Joe William

Joe William
Joe, Tye dan Sylash dikeroyok



Mobil BMW yang dikendarai oleh Tye, Joe dan Sylash baru saja keluar dari perumahan elite menuju rumah kos-kosan tempat Sylash mengontrak.


Mereka bertiga baru saja mengantar Naomi dan terakhir mengantar Melissa untuk kembali ke rumah mereka selepas menghadiri acara ulangtahun Ruby, sahabat satu kampus hanya beda jurusan.


"Enak betul kau, Joe. Aku yang punya mobil, tapi kau yang bagaikan raja. Diapit oleh dua cewe cantik yang memiliki pesona dan daya tarik itu," Tye mengomel menunjukkan ketidak puasan hatinya kepada Joe.


"Benar itu. Dua orang gadis, dilahap sendiri. Kau tidak mau bagi-bagi dengan kami. Sahabat apa itu namanya," kata Sylash pula memanas-manasi Tye.


"Senangnya dalam hati, kalau beristri empat, seperti dunia ane yang punya," Joe hanya menyanyi saja. Sedikitpun dia tidak menggubris ocehan kedua sahabatnya itu.


"Joe. Aku sedang bicara kepada mu!" Kali ini Tye benar-benar jengkel karena ocehannya sama sekali tidak dianggap oleh Joe.


"Fokus saja mengemudi, Tye! Di depan kita sudah ditunggu oleh segerombolan preman," kata Joe dengan acuh tak acuh. Namun, perkataannya ini sukses membuat kedua sahabatnya mengernyitkan dahi.


"Kau tau dari mana, Joe?" Tanya Tye penasaran.


"Sejak tadi kita memang sudah dibuntuti. Mungkin mereka tau bahwa kita akan kembali melewati jalan ini, maka mereka menunggu kita di persimpangan jalan sepi di depan itu," Joe menjelaskan kepada sahabatnya ini bukan untuk menakut-nakuti. Dia mengatakan itu agar Tye dan Sylash segera mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.


"Celaka kalau begini. Sudah ku duga, Duff pasti tidak akan melepaskan kita," gumam Tye yang terdengar jelas di telinga Joe dan Sylash.


"Terserah mereka saja. Yang jelas, setiap ada yang menjual, pasti akan ku beli," kata Joe sambil mengepalkan tinjunya.


Tye menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa begitu, Joe. Ayah Duff ini sangat berkuasa di Quantum City ini. Masalahnya tidak akan berakhir andaipun kita memenangkan perkelahian ini. Sebaiknya kita mengalah saja,"


"Terserah kau saja lah. Tapi, apa yang bisa mereka lakukan?" Tanya Sylash meminta penjelasan.


"Usaha Mebel milik keluarga ku bisa gulung tikar jika Tuan Clifford sampai turun tangan. Makanya itu, masalah kita saat ini akan berbuntut panjang jika kita melawan mereka,"


Joe sudah tau alasannya. Jadi, dia tidak perlu lagi banyak bertanya. Sebaliknya, hanya Sylash lah yang tampak meredam emosinya dan berkali-kali dia menarik nafas berat.


Ngeeeeng!


Criiit!


Terdengar suara ban terseret di aspal dan dari depan pula, tampak sekitar empat mobil menghalangi jalan mobil yang mereka kendarai.


Tye sekuat tenaga membanting stir ke kanan.


Tampak asap mengepul dari bekas seretan ban mobilnya di aspal karena tadi dia mendadak menekan break.


"Tenang Tye. Matikan mesin mobil mu!" Pinta Joe kepada sahabatnya itu.


"Aku sudah tenang sejak tadi. Kalau hanya tiga sampai empat pukulan, aku sudah siap menerimanya," kata Tye yang kini melihat sekitar lima belas orang preman keluar dari mobil penghadang di depan mereka dan langsung mengetuk pintu mobil BMW milik Tye.


"Keluar secara baik-baik, atau aku hancurkan mobil mu ini?!" Bentak salah satu dari lelaki itu.


Ketiga pintu mobil itu langsung terbuka, dan dari dalam, Tye, Joe dan Sylash tampak keluar dengan santai.


Begitu ketiga pemuda itu keluar, ke-lima belas orang tadi langsung terbagi menjadi tiga kelompok lalu mencengkram kerah baju ketiga pemuda itu.


"Berani sekali kalian bertiga ini membuat masalah dengan Tuan muda kami. Apa kau ingin mati?"


Bugh!


Bugh!


"Uhuk..,"


Terdengar suara batuk dari arah dimana Tye sedang dikelilingi oleh lima orang.


Bugh!


"Aaaargh..,"


"Kami ini adalah orang-orang dari Kryptonite. Kalian salah dalam mencari masalah dengan pengusaha kota ini,"


Bugh!


Joe merasakan berkali-kali pukulan mendarat di perutnya. Beruntung Joe telah mengempos kekuatannya ke bagian perut. Jadi, walaupun sedikit mual, namun dia tidak sampai terluka dalam.


Berbeda dengan Tye dan Sylash. Kedua pemuda ini sudah terjatuh di aspal sambil meringkuk dan meringis kesakitan.


"Ini peringatan pertama untuk kalian. Jika kalian masih berani membuat silang sengketa dengan Tuan muda Duff, jangan salahkan jika bukan gelar sarjana yang kalian bawa pulang, melainkan gelar almarhum," kata lelaki itu. Lalu, sebelum dia melangkah mendekati mobilnya, terlebih dahulu dia menendang perut Tye, Joe dan Sylash secara bergantian.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Hoek..,"


"Uhuk.., uhuk.., uhuk..,"


"Tinggalkan mereka! Ayo kita kembali dan melaporkan semuanya kepada Tuan muda!" Perintah lelaki itu.


Tak lama setelah itu, mobil orang-orang tadi pun segera meninggalkan ketika mahasiswa ini yang masih tergeletak di pinggir jalan aspal.


"Kau tidak apa-apa, Tye?" Tanya Joe yang langsung membantu Tye untuk bersandar di mobilnya. Setelah itu, dia kini membantu Sylash yang mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Tye. Bahkan, Sylash sempat muntah.


"Ayo, Sylash. Sini aku bantu!" Kata Joe sambil membantu sahabatnya itu berdiri, lalu memapahnya ke samping Tye yang terdengar batuk berulang kali.


"Bagaimana bisa kau seperti tidak mengalami apa-apa Joe? Kau tampak seperti baik-baik saja,"


"Jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dirimu. Orang yang memukuli aku tadi, tenaganya seperti tenaga anak paud," jawab Joe seadanya. Karena, percuma dia menjelaskan. Mereka juga pasti tidak akan mengerti.


Joe segera membuka pintu mobil, lalu mengambil dua botol air mineral. Dia kemudian memberikan kepada kedua sahabatnya itu.


"Minum dulu! Sisanya, bersihkan darah di sudut bibir kalian!" Perintah Joe.


"Huh. Mual sekali rasa perut ku. Benar-benar pengecut Duff Clifford dan teman-temannya itu," maki Sylash sambil menerima botol air mineral pemberian Joe.


"Mereka akan mendapatkan apa yang mereka lakukan malam ini terhadap kita. Mereka akan membayarnya dua kali lipat!" Kata Joe. Walaupun dia saat ini sedang dikuasai oleh kemarahan, namun nada bicaranya masih tetap teratur dan terkesan santai.


"Pundak ku terkilir, Joe. Tendangan terakhir dari orang berbadan tegap itu juga nyaris mematahkan tulang rusukku," kata Sylash mengadukan deritanya.


"Sini aku periksa!" Lalu..,


Kreeek! Kreeek! Kreeetek!


"Aduuuuh maaaaaaaak!" Pekik Sylash begitu Joe menggoyang-goyang pundaknya lalu menariknya secara spontan.


"Bagaimana rasanya? Coba kau gerakkan!" Pinta Joe.


"Wah Ajaib. Langsung sembuh,"


"Ya sudah. Ayo kita kembali," ajak Joe.


"Kau yang menjadi sopir Joe! Aku sudah tidak mampu. Tidak perlu mengantar Sylash ke rumah kos nya. Kita bertiga tidur di rumah mu saja di Quantum Housing area!" Kata Tye yang kini merangkak untuk berusaha bangkit dari posisi bersandar di body mobilnya.


"Ya sudah! Ayo aku bantu."


Joe pun membantu Sylash dan Tye untuk memasuki mobil.


Setelah semuanya beres, baru lah dia menyalakan mesin kendaran dan melajukan kendaraan tersebut menuju ke Quantum Housing area.


Jangan lupa like setelah selesai baca!


Bersambung...