Joe William

Joe William
Kabar dari Starhill



"wah... Aku tidak pernah makan makanan seenak ini. Hahaha. Heh.., jangan ambil itu! Daging itu punya ku. Ini punya ku. Itu juga punya ku. Yang ini! Ini juga dan itu juga. Kalian minggir!" Kata Sylash yang tampak sangat rakus sekali sambil merentangkan tangannya menghalang-halangi yang lain untuk mengambil makanan yang tampak memenuhi meja panjang di Diamond box tempat mereka mengadakan acara.


"Uhuk.., uhuk.., uhuk!" Tampak Joe terbatuk-batuk melihat tingkah Sylash yang sejak tadi seperti ingin menguasai meja itu.


Tye yang mulai kesal mengangkat piring berisi makanan lalu memindahkan semua isinya ke piring milik Sylash. Bukan hanya satu saja. Bahkan ada tiga piring yang numplek di piringnya Sylash.


Sekali lagi ruangan itu pecah oleh gelak tawa mereka.


Suasana seperti itu membuat Joe rindu terhadap seseorang. Bukan hanya seseorang, tapi ada beberapa orang.


"Apakah Kakek Tengku Mahmud ku makan enak di sana?" Kata Joe dalam hati dan berubah jadi murung. Dia juga teringat kepada Tiara. Cinta monyet nya yang sudah hampir setahun ini tidak bertemu.


"Woy Joe! Itu sendok mengapa terlalu lama didalam mulut mu? Apa kau suka makan besi?" Tegur Sylash yang membuat Joe spontan tergagap.


"Hahaha. Tuan muda yang aneh. Orang makan daging, dia makan sendok," kata Sylash. Sebentar saja dia seperti itu. Lalu, dia tidak memperdulikan lagi orang-orang disekitarnya. Kini, Sylash tampak sangat serius menghadap sesuatu di piringnya.


"Sialan kau ini, Lash. Hati-hati tenggorokan mu. Makan jangan sambil bicara!" Kata Joe yang sudah bisa mengendalikan perasaannya.


Tilulit.., tilulit..!


Joe segera mengambil ponselnya ketika terdengar nada dering yang menandakan masuknya pesan.


"Tuan muda. Orang-orang kita mendapat informasi bahwa ada beberapa orang dari Hongkong datang ke Metro City dan Starhill untuk mencari tau keberadaan anda,"


"Hmmm. Siapa lagi ini?" Pikir Joe dalam hati.


"Senior Black. terus buntuti orang asing itu! Cari tau siapa yang mengirim mereka!" Kata Joe membalas pesan tersebut dengan pesan teks.


"Dugaan saya, ini pasti ulah dari keluarga Miller. Sebaiknya anda tidak terlalu mengekspos diri anda di sana. Saya akan terus mengerahkan anak buah untuk mencari tau maksud dari orang-orang ini,"


"Baiklah, Senior Black. Terimakasih karena telah mengingatkan!" Kata Joe lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.


"Ada apa Joe?" Tanya Tye.


"Musuh ku dari Hongkong sedang mengirim mata-mata mereka untuk melacak keberadaan ku," jawab Joe apa adanya.


"Dunia ku ini kejam. Tidak seperti dunia kalian. Persaingan dua keluarga yang sejak dari jaman buyut ku dulu. Kalian tentu pernah mendengar berita tentang peperangan keluarga William melawan keluarga Miller beberapa bulan yang lalu,"


"Ya. Kami mendengar nya. Tapi katanya mereka telah diusir dari negara ini dan juga, kepala keluarga Miller itu kan sudah mati?!" Kata Naomi pula. Dia sebagai anak seorang pengusaha sedikit banyak tau juga berita itu. Namun, yang tidak dia duga adalah, bahwa orang yang telah mengalahkan keluarga Miller itu ada dihadapannya saat ini.


"Aku adalah Joe William. Nama ayah ku adalah Jerry William. Kakek ku bernama Wilson William dan buyut ku bernama William King. Aku ingin agar kalian berjanji untuk tidak membongkar identitas ku. Apakah kalian bisa menjaga rahasia ini?" Tanya Joe bersungguh-sungguh.


"Kau tenang saja, Joe. Kami tidak akan membocorkan identitas mu. Tapi, apakah ini bukan mimpi?" Kata Ruby pula. Dia semakin takjub dengan Joe William ini. Bagaimana tidak, Joe ini, adalah orang yang dia puja dalam hatinya ketika kabar tentang sepak terjangnya cukup menyita perhatian publik ketika itu. Bahkan mengalahkan sensasi para selebritis. Dia juga tidak menyangka akan dapat memeluk pemuda ini. Mimpi apa dia?


"Berarti, kau bukan anak pengusaha sapi. Kau membohongi kami?" Kata Sylash sambil berusaha untuk menjambak rambut Joe.


"Hei. Jangan. Rambutku ini sudah rapi. Kalau kau membuat rusak rambutku, aku pastikan kau tidak akan bisa makan enak lagi!" Ancam Joe.


"Hahahaha. Mampus kau kan?!" Ejek Tye membuat Sylash melongo dengan beberapa makanan belum sempat dia telan.


Tok tok tok!


"Masuk!" Kata Joe memberi perintah.


"Tuan muda, mobil yang anda suruh untuk diperbaiki sudah selesai. Sekarang, apakah ada perintah lagi?" Tanya Eagle dengan hormat.


"Terimakasih, Eagle. Setelah ini, kami akan ke Quantum Jewelry. Berhubung ini masih terlalu sore, jadi, kami memiliki banyak waktu untuk jalan-jalan. Tolong kau hubungi manager di Quantum Jewelry untuk membebastugaskan Aurelie malam ini!" Kata Joe memberi perintah.


"Dengan senang hati, Tuan muda!" Kata Eagle sambil membungkuk lalu berjalan mundur menuju pintu.


"Cepat selesaikan makan kalian! Jika tidak habis, berikan kepada Sylash biar dihabiskan,"


"Sialan. Apa kau kira aku ini tong sampah?" Maki Sylash sambil terus saja mengunyah.


Suara tawa kembali pecah di dalam ruangan itu melihat Sylash buru-buru menghabiskan makanannya.


"Sudah? Ayo kita berangkat!" Kata Joe yang langsung menutupi wajahnya dengan masker biasa lalu memakai jaket Hoodie untuk menutupi kepalanya.


Bersambung...