Joe William

Joe William
Joe menggadaikan handphone nya



Saat ini, Joe yang baru saja ditinggalkan sendirian di kursinya yang tadi bersama dengan Jericho, mulai bangkit berdiri dan segera menuju ke kasir untuk membayar seluruh makanan yang mereka makan di kantin tersebut.


"Berapa semuanya, kak?" Tanya Joe.


"Total semuanya adalah 5 juta 400 ribu!" Jawab sang kasir.


"Apakah di sini menerima kartu kredit?"


"Ya. Di sini menerima kartu kredit," jawab sang kasir lagi.


Joe segera memberikan kartu kredit BlackGold miliknya.


"Maaf dik. Kartu mu ini tidak bisa digunakan," kata sang kasir sambil menyerahkan kembali kartu kredit tersebut ke tangan Joe.


"Waduh. Mati aku. Aku lupa bahwa batas terkecil dalam setiap transaksi adalah 30 ribu Dollar," kata Joe dalam hati. Dia lalu celingukan dan mulai khawatir bahwa dia akan mendapatkan masalah lagi.


"Hai anak baru. Kami sudah selesai. Sekarang, kau harus membayar semuanya!" Kata Dewi dan Mira. Kedua gadis itu menepuk pundak Joe yang saat ini tampak kebingungan lalu berlalu pergi.


"Lalu bagaimana ini dik?" Tanya penjaga kasir tersebut.


"Kak. Kartu kredit ku bermasalah. Bisakah saya membayarnya besok saja? Sebagai jaminan, saya akan meninggalkan ponsel saya di sini. Bagaimana?" Tanya Joe memelas.


"Oh. Begitu ya. Coba sini kakak lihat ponsel mu! Apakah cukup untuk dijadikan agunan?!"


"Ini kak!" Kata Joe sambil menyerahkan ponselnya.


"Hmmm. Baiklah. Kau boleh mengambil handphone mu besok setelah membawa uang nya!" Kata sang penjaga kasir sambil menggeleng kepala.


Malu benar hati Joe ketika itu. Bagaimana bisa dia meninggalkan kartu BCA miliknya dan membawa BlackGold tersebut. Untung saja ponselnya bisa dijadikan jaminan.


Dengan perasaan tak menentu, Joe pun meninggalkan kantin tersebut. Entah karena pikirannya lagi kacau atau apalah itu, sampai-sampai dia tidak sadar telah menabrak seorang gadis yang sebaya dengannya.


Brugh!


"Aw..!"


"Ah.., eh! Ma-maafkan.., maafkan saya Nona!" Kata Joe dengan perasaan bersalah. Namun ketika dia memperhatikan ke arah gadis itu, Joe pun langsung terkejut.


"Tiara?!" Spontan kata-kata itu meluncur dari mulut Joe.


Gadis yang disebut oleh Joe dengan nama Tiara tadi langsung mendongakkan kepalanya.


"Heh? Kau kah itu Joe?" Tanya Tiara yang tidak kalah kagetnya.


"Ssssst!"


"Kenapa Joe?"


"Ceritanya panjang. Apa kau lapar? Jika kau lapar, kau makan lah dulu. Aku tidak punya uang saat ini. Aku akan menunggu mu di taman!" Kata Joe lalu segera hendak meninggalkan gadis itu.


"Lapar ku hilang setelah melihat wajah mu!" Jawab Tiara seperti orang yang sedang merajuk.


"Kau belum memaafkan aku, Tiara? Tidak mengapa. Aku tidak memaksa. Tapi aku tidak salah. Dan aku tidak akan meminta maaf!"


"Kau jahat! Mengapa kau meninggalkan rumah ku begitu cepat? Aku mencari mu setelah itu kemana-mana. Dan kau harus meminta maaf untuk itu!" Desak Tiara sambil mengacungkan telunjuknya.


"Hahaha. Apaan sih. Pujaan hati lah. Masa iya pujaan ginjal,"


"Pujaan hati sudah biasa. Sesekali pujaan ginjal lah. Bila perlu, pujaan dengkul sekalian!" Kata Joe. Sejenak sifat aslinya keluar. Lalu dia pun menyadari dan kembali bersikap culun.


*********


"Joe!"


"Hmmm...?"


"Aku mau bertanya. Untuk apa kau berpenampilan seperti ini? Jika kau tadi tidak menyebut namaku, pasti aku tidak akan mengenalimu."


"Apa iya kau tidak mengenaliku? Berarti aku tidak ada di dalam hatimu!" Balas Joe dengan wajah dibuat sedemikian sedih.


"Bukan begitu. Justru aku yang tidak ada di dalam hatimu. Eh! Kau belum menjawab pertanyaan ku?!" Desak Tiara.


"Oh. Tentang penampilan ku yang seperti ini ya? Rasanya aku tidak perlu lagi menjelaskan kepada mu. Kau sudah lebih dari cukup mengetahui tentang aku. Hanya kau saja yang masih berani kepada ku ketika mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Selain kamu, orang lain akan merasa sungkan ketika mengetahui identitas ku. Siapa yang tidak kenal Tower Sole propier? Dan itu adalah milik ku secara pribadi. Lalu, apa kau pikir akan ada yang tulus berteman dengan ku? Hahaha. Paling hanya cari muka," kata Joe beralasan. Padahal, jauh dari itu tujuannya berpenampilan seperti itu.


"Begitu kah?. Lalu, apa hebatnya Joe William itu? Sama sekali tidak ada hebatnya,"


"Kau..? Ih. Iya sudah lah. Aku memang tidak ada hebatnya dimata mu," kini, giliran Joe pula yang merajuk. Dia segera menjauhi Tiara lalu duduk bersandar di bangku batu yang berada di taman kampus tersebut.


Tiara cekikikan melihat tingkah Joe yang persis seperti anak kecil itu.


"Kalau kau merajuk, persis seperti kakek-kakek jompo yang minta kawin lagi!" Ledek Tiara yang tidak kuasa menahan tawanya.


Saat itu, Joe yang ingin membalas ejekan Tiara mengurungkan niatnya ketika dari arah gerbang kampus berdatangan puluhan kendaraan roda dua dan sengaja memainkan gas mengelilingi pelataran kampus tersebut.


"Geng Cobra?" Gumam Tiara dengan wajah ketakutan.


"Siapa mereka, Tiara?" Tanya Joe sambil menyipitkan matanya.


"Mereka adalah anak-anak teladan tunas bangsa. Mereka bermusuhan dengan anak-anak J7. Beberapa hari yang lalu terjadi bentrok antara mereka yang menyebabkan salah satu dari anggota J7 meninggal akibat pendarahan pada otaknya. Kini sepertinya mereka ingin mencari gara-gara lagi," kata Tiara berbisik di dekat telinga Joe.


"Biarkan saja. Bukan urusan kita. Lagi pula, aku tidak mengenal siapa anak-anak J7 itu. Bagiku, jangan ganggu gadis ku. Itu sudah cukup!" Kata Joe kembali bersandar.


"Kau sudah memiliki gadis yang lain ya?" Tanya Tiara melotot.


"Tidak. Sumpah tidak. Gadis ku itu adalah gadis yang berada di samping ku saat ini," kata Joe sambil menggenggam tangan gadis itu.


"Apaan sih?" Kata Tiara tertunduk malu-malu. Wajahnya kini bersemu merah. Dia ingin menarik tangannya dari genggaman tangan Joe. Tapi entah mengapa dia tidak bisa melakukannya.


"Lihat di sana itu Joe!" Tunjuk Tiara yang melihat bahwa saat ini anak-anak J7 telah keluar dan saling berhadap-hadapan dengan anggota geng Cobra.


"Jericho? Oh iya. Aku ingat sekarang. Tadi dia mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu dari anggota J7. Hmmm. Apakah akan terjadi perkelahian?" Pikir Joe dalam hati.


"Tiara. Kau adalah kakak senior ku di sini. Apa kau kenal siapa-siapa saja anak-anak J7 itu?" Tanya Joe.


"Kenal. Semenjak kematian Jul, kini J7 jadi enam orang. Walaupun sebenarnya mereka memiliki orang-orang yang selalu berada di belakang mereka. Kematian Jul meninggalkan ruangan kosong dan kepemimpinan J7 telah dipegang oleh Jericho. Kau lihat yang paling depan itu adalah Jericho. Di samping kirinya adalah Jaiz, lalu James. Sedangkan di samping kanannya adalah Juned, Jufran dan Julio," kata Tiara menjelaskan.


"Hmmm. Ya sudah! Perhatikan saja apa yang akan mereka lakukan. Aku terlalu lelah dengan hal tahi burung seperti itu," kata Joe lalu enak saja dia tiduran di pangkuan gadis itu.


Bersambung...