Joe William

Joe William
Marven menekan Honor Miller



"Anda percaya atas keterangan dari saya, Tuan Marven?" Tanya Douglas.


"Mengapa semua orang mengkhianati ku?" Tanya Marven sambil mengacak-acak rambutnya.


Mungkin itu yang dinamakan dengan hukum karma. Dia mengkhianati orang yang membesarkan dirinya sejak bayi. Membunuh Martin hanya demi menguasai seluruh kekayaan Martin. Kini, dia dapat merasakan betapa sakitnya dikhianati. Mungkin arwah Martin tersenyum di sana melihat hukum karma menimpa Marven yang tak tau di untung ini.


"Douglas. Untuk apa kau kemari?" Baru Marven menanyakan maksud kedatangan utusan dari Honor dan Tiger Lee ini. Tadi dia terlalu curiga sampai-sampai lupa menanyakan maksud kedatangan orang-orang tadi.


"Tuan Marven. Saat ini, anda sedang menjadi buruan geng tengkorak. Karena, kalau anda mati, otomatis saham yang anda miliki akan diwariskan kepada Butet. Karena, Butet ini masih berstatus sebagai istri anda yang sah. Oleh karena itu, Tuan kami, yaitu Honor Miller mengirim kami ke sini untuk melindungi anda dari ancaman Butet dan orang-orang disekitarnya," jawab Douglas atas pertanyaan Marven tadi.


Dia merasa lega juga karena Marven bisa diajak bicara baik-baik. Ini lebih baik daripada moncong pistol menempel di keningnya seperti tadi.


"Hmmm. Begitu ternyata. Aku sudah terlanjur hancur-hancuran. Apa kalian menganggap bahwa aku takut mati untuk saat ini? Aku tau ada kepentingan terselubung dari Tuan mu untuk melindungi ku. Aku tidak terlalu bodoh. Sekarang, aku ingin mengatur ulang kesepakatan antara aku dan Honor. Sebaiknya kalian pulang saja! Katakan kepada Honor, bahwa dia harus datang kepadaku di sini. Aku menunggunya!" Tegas Marven yang tau bahwa tidak mungkin Honor Miller akan membuang waktunya dan tenaga jika tidak ada maksud terselubung.


"Saya tidak memiliki kapasitas untuk itu, Tuan Marven. Karena, saya hanya diutus untuk melindungi anda. Tugas saya jelas, dan saya tidak boleh kembali ke Manor milik keluarga Miller. Harap anda mengerti posisi saya!" Kata Douglas meminta pengertian.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan. Daripada saham ku jatuh ke tangan Butet, lebih baik aku lepaskan seluruh saham ku ini kepada keluarga Miller. Dan aku akan lepas tangan untuk urusan bisnis yang kalian lakukan!" Tegas Marven sembari mengeluarkan ponselnya.


Dengan cekatan, dia mulai mencari nomor kontak di ponsel miliknya, lalu menekan tombol panggil.


"Hallo Tuan Marven!" Terdengar suara seorang pemuda di seberang sana.


"Tuan Honor Miller yang terhormat. Anda terlalu membuang-buang waktu anda untuk melindungi saya. Tetapi, saya merasa terhormat. Saya tidak ingin banyak basa-basi yang pastinya akan tetap basi juga," semprot Marven begitu mendengar suara jawaban dari orang yang sedang dia hubungi melalui sambungan telepon seluler itu.


"Apa maksud anda, Tuan Marven?" Tanya Honor pura-pura tidak mengerti.


"Sudahlah, Tuan Honor! Kita langsung saja ke inti. Anda tahu bahwa saya sudah gila karena berbagai masalah yang saya hadapi. Saat ini, saya sudah tidak takut kepada apapun yang akan datang. Jika anda mengirim orang-orang anda untuk melindungi saya, berarti anda berfikir terlalu jauh, Tuan. Saya tidak takut untuk mati. Anda jangan mengira bahwa saya tidak mengetahui apa maksud anda untuk melindungi keselamatan saya. Saya tidak akan bisa dibodohi oleh orang yang selayaknya saya sebut sebagai anak!" Pedas kata-kata dari Marven ini yang langsung menikam tepat di gendang telinga Honor Miller.


"Tuan Marven. Apakah anda sadar dengan siapa anda berbicara?" Bentak Honor yang mulai tersulut emosi.


"Saya lebih dari tau. Anda adalah sumber dari masalah ini. Anda adalah pendatang asing, anda ingin mengeruk keuntungan dengan memperalat Irfan agar membujuk saya bekerjasama demi bisnis sialan yang anda kelola. Apakah anda ingin kembali menanyakan kepada saya siapa anda? Pertanyaan bodoh seperti apa itu, Tuan Honor?"


Praaaang!


Terdengar suara sesuatu dibanting. Mungkin Honor terlalu emosi sampai-sampai dia membanting gelas.


"Jangan mengancam ku dengan kemarahan anda, Tuan. Saya adalah putra daerah di sini. Anda hanya menumpang nama. Surat perjanjian kesepakatan kerjasama kita ada di tangan saya. Jika anda merasa bahwa anda mampu mengendalikan saya, saya bisa mengembalikan uang anda dan membatalkan kesepakatan kapan saja saya mau. Saya tidak suka diancam, dan mengancam. Sekali lagi saya katakan, saya tidak bodoh!" Kata Marven lagi dengan tegas. Jelas saja dia pintar sekarang. Karena, setiap hari digosok oleh Karman yang mengatakan bahwa Honor Miller ini memiliki agenda tersembunyi dengan kesepakatan itu.


"Lalu, apa yang anda inginkan, Tuan Marven?" Tanya Honor mengalah.


"Aku ingin keuntungan 50-50. Bagaimana?" Tanya Marven.


"Apakan anda sudah gila?" Bentak Honor berang.


"Baiklah. Saya ingin bernegosiasi dengan anda. Keuntungan tetap dibagi menurut saham yang anda miliki. Untuk posisi CEO anda, maka saya akan menambahkan 5%. Jadi, total untuk anda adalah 35%," balas Honor mengalah.


"Apakah itu adalah negosiasi sepihak?" Tanya Marven sambil tersenyum mengejek. Baginya, sudah kepalang basah. Mengapa tidak mandi saja sekalian.


"Apa lagi yang anda inginkan, Tuan Marven? Itu sudah cukup besar untuk anda,"


"Anda jangan lupa! Perusahaan masih atas nama saya. Resiko yang saya tanggung jauh lebih besar dari resiko yang anda terima. Andai ada hal-hal yang tidak diinginkan, maka anda bisa melarikan diri kembali ke negara asal anda. Saya tidak masalah jika harus dipenjara sekali lagi. Tapi, saya tidak ingin miskin setelah keluar dari penjara sekali lagi. Pengalaman telah mengajarkan saya, bagaimana rasanya tidak punya apa-apa ketika terbebas dari tahanan," ujar Marven.


"Lalu. Berapa banyak yang anda inginkan?" Honor benar-benar mati kutu menghadapi keuletan dari Marven.


"Baiklah, Tuan. Saya menginginkan 40-60%. Jika setuju, maka kita deal. Jika tidak, maka kesempatan akan jadi perkedeal,"


"Baiklah. Saya setuju. Anda boleh kembali keluar dari persembunyian. Saya menjamin keselamatan anda,"


"Hahaha. Saya sudah tidak perduli dengan keselamatan saya. Apa lagi yang saya miliki? Adik telah mengkhianati saya. Dan dia mendapatkan hukuman dari pengkhianatan yang dia lakukan. Istri juga telah mengkhianati saya. Lalu, apa lagi yang saya takutkan? Sekali hidup, sekali mati. Tapi aku ingin mati sebagai orang kaya. Tidak ingin melarat!"


"Hahaha. Anda terlalu pandai bersenda gurau. Baiklah. Kita sepakat!" Kata Honor Miller yang sudah mati langkah.


"Segera saya akan keluar dari tempat pengap ini!" Jawab Marven, lalu mengakhiri panggilan.


"Douglas. Kau adalah saksi atas kesepakatan ini. Pembicaraan antara aku dan Honor juga sudah aku rekam. Ingat! Marven bukan bodoh!" Kata Marven berdiri. Dia terus tertawa terbahak-bahak sambil melangkah keluar dengan diikuti oleh Douglas yang hanya bisa menggeram dalam hati.


Begitu Marven sampai di luar, dia langsung dipersilahkan oleh Douglas untuk memasuki mobil, lalu meninggalkan area gang Kumuh tanpa mengetahui, ada dua orang yang memperhatikan mereka.


"Bent. Cepat ambil rekamannya!"


"Baik. Kau tunggu di sini!" Kata lelaki berbadan tegap bernama Bent tadi.


Bent lalu melirik ke kanan dan ke kiri, lalu segera membuka kunci pintu dengan alat yang sudah dia persiapkan.


"Sialan. Tidak sia-sia kita menunggu di sini beberapa hari ini. Dengan ini, kita akan mengetahui apa saja aktifitas Marven selama berada ditempat persembunyiannya ini," kata Bent sambil melemparkan sesuatu kepada sahabatnya tadi.


"Ayo kembali ke kota Batu untuk menemui ketua!"


"Mari!" Ajak Bent.


Kedua orang itupun langsung bergerak cepat meninggalkan rumah tempat persembunyian Marven selama berada di gang Kumuh ini, untuk kembali ke kota Batu.


Bersambung.


Jangan lupa like. Gratis kok!