Joe William

Joe William
Geng Tengkorak masih ada



Bukit batu


Tidak seperti biasanya, Villa mewah milik mendiang Birong ini ramai dikunjungi oleh orang-orang yang entah darimana saja asalnya.


Setelah puluhan tahun Villa ini hanya dibiarkan begitu saja, kini sepertinya Villa ini sudah menemukan Tuan nya kembali.


Di area parkir, tampak puluhan mobil mewah terparkir. Termasuk mobil dengan plat nomor kota Tasik Putri. Dan mereka mengetahui bahwa mobil itu adalah milik Irfan.


Di dalam Villa, tampak seorang wanita paruh baya duduk dengan angkuh nya. Dia adalah Butet. Sang ahli waris tunggal dari seluruh aset yang ditinggalkan oleh Birong setelah putra satu-satunya bekas orang kuat di kota batu itu dibunuh oleh Tigor.


Tampak senyum penuh kelicikan terbersit di bibirnya.


"Kakak Tertua. Sekarang misi mu telah tercapai. Tidak sia-sia penderitaan mu selama dua puluh tahun ini!" Kata salah seorang dari orang-orang yang berkumpul di ruangan luas Villa mewah tersebut.


"Benar, Kakak Tertua. Kakak dan Irfan telah berhasil mengelabui Marven. Tanda tangan nya untuk perusahaan telah kau dapatkan. Bahkan dari beberapa bulan yang lalu. Keluarga Miller sangat berterimakasih kepada mu dan juga Irfan. Kini, adalah masanya bagi kita untuk menghidupkan kembali geng Tengkorak. Anak buah kita sudah siap di mana-mana. Mereka akan mematuhi segala perintah dari Kakak Tertua!"


"Terimakasih atas kesetiaan kalian terhadap geng tengkorak. Aku tidak melupakan itu," ujar Butet sambil tersenyum.


"Kakak sudah terlalu menderita. Sebenarnya kami tidak tega membiarkan kakak terus menerus seperti itu. Jika bukan kakak yang melarang kami, sudah pasti kami akan memboyong kakak ke bukit batu ini. Tapi, kesabaran dan kepintaran kakak dalam bersandiwara berhasil mengelabui Marven. Kami salut dengan kakak tertua!"


"Hanya Kakak Tertua lah yang tersisa dari keluarga Bang Birong. Kami akan patuh terhadap perintah dari Kakak!"


Butet bangkit berdiri dari kursinya. Sejenak dia menerawang dengan mata berkaca-kaca. Hembusan nafas berat jelas terdengar. Sejenak dia mengusap kelopak matanya dengan tisu sebelum berkata. "Dulu aku adalah salah satu gadis yang cantik dan sangat diidam-idamkan para tuan muda yang kaya raya di universitas tempatku belajar di Singapura. Entah mimpi apa yang membuat mendiang ayah dan uwak Birong memanggil aku kembali ke kota batu ini. Awalnya, aku hanya ditugaskan untuk menjebak Marven dan Tigor. Tapi tidak ku sangka justru aku yang terjebak. Dua orang manusia laknat itu menyebabkan masa depan ku hancur berantakan." Kata Butet. (Dua orang yang dimaksudkan oleh Butet adalah Karman dan Marven)


Butet berhenti sejenak. Dia kembali mengusap kelopak matanya dan melanjutkan. "Kedua orang itu menjebak ku di sebuah restoran di gang Kumuh. Mereka menaruh obat di dalam minuman ku lalu terjadilah yang seharusnya tidak terjadi. Apa kalian pikir dengan mudahnya aku memaafkan Marven dan Carmen Bond ini? Sama sekali tidak! Dua puluh tahun hidup ku dalam kesia-siaan. Dan Marven akan membayarnya. Terutama Mr. Carmen Bond. Dia harus mati terlebih dahulu!" Tegas Butet.


"Mohon Kakak Tertua memberikan perintah!"


"Aku telah mengirim foto Carmen Bond ini. Kalian harus mencari orang ini di kompleks elite Tasik Putri. Untuk Marven, kalian bisa menunggu. Aku akan membujuknya untuk menyerahkan 30% saham yang masih dia pegang. Selama tiga puluh persen saham itu masih atas namanya, maka dia masih memiliki hak atas Martins Group! Bukankah begitu, Irfan?" Tanya Butet kepada lelaki yang masih terlihat muda itu.


"Benar Kak! Tapi, yang jelas saat ini adalah, aku tidak berani kembali ke kompleks elite Tasik Putri, setelah kedok ku di bongkar oleh Tigor," jawab Irfan.


"Apa? Mengapa baru kau katakan sekarang?" Tanya Butet kaget.


"Kakak kan tau sendiri kalau kita baru saja bertemu di sini. Bagaimana aku akan mengatakannya?" Jawab Irfan membela diri.


"Baiklah. Kau jangan kembali ke kompleks elite. Biar aku saja yang kembali!"


"Celaka. Kalau begitu, Marven harus segera dilenyapkan. Karena, jika Marven mati, otomatis saham itu akaan jatuh ke tangan ku. Karena, aku adalah istri yang sah secara hukum,"


"Jangan gegabah kak! Mungkin saat ini Marven sudah mencium gelagat kita. Sebaiknya kakak harus mencari alasan agar Marven tidak curiga. Aku akan membantu kakak!" Irfan benar-benar ketakutan dengan niat dari Butet ini. Ini karena, jika Marven mati, maka dia akan gigit jari. Padahal, selama ini dia yang banyak berusaha membujuk Marven untuk bekerjasama dengan keluarga Miller. Enak saja Butet menuai hasil dari usahanya.


"Aku harus menyuruh Panjol, Mokmok dan Ganjang untuk melindungi Marven!" Kata Irfan dalam hati. Padahal, dia tidak tau bahwa ketiga orang itu sudah berada dalam cengkeraman Tigor. Di sinilah Irfan tidak berfikir menggunakan otaknya. Padahal, sudah jelas-jelas jari kelingking yang di bawa oleh Tigor adalah jari-jari kelingking milik orang suruhannya. Dasar Irfan.


"Hmmm... Sebaiknya aku harus tetap pada tujuan utama," Butet tampak merenung sejenak. "Kalian yang masih setia dengan geng tengkorak, dengarkan perintah! Buru orang yang bernama Mister Carmen Bond ini! Aku ingin dia mati!" Kata Butet lagi dengan tegas. Padahal, saat ini dia tidak mengetahui bahwa Karman sudah meninggalkan kota Tasik Putri menuju ke kota Kemuning.


"Kami siap menjalankan tugas!" Jawab mereka.


"Terimakasih! Kelak, Villa bukit batu ini akan menjadi markas kita kembali. Kita akan meneruskan apa yang telah dicita-citakan oleh mendiang uwak ku, yaitu Birong. Fokus ke bisnis kalian masing-masing, dan hindari bentrokan dengan Tigor! Kalian mengerti?"


"Kami mengerti Kak!"


"Baiklah. Berangkat sekarang!"


Semua orang kini mulai beranjak dari kursinya masing-masing. Tidak terkecuali Irfan.


Dengan segala macam rencana licik, Irfan pun ikut serta dalam rombongan orang-orang itu meninggalkan villa bukit batu ini.


Kini, tinggallah Butet bersama dengan beberapa orang-orang yang senior di villa bukit batu itu.


"Apa kakak tertua percaya kepada Irfan ini? Dia adalah anak ular berkepala dua. Semua orang tau ambisi Beni. Kakak jangan lupa bahwa Beni juga menjadi penyebab dari kehancuran geng tengkorak. Jika bukan karena propaganda darinya, Birong pasti tidak akan terpengaruh. Dia juga menyusupkan Tumpal ke dalam Villa ini untuk mempengaruhi Birong dan Ayah mu yaitu Togar. Jika ingin membunuh, maka bunuh lah Irfan ini terlebih dahulu, baru bunuh Marven!" Bisik orang tua itu didekat telinga Butet.


"Hahaha. Aku mengetahui semua yang ada didalam hatinya, Wak! Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mempelajari sifat Irfan ini. Dia akan melindungi Marven agar saham itu tidak jatuh ke tangan ku. Tapi, aku ingin membuktikan sendiri. Semakin terbukti, semakin aku puas meminum darahnya!" Butet tampak tersenyum dingin ketika berucap seperti itu.


"Paman Anggiat!"


"Saya, Kakak Tertua!" Jawab orang tua itu.


"Kirim orang-orang mu untuk membuntuti Irfan! Kemanapun dia pergi, harus ada yang mengikutinya, dan segera memberikan laporan!"


"Baik. Paman akan melakukannya!" Jawab lelaki tua itu. Lalu, dengan menjentikkan jari-jarinya, beberapa orang mulai mendekati. Setelah membisikkan sesuatu, beberapa lelaki tadi langsung berangkat meninggalkan ruangan itu.


Bersambung...