
...Kota Tasik Putri...
Di salah satu rumah milik mendiang Beni yang terletak di pinggiran Kompleks elite, seorang lelaki setengah baya tampak sedang menerima dua orang tamu asing yang hari itu sengaja mengunjungi rumah peninggalan mendiang Beni itu.
Selepas kejadian mengerikan di kota batu yang merenggut sangat banyak korban, termasuk Birong, Beni, Togi dan Strongkeng serta ratusan bahkan ribuan nyawa, dan menyebabkan Marven dan Tigor ketua dua kubu yang saling bertentangan ini masuk penjara, ada satu orang yang sama sekali tidak terlibat. Ini karena ketika itu dia tidak berada di tempat kejadian. Nama orang ini adalah Irfan.
Diketahui, bahwa setelah peristiwa itu, Irfan langsung menuju ke tempat kejadian dan langsung membawa Butet Istri dari Marven dan Venia yaitu cinta pertama Ayah nya yang yang juga adalah Ibu dari Marven yang ketika itu dilanda gangguan mental akibat kejadian mengerikan itu ke rumah milik mendiang ayahnya.
Dengan sisa-sisa kejayaan yang dia warisi dari Ayahnya, mereka akhirnya dapat bertahan pasca di tinggal tulang punggung dalam keluarga serta ketua dari organisasi kucing hitam yang ikut hancur dalam peristiwa itu. Atas kejadian ini juga lah dia dapat mengetahui bahwa ternyata Marven adalah buah cinta dari Venia dan mendiang Ayah nya. Berarti, antara dia dan Marven adalah saudara satu Ayah, tapi lain Ibu.
Bagi Venia dan Butet sendiri, beruntung bagi mereka bahwa Irfan tidak turut menjadi korban dalam pertempuran dua kekuatan besar itu. Andai Irfan turut terkorban, maka habis lah sudah harapan mereka. Karena untuk mengharapkan Marven yang menjalani hukuman dua puluh tahun penjara adalah sesuatu yang sia-sia.
Dengan bantuan dari Debora yang akhirnya menjadi Istri Irfan, mereka berdua mengirim Venia dan Butet ke pusat rehabilitasi mental dan selama hampir dua tahun, akhirnya mereka berdua pulih sepenuhnya dan menunggu sampai pada waktunya Marven selesai menjalani masa hukumannya.
...***...
"Silahkan Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Irfan kepada kedua warga negara asing itu.
"Oh. Maaf sebelumnya jika kehadiran kami mengganggu ketenangan anda Tuan. Perkenalkan! Nama saya adalah Bruno dan ini adalah rekan saya bernama Douglas. Kedatangan kami kesini adalah memenuhi perintah dari Tuan kami yaitu Adolf Miller untuk bertemu dengan seseorang bernama Tuan Marven. Apakah beliau ada?" Tanya lelaki bernama Bruno itu.
"Oh. Ah. Sebaiknya kita bicara di dalam saja Tuan Bruno dan Tuan Douglas." Kata Irfan mempersilahkan kedua tamunya tersebut.
"Terimakasih kasih En.Irfan. terimakasih." Kata lelaki itu berulang kali menunduk hormat sambil membuka topi nya.
"Silahkan duduk Tuan-tuan berdua. Saya akan meminta istri saya untuk menyuguhkan minuman." Kata Irfan sambil memberi kode kepada Debora.
"Maaf sebelumnya Tuan. Jika saya diperbolehkan untuk mengetahui, sebenarnya apa tujuan dari tuan-tuan berdua ini dan dari mana tuan-tuan berdua ini mengetahui tentang keluarga kami? Dan juga, dari mana kah Tuan-tuan ini berasal?" Tanya Irfan penuh selidik.
Mengingat apa yang dulu pernah menimpa di keluarganya, Irfan saat ini sangat berhati-hati dalam bersikap, bertindak dan penuh selidik terhadap mereka yang tidak dia kenal. Ini karena dia tidak ingin, sedikit saja kesalahan yang dia lakukan dapat berakibat buruk terhadap dirinya. Jika dia ditimpa masalah, maka sudah dapat dipastikan tiga orang wanita ini akan menjadi gelandangan.
"Ah. Ternyata En.Irfan sangat berhati-hati. Baiklah. Saya akan mewakili sahabat saya ini untuk memberikan informasi tentang identitas kami. Dari mana kami berasal dan apa tujuan kami mencari orang yang bernama Marven ini."
"Arold Holding Company? Tentu saja saya pernah mendengar nama perusahaan ini. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa Tuan Besar kepala keluarga dari keluarga Miller ini bisa tau dan memberikan perhatian khusus kepada kami. Saya harap Tuan dapat menjelaskan semuanya secara detail agar saya tidak merasa bingung." Kata Irfan.
"Sebenarnya kisahnya sangat panjang En.Irfan. namun saya akan coba mempersingkat."
"Puluhan tahun yang lalu telah terjadi persaingan bisnis oleh seorang Tuan besar Arold Miller the great melawan empat kekuatan besar di Metro City. Negara yang sama dengan dengan MegaTown yaitu negara Abcdefg."
"Permusuhan ini ternyata tidak hanya sebatas Tuan besar Arold Miller melawan empat perusahaan di Metro City itu. Melainkan merambat hingga sampai ke anak cucu. Menurut beberapa penelitian yang dilakukan oleh atasan kami bernama Tuan Paul, sekitar tujuh belas tahun yang lalu, pemilik perusahaan Future of Company yaitu Jerry William, musuh dari perusahaan Arold Holding Company ini telah mengirim bala bantuan untuk membantu seorang bernama Tigor bagi menggempur dua organisasi yang menyebabkan perang besar terjadi di kota Batu di mana, pihak yang kalah ketika itu berada di pihak Tuan yang bernama Marven ini."
"Oleh karena itu, Tuan kami menganggap bahwa kita memiliki musuh yang sama dan berniat untuk mengulurkan bantuan serta berniat untuk mengembalikan kestabilan dalam keluarga anda. Termasuk menanam modal di perusahaan milik Tuan Marven ini yang konon katanya mati suri akibat tertangkapnya sang pemilik. Oleh karena itu lah kami berdua di kirim ke sini bagi meninjau keadaan serta menjalin kesepakatan kerja sama antara Tuan Marven ini dengan perwakilan dari Arold Holding Company yaitu kami berdua ini." Kata Bruno menjelaskan secara panjang lebar.
"Hmmm.., ternyata begitu ceritanya." Kata Irfan sambil mengurut dagunya.
"Begini saja Tuan. Saat ini, orang yang ingin anda temui itu masih berada di dalam tahanan dan di jangka akan bebas selama dua tahun lagi."
"Mengenai tawaran kerjasama yang datang dari MegaTown ini, saya sendiri tidak dapat memutuskan. Ini karena saya pun saat ini tidak berada di dalam perusahaan yang sedang mati suri ini. Begini saja. Saya akan mengunjungi saudara saya yang bernama Marven itu di pusat penahanan di kota Batu. Setelah itu, kita bisa menjalin kerja sama. Itupun andai pihak Tuan-tuan bersabar menunggu saudara saya selesai menjalani masa tahanan nya. Bagaimana?" Tanya Irfan.
"Oh. Tidak ada masalah En.Irfan. sama sekali tidak ada masalah. Untuk saat ini, Tuan kami memang mengutamakan pendekatan terlebih dahulu. Anda tidak perlu khawatir, karena kami masih bisa menunggu sampai Tuan Marven ini bebas dari penjara."
"Baiklah En.Irfan. anda bisa merundingkan tawaran ini kepada Tuan Marven tersebut. Ini kartu nama saya. Jika beliau menyetujui tawaran dari kami, silahkan menghubungi saya di nomor yang tertera di kartu nama ini." Kata Bruno.
"Baiklah Tuan. Terimakasih atas tawaran ini." Kata Irfan.
"Hahaha. Sama-sama En.Irfan. Baiklah, jika begitu kami permisi dulu." Kata Bruno yang langsung berdiri diikuti oleh Douglas.
Setelah bersalaman, kedua orang itu pun langsung pamit kemudian meninggalkan rumah mendiang Beni itu dengan di ikuti tatapan mata yang berbinar-binar dari Irfan.
...Like nya jangan lupa!...
BERSAMBUNG....