Joe William

Joe William
Kekhawatiran Joe



Cuaca malam itu tampak sangat buruk. Tidak ada satupun bintang di langit yang menampakkan wujudnya. Sepertinya akan turun hujan. Namun, cuaca yang buruk itu sepertinya tidak berpengaruh bagi seorang anak muda yang tampak menunggangi sepeda motor BMW s1000RR dengan kecepatan tinggi laksana dikejar oleh demit.


Sepertinya, penunggang sepeda motor BMW itu sangat buru-buru sekali. Sudah tidak terhitung berapa jumlah mobil yang sudah dia salip. Sesekali, tampak roda depan sepeda motor itu terangkat menandakan bahwa penunggangnya memeras gas dengan spontan.


Puas dengan gaya petantang-petentengnya di jalan raya tersebut, akhirnya dia tiba juga di perempatan jalan, dan langsung berbelok ke kiri menuju ke sebuah restoran mewah yang memiliki empat lantai.


Sebelum mencapai pintu menuju ruang parkir bawah tahan, dia penunggang sepeda motor BMW tersebut ternyata telah di tunggu oleh beberapa orang lelaki berbadan tegap.


Penunggang sepeda motor itu masuk beberapa meter ke dalam, lalu turun dari sepeda motor BMW tersebut sambil membuka Jaket dan helm yang dia pakai lalu memberikannya kepada salah satu dari beberapa orang lelaki berbadan tegap tadi.


"Di mana yang lain?" Tanya nya kepada mereka.


"Menjawab, Ketua. Bang Tigor dan yang lainnya ada di lantai tiga. Mereka sudah menunggu anda di sana!" Jawab mereka.


"Urus sepeda motor ku! Aku akan segera ke atas!"


"Siap, Ketua!" Kata mereka serentak.


Pemuda penunggang sepeda motor BMW tadi pun langsung berjalan menuju pintu lift, kemudian masuk dan langsung menekan angka 3 pada tombol yang terdapat di sana.


Sampai di lantai 3, pemuda tadi sudah di tunggu oleh Tigor dan kawan-kawanya.


Dengan tersenyum kecut, pemuda tadi langsung menyapa. "Selamat malam, Paman,"


"Selamat malam, Ketua. Bagaimana hasil memulung tadi siang?" Tanya Tigor dengan senyum tak kalah kecut.


"Rugi Rp 500 ribu. Padahal pot itu pot biasa. Yang punya mengaku pot itu adalah pot antik. Aku terpaksa membayarnya,"


"Apakah kedok anda terbongkar?" Tanya Tigor.


"Hahaha. Bukan Joe namanya jika tidak pintar berkelit," jawab pemuda itu sambil tertawa.


"Apa yang anda dapatkan dari sana?" Tanya Tigor lagi.


"Banyak. Yang pertama, beberapa orang suruhan Marven sedang merencanakan untuk mengancam Pak Burhan dengan cara, akan menculik salah satu putrinya. R4 telah menggagalkan niat busuk mereka. Yang ke dua, pabrik dekat jembatan tempat paman dulu berteduh. Aku merasakan bahwa pabrik itu bukan pabrik biasa. Melainkan, ada sesuatu yang tersembunyi di sana,"


"Maksud anda, Ketua?" Tanya Ameng penasaran.


"Salah satu dari para pekerja di sana tidak sengaja menjatuhkan balok es. Aku melihat ada sesuatu yang terbungkus rapi dalam balok es yang pecah tersebut. Anda tau bagaimana dengan nasib pekerja yang menjatuhkan balok es itu?" Tanya Joe menggantung perkataannya.


"Bagaimana dengan nasibnya ketua?"


"Mereka membunuhnya. Dan yang lain mendapat ancaman. Jadi, menurutku, pabrik itu hanyalah kedok belaka. Ada sesuatu yang lain yang mereka produksi di pabrik itu,"


"Wah. Celaka jika sudah begini. Tapi, mengapa Karman tidak mengetahui ini?" Gumam Tigor seakan berbicara kepada dirinya sendiri.


"Silahkan duduk Ketua. Kita akan membahas masalah ini lebih rinci!" Kata Tigor sambil mempersilahkan.


"Sekarang, katakan kepada ku! Kabar apa yang anda dapat dari Karman?!"


Setelah mendapat permintaan dari Joe, Tigor pun langsung menuturkan kepada pemuda itu isi dari obrolan antara dirinya dan Karman melalui panggilan telepon tadi siang.


Mendengar penuturan dari Tigor tadi, Joe mulai mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Licik juga Honor ini. Hahahaha. Kasihan Marven hanya dijadikan bantalan,"


"Mungkin anda mengetahui apa alasannya, Ketua?!" Kata Tigor lagi. Karena, dia melihat bahwa Joe mengerti maksud dibalik senyuman dari Joe tadi.


"Dia telah belajar dari kekalahannya ketika berada di Garden Hill. Ketika itu, nama besar perusahaan Arold Holding Company hancur lebur dengan terbongkarnya kedok proyek haram yang mereka dirikan. Yah... Mungkin dia trauma dengan kejadian itu. Oleh sebab itu, mengapa dia mencari nama perusahaan lain untuk dia jadikan sebagai bantalan. Ada banyak kemungkinan. Yang pertama, andai kedok mereka terbongkar, mereka bisa mengelak dan lempar batu sembunyi tangan. Dengan begitu, Martins Group lah yang akan menanggung semuanya kebusukan yang dia lakukan. Yang ke dua, dia ingin menggabungkan kekuatan yang dia miliki, dengan yang dimiliki oleh Marven untuk mengganggu kita. Dia tau bahwa musuh Marven dan musuhnya adalah dari organisasi yang sama. Jadi, tidak mengherankan jika dia berani membayar mahal untuk 60% saham di perusahaan tersebut. Yang penting, tujuan mereka tercapai!"


"Aku semakin geram dengan kelicikan mereka ini. Empat kota ini akan sangat terancam andai kekhawatiran anda terbukti dengan pabrik itu. Ini jauh lebih berbahaya daripada perang terbuka,"


"Kita belum bisa berbuat apa-apa, Paman! Mereka belum menyenggol kita. Tapi, paman harus sering berkomunikasi dengan Paman Rio. Aku merasa, dialah orang yang akan sangat disibukkan dengan masalah baru ini,"


Tigor manggut-manggut mendengar perkataan dari Joe tadi. Sebagai seorang polisi, andai benar jika pabrik itu menghasilkan barang-barang haram, maka Rio akan sangat direpotkan.


"Paman Sugeng. Apakah anda sudah menyelidiki koperasi simpan pinjam yang berada di Kuala Nipah?" Tanya Joe. Entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa koperasi itu akan berdampak sangat buruk terhadap dirinya. Dia bahkan selalu tak tenang ketika membahas soal koperasi simpan pinjam tersebut.


"Penduduk Kuala Nipah saat ini sepertinya sangat bergantung harapan terhadap koperasi itu, Ketua. Baru beberapa hari beroperasi, mereka sudah mendapatkan dampak instan dari koperasi tersebut. Mengapa, Ketua?" Tanya Sugeng.


"Kasihan penduduk Kuala Nipah. Aku sangat prihatin dengan mereka. Untuk saat ini, mereka memang mendapatkan dampak positif dari berdirinya koperasi itu. Tapi nanti, mereka akan tercekik andai mereka berhutang. Apakah sudah ada yang mengajukan pinjaman di koperasi itu?" Tanya Joe setelah meluapkan kekhawatirannya.


"Sampai saat ini, belum ada yang membuat pengajuan pinjaman. Tapi, itu hanya sementara. Mungkin sebentar lagi akan ada yang mengajukan pinjaman di koperasi itu," jawab Sugeng tanpa mengetahui bahwa Pak Madun, yaitu orang tua Tiara sudah mengurus persyaratan untuk membuat pengajuan pinjaman sebesar Rp 500 juta.


"Kita memiliki kemampuan untuk bersaing dengan mereka. Mengapa kita tidak mendirikan koperasi yang sama di sana?" Tanya Acong pula setelah dari tadi hanya menjadi pendengar saja.


Joe segera berdiri dari kursinya. Sejenak dia menumpukan tangannya di atas meja sebelum berucap. "Aku menunggu di senggol. Jika kita mendirikan koperasi tandingan, bukankah itu artinya kita yang menyenggol mereka? Aku juga sangat heran dengan penduduk Kuala Nipah andai mereka mengajukan pinjaman di koperasi itu. Padahal, proyek milik ku di Kuala Nipah sudah cukup untuk mensejahterakan mereka. Tidak ada lagi pengangguran di sana dengan adanya proyek tersebut. Mereka juga memiliki banyak opsi pekerjaan. Tidak tertumpu sebagai nelayan saja,"


"Manusia tidak akan pernah puas, Ketua. Mereka akan menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan terus lebih. Tidak cukup hanya satu piring, mereka akan menginginkan piring ke dua. Menurut mereka, lebih baik mati kekenyangan, daripada mati kelaparan," Jawab Tigor.


"Entahlah. Semoga saja kekhawatiran ku tidak terbukti. Oh ya, Paman. Jangan lupa untuk mengirim orang-orang untuk menjaga keluarga Pak Burhan dan juga keluarga Karman. Aku akan pergi dulu!"


"Apakah anda tidak ingin makan malam dulu, Ketua?" Tanya Ucok.


Joe hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian, segera meninggalkan ruangan itu.


Tak berapa lama, sepeda motor BMW S1000RR mengaum dengan keras dan seperti kesetanan melaju kencang meninggalkan area Restoran tersebut.


Bersambung...