Joe William

Joe William
Kekesalan Irfan, dimanfaatkan oleh Karman



...Kompleks elite Tasik Putri...


Irfan tampak sangat sewot kali ini.


Wajahnya merah padam. Tangannya terkepal erat. Pokoknya, kejengkelan yang saat ini sedang dia rasakan sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Di dalam, dia sudah disambut oleh Marven dan Karman yang tampak saling pandang karena melihat tingkah Irfan ini.


Irfan ingin segera mengadu kepada Marven tentang kejadian di pusat hiburan Gang Kumuh yang dimiliki oleh Tower Sole propier. Akan tetapi, dia tidak tau harus memulai dari mana duluan. Mungkin kejengkelannya sudah berada di ubun-ubun. Hanya saja, dia jelas tidak berani kepada Tiger Lee, dan Zacky.


Dengan perasaan kesal, dia segera membanting punggungnya di atas sofa, sambil menghempaskan nafas berat.


"Hei. Ada apa denganmu, Irfan?" Tanya Marven yang tampak terheran-heran melihat wajah Irfan yang seperti jeruk purut tersebut.


"Celaka mereka itu bang!" Kata Irfan mulai menumpahkan kejengkelannya.


Melihat dari raut wajah Irfan, Karman pun mulai memasang telinga. Dia ingin mendengarkan setiap rincian dari penuturan Irfan. Setelah itu, barulah dia mencari celah untuk menusukkan jarum beracunnya kepada Marven.


"Siapa yang celaka?" Tanya Marven singkat.


"Para anak buah Honor itu lah. Bangsat mereka semua. Huhf. Kalau aku tau begini ceritanya, tidak sudi aku mengirim anak buah kita ke Gang Kumuh,"


"Coba kau ceritakan apa sebenarnya yang terjadi di sana!" Pinta Marven.


Sebelum menjelaskan duduk persoalannya, Irfan segera meneguk segelas air di meja. Entah air itu bekas siapa, pokoknya hajar saja.


Setelah meletakkan gelas itu kembali ke atas meja, dia pun mulai berbicara. "Mereka kan meminta kepada kita untuk memobilisasi seluruh anak buah yang kita miliki, yang konon katanya ingin menyerbu Gang Kumuh dan menghancurkan properti milik Tower Sole propier. Tapi nyatanya apa? Mereka malah berdamai. Kan sialan itu namanya!" Rungut Irfan semakin sewot.


"Apa katamu? Gang Kumuh tidak jadi di rebut?!"


"Benar Bang. Awalnya mereka memang menyerang gang Kumuh. Kami berhasil menghalau seluruh penjaga keamanan di sana dan membuat mereka lari lintang-pukang. Tapi, semua itu tidak berlangsung lama," Irfan berhenti sejenak untuk meredam kejengkelannya.


"Lalu, perdamaian apa yang kau maksudkan?" Buru Marven penasaran.


"Setelah berhasil membuat kekacauan dan menguasai pusat hiburan tersebut, tiba-tiba Tigor datang bersama dengan Andra dan Ameng,"


"Hanya mereka bertiga?" Tanya Marven sambil mendelik.


"Ya. Hanya bertiga. Tapi Abang tau apa yang dilakuan oleh Tiger Lee dan Zacky?"


"Apakah terjadi perkelahian antara mereka?" Tebak Marven.


Irfan buru-buru menggelengkan kepalanya. "Hanya dengan tiga botol anggur, mereka malah santai minum-minum. Setelah itu, mereka malah mengatakan bahwa Tower Sole propier harus membayar uang keamanan kepada mereka. Ketika itu aku sudah ingin menebas batang leher Tigor. Lagi-lagi Tiger Lee tidak mengizinkan. Itu yang membuat aku kesal. Padahal, mereka hanya bertiga. Dan kami ketika itu berjumlah lebih dari lima ratus orang,"


Prak!


"Kurang ajar. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh mereka ini?" Tanya Marven sambil bergantian menatap antara Irfan dan Karman.


Karman tau bagaimana dia memasukkan jarum beracunnya. Tapi dia tidak segera memberikan pandangan. Khawatir akan sangat mencolok, jadi dia hanya menunggu saja. Dia akan memberikan pendapatnya ketika ditanya.


"Sepertinya mereka ini hanya mempermainkan kita saja bang. Terbukti mereka tidak sungguh-sungguh. Malah, tanggal 1 bulan depan mereka akan mengadakan pertemuan. Bagaimana ini?" Tanya Marven.


"Abang harus hadir dalam pertemuan mereka itu nantinya. Bila perlu, sikat saja si Tigor itu!" Usul Irfan yang langsung berdiri hendak meninggalkan ruangan itu.


"Menurutmu, apa mungkin Tigor akan datang bertiga. Sepertinya, kesempatan itu sudah tidak mungkin lagi. Bisa saja dia menyuruh orang lain yang akan ke sana. Atau, dia malah mengajukan pertemuan tersebut ditempat netral," kata Marven ragu-ragu.


"Ah. Tambah sulit saja. Ikan sudah masuk ke dalam perangkap, malah dilepaskan. Bodoh betul mereka itu!" Balas Irfan sambil mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana menurutmu, Mr. Carmen Bond?" Tanya Marven seraya menatap ke arah Karman.


"Seperti yang aku katakan dulu. Mereka itu tidak akan pernah tulus dengan kita. Mereka memancing kita dengan uang, untuk mendapatkan beberapa keuntungan yang lebih besar. Syukur bahwa Irfan sudah terkena dengan mereka. Jadi, dengan begini, dia tidak akan membantah lagi setiap argumen yang aku kemukakan!" Jawab Karman.


Sebenarnya, kesempatan seperti inilah yang sangat dinantikan oleh Karman. Dia menunggu Irfan ini terkena jebakan sendiri. Jadi, dengan begini, dia bisa membalas Irfan dengan pukulan telak.


Mendengar perkataan dari Karman ini, Irfan tidak bisa lagi mengemukakan pembelaan. Karena, baru saja dia merasakan kekhawatiran Karman selama ini.


"Maaf bang. Aku bukannya ingin menakut-nakuti mu. Ini hanya analisa saja.


Menurut ku, mereka ini memiliki perusahaan yang tidak kecil. Bisa dikatakan bahwa Arold Holding Company adalah perusahaan internasional. Apa lagi ada embel-embel Holding nya. Kita berfikir yang relevan saja bang. Mustahil perusahaan tersebut tidak bisa berdiri di sini. Sementara perusahaan itu bisa berdiri di tanah besar China, Hongkong hingga sampai ke Amerika. Mengapa dia harus menggunakan nama Martins Group?


Jika boleh aku mengutarakan semua analisis ku, dan menghubungkan kepada kejadian sekitar tiga atau dua tahun yang lalu, aku akan dengan senang hati untuk membongkar borok perusahaan ini!" Kata Karman.


"Apa yang kau ketahui tentang perusahaan ini, Mr. Carmen Bond?" Tanya Irfan dan Marven serentak.


"Beberapa hari ini, aku sempat membaca sebuah artikel tentang rekam jejak perusahaan ini. Entah itu hanya berita Hoax belaka, atau memang benar-benar nyata. Tapi, sekali lagi aku tidak berani menceritakannya kepada kalian. Karena aku melihat, kalian tidak akan mempercayaiku. Tapi, jika sudah begini, aku akan menceritakan apa yang aku ketahui."


"Sebenarnya, Arold Holding Company ini sudah diharamkan untuk memasuki negara abjad. Ada. Salah satu kota kecil di sana bernama Garden Hill...," Lalu Karman menceritakan semuanya kepada Marven dan Irfan tentang proyek haram milik keluarga Miller itu di Garden Hill. Sekalian tentang beberapa perusahaan yang mereka tipu, termasuk perusahaan Regnar Group yang langsung bangkrut akibat ulah dari perusahaan Arold Holding Company ini. (Yang baca Joe William dari awal, pasti tau cerita ini)


"Terlambat. Kita sudah menandatangani surat kesepakatan kerjasama dengan mereka. Tidak bisa dibatalkan karena semuanya sudah memiliki badan hukum. Kecuali, jika aku melepaskan 30% saham ku dan 10% saham minoritas milik investor kepada mereka. Tapi, aku tidak bisa. Martins Group akan terasa aneh jika bukan kita yang memilikinya. Perusahaan ini sudah puluhan tahun berdiri. Aku tidak bisa! Apakah kau punya saran bagi kemelut ini?" Tanya Marven yang tampak berkali-kali meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Untuk saat ini, bukankah Abang masih lancar menerima uang dari Honor? Berpura-pura saja menuruti mereka. Lagi pula, uang yang Abang miliki bisa kok membangun perusahaan baru. Hanya saja ya itu tadi. Seberapa pentingnya sebuah brand. Tapi, daripada daripada, kan lebih baik?!" Jawab Karman dengan riak wajah serius.


"Sulit memang. Sebuah Brand market dalam perusahaan memang sangat vital," keluh Marven.


"Andai sesuatu terjadi, maka saran ku adalah, Abang harus merelakan Martins Group untuk lepas ke tangan mereka. Apa Abang ingin menjadi bantalan bagi mereka. Jika kebusukan mereka terbongkar, mereka bisa lari kembali ke negara mereka. Tapi Abang? Abang mau lari kemana? Di sini rumah Abang. Perusahaan Abang. Semuanya atas nama Abang. Mereka hanya pemegang saham. Kalau borok tersebut telah terbongkar, lalu mereka memuntahkan saham mereka, Abang bisa bungkus!" Kata Karman memakai bahasa istilah.


"Terkadang aku sering berfikir. Apakah aku telah memusuhi orang yang tidak bersalah?" Tanya Marven seolah kepada dirinya sendiri.


Mendengar ini, Irfan yang sejak tadi hanya diam saja segera menyela. "Apa maksud Abang? Apakah itu Tigor? Jelas-jelas dia lah penyebab dari kehancuran keluarga kita. Hancurnya organisasi Kucing hitam. Dia yang membunuh semua orang terdekat kita. Walaupun tidak secara langsung, tapi dialah yang mengundang orang-orang dari organisasi Dragon Empire untuk membumihanguskan geng kucing hitam. Lalu, mengapa Abang merasa bahwa Abang yang bersalah? Kita hanya diuji sedikit masalah saja bang! Jangan sampai Abang berfikiran sempit dan mudah melupakan apa yang sudah dilakukan oleh Tigor kepada kita!" Bantah Irfan.


"Sudahlah! Aku lelah. Kalian beristirahat lah. Ingat! Jangan berisik. Atau aku akan marah!" Ancam Marven yang langsung meninggalkan ruangan itu.


Karman bermaksud untuk meninggalkan ruangan itu juga. Tapi Irfan mencegahnya. "Kau Carmen Bond. Karena kata-kata mu tadi, pikiran Abang ku jadi bercabang!"


"Sssst... Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau coba pikirkan sendiri kata-kata ku tadi. Jangan mengajak ku berdebat. Sebaiknya, gunakan kepala dingin, dan mulailah berfikir!" Kata Karman dengan jurus padi hampa tapi mencongak.


Setelah berkata seperti itu, Karman pun langsung bergegas meninggalkan Irfan yang tampak mati kutu.


Bersambung...