Joe William

Joe William
Air kolam mulai di aduk



"kalian sebarkan lebih banyak lagi orang-orang kita untuk mencari keberadaan mereka ini. Jika dapat merekrut ke-tiga orang ini, itu lebih baik daripada memiliki seribu Paul." Kata Adolf Miller.


"Ayah. Aku beri ingat. Karena sudah menyinggung masalah Paul ini. Apa yang harus kita lakukan kepada orang tua busuk ini? Ada beberapa laporan yang aku terima bahwa Paul ini mulai bertingkah seperti orang gila. Dia mengamuk dan mengancam semua pengawal yang berkulit hitam. Dia juga mengunci diri di kamarnya. Jika begini, untuk apa lagi manusia tak berguna itu dipelihara?" Tanya Honor.


Diana dan Frank hanya saling pandang saja mendengar perkataan yang sangat menyakitkan hati dari seorang pemuda yang masih hijau ini. Benar-benar sedikitpun tidak menghormati yang lebih tua. Bukan hanya itu saja. Layaknya ampas, habis manis sepah di buang. Diana sendiri mulai berfikir bahwa hari ini Tuan Paul. Besok mungkin mereka akan diperlakukan seperti itu juga oleh anak yang tidak punya sopan santun seperti Honor ini.


"Tuan Paul ini sudah mulai pikun. Sebaiknya biarkan saja dia. Ketika kita sudah berhasil mengikat Ryan, Riko dan Arslan ke dalam perusahaan kita, kita singkirkan Paul ini secara perlahan. Dia juga sudah semakin tua dengan cara berfikiran kuno." Kata Adolf Miller.


"Baiklah. Jika begitu, aku akan mengatur anak buah kita untuk bergerak." Kata Honor lalu segera meninggalkan ruangan itu.


"Kami juga permisi Tuan. Masih ada banyak pekerjaan yang menanti." Kata Frank pula lalu tanpa menunggu jawaban, dia langsung menarik tangan adiknya untuk segera meninggalkan ruangan itu.


"Kau dengar sendiri apa kata mereka, Diana? Habis manis sepah di buang. Ayah dan Anak sama saja." Bisik Frank ke telinga Diana.


"Benar Kak. Mereka ini lebih mengerikan daripada mendiang Ramendra. Jika mendiang Ramendra kejam, tapi dia setia kawan. Ayah dan anak itu cocoknya memang dengan mendiang Robin. Sama-sama ular." Kata Diana pula. Mungkin Diana ini lupa bahwa dirinya juga ular.


"Jangan boros Diana. Kita harus memanfaatkan hubungan kita ini dengan keluarga Miller. Kelak jika kita sudah tidak terpakai lagi, kita memiliki modal untuk menjalani hidup. Bukan mustahil hal yang menimpa Tuan Paul akan menimpa pula pada kita. Maka dari itu, persiapkan diri kita. Tabung sebanyak yang bisa kita tabung. Setelah itu, disingkirkan atau dipertahankan itu tidak menjadi masalah besar bagi kita." Kata Frank memperingatkan.


"Benar juga kata mu itu Kak. Simpan tabungan atas nama Kenny. Kelak jika mereka mengusut kita, mereka tidak akan menemukan apapun. Aku yakin Kenny tidak akan menolak. Walaupun dia sangat setia dengan perusahaan, tapi dia juga masih cukup berbakti sebagai seorang anak."


"Kini aku malah berfikir. Jerry tidak pernah menggangu kita. Tapi sebaliknya, kita yang terus-menerus mengganggu dirinya. Padahal jika dia mau, bisa saja dia membunuh kita karena terlibat berkolaborasi dengan Ramendra untuk melawan dirinya. Tapi sampai saat ini dia tidak pernah mengambil tindakan terhadap kita. Apa kau tidak berfikir sebagai manusia yang diberikan oleh Tuhan hati nurani bahwa ini sangat berlebihan?" Tanya Frank.


"Sudahlah kak. Jangan diungkit lagi masalah ini. Yang terpenting sekarang adalah, kita pikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Masalah Jerry ini, aku tau dia tidak akan menyakiti kita karena wajah Kenny. Biarkan saja dulu. Yang terutama adalah, kembali mengangkat derajat keluarga kita ke tempat yang semestinya." Kata Diana.


"Adikku. Masih belum terlambat. Kita harus memberitahu kepada Kenny bahwa kita ini tidak benar-benar membantu keluarga Miller ini. Kita hanya memancing di air yang keruh."


"Itu bisa kita bahas nanti bersama Kenny. Sekarang kita masih terikat kontrak dengan keluarga Miller. Kita kerjakan dulu proyek di Garden Hill bagian Timur. Setelah itu terserah nanti." Kata Diana lalu segera masuk ke dalam mobil.


*********


Hotel Mutiara Jewel Star


Mobil super sport Lykan Hypersport tampak memasuki ruangan parkir bawah tanah di sebuah Hotel milik perusahaan Future of Company yang terletak tepat di bagian belakang pusat perbelanjaan Jewel Star.


Hotel ini adalah Hotel Mutiara. Salah satu cari rangkaian hotel mutiara di negara ini dengan pusatnya di Metro City.


Begitu mobil berwarna hitam metalik itu berhenti di area parkir, seorang lelaki setengah baya berkulit hitam keluar lalu segera menuju lift.


Tiba di depan pintu, lelaki setengah baya itu langsung mengetuk dan terdengar suara sahutan di dalam mempersilahkan lelaki itu untuk masuk.


"Senior Black. Ada berita apa yang anda bawa?" Tanya seorang pemuda berkulit hitam legam yang sangat tidak umum bahkan untuk orang yang memang berkulit hitam sekalipun.


"Tuan muda. Ternyata apa yang anda suruh saya katakan kepada Tuan Lenard telah menjadi gosip di seluruh Metro City, Starhill bahkan sampai ke MegaTown." Jawab Black.


"Oh ya. Perkataan yang mana?" Tanya pemuda berkulit hitam legam itu.


"Tentang rencana anda untuk memburu Tuan Paul. Sekarang berita itu telah berhembus meninggalkan Villa milik keluarga William dan menyebar seperti virus di kalangan para pebisnis bahwa anda telah mengeluarkan ancaman untuk membunuh lelaki botak itu." Kata Black.


"Hah? Bisa begitu ternyata. Lalu, bagaimana tanggapan dari orang-orang yang mendengar berita ini?" Tanya Joe penasaran.


"Banyak yang tidak mempercayai tentang ancaman ini. Selain tidak mengetahui masalah silang sengketa antara anda dan Paul, mereka juga tidak percaya karena bagaimana mungkin seorang anak yang masih remaja bisa mengancam orang yang jauh lebih tua. Hal ini semakin dikuatkan lagi karena mereka juga sama sekali tidak mengenal anda."


"Berbeda dengan Paul. Orang tua itu tampak sangat ketakutan sekali dan langsung mengunci diri di kamarnya. Dia yang mendengar kabar bahwa orang yang bernama Joe William ini adalah seorang pemuda berkulit hitam langsung mengusir beberapa orang anak buahnya yang memang berkulit hitam. Ini karena dia takut diantara anak buahnya itu adalah Tuan muda." Kata Black menceritakan apa yang dia ketahui.


"Hahaha. Bodohnya Paul ini. Aku sangka dia ini orang yang sangat pemberani. Ternyata hanya modal mengandalkan orang lain untuk mencelakai ku. Ketika aku tidak dapat dicelakai, dia malah ketakutan. Sia-sia saja aku memandang tinggi terhadap orang ini."


"Senior Black. Sekarang sebarkan juga isu bahwa bukan aku yang ingin membunuh Paul ini. Tapi Honor dengan dalih, mengkambing hitamkan aku untuk membuat alibinya. Ini pasti sangat menyenangkan. Apa tanggapan mereka tentang ini nantinya." Kata Joe sambil terus tersenyum.


"Tuan muda. Sebenarnya apa maksud dari semua ini? Jujur saja untuk apa kita membuang waktu untuk Paul yang tak berguna ini?" Tanya Black.


"Senior Black. Anda jangan lupa siapa Paul ini. Ayah ku sudah menceritakan semuanya kepada ku tentang sejarah kelam Paul ini ketika masih menjadi manager di Hillstreet. Jika dia masih di sana tanpa ada gangguan, bagaimana Paman Ryan, Riko dan Arslan bisa menyusup ke dalam perusahaan Arold Holding Company itu. Aku sedang melakukan perang saraf dengan Paul ini. Di satu sisi, dia ketakutan karena ancaman dari ku. Di sisi lain, kita rusak kan hubungan antara dia dan keluarga Miller. Dengan begini, akan ada saling tak nyaman diantara mereka. Begitu paman Ryan dan yang lainnya berhasil masuk ke dalam perusahaan mereka, otomatis mereka tidak memerlukan Paul ini lagi. Daripada membuat susah, lebih baik Paul ini di singkirkan. Bukankah begitu lebih baik daripada nantinya Paul ini akan menjadi duri bagi pergerakan Paman Ryan, Riko dan Arslan?" Kata Joe menjelaskan kepada Black.


Plak.


"Memang memori otak ku ini hanya 60 MB. Saya sama sekali tidak terpikir ke arah sana. Bodoh nya. Hahaha." Kata Black berkata antara tertawa dan malu sebelum menampar keningnya sendiri.


"Kita memiliki ramai orang yang bertebaran dimana-mana. Sebarkan isu seperti yang aku katakan tadi!" Kata Joe.


"Baik Tuan muda. Jika begitu, saya bergerak dulu." Kata Black lalu segera keluar meninggalkan ruangan itu.


Kini tinggallah Joe sendiri sambil berdiri menghadap ke luar jendela dengan senyuman licik benar-benar terpancar dari sudut bibirnya.