Joe William

Joe William
Karman seperti gergaji



Kriiiing


Kriiiing..!


Suara deringan telepon seluler, menghentikan perbincangan hangat antara Tigor, Ameng, Andra, Timbul, Acong dan yang lainnya.


Kini, mereka serentak memandang ke arah Tigor dengan tatapan tak sabaran agar Tigor segera menjawab panggilan tersebut.


"Angkat!" Bisik Monang kepada Tigor.


"Lama kali Abang ini. Angkat lah!"


"Sabar lah kalian! Tangan ku cuma dua!" Jawab Tigor yang langsung mengeluarkan ponselnya.


"Siapa bang?" Tanya Sugeng.


"Kawan lama mu!" Jawab Tigor sambil mengarahkan layar ponsel miliknya kepada mereka semua yang ada di situ.


"Cepat angkat bang!"


"Ini kan udah ku angkat!"


"Alah. Bukan angkat Hp mu itu. Maksud mu, cepat jawab!" Ucok tampak tidak sabaran.


Sambil tersenyum, Tigor segera mengusap layar ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Carmen Bond!" Kata Tigor ketika panggilan itu terhubung.


Yang lain mulai merapatkan diri ke arah Tigor. Mereka ingin ikut mendengarkan obat apa yang akan dijual oleh Karman ini. Karena, sudah menjadi kebiasaan bagi Karman, jika ada berita, tidak lupa dia akan membumbui cerita tersebut dengan berbagai macam rempah agar terdengar enak.


"Bang. Honor Miller telah tiba di Martins Hotel Tasik Putri dengan selamat dan dalam lindungan Tuhan yang maha esa!" Lapor Karman di seberang sana.


"Hanya itu berita yang ingin kau sampaikan?" Tanya Tigor dengan pertanyaan yang bernada ejekan.


"Woi Bang! Kau jangan menyepelekan Agen rahasia Mr. Carmen Bond 070. Itu tadi hanya berita sampah yang sudah basi dan tidak bisa dipanaskan lagi," jawab Karman dengan ngotot.


"Baiklah Mister Carmen Bond 070 yang terhormat. Saya percaya kepada anda. Sekarang, katakan kepadaku, berita apa yang akan anda sampaikan!" Pinta Tigor sambil sedikit cengengesan.


"Nah. Begitu lebih baik. Itu artinya, anda menghormati profesi saya sebagai mata anda di sarang musuh. Anda tau bagaimana caranya merawat mata kan? Jangan sampai mata anda kelilipan kapal selam. Bisa berabe urusan,"


"Woy Karman sialan. Kau mau menyampaikan berita atau mau mengolok-olok aku hah?" Maki Tigor.


"Hahaha. Ok. Kita tudepoin aja. Kesepakatan antara Marven dan Honor Miller telah tercapai dengan Honor Miller memegang saham di Martins Group sebesar 60%. Dengan begitu, Honor Miller bisa membuka cabang dan apa saja usaha yang ingin dia kembangkan menggunakan nama Martins Group. Kesepakatan itu bernilai satu Milyar Dollar,"


"Apa? Apa dia sudah gila? Nilai pasar perusahaan itu tidak sampai seratus juta. Bagaimana dia berani membayar 10 kali lipat dari harga perusahaan itu seluruhnya?" Tanya Tigor dengan mata terbelalak.


"Yang itu aku tidak tau. Abang pikirkan saja lah sendiri. Tapi yang jelas, aku melihat adanya kelicikan pada Honor ini. Dia hanya ingin memanfaatkan nama Martins Group. Jika terjadi hal-hal yang akan berdampak terhadap nama baik, maka nama baik Martins Group lah yang akan rusak. Sementara Arold Holding Company, akan aman-aman saja!" Jawab Karman.


"Hmmm... Baiklah. Sepertinya aku akan mendapatkan jawaban dari ketua tentang hal ini. Kau teruskan mengawasi mereka. Aku akan menemui Ketua," kata Tigor. Namun sebelum dia mengakhiri panggilan, kata-kata terakhir dari Karman membuatnya geleng-geleng kepala.


"Ah. Sialan sekali kau ini, Karman!"


Tigor hanya manyun saja ketika Karman terbahak-bahak sambil mengakhiri panggilan.


"Apa katanya bang?" Tanya Ucok penasaran.


"Apa lagi kalau bukan uang."


"Hahaha. Karman ini persis seperti gergaji. Maju mundur sama saja. Sama-sama makan!" Cibir Andra yang diikuti oleh gelak tawa semua orang yang berada di tempat itu.


"Aku harus menghubungi ketua. Semua informasi yang diberikan oleh Karman harus dibahas. Malam ini kita akan berangkat ke kota Batu menemui anak senget itu!" Kata Tigor sambil mencari-cari nomor kontak Joe di daftar kontak nya.


Tut... Tut... Tut...!


Hening seketika. Kini mereka kembali fokus untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Tigor dengan Joe William.


"Hallo, Paman!" Terdengar suara seorang pemuda di seberang sana.


"Ketua. Apakah anda sibuk?"


"Iya Paman. Saat ini aku sedang sibuk. Ada apa, Paman?" Tanya Joe.


"Ada hal yang akan saya sampai kepada anda. Malam ini kami akan berangkat ke kota batu!"


"Baiklah, Paman. Tunggu saja di Tower Classic Restauran. Aku akan datang ke sana. Saat ini aku sedang sibuk mulung botol plastik. Aku tidak sengaja menyenggol pot bunga orang. Sekarang ini orangnya meminta ganti rugi. Sudah dulu ya Paman! Sampai ketemu di Tower Classic Restauran!" Kata Joe yang langsung mengakhiri panggilan.


Sekali lagi orang-orang yang berada di ruangan itu membulatkan matanya saat mendengar pengakuan dari Joe tadi.


"Apa yang dilakukan anak itu, Bang?" Tanya Ameng.


"Entahlah. Kadang aneh-aneh saja kelakuan Joe ini. Malah menjadi pemulung," saat ini rambut Tigor benar-benar acak-acakan memusingkan kelakuan Joe ini.


"Pasti ada alasannya, Bang,"


"Ya. Semoga saja. Tapi, apapun alasannya, kurang kerjaan betul dia sampai menjadi pemulung botol plastik,"


"Kenapa kita heran, Bang? Bukankah dari dulu anak itu memiliki kelainan?!" Kata Acong pula.


"Aku masih ingat dulu ketika mobil ku ditabrakkan ke pohon kelapa. Biarkan dia sesukanya bang. Asalkan dia bahagia, dan tidak menyusahkan kita," kata Jabat menahan tawa.


"Hahahaha..!" Tigor akhirnya tertawa juga mendengar perkataan dari sahabat-sahabat. Memang sudah tidak mengherankan lagi. Mereka sudah sering mendengar dan melihat sendiri keanehan dari Joe ini. Terkadang dia jenius. Terkadang dia serius. Tapi, jika penyakit usilnya kambuh, bisa pusing satu kelurahan gara-gara ulah nya.


"Ok. Kalian kembali lah. Pukul 5 kalian harus sudah di sini! Kita akan bersama-sama berangkat ke kota Batu!" Kata Tigor memberi perintah.


"Siap bang!" Jawab mereka serentak. Lalu, mereka pun membubarkan diri dan akan kembali lagi pukul 5 sore untuk berangkat ke Tower Classic Restauran menemui Joe.


Bersambung...