
...Universitas Kota Batu...
Pagi itu, sebelum memulai kelas, Joe terlihat berjalan dari area parkir menuju ke kantin kampus.
Lagaknya yang lesu sangat terlihat dari gayanya berjalan. Dengan menyantolkan tangannya pada tali tas sandang samping miliknya, dia berjalan tanpa memperdulikan orang-orang yang melirik ke arahnya. Entah dari mana asalnya botol kaleng bekas minuman itu. Tapi yang pasti, itu lah yang dia tendang dari area parkir, sampai ke kantin sehingga suara berkerontangan pun terdengar di sepanjang jalan yang dia lalui. Mungkin itu lah sebabnya dia menjadi perhatian orang-orang.
Ketika tiba di bawah pohon rindang yang dibawah pohon tersebut terdapat tempat duduk, Joe segera membungkuk mengambil kaleng kosong tadi. Dia segera melambungkan kaleng itu ke atas, lalu.., layaknya bak seorang kiper terbaik dalam kesebelasan sepak bola, dia menendang kaleng itu hingga mencelat. Tapi malangnya, begitu Kaleng itu melayang, maka dengan mulus kaleng tersebut mendarat di kaca mobil milik pak rektor universitas yang ketika itu baru saja memasuki area kampus.
"Mati aku Mak!" Kata Joe lalu segera bersembunyi di balik batang pohon tadi.
Mendadak mobil milik Pak Rektor yang hendak menuju parkiran khusus itu berhenti. Dan kini, dari dalam tampak lelaki tua berkepala plontos keluar dari dalam mobil sambil mencak-mencak.
"Siapa yang melakukan ini hah?" Tanya pak Rektor sambil berkacak pinggang.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu tidak berani menjawab. Mereka hanya serentak memandang ke arah pohon rindang lalu, mereka serentak pula menunjuk ke satu titik, yaitu pohon rindang tersebut.
"Celaka sekali. Dengan Tiara masih belum berdamai, tugas yang aku berikan entah berhasil entah tidak, kini masalah baru sudah datang menerpa," rungut Joe dalam hati.
"Siapa yang melakukan ini hah? Segera keluar dan temui aku di kantor! Atau, aku akan mengeluarkan mu dari universitas ini!" Bentak bapak berkepala plontos itu. Sejenak mulutnya berkomat-kamit, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergerak menuju area parkir khusus.
Joe mencakar-cakar kepalanya hingga acak-acakan.
Puas dengan ulahnya barusan, dia pun segera keluar dari balik pohon tersebut sambil diikuti tatapan lucu dari semua mahasiswa yang ada di situ.
"Apa senyum-senyum? Tonjok baru tau!" Maki Joe kesal. Tapi tidak ada yang perduli dengan makiannya. Yang ada malah dia kembali ditertawakan. Hal ini membuat Joe juga ikut tertawa.
Sementara itu, Namora hanya memperhatikan saja ketika Joe mendapatkan musibah yang sengaja dia cari. Sedikitpun Namora tidak bergeming.
Sambil geleng-geleng kepala, Namora pun membelakangi Joe, lalu bergegas menuju ke kelasnya.
Saat ini, Joe sudah tiba di depan pintu ruang kerja Pak Rektor.
Sumpah demi apa saja, bahwa saat ini dia benar-benar ragu. Apakah kabur saja, atau mengetuk pintu.
Dalam keragu-raguan tersebut, Joe pun terpaksa juga mengetuk pintu ruang kerja Pak Rektor itu.
Tok tok tok..!
"Masuk!" Terdengar suara perintah.
"Ma-maaf pak. Ini saya datang!"
"Oh. Apakah kau memiliki masalah. Kalau saya boleh tau, anak ini mahasiswa dari jurusan mana?" Tanya pak Rektor yang tidak tau bahwa sebenarnya pemuda yang datang itu adalah orang yang membuat kaca mobil miliknya nyaris pecah.
"Saya mahasiswa dari jurusan manajement business pak!" Jawab Joe.
"Oh. Apakah anak ini memiliki keluhan atau ada yang ingin disampaikan?"
"Tidak ada keluhan, Pak. Justru bapak lah yang mengeluh karena saya!"
Pak Rektor tadi mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari Joe barusan.
"Maksud mu?"
"Tadi saya tidak sengaja menendang kaleng kosong bekas minuman. Lalu, kaleng itu mendarat di mobil bapak!" Jawab Joe. Dia hampir tertawa juga karena kegoblokannya barusan.
"Jadi kau orang yang iseng itu ya? Kau iniiiii....!"
Pak Rektor tadi langsung berdiri, kemudian menjewer telinga Joe.
"Ampun pak. Saya insyaf!"
"Insyaf.., insyaf. Lain kali, kalau iseng jangan di tempat umum. Mengerti!"
"Saya mengerti Pak. Saya tidak akan melakukannya lagi dalam waktu dekat!"
"Apa maksud mu dengan perkataan dalam waktu dekat?"
"Mak-maksud saya, saya tidak akan melakukannya lagi. Saya berjanji pak!"
"Ya sudah. Sekarang, sebagai hukuman dari perbuatan mu tadi, kau pergi cuci mobil ku sampai bersih. Tidak ada kelas bagimu sebelum kau membersihkan mobil ku. Ingat! Jika lecet lagi, awas kau!" Ancam sang Rektor.
"Saya menerima hukuman!" Jawab Joe pasrah.
"Sekarang, kerjakan!"
"Baik Pak!" Joe segera memberi hormat, lalu dia segera meninggalkan ruangan kerja milik Pak Rektor tadi.
...*********...
Joe kini benar-benar merasakan olah raga bebas yang sesungguhnya.
Bayangkan saja! Bahwa dia mengangkat air dua ember sekaligus dari toilet umum, membawanya ke depan untuk mencuci mobil milik pak rektor tadi. Itu baru lelahnya saja. Belum malu nya. Karena, terkadang rasa sakit itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa malu yang di dapat.
"Ini lah gara-gara ketololan ku. Cari kerjaan saja!" Maki Joe dalam hatinya. Dia terus saja mengerjakan tugas hukuman itu. Keringat sudah membasahi kemeja yang dia kenakan. Bau parfum pun sudah bercampur dengan bau keringat. Belum lagi matahari sudah mulai meninggi dan membakar kulitnya.
Setelah semuanya selesai dia kerjakan, Joe pun mulai melambungkan ember yang dia pakai mengangkut air tadi. Dia berniat ingin menendang ember tersebut. Tapi ketika ingat entah apa lagi masalah yang akan timbul, dia segera membatalkan niatnya. Tapi, ember yang melambung tadi malah jatuh dan tepat menyungkup kepalanya.
Joe gelagapan mengangkat ember yang menyungkup kepalanya itu. Sejenak dia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Untung tidak ada yang melihat!" Katanya sambil bersyukur.
Joe berjalan dengan lesu menuju ke toilet umum di kampus tersebut.
Dengan kesal, dia membanting ember itu, lalu berniat hendak menuju ke area parkir. Mood belajarnya sejak tadi sudah hilang. Maka, dia memutuskan untuk pulang saja ke bukit batu.
"Joe. Tunggu!"
Belum lagi Joe jauh melangkah, tiba-tiba satu suara menahan gerak langkahnya.
Joe segera menoleh ke arah datangnya suara tadi. Kini, dia melihat Jericho setengah berlari menuju ke arahnya.
"Joe. Apa kau mendengar tentang rencana Tiara yang akan melakukan penyelidikan bersama beberapa mahasiswa di kampus kita ini?" Tanya Jericho begitu tiba di dekat Joe.
Joe mengangkat sebelah alisnya, lalu menggeleng sebagai jawaban sekaligus pertanyaan.
"Mari kita bicara di sana saja Joe!" Ajak Jericho yang langsung mendahului Joe menuju ke taman.
"Katakan ada apa?" Tanya Joe yang mulai penasaran.
"Begini Joe. Akhir-akhir ini, nelayan di Kuala Nipah semuanya menjerit. Mereka tidak lagi bisa mendapatkan hasil tangkapan di laut tersebut. Jika mereka ingin menangkap ikan, maka mereka harus jauh ketengah!"
"Jadi?" Tanya Joe kemudian.
"Nah. Atas permintaan dari orang-orang di sana, Tiara dan beberapa mahasiswa pecinta alam dan yang terkait dengannya berinisiatif untuk melakukan penyelidikan. Apa penyebab dari menjauhnya ikan-ikan tersebut. Mereka akan mempelajari segala sesuatunya. Jika terbukti ada pencemaran, maka mereka ingin mengetahui apa yang mencemari laut Kuala Nipah, dan di mana pusatnya. Setelah mengetahui semuanya, dan mendapatkan bukti, maka mereka akan mengadukan hal ini kepada pemerintah daerah,"
"Oh begitu!" Jawab Joe yang sama sekali tidak terkejut.
"Kau tidak ingin membantu mereka Joe? Aku dan anak-anak J7 akan ikut turun membantu mereka!"
"Untuk apa aku membantu pekerjaan yang aku sudah tau sumber masalahnya. Hanya akan buang-buang waktu ku saja. Biarkan mereka melakukannya. Setelah gejolak timbul, baru aku bergerak. Dengan begitu, sekali mendayung, dua tiga empat pulau terlampaui!" Kata Joe dalam hati.
"Kau belum menjawab Joe!"
"Eh. Aku tidak. Aku tidak akan membantu Tiara dan J7. Tapi kalian jangan risau! Aku akan mendanai penyelidikan kalian. Bagaimana?" Tanya Joe sambil menunggu respon dari Jericho.
Ada riak kekecewaan di wajah Jericho mendengar jawaban dari Joe ini. Tapi dia memaksakan untuk tersenyum.
"Baiklah jika begitu. Aku pergi dulu!" Kata Jericho yang langsung meninggalkan Joe begitu saja.
"Waktunya sudah dekat. Tapi Tiara dan kawan-kawannya pasti dalam bahaya. Aku harus melindungi Tiara! Harus!!!" Kata Joe bertekad dalam hatinya.
Bersambung...