Joe William

Joe William
Honor yang dingin



Rombongan yang di pimpin oleh Honor Miller yang berjumlah mencecah ratusan orang itu akhirnya sampai juga di depan dimana Tuan Liu telah berdiri. Dengan sangat antusias, lelaki paruh baya itu menyambut kedatangan rombongan dari Victoria peak tersebut.


"Tiger Lee! Hahaha. Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu. Bagaimana kabar mu, Sobat?" Tanya Tuan Liu sambil menyalami lelaki berambut jigrak dan bertato harimau tersebut. Di jari telunjuknya tampak cincin putih berlambang tengkorak.


"Hahaha. Kabar ku seperti yang kau lihat ini lah, Liu!" Jawab Tiger Lee yang meneruskan salaman mereka menjadi pelukan.


"Oh ya. Maafkan jika aku lancang datang ke acara mu ini. Aku tidak akan masuk. Karena, yang kau undang adalah Tuan ku. Maka, kedatangan ku ke sini hanya untuk mendampingi Tuan ku saja,"


"Ah. Bicara apa kau ini, Tiger? Aku mengundang Tuan mu berarti mengundang siapa saja yang mau datang. Kebetulan kau dan yang lainnya datang, maka kau termasuk tamu undanganku. Apakah kita baru kenal?" Tak enak juga rasa hati Tuan Liu mendapat sindiran halus dari lelaki bertato harimau tersebut.


"Hahaha. Aku hanya bergurau saja. Oh ya apakah kita akan berbicara saja di sini?" Sekali lagi Tiger menyindir Tuan rumah.


"Sebentar, Tiger! Aku akan menyalami Tuan Kim, Tuan Liem Guan dan Paman Cheung," kata Tuan Liu sambil menyalami satu persatu diantara mereka lalu berhenti di Honor.


Sambil menyipitkan matanya, Tuan Liu memperhatikan ke arah Honor lalu berujar. "Apakah ini si bocah kecil yang dulu itu, Tiger?" Tanya Tuan Liu.


"Tidak salah. Pemuda yang berada di hadapan mu itu adalah Honor Miller," jawab Tiger Lee dengan bangganya.


"Oooh.., hahaha. Waktu sungguh sangat cepat berlalu. Ternyata kita sudah tua. Ini buktinya. Anak dari sahabat ku telah dewasa sekarang,"


"Salam untuk anda, Tuan Liu!" Kata Honor tanpa membungkuk. Tampak sangat angkuh gaya pemuda ini.


"Eh. Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Aku bukanlah Tuan di hadapan keluarga Miller. Panggil saja aku Paman! Paman Liu!" Kata Tuan Liu menamakan dirinya kepada pemuda itu.


"Baiklah, Paman Liu! Terimakasih atas keramahan anda. Terimakasih juga karena telah sudi mengundang ku ke acara makan malam yang anda selenggarakan ini. Saya sangat tersanjung mendapat undangan dari anda," kata Honor berbasa-basi. Padahal, dalam hatinya dia mengutuk sifat manis lelaki paruh baya yang sama sekali tidak tulus itu. Setidaknya, seperti itu lah menurut dirinya.


"Baiklah. Kalian adalah tamu kehormatan ku. Mari Silahkan masuk!" Ajak Tuan Liu sambil merentangkan tangannya membuat gestur mempersilahkan.


Didahului oleh Paman Cheung, dan Tuan Liu, mereka pun akhirnya memasuki rumah besar milik Tuan Liu tersebut.


Di dalam ruangan, tampak meja dan kursi telah tersusun rapi. Bahkan, sudah ramai para tetamu undangan yang telah berada di sana.


Mereka semua saat ini memandang ke arah Tuan Liu dan rombongan Honor.


Dalam hati, mereka bertanya-tanya siapa adanya pemuda tampan namun angkuh tersebut.


Tanpa menghiraukan tatapan dari mereka yang berada di ruangan itu, Tiger Lee segera menarik kursi di salah satu meja untuk tamu kehormatan kemudian mempersilahkan Honor Miller untuk duduk.


"Keponakan ku, Honor! Silahkan di nikmati acara makan malam ini. Jangan sungkan-sungkan! Anggap saja rumah ini adalah rumah mu sendiri!" Kata Tuan Liu mempersilahkan.


Honor hanya mengangguk samar dan setelah itu, dia sibuk berbicara dengan Tuan Kim dan Tuan Liem Guan.


Orang pertama yang menyadari akan kehadiran gadis itu adalah Tuan Kim.


Setelah berdehem beberapa kali, lelaki paruh baya itu pun lalu bertanya. "maaf Nona. Apakah anda yang bernama Margareth Liu?"


Mendengar perkataan dari Tuan Kim ini, Honor pun serta merta mengalihkan perhatiannya ke samping. Beberapa saat dirinya beradu pandang dengan gadis tersebut lalu segera memalingkan wajahnya dengan lagak acuh tak acuh.


"Benar, Paman Kim. Apakah anda sudah tidak kenal dengan saya lagi?" Tanya sang gadis.


"Ehem.., ehem.., maafkan Paman mu yang telah pikun ini, Nona. Oh ya. Untuk siapakah salah satu gelas yang berada di tangan anda itu?"


"Paman.., saya sengaja datang ke meja anda ini karena mendapat tahu dari Ayah, bahwa seorang Tuan dari keluarga Miller berada di acara makan malam ini. Lalu, saya berinisiatif untuk mengajaknya bersulang," jawab sang gadis sambil tersenyum.


"Wah wah wah..! Sungguh satu kehormatan bisa seperti itu. Putraku sangat mengagumi anda, Nona Margareth. Tapi, mungkin dia tidak beruntung malam ini," celetuk salah seorang dari tamu undangan yang mejanya tidak terlalu jauh dari meja milik Honor.


Honor melirik sedikit dengan sudut matanya. Dan dia melihat seorang lelaki botak sedang duduk bersama dengan seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda berkulit kuning langsat, bermata sipit yang ketika itu tampak tanpa berkedip menatap ke arah Margareth.


"Ah. Paman Buwei terlalu menyanjung ku. Bukannya putra Paman tidak beruntung. Hanya saja, saya memang sengaja untuk menyambut kedatangan tamu terhormat yaitu Tuan Honor Miller yang memang menjadi tamu kehormatan di acara ini. Apakah Paman Buwei mau memaafkan saya?" Tanya Margareth sambil sedikit membungkuk sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang memang memakai baju dengan atasan sangat rendah itu.


"Uhuk. Uhuk.., uhuk," tampak pemuda yang duduk di apit oleh Tuan Buwei dan wanita paruh baya yang mungkin adalah istrinya itu terbatuk-batuk.


Krak!


"Aku tidak punya waktu untuk terlibat dalam omong kosong ini. Jika ingin mengobrol, pergilah dari dekat meja ku ini. Jangan membuat pekak telinga ku!" Kata Honor dengan suara dingin. Tampak gelas di tangannya telah retak karena terlalu kuat digenggam oleh tangannya.


Tiger Lee segera meredakan kemarahan Honor Miller yang memang sudah tidak menyukai acara ini.


Sementara itu, Margareth tampak sedikit terkejut juga melihat respon dari pemuda itu.


Biasanya, dia yang menjadi kembang selalu dikerumuni oleh para lelaki. Bahkan, mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatiannya. Tapi, dihadapan pemuda kepala keluarga Miller ini, semuanya tampak seperti tak menjadi. Honor sama sekali tidak menggubris kehadirannya. Bahkan, kesan pertama saja Honor sudah membuat muka.


"Tuan Miller! Maafkan jika perkataan saya tadi membuat anda merasa tidak nyaman. Saya, sekali lagi meminta maaf!" Kata lelaki botak itu sambil berdiri lalu mengepalkan tinjunya dan menutupinya dengan sebelah tangan lagi yang terbuka, sebagai bentuk permohonan maafnya.


Honor Miller hanya mendengus saja. Sedikitpun dia tidak memperdulikan ocehan lelaki botak tadi.


Sementara itu, Margareth yang gagal menarik perhatian pemuda itu hanya mendengus saja.


Dengan wajah merah padam, dia memanggil pelayan. Setelah pelayan datang, dia menyerahkan dua gelas yang berada di tangannya lalu segera meninggalkan tempat itu dengan kasar.


Bersambung...