
Konvoi kendaraan mewah Rolls-Royce bergerak cepat dari pelabuhan Pinggir laut Country home langsung menuju Starhill City.
Tiba di Starhill, rombongan itu berbelok ke kiri memasuki Lotus Road lalu langsung tancap gas menuju Mountain Lotus tepatnya kantor besar Future of Company yang terletak pertengahan antara Hotel teratai dan Lotus Mansion.
Di tengah-tengah barisan konvoi mobil mewah itu tampak satu unit mobil super sport Pagani huayra yang dikendarai oleh Jerry William yang didampingi oleh Clara Drako.
Setelah rombongan ini berhenti di sebuah bangunan mewah lima belas lantai, tampak dari mobil Rolls-Royce itu berkeluaran para lelaki berbadan tegap membuat barisan lalu beberapa dari mereka langsung membukakan pintu untuk mobil super sport Pagani huayra tersebut dan kini, Jerry dan Clara keluar dari dalam mobil itu dengan di payungi oleh beberapa lelaki tegap.
Di belakang mereka ada R2D, Arslan, Herey dsn yang lainnya berjalan menuju pintu masuk kantor besar tersebut.
Sementara itu di dekat pintu telah menunggu Tuan Barry dan Ronald beserta jajaran staf lainnya dalam perusahaan itu.
"Selamat kembali Tuan besar." Kata Tuan Barry menyapa dengan hormat.
"Terimakasih Tuan Barry dan Paman Ronald. Oh ya, bagaimana perkembangan Garden Hill?" Tanya Jerry.
"Silahkan masuk Tuan besar." Kata Ronald mempersilahkan lalu sambil berjalan, mereka pun membahas tentang suntikan dana yang telah mereka berikan kepada perusahaan nyaris bangkrut Garden Company itu.
"Hmmm... Memang saatnya sudah sampai untuk kita selangkah lebih maju. Arold Holding Company ini sudah terlalu banyak merugikan William Group ku. Jika ingin bermain kasar, maka aku jauh lebih bisa dibandingkan dengan mereka." Kata Jerry sambil duduk di kursi kerjanya.
"Mereka masih belum menyerah Tuan. Beberapa orang anak-anak yang kita tempatkan di Garden Hill melaporkan bahwa Paul masih melobi pemerintah daerah setempat untuk meluluskan proyek pembangunan pusat hiburan malam, kasino dan hotel. Aku khawatir ini hanya dalih saja untuk bersaing dengan kita nantinya." Jelas Tuan Barry.
"Oh, begitukah? Paul.., Paul. Di kasih hati malah minta jantung." Kata Jerry dengan senyum yang sangat menyepelekan.
"Paul ini masih ingin membalas dendam kepada kita Tuan. Mungkin dia menyangka bahwa kematian Anton putranya dulu adalah karena kita." Kata Ronald.
"Terserah dia mau berfikir seperti apa. Biarkan saja. Tapi jika keterlaluan, aku akan membuat hidupnya sama persis seperti Jimmy dan Jessica. Mati dengan cara mengenaskan. Jika kemarahan ku sudah di usik, dia tidak akan kuat untuk membendungnya. Kemana dia akan lari? Terlalu sempit bumi ini baginya." Jawab Jerry masih dengan senyum yang sulit untuk diartikan.
"Pantau terus pergerakan mereka itu Tuan Barry!"
"Baik Tuan besar. Namun kemarin, kabar yang aku dengar banyak dari orang-orang dari kompleks rela estate MegaTown berangkat ke Indonesia. Aku khawatir ada yang mereka cari di sana." Kata Tuan Barry menjelaskan.
"Ke Indonesia?"
"Benar Tuan besar. Aku curiga keberangkatan mereka kali ini ada hubungannya dengan Tuan muda. Kemungkinan terbesar adalah, mereka ingin melacak keberadaan Tuan muda lalu menjalin kerjasama dengan mantan anggota geng tengkorak dan geng kucing hitam. Bukankah menurut kebiasaan, mereka selalu merekrut dan bekerjasama dengan orang-orang yang selalu bermusuhan dan berseberangan dengan kita?!" Kata Tuan Barry menjelaskan kekhawatiran nya.
"Hmmm. Jika begitu, berarti Joe dan Tigor akan menghadapi masalah. Tapi aku yakin Tigor bisa mengatasi ini. Sementara Joe, aku percaya bahwa anak itu jauh lebih sadis dari aku. Biarkan saja. Itu bukan masalah besar. Hanya saja, Tigor perlu diberitahu tentang masalah yang bakal dia hadapi." Kata Jerry.
"Baiklah Tuan Barry dan Paman Ronald. Mari kita fokuskan dulu terhadap Garden Company ini. Masalah lain, aku akan membicarakannya dengan Tigor." Kata Jerry.
"Baiklah Tuan besar. Jika begitu, kami pamit dulu." Kata Mereka lalu bergegas keluar meninggalkan ruangan kerja Jerry William ini.
*********
Ketika dia sedang duduk di kursi ruang tamu di rumahnya dengan ditemani oleh Mirna, tiba-tiba ponselnya berdering. Lalu dengan sedikit malas menatap ke layar ponsel miliknya itu.
"Tuan besar." Gumamnya membuat Mirna yang duduk di sampingnya juga melirik ke arah Tigor.
"Hallo Tuan besar. Anda menelepon saya?" Tanya Tigor membulat basa-basi nya.
"Gor. Apakah kau sedang berada di kota Kemuning?" Tanya lelaki yang disebut oleh Tigor dengan panggilan Tuan besar itu.
"Benar Tuan besar. Ada apakah?" Tanya Tigor penasaran.
"Gor. Saat ini lawan bisnis kita sedang menjejaki putra ku dan juga sisa-sisa musuh kita yang tersisa dari geng kucing hitam dan Geng tengkorak. Aku menduga bahwa saat ini mereka sedang berkeliaran di beberapa kota. Kau bisa mengerahkan anak buah mu untuk memata-matai sisa-sisa dari organisasi yang telah hancur itu. Patahkan sebelum bertunas!"
"Saya mengerti Tuan besar. Oh ya. Apakah Tuan muda harus di beri tahu?" Tanya Tigor.
"Ajak dia sekalian untuk membantu mu atau kau yang membantu dia. Libatkan saja anak itu! Ini pelajaran pertama baginya dan sekaligus mengasah mentalnya supaya lebih serius dan tidak hanya bermain-main lagi seperti anak kecil."
"Libatkan juga dia supaya dia tau atas alasan mengapa aku mengasingkan dirinya. Seiring berjalannya waktu, dia akan belajar dari pengalaman." Kata Tuan besar itu.
"Baiklah Tuan besar. Sekarang juga saya akan mengerahkan anak buah saya untuk melacak keberadaan orang asing ini. Sekaligus selalu waspada terhadap segala kemungkinan. Terus terang saja bahwa Marven saat ini masih berada dalam penjara. Namun masih ada Irfan anaknya Beni yang masih bebas. Saat ini Venia dan Butet berada dalam perlindungan Irfan ini." Kata Tigor.
"Apa kau tau kapan Marven ini akan bebas?" Tanya Tuan besar itu.
"Aku masih menduga bahwa kemungkinan dia akan bebas dalam dua tahun lagi. Namun bisa lebih cepat jika dia tidak membuat masalah." Jawab Tigor.
"Begini saja Gor. Sebarkan anak buah mu di kota Batu. Larang mereka melakukan apapun aktivitas. Karena aku ingin agar mereka ini fokus memantau si Marven ini."
"Jika ingin menebang pohon, biar sampai ke akar-akarnya. Ketika Marven ini bebas, habisi mereka semua sebelum mereka sempat mengatur rencana!"
"Siap Tuan besar." Kata Tigor.
"Baiklah. Atur segera. Aku akan mengakhiri dulu panggilan ini." Kata lelaki yang disebut Tuan besar itu, kemudian mengakhiri panggilan telepon.
"Ada apa Bang?" Tanya Mirna.
"Lawan bisnis Tuan Jerry sudah memasuki kota Kemuning dan beberapa kota lainnya untuk mengumpulkan sisa-sisa geng tengkorak dan geng kucing hitam. Aku harus memerintahkan anak buah ku untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan." Jawab Tigor.
"Oh. Hati-hati bang!" Kata Mirna berpesan.
"Aku keluar dulu ya sayang. Kau di rumah saja." Kata Tigor lalu mengelus pipi istrinya itu sebelum keluar meninggalkan rumah.