Joe William

Joe William
Bisnis gila Marven dan Honor



...Kompleks elite Tasik Putri...


Di rumah besar milik mendiang Martin, Marven tampak duduk dengan kedua kakinya dinaikkan di atas meja. Di antara jepitan ibu jari dan ujung telunjuknya, tampak sebatang cerutu yang mengepulkan asap.


Di ujung meja dekat kakinya, tampak dua buah koper terbuka, sehingga memperlihatkan isinya. Ada banyak uang di sana!


"Kau lihat itu, Mr, Carmen Bond?! Tidak sulit untuk menjadi kaya!" Ujarnya sambil tertawa.


Sementara itu, lelaki berpakaian dari atas sampai ke bawah serba hitam hanya manggut-manggut saja. Sedikitpun dia tidak menjawab. Tapi, ada tatapan licik dari sorot matanya.


Marven menurunkan kakinya dari atas meja. Mengambil beberapa ikat uang yang berada di dalam koper tersebut, dan melemparnya kepada lelaki bernama Mr. Carmen Bond tadi, lalu berkata. "Itu untuk mu. Pergilah bersenang-senang! Cari janda di luar sana. Eh. Jangan janda. Kalau bisa, gadis ting-ting sekalian. Biar supaya kau tidak terlalu berkarat! Hahahaha!"


"Hahahaha..!" Yang lain ikut tertawa mendengar perkataan dari Marven tadi.


"Tuan. Kami hanya diperintahkan oleh Tuan Miller untuk mengantar uang ini kepada anda. Kelak, jika bisnis kita lancar, dan pusat hiburan Dunia gemerlap malam menghasilkan lebih banyak lagi, maka anda pasti akan mandi uang!" Salah satu dari dua lelaki yang berdiri di hadapan Marven berbicara dengan hormat.


"Hmmm. Sampaikan terimakasih ku kepada majikan mu!" Jawab Marven dengan santainya.


"Apakah Tuan mu ada berpesan?" Tanya Marven lagi.


"Ada Tuan. Tuan besar kami berpesan, agar anda bisa menjaring lebih banyak lagi pengedar. Kalau bisa, orang yang memiliki ramai pergaulan. Khususnya di kalangan remaja. Ini akan mempercepat pertumbuhan bisnis kita!"


"Hahaha. Katakan kepada Honor Miller! Itu hanya masalah sepele. Baiklah! Aku sendiri yang akan bergerak untuk menjaring banyak anggota. Tasik Putri ini adalah kepunyaan ku. Kalian tidak perlu khawatir!" Jawab Marven sambil tertawa.


"Baiklah, Tuan Marven. Kalau begitu, kami permisi dulu!" Kata mereka, lalu segera meninggalkan ruangan tersebut.


Begitu kedua orang suruhan Honor tadi pergi, kini Marven seperti orang gila. Dia berdiri, menumpahkan uang di atas meja, lalu menghamburkan uang tersebut sambil tertawa terbahak-bahak.


"Irfan! Kau lebih tau siapa yang bisa kau ajak untuk dijadikan anak buah,"


"Hahaha. Abang jangan khawatir. Aku memiliki banyak kandidat yang pas untuk dijadikan anjing yang akan setia menjilat kepada mu. Malam nanti, aku akan menemui si Panjol. Dia ada seorang anak lelaki bernama Dhani."


"Hah? Ternyata si Panjol punya anak. Berapa usia anaknya itu?" Tanya Marven.


"Mungkin dalam lingkungan 20 tahun lah. Dan yang paling hebatnya lagi, anaknya si Panjol ini adalah ketua dari geng motor Cobra. Pokoknya pas lah si Dhani ini kita rekrut, jika sasaran kita adalah anak-anak muda!" Kata Irfan yang sejak tadi ikut senang melihat kegilaan yang dipertontonkan oleh Abang tiri haramnya itu.


"Hahaha. Kau ternyata sangat bisa diandalkan. Aku semakin menyukaimu. Hahaha. Aku serahkan semuanya kepadamu. Malam ini kau boleh keluar menemui anak si Panjol itu!"


"Oh ya. Masukkan kembali uang ini. Aku ingin menemui kakak ipar mu. Sudah waktunya kita mengembalikan keluarga ini menjadi keluarga yang terhormat. Dengan uang, tidak akan ada lagi yang memandang kita dengan sebelah mata!" Marven lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruangan lain di rumah besar milik mendiang Martin itu.


...*********...


...Di salah satu club' malam, Kota Batu....


Mobil yang dikendarai oleh Irfan berhenti tepat di pusat hiburan yang dikelola oleh Panjol. Tujuan kedatangan Irfan sudah jelas. Yaitu, untuk mengajak Dhani bin Panjol untuk dijadikan sebagai kacung dalam penyaluran obat-obatan terlarang di kota batu ini.


Tiba di pintu masuk club' malam tersebut, Irfan segera disambut dengan hormat oleh Dhani dan kawan-kawan satu geng nya.


"Wah wah wah. Ada angin apa yang membawa paman Irfan ke Club rongsok milik kami ini?" Tanya Dhani dengan ekspresi terkejut.


"Hahaha. Kau dan ayah mu sama saja. Sangat pandai berbasa-basi. Di mana ayah mu sekarang?" Tanya Irfan.


"Ayah ku tadi ada. Mungkin dia sedang bersantai di ruangannya!"


"Bawa aku menemui Ayah mu! Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Kau juga ikut sekalian!" Kata Irfan.


"Wah. Sepertinya paman Irfan ingin bagi-bagi rejeki nih!"


"Bukan hanya rejeki. Lebih dari itu. Lekas lah! Aku sangat sibuk!" Paksa Irfan dengan yang menandakan bahwa dia sudah tidak sabaran.


"Oh. Maaf paman. Maaf telah membuang waktunya. Lewat sini, Paman!" Dhani segera mendahului dengan diikuti oleh Irfan, dan teman-teman geng Cobra lainnya.


"Di sini ruangan milik ayah ku. Silahkan Paman!"


"Baik, Paman!"


Tok tok tok..! "Ayah. Ini aku Dhani. Ada tamu spesial yang mengunjungi club' malam kita!" Teriak Dhani di depan pintu.


"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam.


Begitu pintu di buka..., " Hei Fan! Kau rupanya!"


"Hahaha. Boleh aku masuk?!"


"Oh. Tentu..! Tentu saja boleh. Ayo silahkan!" Ajak Panjol yang langsung berjalan ke arah pintu menyambut kedatangan tamunya tersebut.


"Bagaimana? Ku lihat wajah kau ini berseri-seri saja?"


"Iya lah. Aku punya kabar bagus!" Kata Irfan. Dia lalu menceritakan semuanya kepada Panjol termasuk niatnya yang ingin merekrut Dhani dan kawan-kawannya untuk menjadi bagian dari bisnis haram yang sedang dijalankan oleh Honor dan Marven.


"Hmmmm...!" Panjol tampak mengurut dagunya mendengar penuturan dari Irfan tadi, lalu berkata. "Ini ladang uang!"


"Jelas lah ini ladang uang. Jika dulu Birong bisa membesarkan geng Tengkorak hasil dari dia memperdagangkan barang ini, sekarang kita bisa jauh lebih besar. Karena apa? Karena, pabriknya ada di tempat kita sendiri. Di ruang tersembunyi bawah tanah pabrik ikan sarden, ada satu ruangan khusus untuk penelitian, dan memproduksi kristal biru ini. Ini sepuluh kali lipat dari yang biasa dilakukan oleh mendiang Birong dulu. Apa kau tidak tertarik?" Tanya Irfan sambil menaikkan alis matanya.


"Gila kah? Jelas lah aku tertarik!" Jawab Panjol.


"Kau, Dhani?" Tanya Irfan seraya melirik ke arah anak muda putra Panjol ini.


"Aku juga tertarik. Dari dulu aku mendambakan pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang seperti ini. Kapan lagi aku biasa membeli mobil seperti Pajero sport?" Jawab Dhani antusias.


"Pajero sport? Kalau hanya itu, sekarang pun bisa kau beli. Jangan bikin malu kau Dhani. Mengapa tidak Ferrari sekalian?" Cibir Irfan dengan senyum mengejek.


"Haaaaaah? Apakah bisa?" Tanya pemuda itu tidak percaya.


Plak!


Tampak sesuatu dilemparkan oleh Irfan ke atas meja.


"Tugas pertama mu, edarkan obat itu di kalangan anak muda. Beri mereka gratis untuk pertama kalinya. Setelah itu...., Hahahahaha. Kau tidak perlu diajarkan lagi, bukan?"


"Coba aku lihat, Paman!" Kata Dhani sambil mendekatkan dirinya ke arah meja.


"Ini barang bagus!" Puji pemuda itu dengan mata berbinar.


"Tidak sampai tiga bulan, kau akan dapat Ferrari. Percayakan padaku. Masalah polisi, Bang Marven sudah memiliki orang dalam. Dia adalah polisi paling senior di kota batu ini. Kau mungkin kenal dengan Ferdy kan?"


"Iya, Paman. Aku tau polisi senior ini. Tapi, bagaimana dengan AKBP Rio?"


"Benar, Fan! AKBP Rio ini terkenal sebagai polisi yang sangat jujur. Tidak mempan di suap!"


"Tidak perlu memegang dua orang. Jika Ferdy bisa kita manfaatkan, maka Rio tidak akan bisa berkutik!" Kata Irfan penuh keyakinan.


"Baiklah. Aku setuju, dan akan ikut perintah dari Paman!"


Prok!


"Kau memang pintar dan cepat tanggap. Bagus! Mulailah bekerja dengan baik!" Kata Irfan sambil menepuk pundak pemuda itu.


"Jol! Aku pergi dulu! Ada banyak pekerjaan yang menantiku!"


"Baiklah Fan. Club' malam ku ini bisa menjadi muara kedua selain pusat hiburan Dunia gemerlap malam di Tasik Putri!"


"Siap!" Kata Irfan, lalu segera berdiri dan meninggalkan ruangan pribadi Panjol dengan diantar oleh Panjol sendiri.


Bersambung....