Joe William

Joe William
Menjadi gelandangan



Setelah pintu pagar di buka, kini Jackson dan Kenny berjalan melewati pekarangan rumah besar milik keluarga Regnar ini. Tiba di pintu, kedua anak dan ayah ini di sambut dengan tangisan oleh Diana.


"Kau tidak sendirian Kenny?" Tanya Diana di sela-sela tangisannya.


"Tidak Bu. Aku datang bersama dengan Ayah. Jujur saja bahwa Ayah lah yang mempunyai inisiatif dan yang akan membayar semua tunggakan gaji karyawan di proyek bangunan itu. Ibu kan tau sendiri. Berkat kolaborasi antara ibu, Tuan Paul dan keluarga Miller, semua proyek yang tadinya akan digarap oleh William Group, menjadi mentah di tengah jalan. Beruntung perusahaan induk yaitu Future of Company terlalu tangguh untuk menutupi kerugian yang dialami oleh William Group dan merotasi putaran keuangan dengan baik. Seharusnya ibu berbangga diri telah membuat aku tidak mempunyai wajah ketika berhadapan dengan sepupu ku Jerry William." Kata Kenny sambil menghela nafas dalam-dalam.


Diana yang tadi menangis menjadi semakin menangis mendengar kesulitan yang dihadapi oleh Kenny akibat dari ketamakannya tersebut.


Kini menyesal juga sudah tidak berguna lagi. Ini karena nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa lagi kembali menjadi nasi. Kecuali buburnya di jual dan uang nya dibelikan ke beras kemudian dimasak sekali lagi agar menjadi nasi.


"Sudahlah Kenny. Kau jangan menambah beban penderitaan Ibu mu."


"Begini saja Diana, dan anda kakak ipar Frank. Aku sanggup membayar semua tunggakan kalian terhadap para karyawan itu. Tapi, untuk membantu kalian agar tidak mengalami kebangkrutan, itu diluar kemampuan ku. Oleh karena itu, kalian harus menanggung sendiri. Apa yang kalian tanam, itu jualah yang kalian petik."


"Tadi kau mengatakan bahwa kau butuh 250 ribu dollar kan? Ini uang nya dan segeralah bayar kepada mereka agar kalian tidak digeruduk oleh ratusan orang yang telah membanting tulang di proyek yang kalian kerjakan itu." Kata Jackson William sambil menyerahkan dua buah tas koper berukuran sedang kepada Frank dan Diana.


"Tolonglah Jackson. Kau adalah mantan suami ku. Walaupun kita sudah berpisah, namun tidakkah kau memiliki rasa kasihan. Sebentar lagi kami akan jadi gelandangan."


"Kenny. Tolong ibu nak!" Pinta Diana sambil meratap.


Kenny hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sebelum berucap.


Saat ini dia benar-benar dalam dilema yang besar. Di satu sisi dia tidak tega terhadap ibunya ini. Tapi di sisi lain, sesekali ibunya ini harus diberi pelajaran agar kelak tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.


"Bu. Sejujurnya aku juga tidak sampai hati membiarkan keluarga Regnar ini bangkrut. Tapi Bu, siapa lah aku? Aku adalah seorang CEO yang lemah. Sama sekali tidak kompeten. Aku masih duduk di posisi ku saat ini adalah atas kebaikan Jerry. Jika tidak, mungkin aku hanya akan menjadi pesakitan di rumah. Apa yang aku miliki Bu? Rumah milik ku adalah pemberian mertua. Sementara kakek William tidak menghendaki ibu berada di Villa keluarga William. Apa lagi yang bisa aku lakukan. Mohon maafkan aku Bu." Kata Kenny.


Tampak air mata menetes di pipi lelaki setengah baya itu.


"Jackson. Tidakkah sedikitpun kau mengenang masa-masa kita dulu? Kita telah menjalin hubungan pernikahan hampir tiga puluh tahun. Apakah kau tega melihat ku menjadi pengemis di jalanan?" Tanya Diana berusaha untuk menggugah hati mantan suaminya itu.


"Diana. Sekali lagi aku mohon maaf. Orang buta saja menolak untuk jatuh ke dalam lobang yang sama sebanyak dua kali. Apa lagi aku yang celik ini. Aku kira hanya ini saja yang bisa aku lakukan. Sekali lagi maafkan aku."


"Ayo Kenny kita pulang!" Ajak Jackson lalu bergegas melangkah pergi menuju mobilnya.


"Jackson. Tolong aku. Kau tidak boleh melakukan itu terhadap ku. Aku ini adalah mantan istri mu. Ibu dari anak mu. Jackson...!" Jerit Diana.


"Sudah lah Diana. Jangan kau paksakan. Keadaan mereka juga lemah di dalam keluarga William. Beruntung Jerry masih terus menerus memberikan dukungan. Jika tidak, keluarga William ini sudah lama bangkrut. Kau sendiri tau itu. Karena kau punya andil besar dalam kejatuhan keluarga William itu." Kata Frank sambil menarik tangan adiknya itu.


Diana hanya bisa menangis sejadi-jadinya di depan pintu. Meratapi nasibnya yang buruk. Kini dia harus memetik apa yang selama ini dia tanam. Memang menyakitkan. Tapi itu lah kenyataan.


*********


Dengan dua kali tunggakan dan setelah notis dikeluarkan namun tidak ada upaya dari mereka untuk melakukan pembayaran yang tertunggak, maka dengan ini pihak bank menyatakan penyitaan mereka terhadap aset, properti dan barang-barang milik Frank dan Diana.


Mereka di paksa keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa selain pakaian buruk yang mereka pakai.


Bahkan, untuk mengenakan alas kaki mahal sekalipun mereka tidak dibenarkan.


Rencananya, pihak bank akan melelang seluruh aset milik keluarga Regnar ini. Dan andai hasil dari pelelangan nanti tidak mampu untuk menutupi hutang mereka. Maka mereka berdua terpaksa dihadapkan pada hukuman penjara.


Dengan hati hancur dan penyesalan yang menumpuk bagaikan gunung Everest, Diana dan Regnar pun keluar meninggalkan rumah yang memiliki berjuta kenangan itu.


"Ayah. Maafkan kami kedua anak mu yang tidak berbakti ini. Keluarga kita hancur di tangan kami. Maafkan aku Ayah." Kata Diana sambil meratap di luar pintu pagar rumah tersebut.


"Sudahlah Diana. Sekarang ayo kita cepat-cepat pergi dari tempat ini sebelum kita lebih dipermalukan lagi." Ajak Frank sambil menarik tangan adiknya itu.


Mereka tidak tau harus tinggal di mana malam ini. Harapan mereka adalah Kenny. Sementara Kenny sudah menolak secara langsung permohonan dari ibu dan pamannya tersebut. Sementara itu Frank adalah lelaki impotensi yang tidak memiliki keturunan. Dia bahkan ditinggal minggat oleh istrinya yang memilih menikah dengan lelaki lain.


Kedua kakak beradik itu kini persis seperti kucing kurap yang berjalan terseok-seok menanggung malu karena jadi bahan tontonan oleh di komunitas kompleks elite itu.


Di kejauhan tampak seorang pemuda berkulit hitam legam di dampingi oleh beberapa orang lelaki yang pantas dia sebut sebagai ayah dan kakek itu hanya memperhatikan saja dari tempat terlindung.


Sesekali pemuda berkulit hitam legam itu mengusap matanya yang berair. Hal ini tidak luput dari perhatian lelaki yang berdiri dibelakangnya.


Mereka itu adalah Joe William, Jackson William, Tuan Syam, Drako, Kenny William, Daniel, Ryan, Riko, Arslan, Herey, Leo dan Black serta empat orang wanita muda.


"Ada apa denganmu Joe?" Tanya Drako.


"Ah. Tidak apa-apa kek. Aku bersedih untuk kesedihan paman Kenny." Kata Joe sambil terus menatap ke arah dua orang yang berjalan semakin menjauh itu.


"Kakek Syam. Tiga hari dari sekarang, kumpulkan mereka bersama dengan Tuan Paul. Aku akan memimpin rapat dan akan menunjukkan kepada mereka apa itu arti kesetiaan dan kekeluargaan. Tapi sebelum itu biarkan mereka merasakan bagaimana pedihnya tidur di kaki lima."


"Untuk Paman Kenny, maafkan keponakan mu ini." Kata Joe membungkuk dalam-dalam.


"Senior Black, kirim dua orang. Untuk mengikuti mereka. Jangan biarkan ada yang mengganggu nenek Diana dan Kakek Frank!" Kata Joe lalu melangkah menuju ke mobil Rolls-Royce milik Tuan besar Smith yang beberapa hari ini digunakan untuk kendaraannya.


"Baik Tuan muda." Kata Black lalu segera menelepon dan memberikan tugas kepada anak buahnya untuk membuntuti kedua Regnar bersaudara itu.


Bersambung...