Joe William

Joe William
Cerita dari Naomi



Setelah kelasnya selesai, Joe yang saat itu tidak melihat Sylash dan Tye segera mencari kedua sahabatnya itu di kantin.


Baru saja dia akan memasuki kantin untuk memesan sesuatu, sudut matanya melihat seorang gadis yang tidak lain adalah Naomi tampak sedang melamun jauh dengan tatapan mata nanar.


Melihat keadaan sahabatnya seperti itu, Joe membatalkan niatnya untuk memesan sesuatu. Dia lalu berjalan menghampiri gadis itu lalu segera menyapanya.


"Hey Naomi, mengapa kau menyendiri dan melamun di sini?" Tanya Joe sehingga gadis yang ditanya nya itu gelagapan.


Joe kini melihat mata bening gadis itu sedang menatap ke arahnya.


Lama juga gadis itu menguasai diri. Lalu, dengan senyuman manis gadis itu pun mempersilahkan Joe untuk duduk di kursi tepat didepannya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku," kata Joe sambil duduk berhadap-hadapan dengan gadis itu.


"Ada banyak sekali hal yang membebani fikiran ku," jawab Naomi kembali tertunduk.


"Itu bukan jawaban dari pertanyaan ku tadi," ujar Joe tegas, namun tetap tetap bernada lembut.


"Aku bingung harus memulai dari mana," jawab Naomi. Sepertinya, ada beban yang sangat berat dipikul oleh gadis ini. Dia mau berterus terang kepada pemuda yang berada dihadapannya ini. Hanya saja, dia khawatir bahwa dia akan dianggap memanfaatkan persahabatannya dengan Tuan muda dari keluarga William itu.


Hampir seperti judul lagu 'Pelangi Dimata mu.' Tiga puluh menit mereka di meja itu tanpa bicara. Hingga suasana sepi sepihak itu terpecahkan oleh kedatangan Tye, Sylash, Ruby dan Melissa.


"Hei. Kalian di sini ternyata," kata Sylash dengan sapaan ciri khasnya. Namun, dia segera heran ketika sapaannya tidak mendapat respon.


"Tunggu.., tunggu.., tunggu! Kalian tidak sedang menderita sariawan kan?" Tanya Sylash sembari duduk.


Naomi yang tetap diam itu segera berdiri dan ingin meninggalkan meja. Dia hampir menyerah dan akan berdamai dengan hatinya untuk meminta maaf secara langsung kepada keluarga Clifford. Karena baginya, Globe's University ini adalah warisan turun temurun. Jika dirobohkan dan akan diganti dengan bangunan lainnya, maka tidak ada lagi kebanggaan di kota Quantum ini.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, lalu ingin pergi begitu saja. Jika ingin pergi, pergi lah! Tapi ingat, Naomi! Jangan pernah datang lagi di hadapanku!" Kata Joe. Dia langsung menggebrak meja lalu meninggalkan mereka semua yang berada di tempat itu.


"Tunggu Joe! Aku akan mengatakan semuanya kepada mu," kata Naomi berusaha mengejar kearah Joe.


Takut juga Naomi melihat sorot mata dingin dari Joe ini. Dia belum pernah melihat langsung sorot mata orang yang sangat mengintimidasi seperti tatapan Joe ini.


"Apa itu perlu bagiku? Dengar ya Naomi. Sekali orang tidak menganggap ku, sejuta kali aku tidak menganggap orang itu," tampaknya Joe benar-benar kesal karena diperlakukan acuh oleh Naomi tadi.


"Terserah kau mau mendengar atau tidak. Tapi aku akan menceritakan semuanya,"


"Saat ini, keluarga Clifford sedang berusaha untuk menghancurkan keluarga ku. Kau tentu ingat kan ancaman dari Duff ketika kita baru saja keluar dari restoran malam itu? Ternyata dia tidak main-main dengan ancamannya."


Naomi pun lalu menceritakan semua yang dirinya ketahui dari ayahnya tentang ancaman keluarga Clifford. Dia juga menceritakan bahwa pengacara dari keluarga itu telah mendatangi Ayah nya untuk memberi tempo kepada keluarga Johnson tentang hutang perusahaan mereka dan memberi waktu satu Minggu untuk melunasi hutang tersebut berikut dengan bunganya. Jika tidak, maka kampus ini akan segera disita oleh keluarga Clifford itu.


"Katakan kepada Ayah mu bahwa aku akan membantunya. Masih ada enam hari lagi. Kita lihat saja apakah mereka akan benar-benar menyita Globe's University ini. Jika benar begitu, aku akan membantu. Tapi jika kurang dari enam hari, maka keluarga Clifford akan aku ratakan dengan tanah," kata Joe lalu kembali berjalan menghampiri meja tadi kemudian duduk.


*********


Dua orang gadis yang sangat cantik dan seorang pemuda yang seperti kucing tersiram air es berjalan menuju ke kantin kampus tersebut.


Tampak jelas bahwa pemuda itu sangat tertekan berjalan diapit oleh dua gadis tadi. Mereka adalah Xenita Patrik, Namora Habonaran dan Talia Gordon.


"Siapa yang kau lirik, Xenita?" Tanya Talia penasaran melihat kedua sahabatnya itu tampak sedang memperhatikan tiga orang pemuda dan tiga orang gadis sebaya mereka sedang asyik tertawa.


"Tidak apa-apa. Nanti kau juga akan tau," jawab Xenita lalu segera menuju ke kantin.


Setelah selesai memesan makanan dan minuman, didahului oleh Xenita, mereka lalu menghampiri keenam mahasiswa-mahasiswi yang sedang duduk tadi.


Tiba di meja tersebut, dengan Ramah Xenita pun langsung menyapa. "Hai kak Joe. Bolehkah aku duduk di sini?" Tanya Gadis itu sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Kau ini. Tidak di Metro City, tidak di sini sama saja. Ayo silahkan duduk!" Kata Joe yang tidak lagi bisa menghindar.


"Salam untuk anda, Ketua!" Kata Namora membungkuk hormat.


"Lupakan peradatan! Kalian silahkan duduk!" Kata Joe mempersilahkan.


Sama dengan Tye, Sylash dan yang lainnya, Talia juga tampak sangat terkejut. Ini karena, baru beberapa bulan saja mereka bertemu. Dan saat itu kulit tubuh Joe sangat hitam legam. Tetapi sekarang, mengapa menjadi putih kemerahan? Apakah ada yang salah?


"Talia. Apakah kau betah berdiri seperti patung begitu?" Tanya Joe sambil tersenyum.


"Oh. Eh.., tid-tidak betah. Eh betah. Eh tidak betah," jawab Talia benar-benar salah tingkah.


"Hahaha. Ada apa dengan kalian semua? Mengapa bengong seperti itu?" Tanya Joe kepada para sahabatnya itu.


"Ternyata kalian sudah saling kenal?" Tanya Tye dan Sylash bersamaan.


"Xenita ini adalah anak paman ku. Dia telah dijodohkan dengan ku ketika Xenita Patrik ini masih di dalam perut. Namora ini adalah anak dari sahabat ayah ku. Namanya paman Tigor. Paman Tigor ini adalah seorang pengusaha dari Indonesia. Sedangkan Talia ini, kakek ku dan kakeknya telah menjodohkan kami. Namun aku menolak karena aku sudah memiliki kekasih. Andai belum, tentu aja aku tidak akan menolak," kata Joe sambil tersenyum.


Pupus sudah harapan Talia begitu mendengar pengakuan dari Joe ini. Ibarat sudah terbang tinggi, dia terpaksa harus dihempaskan kembali ke bumi.


"Apakah hanya kalian bertiga saja kemari?" Tanya Joe.


"Menjawab anda, Ketua. Kami tidak hanya bertiga. Tapi berenam. Ada Kak Albern, Tuan Riko dan Tuan Daniel. Hanya saja, mereka langsung menuju ke Quantum entertainment untuk menemui orang yang kalau saya tidak salah, bernama Tuan Baron," jawab Namora Habonaran.


"Hmmm. Baiklah. Aku menyangka bahwa Albern itu akan kuliah di sini," kata Joe.


"Tidak, Ketua. Albern itu hanya ingin bertemu dengan anda untuk membahas beberapa hal. Dia akan segera berangkat ke Indonesia untuk mengurus beberapa bisnis kerjasama dengan Tuan Besar dan Ayah saya. Sekalian dia ingin mengikuti perkembangan Honor Miller di sana," jawab Namora.


"Selesaikan makan kalian! Kita akan segera berangkat ke Highland Park. Aku juga mempunyai beberapa urusan di sini yang harus segera diselesaikan. Aku mungkin membutuhkan mu. Hanya saja, utamakan pendidikan kita!" Kata Joe.


"Misi apakah itu, Ketua?" Tanya Namora penasaran.


"Nanti kau akan tau. Apa kau siap jika aku suruh?" Tanya Joe sambil tersenyum jahat.


"Saya selalu siap, Ketua!"


"Bagus. Ayo sekarang makan dulu!" Kata Joe mempersilahkan.


Bersambung...