
Bosan berada di balkon tingkat paling atas di kampus tersebut, Joe pun akhirnya bergegas menuruni tangga kemudian berjalan menuju lift yang akan mengantarnya turun ke bawah.
Setelah keluar dari kamar lift, tadinya Joe ingin langsung menuju ke arah teman-temannya untuk bergabung. Tapi sialnya, dari kejauhan, tampak tiga unit mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Beruntung bagi Joe, karena cepat menghindar dengan membuang diri ke samping lalu bergulingan di tanah berumput halus di bagian kiri kampus tersebut.
Sambil berusaha untuk duduk, Joe kini melihat tiga unit mobil itu mengelilingi dirinya sambil menekan gas sehingga suara dari ketiga mobil itupun sangat memekakkan telinga.
Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa berani ikut campur.
Ada yang melihat dengan tatapan biasa-biasa saja, ada yang melihat dengan tatapan iba, namun ada pula yang melihat dengan senyuman puas. Bagi mereka, mahasiswa miskin memang pantas mendapatkan perlakukan seperti itu.
Setelah puas mengelilingi Joe yang terduduk di tanah, akhirnya tiga unit mobil sport itu pun berhenti. Kemudian, dari salam keluar lah tiga orang pemuda didampingi dengan tiga orang gadis.
Joe kenal salah satu dari ketiga pemuda itu yang tidak lain adalah, Duff Clifford.
"Hahaha. Ternyata panjang juga nafas mu ya Joe?! Aku kira kau akan berjalan dengan menggunakan tongkat seperti dua sahabat badut mu itu. Hmmm.., ternyata kau sedikitpun tidak mengalami cedera. Hebat!" Puji Duff Clifford sambil mencibir. Bibirnya memuji. Namun hatinya merasakan kecewa karena Joe terlihat sehat walafiat walaupun tadi malam telah dikeroyok oleh orang-orang suruhannya.
"Apa maksud mu dengan cara begini, Duff?" Tanya Joe sambil berusaha untuk bangkit.
"Tetap diam ditempat mu Joe! Atau aku akan menghajar mu di sini!" Ancam Duff yang membuat Joe batal untuk berdiri.
"Katakan saja apa yang kau inginkan dari ku, Duff?"
"Ada beberapa hal yang harus kau lakukan jika tidak ingin mendapatkan hukuman dari ku. Pertama, jauhi Naomi. Yang ke dua, Jauhi juga Ruby. Karena kedua gadis itu adalah target ku. Dan yang terakhir, jangan pernah berada di hadapan ku. Karena aku tidak akan segan-segan memberikan memo agar ku dikeluarkan dari kampus ini. Mengerti?" Bentak Duff Clifford. Sementara itu, kedua sahabatnya yang lain hanya tersenyum saja melihat Joe seperti sangat tertekan dan tidak memiliki pilihan lain selain meng-iyakan perkataan dari Duff.
"Jangan terlalu lama menjawab, Joe! Katakan saja apakah kau menolak atau menerima. Jika tidak, ku hajar kau sekarang juga!" Bentak salah seorang dari teman Duff.
"Ternyata kau sudah gatal tangan, Bernard? Apakah kau ingin menghajar anak jin ini?" Tanya Duff. Dia mengatakan Joe anak jin berdasarkan ketika pertama kali masuk kuliah dan dikerjai oleh para senior. Karena, ketika itu, Joe harus mengalungkan sebuah kertas tebal di lehernya dengan tulisan, anak jin.
"Apakah aku harus menghina diriku sendiri dengan menjatuhkan tangan kasar kepada sampah seperti ini?" Tanya Bernard Shawn dengan lagak angkuh.
"Baiklah. Aku tidak ingin tindakan ini menjadi tontonan mahasiswa yang lain. Sekali lagi aku peringatkan, jangan dekat dengan kedua gadis yang aku sebutkan tadi. Atau kau akan menyesal karena pernah kuliah di kampus ini,"
Selesai berbicara dengan penuh ancaman, Duff Clifford dan kedua sahabatnya yaitu Bernard dan Reymond pun memasuki mobil mereka.
Setelah puas mengasap-asapi Joe dengan kenalpot blong di mobil mereka, ketiga unit mobil itu pun bergerak pergi menuju ke gerbang kampus kemudian hilang dari pandangan.
Joa hanya bisa mendengus dan mulai bangkit berdiri.
Setelah menepuk-nepuk bagian belakang celananya, dia lalu berjalan untuk menuju ke gerbang kampus dan di sana, tampak Tye dan Sylash sudah menunggu.
"Kau tidak apa-apa Joe?" Tanya Sylash dan Tye.
"Aku tidak apa-apa," jawab Joe singkat.
"Maafkan kami karena tidak bisa membantu. Kau lihat sendiri kan keadaan kami seperti apa?"
"Tidak masalah, Tye, dan kau Sylash. Memang lebih baik kalian berdua tidak ikut campur. Karena, itu akan memberatkan bagi kalian," jawab Joe yang memang tidak ingin kedua sahabatnya itu terlibat.
Baru saja mereka ingin pergi meninggalkan gerbang kampus itu, tiba-tiba di udara tampak puluhan helikopter menderu di udara dan langsung melintas di atas mereka dengan suara memekakkan telinga.
Semua orang baik itu mahasiswa, para sopir pengguna jalan raya, dan pejalan kaki masing-masing mendongak ke atas untuk melihat kejadian itu.
"Hei lihat itu! Mungkin ada ratusan helikopter membela angkasa Quantum City ini!" Kata mereka.
Kontan saja jalanan menjadi macet karena banyak dari mereka menghentikan kendaraan mereka hanya demi melihat ke atas.
"Demi Tuhan. Kekuatan seperti apa yang bisa memobilisasi ratusan helikopter ini untuk datang ke kota kecil seperti Quantum City ini?"
"Hei. Mengapa kau heran? Coba lihat! Rombongan helikopter itu kan mengarah ke Highland Park. Kau kan tau siapa pemilik Quantum entertainment?!" Kata salah seorang yang menjawab perkataan orang tadi.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Tuan besar Jerry William dari Starhill itu?"
Semua orang kini saling berspekulasi menurut pemikiran mereka sendiri.
Sementara itu, helikopter tadi memang sedang menuju ke arah Highland Park. Dimana, di sana berdiri villa-villa top dan puluhan pusat hiburan yang menyediakan segala jenis hiburan. Namun, hanya orang-orang berduit saja yang bisa datang ke sana.
Terlebih lagi Klasik Mansion. Sebuah bangunan mewah nan megah dan jika kita berada di Rooftop bangunan itu, terasa bagaikan berada di atas sungai.
Lantai pada Rooftop itu didesain sedemikian rupa dengan segala kemewahannya. Bahkan, konon katanya ada sungai buatan di atas bangunan tersebut dengan aliran airnya dikendalikan oleh tenaga listrik.
Tye dan Sylash tampak memijit-mijit tengkuk nya yang terasa penat karena terlalu asyik mendongak. Sampai-sampai dia lupa bahwa seekor lalat telah memasuki mulutnya.
"Apakah akan ada acara di Quantum entertainment?" Gumam Tye bertanya-tanya.
"Wah. Kalau ada acara, pasti akan sangat meriah sekali," katanya lagi.
"Kau pernah ke Highland Park itu, Tye?" Tanya Sylash.
"Jangankan aku. Ayah ku saja tidak pernah pergi ke sana," jawab Tye apa adanya.
"Suatu saat nanti kita akan ke sana. Kalian tunggulah waktunya tiba," kata Joe lalu bergegas mengajak kedua sahabatnya itu untuk pergi.
"Kemana kita, Joe?" Tanya Sylash.
"Ke kafe. Apa kau tidak mau ikut? Mumpung gratis!" Ajak Joe sambil tersenyum.
"Asalkan gratis, kau tidak perlu menawarkan dua kali, Joe! Aku sama sekali tidak menolak," jawab Sylash pula sambil membasahi bibirnya dengan lidah.
"Hahaha. Kau itu apa. Taunya gratis terus," kata Tye sambil mendorong pundak Sylash.
"Ayo. Aku haus setelah cukup lama meredam kemarahan!" Kata Joe lalu berjalan mendahului sahabatnya itu.
Dengan dibantu tongkat, Sylash dan Tye pun segera menyusul Joe yang telah mendahului.
Biarkan saja jalan tertingkat-tingkat. Asalkan itu gratis, sikat saja lah.
Like mu, penyemangat ku.
Bersambung