
"ngeeeeng... Ngeeeeng... Ngeng ngeng ngeng... Criiit....!"
"Kiri pak! Eh salah. Kanan pak ayo ke kanan!"
Seorang anak muda tampak sedang duduk di atas troli sambil di dorong oleh dua orang lelaki berpakaian kemeja putih di balut jas berwarna hitam.
Tampak sekitar lima puluh orang lelaki berbadan tegap berbaris membuat dua kelompok barisan yang bertugas mengawal pemuda di dalam troli itu.
Sesuai dengan perintah dari Miss Aline, Joe tidak mau nanti dikira tidak menurut karena mengabaikan wanita setengah baya yang menganggap dirinya seperti anak kandungnya sendiri.
Maka dari itu, walaupun pemuda itu merasa tertekan, dia tetap saja menuruti kata-kata dari Miss Aline.
Untuk menghilangkan kebosanannya, dia pun berinisiatif untuk naik Troli keliling di lantai dua Mall itu.
"Paman Ameng. Kemana paman Tigor?" Tanya pemuda itu.
"Ketua. Bang Tigor, Andra, Acong dan Monang sedang pergi ke Tanjung karang. Katanya mencari sahabat lama yang sudah lama tidak ketemu." Jawab Ameng yang bertugas sebagai kepala pengawal walaupun Joe tidak membutuhkan pengawal.
"Oh begitu. Apakah dia lama baru kembali, Paman?" Tanya Joe.
"Mungkin besok sudah kembali lagi ke sini." Jawab Ameng.
"Pak Manager. Berhenti. Aku khawatir nanti nafas pak manager putus. Aku akan jalan sendiri." Kata Joe lalu melompat turun dari troli tersebut.
"Paman. Kemungkinan Minggu depan aku akan kembali ke Starhill. Aku pasti akan merindukan kalian di sini." Kata Joe dengan nada sedih.
"Anda kembali ke Starhill? Mengapa terburu-buru ketua?" Tanya Ameng yang langsung kaget.
"Aku berusaha untuk menghibur diri. Tapi hatiku panas. Aku ingin mengobrak-abrik MegaTown. Biar mereka tau seperti apa jika mengusik anak dari naga merah." Kata Joe yang merujuk kepada gambar naga yang terdapat pada baju di dada bagian kiri salah satu pengawal itu yang juga berwarna merah.
"Ketua. Mereka tidak sembarangan. Mereka ini penguasa dan pengusaha. Yang saya dengar, mereka ini adalah taipan asal daratan Tiongkok yang pindah ke Hongkong lalu memasuki negara anda melalui MegaTown."
"Orang seperti ini tentu sangat banyak akal yang mereka miliki. Salahsatunya adalah, menunggu orang-orang dari kubu rival untuk menyerang. Dengan begini, mereka akan menggoreng terus berita tersebut sampai publik mengira bahwa perusahaan Future of Company ternyata menghalalkan segala cara demi memenangkan sebuah persaingan. Jika ini terjadi, maka rusaklah nama besar ayah anda yaitu Tuan besar Jerry William." Kata Ameng.
"Tunggu tunggu tunggu Paman!"
"Masuk akal sekali." Kata Joe lalu enak saja mencabut kepala patung peraga busana lalu duduk di atas kepala patung peraga busana tersebut.
"Ketua. Jangan seperti itu. Malu kita nanti." Bisik Ameng di dekat telinga pemuda itu.
"Hah? Apakah tidak boleh duduk di sini Paman?" Tanya Joe sedikit heran.
"Boleh. Tapi tempat anda bukan sembarangan. Anda seorang pemilik perusahaan, Tuan muda dari perusahaan Future of Company, ketua dari organisasi besar Dragon Empire, pengendali dari ribuan tentara bayaran Tiger Syam. Jangan seperti ini Ketua. Di mana wajah kami akan diletakkan." Kata Ameng berulang kali melirik ke kiri dan ke kanan.
Kejadian ini membuat kelima puluh orang yang bertugas seperti pengawal tadi membuang wajah mereka menahan tawa.
"Lanjut lagi seperti apa pendapat Paman tentang orang yang mengincar ku ini!" Kata Joe sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana sambil melangkah.
"Seorang pengusaha, mereka pasti memiliki koneksi yang luas baik itu di jajaran sesama pengusaha, pejabat tinggi di pemerintahan, kolega serta relasi. Tidak jarang mereka ini mencari sensasi dengan tujuan mencari nama baik seperti menyumbang kepada panti asuhan, menggalang acara-acara amal lalu berlomba-lomba menarik simpati publik."
"Nah. Andai ketua membuat onar, apa lagi dengan menggunakan nama Joe William anda itu, maka Joe nya mungkin saja tidak akan malu. Tetapi di belakang nama Joe itu. Ada William di sana. Keluarga besar ini yang nantinya akan tercemar dan salah-salah bisa menjadi publik enemy." Kata Ameng.
"Wah. Bahaya juga ya. Aku tidak berfikir ke arah itu, Paman. Tapi tidak apa-apa. Akan selalu ada cara seiring berjalannya waktu. Yang jelas, mereka tidak akan bisa tenang."
"Oh ya, Paman. Bagaimana dengan Sean itu? Apakah luka memar di tubuhnya sudah sembuh?" Tanya Joe.
"Luka di kening serta memar di tubuhnya sudah sembuh sepenuhnya, Ketua. Tapi luka pada mental nya sepertinya sangat sulit untuk di sembuhkan." Kata Ameng menjelaskan.
"Memang seperti itu lah mental manusia sejenis Sean ini. Selama ini kan mereka tidak pernah gagal. Mereka hanya tau menghabisi nyawa orang lain. Tidak pernah merasakan ketakutan. Sekali mereka kena batunya, mereka kaget dan tidak dapat menguasai keterkejutannya. Sampah seperti ini memang harus di bunuh secara perlahan. Karena jika langsung mati, akan terlalu enak buat dia." Kata Joe.
"Andai aku tidak menginginkan orang ini untuk membawa kabar, kemungkinan setiap hari aku akan memotong satu dari sekian di bagian anggota tubuhnya sampai dia benar-benar mati secara perlahan. Paman tau apa yang paling nikmat dari manusia sampah seperti ini?" Tanya Joe.
"Setiap orang memiliki kesukaannya masing-masing, Ketua. Menurut anda apa yang paling nikmat dari manusia seperti ini?" Kata Ameng balik bertanya.
"Yang paling nikmat dari manusia sampah seperti Sean ini adalah, rintihan, teriakan dan tangisan ketika dia kesakitan. Itu yang paling nikmat. Aku ingin dia meratap iba meminta kematian. Itu kesenangan yang tiada tara bagi ku, Paman. Hahahaha..."
"Mungkin sudah tidak terhitung berapa jumlah korbannya. Berapa nyawa yang dia ambil hanya untuk memuaskan nafsu majikannya. Dia mana pernah berhadapan dengan ketakutan seperti waktu kita menjebak mereka. Mana mungkin selamanya dia sukses dan mulus terus dalam menebarkan kejahatannya. Kali ini dia salah sasaran. Dan aku, aku akan meneror majikannya sampai menelan makanan pun dia rasa seperti menelan sesuap duri." Kata Joe.
Merinding juga Ameng mendengar anak ini ketika naluri kekejamannya timbul.
Ameng ini bukan orang baru dalam dunia hitam. Sejak kecil dia sudah bergelut dengan kekerasan.
Dia sudah bergaul dengan Lalah yang kuat, Poltak yang licik serta Black Cat yang sadis dan dingin. Namun ketiga orang ini belum mampu menandingi kekejaman yang ada pada diri Joe William ini.
Jika dia menganggap bahwa jeritan kematian itu seperti lagu sendu penghantar tidur, maka anak ini lebih dingin dari siapapun.
"Mari Paman. Bawa aku menemui Sean ini. Aku akan membantu menyembuhkan beberapa kecacatan mental nya agar dia bisa kembali kepada majikannya dan menyampaikan pesan bahwa jangan main-main lagi dengan orang-orang yang berada di lima kota utama ini." Kata Joe merujuk kepada kota Tanjung karang, Kemuning, Batu, Tasik Putri serta Dolok ginjang.
"Baiklah Ketua. Mari silahkan!" Kata Joe.
"Siapkan Troli! Aku mau meninggalkan Mall ini." Kata Joe.
Tak lama kemudian rombongan yang di pimpin oleh seorang pemuda yang di dorong di dalam Troli itu keluar dari Tower Mall menuju area parkir.
Setelahnya, rombongan mobil itu pun langsung berangkat menuju ke bagian belakang area Yayasan Martin di mana di sana Sean di sekap.