
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Tigor sudah bangun dan menyalakan mesin mobil yang baik bentuk maupun rupa seperti mobil pengantar jenazah itu.
Sementara itu, Joe pun duduk di pinggir tangga dan bersiap memakai kaos kakinya sambil sesekali terjengkang kebelakang karena terlalu kuat menarik ujung kaos kaki itu.
Tengku Mahmud yang memperlihatkan di belakang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Joe ini yang seperti sangat terburu-buru sekali.
"Mengapa kau seperti orang di kejar-kejar hantu begitu Joe?" Tanya Tengku Mahmud.
Dia merasa heran melihat Joe seperti tidak sabaran untuk kembali ke Starhill.
"Waktu ku tinggal 5 hari lagi kek. Aku juga harus ke Mountain Slope terlebih dahulu. Setelah itu, baru berangkat kembali ke Starhill untuk mengadakan rapat. Setelah itu berangkat ke Garden Hill untuk memberi hukuman kepada orang-orang yang tidak tahu diri itu." Kata Joe dengan geram.
"Joe. Boleh bergerak cepat. Cepat itu bukan berarti terburu-buru. Lebih baik lakukan pekerjaan secara pasti. Yang di katakan pasti itu adalah sesuatu yang dikerjakan tidak berulang. Berbeda dengan terburu-buru. Karena sesuatu yang dikerjakan dengan cara terburu-buru itu pasti menimbulkan efek di kemudian hari. Dalam pekerjaan, sesuatu yang buru-buru itu pasti asal jadi. Yang namanya juga buru-buru."
"Coba kau fikiran! Ketika kau sedang mengejar Terget. Lalu kau bekerja dengan cara terburu-buru. Pasti kualitas dari pekerjaan mu itu akan jauh dari kata maximal. Ketika pekerjaan mu itu di tolak dan kau harus memperbaikinya lagi, bukankah itu akan menjadikan segala sesuatunya jadi lambat. Makanya kerjakan secara teliti. Ketika kau tidak mengulangi pekerjaan untuk memperbaiki yang salah, di situ letak sebenarnya dari ketangkasan itu sendiri."
"Kakek memperhatikan caramu memakai kaos kaki itu pun salah. Ketika kau terburu-buru, berapa kali kau terjengkang? Dari terjengkang, berapa detik waktu yang kau habiskan untuk kembali bangkit dan memakai kembali kaos kaki itu? Begitu cara orang berfikir untuk memanfaatkan waktu." Kata Tengku Mahmud menjelaskan.
"Maafkan aku kek. Tapi aku benar-benar ingin segera kembali ke Starhill. Aku sudah tidak sabar." Kata Joe.
"Kakek tau maksud dan tujuan mu itu. Selesaikan dengan kepala dingin. Kau butuh orang seperti mereka. Jadi, jangan terlalu berlebihan."
"Butuh kata Kakek? Aku sama sekali tidak butuh dengan sampah seperti mereka itu." Kata Joe ngotot.
"Pasti kau butuh. Setiap sebuah perusahaan atau organisasi, mereka harus memiliki saingan. Dengan adanya persaingan, barulah bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas bagus. Dalam setiap organisasi, pasti ada penghianat. Dengan begitu, kearifan mu sebagaai ketua di uji. Jika tidak ada ujian, bagaimana kau bisa dinyatakan lulus?" Kata Tengku Mahmud pula.
Joe hanya merenung sebentar untuk dapat memahami apa yang dikatakan oleh Tengku Mahmud barusan lalu mengangguk.
Baru saja dia serius, namun entah karena tengil atau memang sengaja ingin memancing kemarahan Tengku Mahmud, dia mulai menyipitkan satu matanya lalu seperti menilik ke arah kaos kaki itu kemudian memakainya dengan cara yang sangat lambat sekali dan penuh khidmat.
Tuk!
"Aduh. Salah lagi ya kek?" Tanya Joe ketika Tengku Mahmud menjitak dengkulnya.
"Terserah kau saja lah Joe. Dasar otak mu itu sudah bocor halus." Kata Tengku Mahmud sambil mengomel panjang pendek.
"Hehehe. Hehehe. Kakek kalau seperti itu persis seperti anak muda dalam film India yang selalu berperan menjadi orang jahat." Kata Joe sambil menirukan gaya Tengku Mahmud sehingga membuat orang tua itu kembali naik darah.
"Kau ini ya. Ku libas dengan ekor ikan pari ini." Kata Tengku Mahmud lalu..,
Wuz...
"Hait.. Ciaaah!"
Andai Joe tidak menghindar, niscaya punggungnya akan menjadi sasaran empuk bagi tempat mendaratnya ekor ikan pari yang dikibaskan oleh Tengku Mahmud tadi. Namun, dia salah posisi antara menginjak tangga atau langsung melompat.
Dalam keragu-raguan itu, kakinya terpeleset hingga Joe terjatuh nyungsep di bawah tangga dengan posisi kaki ngangkang tersangkut di anak tangga.
"Dasar kakek sedeng. Orang jatuh bukannya di tolong malah ditertawakan." Kata Joe memberengut sambil berusaha untuk bangkit.
Dalam keadaan yang sudah berantakan seperti itu, dia masih sempat lagi tertawa melihat di bagian bawah celana nya sudah sobek.
"Mana lagi celanaku ini kek? Semuanya sudah di bawa oleh Kakek Jeff. Apa iya aku harus berangkat ke bandara seperti ini?" Kata Joe seperti mau menangis saja.
"Kau mau memakai celana ku?" Tanya Tengku Mahmud.
"Ha? Mana bisa aku memakai celana tahun 50-an begitu. Mana celana itu tanpa bentuk dan cingkrang pula." Kata Joe sambil memperhatikan celananya yang sobek.
"Hahaha. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa." Jawab Tengku Mahmud sambil membuang muka.
"Ketua, semua sudah siap. Mari kita berangkat sekarang." Ajak Tigor yang hampir tertawa melihat keadaan Joe saat ini.
"Bagaimana mau berangkat Paman? Lihat celana ku ini sobek." Kata Joe hampir menangis.
"Oh. Itu masalah mudah. Nanti kita singgah di tanjung karang lalu beli yang baru. Saya yang akan membelikan nanti. Anda tinggal saja di mobil." Kata Tigor.
Mendadak wajah Joe menjadi ceria mendengar perkataan dari Tigor tadi.
"Sebaiknya memang kita harus segera berangkat Paman. Susah nanti urusannya jika Tiara tau kalau aku ada di sini." Kata Joe.
"Kek. Kami berangkat dulu ya. Doakan agar aku selamat sampai di tujuan." Kata Joe sambil meraih tangan lelaki tua itu lalu menciumnya.
"Pergilah cucu ku. Aku selalu mendoakan semoga kau selamat dan baik-baik saja dalam apapun keadaan mu." Kata Tengku Mahmud sambil mengusap kepala pemuda itu. Ada genangan air di kelopak matanya dan dia dengan sekuat tenaga menahan agar air itu tidak menetes.
"Mari Paman!" Kata Joe lalu melangkah meninggalkan halaman rumah milik Tengku Mahmud itu.
"Kakek. Kami pergi dulu. Karena jadwal keberangkatannya nanti jam 5 sore." Kata Tigor sambil menyalami lelaki tua yang berdiri seperti patung itu.
"Hmm... Segeralah kalian pergi!"
Hanya itu saja kata-kata yang keluar dari bibir Tengku Mahmud untuk melepaskan kepergian Joe William. Anak bandel yang selama lebih tiga tahun ini selalu bersama dengan nya.
Setelah mendapat restu, Tigor pun akhirnya menyusul Joe yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Ketika Joe sudah dekat dengan jalan, dia lalu berbalik kembali ke arah halaman rumah Tengku Mahmud, kemudian membungkukkan badannya untuk memberi penghormatan kepada Tengku Mahmud lalu tanpa menoleh lagi kebelakang, dia segera berlari ke arah mobil dan langsung memasuki mobil tersebut.
Kini tinggallah Tengku Mahmud sendirian berdiri di halaman depan rumahnya itu melihat mobil yang dikendarai oleh Tigor dan Joe semakin menjauh lalu hilang di balik tikungan.
Lelaki tua itu segera kembali menaiki tangga rumahnya, masuk lalu menutup pintu rapat-rapat.
Jangan lupa selesai baca, sedekahin like nya!
BERSAMBUNG...