu mobil ini. Aku ada membawa obat. Anda minum dulu, lalu nanti akan lebih baik." Kata Joe.
"Baiklah Tuan muda." Kata Black tidak membantah. Ini karena dia sedikit mendengar tadi bahwa Joe ada berbicara tentang kemampuannya meracik obat ketika sedang berbicara dengan Ayahnya tadi.
Setelah mobil itu meminggir di bahu jalan, tampak Joe mengambil peti kayu kecil dari dalam tas nya lalu mengeluarkan sebutir pil jenis majun yang bentuknya persis seperti kotoran kambing.
"Senior Black. Anda minum ini. Nanti akan baikan." Kata Joe menyerahkan obat racikannya sendiri. Obat ini persis sebesar isi dari kacang tanah.
Black menerima pemberian dari tuan muda nya itu. Memperhatikan sejenak lalu segera menelan obat tersebut.
Setelah obat tersebut masuk ke mulutnya, Joe segera memberikan air mineral kepada Black yang langsung diterima oleh lelaki setengah baya itu.
Aneh.
Kini Black merasakan reaksi dari obat tersebut. Mulai dari perut, dada dan tenggorokan terasa sangat hangat. Perlahan namun pasti, dia merasakan tenaganya kembali pulih. Fikirannya pun menjadi tenang dan sangat bersemangat. Singkat cerita, kini Black merasakan tubuhnya kembali seperti ketika dia dulu kenal dengan Jerry. Tepatnya sekitar 20 tahun yang lalu.
"Bagaimana Senior?" Tanya Joe.
"Ajaib. Obat ini sungguh ajaib. Saya merasakan seperti baru menginjak usia 23 tahun." Jawab Black dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Tuan muda. Sekarang pasang sabuk pengaman anda! Kita akan menguji seberapa kecepatan maximal dari mobil anda ini." Kata Black.
"Baiklah!" Kata Joe lalu segera memasang sabuk pengamannya.
Tak lama setelah itu,
Weng..!
Mobil Lykan Hypersport itu pun melesat seperti seekor kuda yang di lecut dengan cambuk. Melesat dengan kecepatan tinggi dengan knalpot mengeluarkan api.
"Huuu... Mantap. Ayo senior, lebih cepat lagi!" Kata Joe sambil berjingkrak-jingkrak karena merasa senang dengan kelajuan mobil yang baru dia dapatkan dari Ayahnya itu sebagai hadiah.
"Hahaha. Tuan muda! Kelak jika anda sudah bisa mengemudi sendirian, jangan di tiru hal yang saya lakukan ini. Sangat berbahaya." Pesan Black kepada Tuan muda nya itu.
"Pasti tidak. Aku tidak akan meniru siapapun. Dan juga tidak akan membawa mobil ini secepat ini. Mungkin lebih cepat dari ini beberapa kali lipat." Jawab Joe sambil terus berteriak gembira.
"Lagi Paman. Habiskan! Tekan gas nya sampai kandas." Kata Joe.
Black sampai ternganga mendengar perintah dari Tuan muda nya itu. Kalau orang lain, pasti akan kencing di celana jika menaiki mobil dengan kelajuan yang ugal-ugalan itu. Tapi Joe ini berbeda. Dia malah menyuruh lebih cepat lagi. Namanya juga anak Jin iprit.
*********
Perjalanan yang seharusnya diperkirakan akan memakan waktu sekitar tujuh atau delapan jam itu akhirnya tembus hanya dalam lima jam saja berkat kegilaan kedua orang beda usia itu.
Memasuki sebuah lokasi proyek di Garden Hill bagian barat menurut alamat yang diberikan oleh Lilian ketika di Mountain Slope, Black pun akhirnya menghentikan kendaraan itu persis di depan pos penjaga Kemanaan lokasi konstruksi tersebut.
Setelah terlibat perbincangan sejenak dengan lelaki yang bertugas malam itu, Black kembali memasuki mobil tersebut kemudian melaju kembali kemudian berbelok menuju perumahan staf perusahaan konstruksi itu.
"Nomor 26." Jawab Joe sambil membuka selembar kertas yang dia dapat dari Lilian kemarin dulu.
"Sahabat ku itu ponselnya tidak ada. Sudah di sita oleh begundalnya Charles. Untung aku menyuruh Harvey ikut serta. Jadi, aku bisa menghubungi Harvey." Kata Joe lalu segera mengeluarkan ponselnya.
Sebelum dia melakukan panggilan kepada Harvey, terlebih dahulu dia mengirim pesan suara kepada Kakek Jeff dengan isi pesan seperti yang tertulis di awalan bab ini.
"Kita cari dulu alamat rumahnya, Tuan muda." Kata Black sambil menjalankan kembali mobil yang mereka kendarai itu.
"Nomor 26. Nomor 26. Oh itu dia!" Kata Black menunjuk ke arah sebuah rumah sederhana berwarna putih.
Ketika mereka berhenti di depan rumah tersebut, baru lah Joe menelepon ke nomor sahabatnya yaitu Harvey.
Setelah menunggu beberapa saat, Akhirnya terdengar suara jawaban di seberang sana.
"Joe. Mengapa kau menelepon ku subuh-subuh begini. Aku baru saja bermimpi bertemu emas satu peti. Gara-gara telepon mu ini, aku batal menjadi orang kaya."
Terdengar satu suara mengomel tak jelas di seberang sana membuat Joe berusaha meras untuk tidak tertawa.
"Bangun Vey. Percuma hanya bermimpi. Karena ketika bangun, kau pasti akan kecewa. Emas apa yang kau dapat? Sekarang kau bangun dulu! Karena aku telah sampai di depan rumah Lilian." Kata Joe.
"Hah? Kau sudah sampai? Tunggu di sana. Aku akan membangunkan Lilian terlebih dahulu." Kata Harvey lalu mengakhiri panggilan.
Hampir lima menit menunggu, akhirnya lampu di ruangan tengah rumah itu tampak menyala di susul dengan pintu rumah tersebut terbuka dan dari dalam tampak seorang lelaki setengah baya didampingi oleh dua orang pemuda berdiri di ambang pintu memandang ke arah sebuah mobil super sport mewah berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu pagar.
Salah satu dari pemuda itu tampak berlari ke arah pintu pagar lalu membukakan pintu tersebut.
Kini Joe tampak keluar dari mobil dan kemudian memeluk seorang pemuda yang sebaya dengannya itu.
"Wah. Ini mobil mu Joe?" Tanya Pemuda itu.
"Aku mana punya uang untuk membeli mobil. Ini tuh pemberian dari Ayah ku." Jawab Joe apa adanya.
"Mari masuk. Ayo! Mobil mu jangan di parkir di luar. Nanti rusak karena orang sini tidak pernah melihat mobil mahal. Jadi ajang latar belakang untuk mereka Selfi nanti." Kata Pemuda itu sambil menarik tangan Joe untuk masuk lalu mempersilahkan Black untuk memandu mobil itu ke tempat parkir.
"Salam hormat untuk anda Paman." Kata Joe dengan hormat menyalami tangan lelaki setengah baya yang berada di depan pintu rumah tersebut.
"Apakah Kau Joe William?" Tanya lelaki setengah baya itu dengan kening berkerut.
"Iya paman. Ini aku Joe yang dulu sering menumpang nonton TV di rumah Anda ketika masih di Mountain Slope." Jawab Joe.
"Mengapa berbeda sekali. Joe yang dulu memiliki kulit putih kemerahan. Rambut pirang. Hidung mancung. Mengapa yang ini seperti sangat sekarat? Rambut kusam, kulit hitam, wajah kelam." Kata Lelaki setengah baya itu dengan tatapan penuh selidik.
"Panjang ceritanya Paman." Kata Joe sambil garu-garu kepala.
"Ayah. Joe ini lama tinggal di Indonesia. Cuaca di sama kan beda dengan di sini. Lagipula dia di sana sering berjemur di pinggir pantai. Makanya kulitnya menjadi hitam legam begini."
"Benar kata Lilian itu Paman." Kata Noe membenarkan.
Sementara Harvey hanya tersenyum saja melihat Joe gelagapan menjawab segala pertanyaan dari tuan rumah tersebut.
"Ya sudah. Ayo kita masuk dulu!" Kata Ayah Lilian mengajak tamunya tersebut untuk masuk.
Setelah bertanya kabar dan menceritakan semua masalah yang mereka hadapi saat ini, tampak wajah Joe yang hitam semakin menjadi hitam saja.
"Begitu lah ceritanya Joe." Kata Tuan Riot menceritakan kejadian sebenarnya kepada Joe.
Meskipun dia sudah mendengar cerita yang sama dari Lilian sebanyak dua kali yaitu ketika di telepon dan di Mountain Slope, tetap saja dia merasa geram mendengar tentang penindasan ini.
"Paman tenang saja. Tetap hadiri acara itu nantinya. Aku akan menyusul dari belakang bersama dengan Renata." Kata Joe.
Renata Riot ini adalah kakak perempuan Lilian Riot. Gadis inilah yang menjadi incaran dari Mario itu. Dengan menjebak Tuan Riot dengan hutang, dengan bantuan dari Charles dan Milner, dia berusaha untuk mendapatkan gadis ini dengan cara apapun.
Pamungkas dari usaha Mario ini adalah ketika peresmian kantor besar Future of Company cabang Garden Hill nanti malam. Ketika itulah dia berencana akan menekan Tuan Riot untuk melunasi hutang tersebut. Jika gagal, maka lelaki setengah baya itu harus merelakan putri nya di bawa oleh Mario sebagai pemuas nafsu. Syukur-syukur setelah itu di nikahi.
Bersambung....