
Tiga unit mobil BMW hitam itu melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang sebenarnya.
Jika tujuan mereka ke kota Tasik Putri dengan kelajuan seperti itu, maka dapat dipastikan pukul tujuh besok pagi mereka baru tiba di jembatan kota Tasik Putri.
Di kursi belakang didalam mobil yang berada di tengah antara ketiga mobil yang melaju santai itu tampak Joe William sedang memegang Rencong Atjeh yang baik dari gagang hingga sarungnya terbuat dari emas.
"Ketua. Rencong itu terakhir kali memakan korban adalah tujuh belas tahun yang lalu." Kata Tigor sambil melirik ke arah benda pusaka warisan dari Tengku Mahmud di tangan Joe saat ini.
"Paman pernah menggunakan senjata ini?" Tanya Joe penasaran.
"Iya. Kakek Tengku dulu pernah meminjamkan Rencong Atjeh ini kepada saya. Hanya satu nyawa penghianat yang berhasil direnggut oleh Rencong itu. Namanya Tumpal. Setelah itu senjata pusaka ini terus berada di dalam sarungnya." Kata Tigor menjelaskan.
"Bagaimana cara kerja dari senjata ini paman?" Tanya Joe yang memang belum pernah menggunakan senjata itu.
"Sangat beracun. Sekali gores saja mungkin akan mati. Tidak ada ilmu kebal tempelan yang tahan terhadap emas. Pasti tembus. Ketika di cabut, senjata ini mengeluarkan harum bunga Cempaka. Sangat ringan dan tidak perlu terlalu mahir menggunakannya. Seolah-olah dia memiliki naluri sendiri untuk bergerak. Walaupun ketika itu aku menghujamkan senjata ini berkali-kali di tubuh Tumpal, namun tidak setetes darah pun yang menempel pada bilah Rencong ini. Benar-benar mengerikan." Kata Tigor.
"Jika tidak terlalu diperlukan, janganlah terlalu menggunakan senjata itu, Ketua. Ketika dianya sudah dihunus, nafsu membunuh seketika bergejolak. Saya sendiri sampai ketakutan sekali ketika itu." Kata Tigor lagi.
"Harus Paman. Rencong ini harus mandi darah. Hanya saja, mungkin ini di bagian terakhir. Karena sebelumnya, bola-bola besi ku ini lah yang akan mencari sasaran." Kata Joe sambil membuka kotak kayu berukir dan mengeluarkan sekantong bola-bola besi kecil buatan Tengku Mahmud.
"Oh ya Ketua. Mengapa anda tadi mengambil tas milik Miss Aline? Apakah anda mencurigai dirinya?" Tanya Tigor.
"Sama sekali tidak paman. Dia itu seorang wanita. Dia terlalu khawatir. Yang aku takutkan dia membuat laporan kepada Ayahku kalau musuh yang memburu ku berjumlah puluhan orang. Aku khawatir fokus Ayah ku akan terganggu dan malah datang kemari. Musuh di sana pasti memanfaatkan moment seperti itu. Makanya aku menyita barang-barangnya agar dia tidak dapat menghubungi siapapun." Kata Joe mengatakan alasannya menyita ponsel Aline.
"Oh begitu."
"Ketua, persiapkan diri anda. Mereka sudah datang." Kata Ameng yang melihat dari kaca spion mobil.
Mendengar ini, Joe pun langsung memasukkan beberapa bola-bola besi ke dalam saku bajunya lalu sebagian lagi berada di genggaman tangan kirinya.
Sementara itu, Tigor langsung membuka pakaiannya dan kini tampak di balik pakaian luar yang dia pakai tadi, ada pakaian berwarna hitam ketat.
Setelah itu, dia lalu memakai topeng kucing berwarna hitam dan kini tampaklah sosok Black Cat yang sesungguhnya.
Mungkin 17 tahun yang lalu orang-orang menyangka bahwa Black Cat sudah di hukum mati di Singapura. Tapi siapa sangka bahwa itu hanyalah Acun dan kini setelah 17 tahun berlalu, ternyata Black Cat muncul lagi dan akan membantai musuh-musuhnya seperti dua puluh tahun silam.
"Hahaha. Hahahaha. Induk kucing. Aku anak kucing." Kata Joe berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk-tepuk tangan melihat Tigor dan dirinya sama-sama mengenakan topeng dan masker kucing.
"Persiapkan dirimu ketua!" Kata Tigor yang tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi dingin.
"Pak supir. Saatnya tiba!. Ambil jalan melawan arus ke kanan lalu setelah dua puluh meter, Injak pedal rem kuat-kuat!" Kata Tigor.
Setelah itu,
Criiiit....
Duar....
Terdengar suara ban mobil berdenyit memekakkan telinga di susul dengan suara benda keras beradu membuat Joe William tersangkut diantara dua kursi.
Karena terlalu mendadak menekan pedal rem dalam-dalam, tanpa di duga mobil yang membuntuti mereka tidak mampu lagi menghindar sehingga bagian belakang mobil yang ditumpangi oleh Tigor dan Joe di tabrak dari belakang.
"Hahaha. Sialan aku kira mereka tidak nekat menabrak kita." Kata Joe.
Masih sempat dia tertawa walaupun keadaannya terjepit di celah antara kursi sopir dan kursi Ameng.
Begitu tabrakan itu terjadi, Mobil yang dikendarai oleh Andra, Acong, Ucok dan Sugeng. Juga mobil yang dikendarai oleh Timbul, Monang, Jabat dan Thomas juga berhenti lalu merengsek ke pinggir.
Baru saja mereka keluar dari mobil, kini lima mobil yang telah berhenti duluan bergabung dengan lima mobil lagi yang baru saja tiba.
Puluhan orang langsung berlompatan keluar dari mobil dan langsung mengepung mobil yang ditumpangi oleh Joe dan Tigor.
"Keluar secara baik-baik atau dengan cara paksa?!" Kata salah seorang dari puluhan orang-orang yang dikirim dari MegaTown itu.
"Hehehe. Paman. Mereka sudah mengepung kita." Kata Joe lalu,
Prak!
Brugh...
"Aaa... "
"Aku sudah keluar. Ayo kalian mau apa?" Kata Joe sambil cengengesan.
"Bunuh bocah itu!" Kata lelaki yang jatuh terduduk tadi sambil berusaha bangkit berdiri.
Tapi, belum lagi suara perintah itu hilang, tiba-tiba sosok hitam melesat sambil menebaskan pedang lentur kearah mereka yang mengepung sehingga mereka terpaksa menghindar dan kesempatan itu dipergunakan oleh Joe untuk melancarkan serangan dengan bola-bola besinya.
Wuzz..
Clap.
"Argh..."
Beberapa jeritan langsung terdengar setiap kali Joe menjentikkan jari telunjuknya.
Sementara itu sosok hitam tadi terus mengamuk mengibas-ngibaskan pedang lentur yang ada di genggaman tangannya kepada para pengepung.
Awalnya Joe dan Tigor yang telah berubah menjadi Black Cat ini masih mampu membuat mereka kocar-kacir. Namun ketika dari arah belakang muncul lima unit kendaraan lagi, keadaan sudah berubah dan Joe dibantu oleh delapan orang lainnya mulai terdesak.
"Kalian cari mati ya? Mau cari mati ya?" Bentak Joe lalu mencabut senjata Rencong yang terselip pada pinggang nya.
Begitu rencong tersebut keluar dari warangka nya, tiba-tiba berhembus bau harum bunga Cempaka yang membuat bulu kuduk berdiri.
Tanpa ba bi bu lagi, seperti di seret oleh kekuatan yang tak terlihat, Joe pun mengamuk melompat ke sana dan kemari membantai siapa saja yang ada di hadapannya.
Joe saat ini seperti seekor monyet yang melompat langsung ke atas pundak orang-orang itu lalu menikamkan senjata ditangannya itu di ubun-ubun mereka.
Crash..!
"Akh...."
Pekik dan jeritan memenuhi kawasan perkebunan kelapa sawit tersebut membuat suasana malam itu semakin mencekam dengan semerbak harum bunga Cempaka dari bilah Rencong itu terus saja menyengat hidung.
Beberapa menit perkelahian yang tak seimbang itu berlangsung, kini dari arah depan dan belakang bermunculan ratusan kendaraan roda empat dan langsung memblokir jalan dari segala sisi.
Dari dalam, berkeluaran orang-orang berbadan tegap berpakaian hitam dengan gambar naga berwarna merah pada bagian dada sebelah kiri pakaian mereka tersebut.
"Kita terjebak. Basten. Ayo lari!" Jerit Sean. Tapi terlambat. Kemanapun mereka lari, orang-orang berpakaian hitam itu sudah menunggu dengan senjata di tangan masing-masing.
"Salah besar jika kalian berfikir semudah itu bisa melarikan diri." Kata Joe lalu memburu lelaki yang bernama Basten tadi.
Seperti terbang Joe langsung mengirim tendangan yang langsung mengenai pinggul lelaki itu sehingga dia jatuh tersungkur.
"Hahaha. Mau lari ya? Tidak semudah itu." Kata Joe lalu menjambak rambut lelaki bernama Basten tadi kemudian m*nyemb*lih leh*r lelaki itu dengan cara yang sangat perlahan sekali membuat Basten terkencing di dalam celana ketika meregang nyawa.
"Tangkap mereka semua lalu bunuh! Hehehe. Kecuali lelaki yang satu itu." Kata Joe sambil menunjuk ke arah Sean dengan Rencong emas nya.
"Kalian memburu ku kan? Heh siapa namamu?" Tanya Joe kepada lelaki itu.
"Am-am-ampun. Ampuni aku."
"Sialan."
Plak!
"Aku tanya siapa nama mu?" Tanya Joe setelah menyepak lelaki itu hingga jatuh miring di jalan aspal itu.
"Se-se.., Sean. Nama saya Sean." Kata lelaki itu tergagap.
"Sean. Aku beritahu kepada mu satu hal. Katakan kepada orang yang menyuruh mu bahwa aku akan memburu mereka satu persatu. Kau jangan meragukan perkataan ku ini. Mau lihat seperti apa aku akan memperlakukan mereka? Kau lihat sendiri!" Kata Joe lalu melangkah mendekati anak buah Sean yang sudah tertangkap oleh anak buah Tigor.
"Seperti ini Sean!" Bentak Joe.
"Lepaskan tiga orang paman!" Kata Joe.
Mendengar ini, anak buah Tigor langsung melepaskan tiga orang dari puluhan orang yang di tangkap lalu berkata. "Lawan aku lalu matilah dengan cara terhormat!"
Tidak ada pilihan. Mereka saling pandang kemudian langsung serentak menyerang.
"Hehehe. Mungkin inilah lawan yang dikatakan oleh kakek Uyut ku. Lawan seperti ini. Bukan Charles, Milner dan Jimbo." Kata Joe di sela-sela dia menghindari cecaran serangan musuh.