Joe William

Joe William
Ke kota Kemuning



Sepeda motor BMW S1000RR terlihat saling kejar dengan sepeda motor Yamaha R1 berwarna hitam di jalan raya kota Batu - Kota Kemuning.


Keduanya tampak saling mendahului.


Terkadang, sepeda motor BMW yang mendahului. Tapi setelah itu, segera dikejar oleh sepeda motor Yamaha R1.


Beberapa pengendara yang lain segera menekan klaksonnya ketika kedua sepeda motor itu menikung kendaraan mereka secara ugal-ugalan.


"Kejar aku, Namora!" Ejek Joe.


"Pasti ku kejar!" Balas Namora sembari membetulkan letak microphone, lalu segera menarik gas dengan spontan.


"Hahaha. Cemen kau. Kau bisa mengejar ku ketika ban belakang mu bisa melomba ban depan!" Ejek Joe yang mengendarai sepeda motornya dengan gaya zig-zag.


"Ku tabrak nih, biar kapok kau!" Kesal betul hati Namora melihat kecurangan Joe.


"Yamaha R1 mu itu sudah usang. Ducati Panigale itu yang seharusnya kau pinta dari paman Tigor!"


"Jangan seperti itu mengendarai sepeda motor! Kau bisa menyebabkan kecelakaan. Aku bisa mengejar andai kau lari lurus!" Kata Namora pula.


"Ayo lah. Jangan becanda lagi. Kita harus segera tiba di kota Kemuning!" Kata Joe yang langsung menurunkan dari gear 4 ke gear 3, kemudian menarik dan memain-mainkan gas. Setelah itu, dia melepaskan clutch secara spontan. Apa lagi yang bisa dikatakan selain sepeda motor itu mengaum dengan ban depan terangkat sekitar tiga jengkal.


Puas dengan Auman mesin sepeda motornya, dia segera memasukkan gear 4, 5 dan 6. Sepeda motor itu langsung melesat seperti seekor kuda yang disentil kantong menyan nya.


Namora juga tidak ingin ketinggalan. Dia juga melakukan hal yang sama. Bedanya, dia lebih suka membenamkan gas daripada memainkannya.


Kedua sepeda motor itu kembali saling kejar dan saling mendahului. Jika terus seperti itu, perjalanan ke kota Kemuning yang seharusnya ditempuh sekitar 5 atau 6 jam perjalanan dengan kecepatan 80km/jam, mungkin akan tuntas hanya 3 jam saja.


Tidak ada kata istirahat bagi mereka yang pada akhirnya tiba juga di pintu gerbang kota Kemuning.


Joe segera memperlambat laju kendaraannya. Begitu juga dengan Namora. Kini, mereka segera berbelok ke kanan, dan langsung menuju ke Martins Hotel.


"Huh. Perjalanan yang melelahkan, tapi cukup meningkatkan adrenalin!" Kata Joe disela-sela membuka helm miliknya.


"Aku merasa seperti nyawa ku pindah ke ubun-ubun! Namun untuk kalah, jelas aku menolak. Lebih baik jadi Superman yang gagal daripada kalah dalam balapan!" Ujar Namora pula sambil menatap sinis ke arah Joe.


"Ku tusuk nih!" Ancam Joe begitu melihat tatapan tak puas dari Namora. "Kalau sudah kalah, ya kalah saja!" Ejeknya kemudian.


"Bodo amat lah!" Namora ingin mendahului. Tapi kerah bajunya segera ditarik oleh Joe.


"Berjalan dibelakang ku. Panggil semua anak buah. Aku ingin berjalan di depan, dan diiringi oleh orang-orang! Aku ingin terlihat seperti Boss mafia besar yang di film-film itu," Kata Joe yang langsung mengeluarkan permen berbentuk rokok cerutu miliknya dari dalam saku.


"Sudah berapa lama permen itu? Mungkin sudah berjamur!" Tanya Namora.


"Biarkan saja. Kan bukan untuk di makan," jawab Joe yang melenggang berjalan sambil mengenakan kacamata hitam. Gayanya persis seperti di film-film Gengster Korea.


Tiba di lobby hotel, beberapa orang terlihat membungkuk ke arahnya, kemudian lebih dari sepuluh orang segera mengikuti kedua pemuda itu, sehingga lengkap lah sudah acting Joe seperti di film-film.


Bugh!


"Ah. Kau ini!" Maki Joe ketika Namora menabraknya.


"Mengapa kau berhenti tiba-tiba?" Tanya Namora yang tidak tau kalau Joe berhenti tiba-tiba, sehingga tertabrak oleh dirinya.


"Coba kau perhatikan di cermin depan itu. Betapa gagahnya Abang kau ini. Ini lah yang dikatakan dengan tampan kuadrat!" Puji Joe kepada dirinya sendiri. Dia lalu membenarkan kerah kemeja nya, lalu kembali melangkah.


Namora merasa geram sampai-sampai dia ingin menjitak kepala Joe dari belakang.


Joe yang tau bahwa Namora kesal, segera menegur. "Heh. Aku melihat bayangan mu dari cermin. Jangan kurang ajar sama Ketua!" Kata Joe memperingatkan.


Setelah keluar dari lift yang mengantarkan mereka sampai ke lantai paling atas, Joe dan yang lainnya segera berjalan melewati koridor Hotel hingga tiba pada satu ruangan khusus. Di sana dia sudah di tunggu oleh empat wanita cantik.


"Salam untuk Tuan!" Kata salah satu dari keempat gadis itu.


"Apakah mereka sudah ada di tempat?" Tanya Joe.


"Menjawab anda, Tuan. Mereka sudah menunggu anda dari satu jam yang lalu. Apakah anda akan langsung menemui mereka?"


"R1. Apakah aku terlihat gagah?" Tanya Joe yang masih saja belum sembuh tengilnya.


Bersemu merah wajah R1 mendapat pertanyaan seperti itu.


Joe menahan tawa, lalu mengibaskan tangannya. "Sudah lah. Aku tau kau akan mengatakan bahwa aku ini gagah dan tampan. Itu karena kau tidak berani kepada ku. Buka pintu itu dan aku akan menemui mereka!"


"Saya, Tuan!" Jawab R1 yang langsung mendorong pintu ruangan tersebut.


Begitu pintu ruangan terbuka, Joe segera memasuki ruangan tersebut diikuti oleh Namora dan keempat gadis tadi. Sedangkan para pengawal yang berjumlah sekitar sepuluh orang tadi segera berjaga-jaga di depan pintu.


"Kali ini kita serius, Namora! Bercandanya sudah selesai!" Bisik Joe kepada Namora.


Namora hanya mengangguk samar mendengar peringatan dari Joe tadi. Hilang sudah kesan tengil di wajah Joe. Gantinya adalah keseriusan, namun tetap tampak santuy.


Di dalam, dia melihat Tigor, bersama dengan empat Mister dadakan. Ada juga Ucok, Jabat, Sugeng dan Thomas. Sedangkan dari Dolok ginjang, ada Roger ditemani oleh Sudung. Dan Monang tampak berdiri bersama seorang lelaki kurus berpakaian serba hitam.


Ketika Joe berjalan ke arah mereka, semua orang tampak berdiri dan memberi hormat. Maklum hal. Dia kan ketua Dragon Empire.


"Selamat datang, Ketua!" Sambut mereka secara serentak.


"Duduk! Silahkan duduk kembali!" Kata Joe sambil memperhatikan ada sembilan orang lelaki berbadan tegap, berdiri seperti patung.


"Apakah Bent belum bertemu dengan kalian?" Tanya Joe kepada sembilan orang berbadan tegap tadi.


"Belum, Ketua!"


"Hubungi dia! Katakan kepadanya bahwa dia tidak perlu lagi memata-matai Villa bukit Batu. Aku telah mendapatkan jawabannya!" Kata Joe lagi.


"Siap!" Jawab mereka serentak.


Namora segera menarik kursi kepala di dalam pertemuan itu, lalu mempersilahkan Joe untuk duduk. Sedangkan dia berdiri tepat di belakang Joe dengan dua orang gadis di samping kirinya, dan dua lagi di samping kanannya.


"Terimakasih, Namora!" Ucap Joe lalu segera duduk di kursi kepala dalam pertemuan itu.


Tok... Tok... Tok..! Joe mengetuk meja dengan jari telunjuknya.


"Namora.., segera ceritakan informasi yang kau dapat dari kampung Baru!" Pinta Joe kepada pemuda yang berdiri dibelakangnya itu.


Namora segera menarik nafas sejenak, lalu menceritakan semua yang dia ketahui dari obrolan telepon antara Dhani dan Irfan.


Tidak ada yang memotong penuturan dari Namora. Sampailah dia selesai dengan kata-katanya, baru lah semua orang kini saling bergumam.


"Ternyata terjawab sudah semuanya," kata Tigor.


"Ya! Sudah terjawab. Mengapa tiba-tiba saja Villa bukit Batu dipenuhi oleh orang-orang. Ternyata memang geng Tengkorak mulai menggeliat bangkit," sela Andra pula.


Like mu semangat ku.


Bersambung...